ASSALAMU ALAIKUM

SELAMAT DATANG DI IQBAL'S BLOG

Senin, 13 April 2009

PENGEMBANGAN SOFTSKILL

BAB I
LESSON FROM THE TOP



Ada pelajaran menarik yang dapat diambil dari sebuah buku berjudul Lesson From The Top karangan Neff dan Citrin (1999).

Pada tahap pertama, penulis buku meminta kepada sekitar 500 orang (CEO dari berbagai perusahaan, LSM, dan dekan/rektor perguruan tinggi) agar mereka menominasikan 50 nama orang-orang yang menurut mereka tersukses di Amerika. Dari mereka, akhirnya diperoleh 50 nama yang beberapa di antaranya adalah:

• Jack Welch (General Electric)
• Bill Gates (Microsoft)
• Andy Grove (Intel)
• Lou Gerstner (IBM)
• Michael Dell (Dell Computer)
• Mike Armstrong (AT&T)
• John Chambers (Cisco System)
• Frederick Smith (Federal Express)
• Steve Case (America Online)
• Elizabeth Cole (American Red Cross)
• Bob Eaton (DaimlerChrysler)
• Michael Eisner (Walt Disney)
• Ray Gilmartin (Merck)
• Hank Greenberg (AIG)
• Sandy Weill (Citigroup)
• Alex Trotman (Ford Motor Company)
• Bill Steere (Pfizer)
• Howard Schultz (Starbucks)
• Ralph Larsen (johnson&Johnson)
• Walter Shipley (Chase Manhattan)

Tahap berikutnya, penulis buku mewawancarai 50 orang terpilih tersebut satu-per-satu. Dalam wawancara tersebut antara lain ditanyakan rahasia sukses para pengusaha tersebut. Jawaban mereka kemudian di rangkum di dalam bab kesimpulan yang memuat 10 kiat yang menurut 50 orang tersebut paling menentukan kesuksesan mereka.

Tahukah Anda? Dari sepuluh kiat sukses tersebut tak satupun menyebut pentingnya memiliki keterampilan teknis alias hardskills sebagai persyaratan untuk sukses di dunia kerja. Lima puluh orang tersebut seolah sepakat bahwa yang paling menentukan kesuksesan mereka bukanlah keterampilan teknis, melainkan kualitas diri yang termasuk dalam katagori keterampilan lunak (softskills) atau keterampilan berhubungan dengan orang lain (people skills). Di Jerman dieknal juga dengan istilah strategical skills atau key qualifications.

Berikut ini adalah 10 kiat sukses 50 orang tersukses di Amerika tersebut.

Ten Common Traits of the Best Business Leaders

1. Passion
2. Intelligence and clarity of thinking
3. Great communication skills
4. High energy level
5. Egos in check
6. Inner peace
7. Capitalizing early life experience
8. Strong family lifes
9. Positive attitude
10. Focus on “doing the right things right”

Mari kita perhatikan, kiat sukses nomor satu ternyata adalah “passion”, gairah, atau semangat yang membara. Orang bijak menterjemahkan semangat sebagai burning desire yang diwujudkan dalam bentuk: “bersedia mencurahkan apapun yang dipunyai untuk apapun yang sedang dikerjakan.” Karena definisinya demikian, tak heran jika 50 orang sukses tadi menempatkan “semangat” sebagai modal pertama untuk meraih kesuksesan.

Yang menjadi pertanyaan, “semangat” itu -andaikan bisa diajarkan- akan diajarkan melalui mata pelajaran apa dan diajarkan oleh siapa dengan cara bagaimana?

Kata orang bijak, semangat itu tidak bisa diajarkan, tetapi bisa ditularkan. Dengan demikian tugas dosen di perguruan tinggi bukan mengajarkan semangat, melainkan menularkannya. Artinya, para dosen perlu bersemangat terlebih dahulu supaya dapat menularkan. Apakah mahasiswa akan bersemangat jika selama 100 menit tatap muka di kelas, dosen mengajar sambil duduk dengan tayangan berbentuk transparansi yang sudah usang 10 tahun yang lalu ? Nah, ini baru soal menularkan kiat nomor satu. Lalu bagaimana dengan sembilan kiat sukses lainnya?

Ceritera diatas tadi bukan berarti tidak mementingkan hard skills dalam dunia usaha dan dunia kerja atau dunia bisnis sekalipun. Namun beberapa buku selalu menekankan bahwa di dalam dunia nyata tersebut soft skills sangat menonjol peranannya dalam membawa orang mampu bertahan di puncak sukses. Dengan kata lain:

”We HIRE people for their technical skills,
but then....
We FIRE them for behavioral faults”

Pernah di suatu masa awal tahun 80-an, ada seorang ginekolog wanita di suatu kota. Karena ia wanita, maka ibu-ibu lebih senang ditangani dokter tersebut saat persalinan. Namun sikapnya kurang ramah, bahkan cenderung “judes”. Setelah beberapa saat bermunculan ginekolog wanita lainnya, yang lebih ramah dan sabar saat menunggui persalinan, maka para pasien dokter itu mulai mundur teratur. Acapkali kita juga sering menghadapi seorang dokter yang kemampuan untuk mengobati pasien sangat bagus, namun kurang mampu berkomunikasi, sikap yang arogan dan cenderung kurang berempati terhadap pasien. Pengalaman anak pertama penulis yaitu Irham, ketika duduk di kelas satu Ironside State School Brisbane Australia, setiap hari Rabu minggu ke tiga selalu dikunjungi dokter gigi. Saat namanya di panggil dan harus berjalan ke mobil dokter (bentuk caravan), ia ketakutan, namun setelah di dalam ruang pemeriksaan dokter tersebut dapat merubah ketakutan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Dokter tersebut membuka percakapan dengan sapaan “hallo young man, how is it going today?”, lalu dokter itu menerangkan alat-alat sekitar tempat duduk anak itu, lalu meminta mencoba memijit tombol untuk menaik turunkan kursi dst. Akhirnya ia tidak takut lagi pergi sendiri ke ruangan dokter, bahkan dengan senang hati.

Di masa persaingan yang ketat saat ini, rasanya sudah tidak dapat ditawar-tawar lagi bahwa hard skills dan soft skills harus seiring dan sejalan dalam pengembangannya di perguruan tinggi sebagai pencetak sumberdaya yang tangguh dan unggul.

Penulis pun pernah memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan, ketika ingin audiensi dengan seorang Bupati di Jawa Barat. Waktu untuk bertemu sudah disepakati melalui ajudan dan sekretarisnya dengan menggunakan media telepon (tidak mudah untuk bertemu langsung dengan pejabat di negeri kita). Setelah datang dan diterima oleh penerima tamu dikatakan bahwa ”Bapak sedang menerima tamu”. Lalu penulis menunggu dengan sabar sampai dua jam, hingga tidak ada kepastian kapan Bapak Bupati itu selesai menerima tamu. Bukan itu saja, penerima tamu di ruang Bupati pun tidak ada inisiatif untuk memberikan sekedar air minum putih kepada tamunya (mungkin tidak ada SOP untuk itu). Setelah 2.5 jam, dengan senang hati penulis melihat Bupati keluar dari ruangannya, namun... Beliau benar-benar keluar dan staff di kantor itupun tidak tahu mau kemana beliau pergi. Akhirnya karena sudah tengah hari, penulispun pamit untuk keluar mencari kantin di sekitar itu dan tempat sholat. Baru saja makanan datang penerima tamu tersebut sudah nyusul dan berkata kalau Bapak sudah ada di ruangannya lagi. Setelah masuk ke ruangan Bupati, kami diterima dengan dingin dan beliau pun tidak minta maaf karena sudah telat menerima penulis. Lalu penulis utarakan maksud dan tujuan audiensi ini bukan untuk meminta bantuan tetapi Perguruan Tinggi akan memberi bantuan pada masyarakatnya. Barulah suasana mencair dan kami pun senang karena melihat wajah yang berubah.

Sepanjang jalan pulang, saya hanya berandai dan berharap. Andai saja karyawan kita diajari bagaimana melayani dengan baik, berempati, memiliki inisiatif dan selalu berprasangka baik, alangkah indahnya silaturahmi ini. Tapi saya juga berharap agar hal-hal yang berkaitan dengan pelayanan dapat ditularkan pada saat calon karyawan masih duduk di sekolah. Hal ini akan sangat cepat penularannya jika dimulai dari pemimpin yang melakukan pelayanan prima, artinya pelayanan prima harus dimulai dari pimpinan.

Selain 10 kiat sukses tersebut, para pengusaha di dalam buku Lesson From the Top juga menambahkan enam prinsip utama (six core principles) bagi suksesnya orang-orang sukses, yaitu:

• live with integrity,
• develop a winning strategy,
• build a great management team,
• inspire employees,
• create a flexible organization, and
• implement relevant systems.

Sepuluh kiat sukses dan enam prinsip inti tersebut di atas semakin menegaskan pentingnya softskills bagi para lulusan perguruan tinggi sebagai calon pekerja dan pengusaha serta pemimpin masyarakat. Sadar atau tidak, diri kita seringkali menilai orang lain (terutama yang kita kagumi) dari sikap dan perilakunya. Artinya apa? Kita pun akan dinilai orang karena sikap dan perilaku kita. Jadi betapa pentingnya bagi kita untuk selalu memelihara sikap dan perilaku yang menyenangkan dan diterima baik oleh masyarakat.

Bila sejak awal mahasiswa dibekali dengan pengetahuan tentang softskills yang cukup dan bahkan sudah terbiasa mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari maka peluang mereka untuk menjadi orang sukses di masyarakat akan semakin besar. Perlu banyak contoh yang mahasiswa lihat di lingkungan perguruan tinggi. Contoh ini mulai dari pimpinan perguruan tinggi, dosen dan para staf penunjang yang menjadi frontliners yang berhubungan langsung dengan mahasiswa. Jika mahasiswa terbiasa diperlakukan baik dan terhormat, lambat atau cepat mereka akan menjadi pelayan yang baik di masyarakat. Inilah yang dimaksud dengan penularan yang paling sederhana.

Sesuatu yang akan kita tularkan kepada orang lain menghendaki diri kita tertular terlebih dahulu. Layaknya seseorang yang menularkan penyakit flu, dapat dipastikan dirinya telah tertular terlebih dahulu, sebelum menular kepada orang lain. Artinya, apabila kita ingin menerapkan aturan disiplin untuk datang tidak terlambat kepada mahasiswa, maka seyogyanya dosen harus datang tepat waktu di dalam kelas dan juga tidak terlalu cepat untuk mengakhiri tatap muka di kelas. Apabila dosen ingin menularkan rasa tanggungjawab kepada mahasiswa dengan memberi tugas dan tugas tersebut dikumpulkan dalam waktu dua minggu (misalnya), maka dosen pun harus berupaya untuk mengembalikan tugas tersebut dengan umpan balik kepada mahasiswa sesuai dengan waktu yang dijanjikan kepada mahasiswa. Itu hanya beberapa contoh sikap dan perilaku yang perlu dicermati dan dimiliki dosen terlebih dahulu.

Beberapa penyakit yang sekarang sedang melanda secara nasional yaitu pertama, kalau hadir ke pertemuan atau kelas, mahasiswa atau dosen selalu memilih duduk paling belakang, dan jarang yang berani duduk di kursi atau barisan depan. Lalu penyakit kedua adalah malas untuk bertanya di dalam forum-forum resmi seperti kuliah, seminar dan lokakarya. Penyakit ketiga adalah kebiasaan ngobrol pada saat ada orang yang berbicara di podium. Ketiga penyakit ini kalau dipelihara maka akan membuahkan karakter buruk bagi bangsa Indonesia.

Lantas bagaimana mencegah agar hal ini tidak berkelanjutan?. Jawabannya perlu pergeseran paradigma dalam berperilaku dan bertindak. Bagaimana agar dosen dosen mengidap “good soft skills” terlebih dahulu? Jawabannya, buka hati dan pikiran untuk senantiasa memberikan yang terbaik kepada anak didik kita, tetap berpegang pada nilai-nilai kehidupan dan norma-norma dasar yang disepakati, baca buku dan mau belajar lebih banyak secara terus menerus.

Apabila dicermati dari kenyataan yang ada, baik dari perbincangan informal maupun hasil penelusuran atau kajian formal, maka rasio kebutuhan soft skills dan hard skills di dunia kerja/usaha berbanding terbalik dengan pengembangannya di perguruan tinggi (sebagaimana yang terlihat pada gambar di bawah ini. Gambar 1 menunjukkan bahwa yang membawa atau mempertahankan orang di dalam sebuah kesuksesan di lapangan kerja yaitu 80% ditentukan oleh mind set yang dimilikinya dan 20% ditentukan oleh technical skills. Namun, pada Gambar 2 dapat dilihat bahwa di perguruan tinggi atau sistem pendidikan kita saat ini, soft skills hanya diberikan rata-rata 10% saja dalam kurikulumnya. Jadi, bagaimana baiknya agar proses pendidikan kita dapat mensinergikan antara soft skills dan hard skills dengan baik?, sementara jumlah satuan kredit mahasiswa sudah cukup banyak.





















Mengamati Gambar 1 dan 2, di dunia pendidikan perlu ada pergeseran paradigma berfikir dan bertindak dari fokus pada hard skills saja menjadi mensinergikan antara hard skills dengan soft skills. Bagaimana agar penularan soft skills ini bukan merupakan beban sks yang sudah begitu banyaknya di Perguruan Tinggi, dan bagaimana agar penularannya tidak terasa ada pemaksaan baik bagi dosen maupun mahasiswa. Salah satu caranya yaitu dengan melakukan penularan soft skills melalui Hidden Curriculum.





























BAB II
KOMPETENSI SARJANA



Berdasarkan hasil beberapa jajak pendapat (tracer study) yang dilakukan perguruan tinggi di Indonesia, kompetensi sarjana di dunia kerja dibagi dua aspek. Pertama, aspek teknis berhubungan dengan latar belakang keahlian atau keahlian yang diperlukan di dunia kerja. Kedua, aspek non teknis mencakup motivasi, adaptasi, komunikasi, kerjasama dalm tim, pemecahan persoalan, manajemen stress dan kepemimpinan dsb.

Masing-masing dunia usaha/industri dapat memberikan sederet kompetensi teknis maupun non teknis yang berbeda. Namun, pada umumnya jenis kompetensi non teknis lebih banyak dibandingkan dengan kompetensi teknis. Lihatlah iklan-iklan yang terpampang di papan pengumuman perguruan tinggi, atau di berbagai surat kabar. Beberapa persyaratan yang diminta oleh perusahaan yang acapkali muncul dapat dilihat pada daftar berikut:
(1) dapat bekerjasama dalam tim
(2) mampu berkomunikasi secara lisan maupun tulisan
(3) mampu menghadapi pekerjaan yang mendesak
(4) mampu bekerja di bawah tekanan
(5) memiliki ”great sense of services”
(6) mampu beradaptasi
(7) memiliki inisiatif dengan sikap dan integritas pada pekerjaan
(8) jujur, inovatif dan kreatif
(9) mampu bekerja mandiri, sedikit bimbingan
(10) memiliki kepemimpinan yang baik
(11) bertanggungjawab dan memiliki komitmen terhadap pekerjaan
(12) memiliki motivasi dan antusias dalam bekerja

Pada tahun 2007 Majalah Tempo telah memilih 10 Perguruan Tinggi karena lulusannya yang berkarakter. Karakter penting di dunia kerja yang dikemukakannya yaitu:
1. Mau bekerja keras
2. Kepercayaan diri tinggi
3. Mempunyai visi kedepan
4. Bisa bekerja dalam tim
5. Memiliki kepercayaan matang
6. Mampu berpikir analitis
7. Mudah beradaptasi
8. Mampu bekerja dalam tekanan
9. Cakap berbahasa Inggris
10. Mampu mengorganisasi pekerjaan

Sejalan dengan yang dinyatakan oleh manajemen sebuah perusahaan raksasa di bidang perkebunan di Indonesia, bahwa telah terjadi kesenjangan persepsi antara dunia pendidikan tinggi dan industri. Perguruan tinggi memandang bahwa lulusan yang “high competence” adalah lulusan dengan IPK tinggi dan lulus dalam waktu yang cepat (<4 tahun). Sedangkan dunia industri menyatakan bahwa yang dimaksud dengan lulusan yang “high competence” yaitu mereka yang memiliki kemampuan dalam aspek teknis dan sikap yang baik. Di sisi lain, sarjana baru lebih banyak yang memilih bekerja di belakang meja, di perkotaan dan tidak mau melakukan pekerjaan lapangan dengan tangan kotor, apalagi ditempatkan di pelosok. Oleh karenanya penulis sering memberi semangat dan salut kepada para lulusan yang masih mau mengabdikan diri di pelosok daerah, di pulau terpencil, seperti para dokter muda, atau sarjana pertanian yang masih berdedikasi di pantai-pantai atau perkebunan yang jauh dari sinyal HP.

Sehubungan dengan adanya perbedaan sudut pandang antara dunia industri dan pengharapan dari lulusan, maka perlu dibangun mind set yang sama dan pengembangan kepribadian atau perilaku. Sebagai contoh, salah satu indikator kebagusan program studi saat ini adalah jika lulusannya memiliki waktu tunggu yang singkat untuk mendapatkan pekerjaan pertama. Namun, industri mengatakan bukan itu, melainkan seberapa tangguh seorang lulusan untuk memiliki komitmen atas perjanjian yang telah dibuatnya pada pekerjaan pertama. Jika kontraknya 2 tahun, ya seharusnya diselesaikan selama 2 tahun, terlepas dari kenyamanan kondisi yang dihadapinya. Jika ternyata menurut ia kondisi yang dihadapi tidak memberi kenyamanan -- misal dalam gaji-- mengapa tidak dilakukan pembicaraan di awal sebelum mulai bekerja. Apabila tidak ada kepastian dalam jenjang karier karena sistem kontrak, mengapa tidak bicara baik-baik dan tidak muntaber (mundur tanpa berita).

Artinya, boleh jadi lulusan perguruan tinggi kurang dapat berkomunikasi saat ia melakukan negosiasi pekerjaan dengan perusahaan. Banyak kejadian seorang lulusan enggan atau bahkan tidak dapat menentukan besar gaji yang diinginkan ketika ditanya oleh manajer personalia perusahaan. Namun setelah 2-3 bulan mereka mengeluh dengan kecilnya gaji yang diterima. Akhirnya mereka angkat kaki, tanpa memberitahukan pula. Mungkin ada dua alasan mengapa mereka tidak dapat menentukan gaji yang diharapkan. Pertama, ia malu untuk menyatakan harga kemampuan dirinya (kompetensinya). Kedua, ia berpendapat bahwa diterima di perusahaan untuk bekerja pertama kali saja sudah bagus. Bagaimana agar proses pembelajaran kita saat ini dapat meningkatkan rasa percaya diri, yang akhirnya lulusan kita mampu menyatakan posisi tawarnya dengan baik.

Peningkatan Adversity quotient menjadi penting, karena dapat memperbaiki ketahanan seseorang untuk menghadapi berbagai keadaan, baik keadaan yang menyenangkan maupun yang sulit di pekerjaan.

Sebagian besar mahasiswa yang tidak pernah mengikuti kegiatan organisasi selama masa studi di perguruan tinggi, disinyalir lemah dalam kemampuan leadership, kemampuan berdiskusi dan berkomunikasi, kemampuan kerjasama dalam sebuah tim serta saling menghargai. Kejadian tahun 2006 membuktikan lulusan baru dengan IPK 3.8 diterima di suatu perusahaan, dan diberi kewenangan untuk membawahkan 75 orang pegawai. Diantara pegawai tersebut setengahnya berumur lebih dari 40 tahun. Ternyata dari kontrak 1 tahun masa percobaan dia hanya mampu menyelesaikan 4 bulan saja. Kenapa? Karena tidak tahan untuk memimpin orang yang lebih tua, lebih berpengalaman di perusahaan namun tidak memiliki kualifikasi sarjana. Lulusan ini kurang tahan terhadap keadaan yang sulit apalagi harus mentransformasi konflik antara perusahaan dengan buruh. Ternyata lulusan tersebut tidak pernah ikut aktif dalam organisasi mahasiswa.

Sebaliknya sarjana yang semasa studinya aktif dalam berbagai organisasi, namun memiliki IPK lebih rendah lebih mampu bertahan di pekerjaan. Mereka pada umumnya memiliki kemampuan lebih dalam berkomunikasi, manajemen stress dan kerjasama yang baik dalam pekerjaan. Sebenarnya yang diinginkan oleh para pendidik maupun pengguna lulusan atau masyarakat luas yaitu sarjana yang memiliki pengetahuan luas, memiliki keterampilan untuk menggunakan ilmunya di dunia kerja dan bersikap serta berperilaku menurut etika dan norma yang berlaku di masyarakat. Jadi selain memiliki pengetahuan dan teknologi di bidangnya, juga mereka mampu untuk bekerja mandiri dan bekerjasama dalam tim, mampu berfikir logis dan analitis serta berkomunikasi secara lisan dan tulisan. Bagaimana pun juga kompetensi inilah yang ingin dihasilkan dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi. Melalui peningkatan soft skills, diharapkan lulusan perguruan tinggi lebih mampu bersaing dengan lulusan dari perguruan tinggi luar negeri. Sehingga suatu saat di era kesejagatan sarjana di Indonesia tetap menjadi pemain bukan penonton.

Sehubungan dengan itu, Departemen Pendidikan Nasional RI mencanangkan misinya bahwa pendidikan di Indonesia harus mampu menjadikan insan Indonesia yang Cerdas dan Kompetitif. Insan Indonesia ke depan bukan hanya memiliki nilai akademik tinggi, namun mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dipelajarinya di kehidupan bermasyarakat dengan penuh tanggungjawab dan sikap perilaku yang baik dan mampu bersaing dengan kemampuan sumberdaya manusia di luar negeri. Sarjana di Indonesia diharapkan tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi semata, namun mampu berkomunikasi secara lisan dan tulisan, mampu berfikir analitis dan logis, serta mampu bekerjasama dalam tim disamping juga mampu bekerja mandiri.























BAB III
ATRIBUT SOFT SKILLS


Soft skills didefinisikan sebagai ”Personal and interpesonal behaviors that develop and maximize human performance (e.g. coaching, team building, initiative, decision making etc.) Soft skills does not include technical skills such as financial, computing and assembly skills “. (Berthal). Peggy dalam bukunya berjudul The Hard Truth about Soft Skills yang terbit tahun 2007, mengatakan bahwa “soft skills encompass personal, social, communication, and self management behaviours, they cover a wide spectrum: self awareness, trustworthiness, conscientiousness, adaptability, critical thinking, organizational awareness, attitude, innitiative, emphathy, confidence, integrity, self-control, leadership, problem solving, risk taking and time management”.
Soft skills adalah ketrampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (termasuk dengan dirinya sendiri). Atribut soft skills, dengan demikian meliputi nilai yang dianut, motivasi, perilaku, kebiasaan, karakter dan sikap.

Atribut soft skills ini dimiliki oleh setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda, dipengaruhi oleh kebiasaan berfikir, berkata, bertindak dan bersikap. Namun, atribut ini dapat berubah jika yang bersangkutan mau merubahnya dengan cara berlatih membiasakan diri dengan hal-hal yang baru. Kebiasaan baru ini paling tidak dilakukan selama 90 hari berturut-turut (Aribowo, 2005).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh negara-negara Inggris, Amerika dan Kanada, ada 23 atribut softskills yang dominan di lapangan kerja. Ke 23 atribut tersebut diurut berdasarkan prioritas kepentingan di dunia kerja, yaitu:

1. Inisiatif 11. Kemampuan analitis
2. Etika/integritas 12. Dapat mengatasi stres
3. Berfikir kritis 13. Manajemen diri
4. Kemauan belajar 14. Menyelesaikan persoalan
5. Komitmen 15. Dapat meringkas
6. Motivasi 16. Berkoperasi
7. Bersemangat 17. Fleksibel
8. Dapat diandalkan 18. Kerja dalam tim
9. Komunikasi lisan 19. Mandiri
10. Kreatif 20. Mendengarkan
21. Tangguh
22. Berargumentasi logis
23. Manajemen waktu

Beberapa lembaga pendidikan/perguruan tinggi, lembaga konsultan SDM dan beberapa acara diskusi terbatas di DIKTI telah menghasilkan rumusan atribut soft skills yang bervariasi di dunia pekerjaan. Misalnya, hasil Tracer Study yang dilakukan oleh Departemen (dulu jurusan) Teknologi Industri Pertanian IPB tahun 2000, menyatakan bahwa atribut jujur, kerjasama dalam tim, integritas, komunikasi bahkan rasa humor sangat diperlukan dalam dunia kerja.

Penulis buku-buku serial manajemen diri, Aribowo, membagi soft skills atau people skills menjadi dua bagian, yaitu intrapersonal skills dan interpersonal skills. Intrapersonal skills adalah keterampilan seseorang dalam ”mengatur” diri sendiri. Intrapersonal skills sebaiknya dibenahi terlebih dahulu sebelum seseorang mulai berhubungan dengan orang lain. Adapun Interpersonal skills adalah keterampilan seseorang yang diperlukan dalam berhubungan dengan orang lain. Dua jenis keterampilan tersebut dirinci sebagai berikut:

Intrapersonal Skill
• Transforming Character
• Transforming Beliefs
• Change management
• Stress management
• Time management
• Creative thinking processes
• Goal setting & life purpose
• Accelerated learning techniques
Interpersonal Skill
• Communication skills
• Relationship building
• Motivation skills
• Leadership skills
• Self-marketing skills
• Negotiation skills
• Presentation skills
• Public speaking skills
Belakangan yaitu kira-kira tahun 2006-an sedang dikembangkan atribut lain yang tergolong pada extra personal concern, yang mengandung makna kearifan/welas asih atau wisdom. Atribut ini penting karena kalaulah dia menjadi seorang pengusaha maka tidak menjadi pengusaha yang bengis, memiliki kebijakan yang berorientasi pada win-win solution.

Dalam rangka mengembangkan atribut soft skills peserta didik di perguruan tinggi, diperlukan identifikasi awal atribut soft skills apa yang ingin dikembangkan di perguruan tinggi. Hal ini dapat diidentifikasi dengan teknik survey kepada mahasiswa melalui penyebaran kuesioner. Para mahasiswa diberi lembar kuesioner yang berisi daftar atribut soft skills. Daftar atribut soft skills dapat diperoleh dari hasil jajak pendapat kepada pengguna lulusan, dan kajian dan visi para pendidik di perguruan tinggi yang dipadukan dengan tata nilai serta norma yang diyakininya untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas. Masih jarang Perguruan Tinggi di Indonesia yang secara eksplisit menyatakan nilai-nilai yang dianutnya. Kalaupun ada jarang sekali disosialisasikan kepada seluruh dosen, karyawan dan para mahasiswanya. Beruntunglah di IPB ada project I-MHERE yang mengadakan kegiatan membangun budaya korporat sehingga dapat menghasilkan 7 nilai budaya korporat. Dalam menentukan atribut soft skills yang akan dikembangkan seyogyanya mengacu pada nilai yang dianutnya. Tujuh nilai IPB yang dapat dijadikan acuan yaitu:
1. Keunggulan Akademik
2. Spiritualisme
3. Gigih
4. Peduli
5. Senang Bekerjasama
6. Bertanggungjawab
7. Komitmen

Kuesioner yang telah diisi oleh mahasiswa diolah dan diamati modus yang paling banyak muncul yang diinginkan oleh mahasiswa untuk dikembangkan selama di perguruan tinggi. Atribut yang ingin dikembangkan biasanya berbeda antar tingkat. Kebutuhan di tingkat satu akan berbeda dengan di tingkat-tingkat atasnya. Hal ini sering luput dari perhatian para pembina kemahasiswaan, pengembang kutrikulum di jurusan/departemen, dan para pembina bimbingan dan konseling. Pada kurikulum konvensional atribut soft skills jarang sekali muncul di dalam pernyataan tujuan program studi atau kompetensi (dalam KBK). Mungkin selama ini kita semua terfokus pada pengembangan hard skills saja.

Pengembangan soft skills di perguruan tinggi dapat dilakukan melalui kegiatan proses pembelajaran dan juga kegiatan kemahasiswaan dalam kegiatan ekstra kurikuler atau ko-kurikuler. Yang terpenting, soft skills ini bukan bahan hafalan melainkan dipraktekkan oleh individu yang belajar atau yang ingin mengembangkannya. Pada saat mahasiswa ingin mengembangkan minat dan bakatnya di dalam bidang olah raga umpamanya, acapkali pembimbing kegiatan olah raga hanya berpusat pada teknik bagaimana memenangkan pertandingan yang akan dilakukan oleh mahasiswanya. Tidak sedikit yang tidak mengindahkan, bahwa pada saat dosen menjadi pembina olah raga, maka soft skills yang perlu dikembangkan adalah sportifitas, keberanian untuk kalah, keberanian untuk menang dan semangat juang yang membara. Seringkali, hard skills-nya dalam teknik shooting (untuk basket ball), atau menendang dan bertahan (untuk sepak bola) yang selalu kita perhatikan. Namun, ketika menerima kekalahan, bukan introspeksi diri yang pertama dilakukan, tetapi mungkin malah menyalahkan cara kerja wasit, atau kecurangan yang dilakukan oleh lawan. Hal-hal demikian akan banyak digali dalam kegiatan kemahasiswaan.

Pengembangan soft skills dalam proses pembelajaran dapat dilakukan melalui kegiatan belajar melalui tatap muka di dalam kelas maupun praktek di laboratorium atau lapangan. Hal ini memerlukan keikhlasan dan kreatifitas dosen yang mengampu mata ajaran dan kompetensi yang diharapkan dari pembelajaran mata kuliah yang diampu tersebut.



***




















BAB IV.
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

Perubahan Kurikulum

Pengertian kurikulum pendidikan tinggi menurut SK Mendiknas No 232/U/2000 adalah: seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di perguruan tinggi. Kurikulum di pandang sebagai 2 bagian yaitu sebagai perencanaan yang terdiri atas sederetan mata kuliah, silabus dan program kegiatan pembelajaran (GBPP-SAP). Kurikulum juga harus dipandang sebagai kegiatan nyata yaitu proses pembelajaran, proses evaluasi dan penciptaan suasana pembelajaran. Kurikulum biasanya berubah di perguruan tinggi bukan karena tradisi 5 tahunan, melainkan karena adanya perubahan internal perguruan tinggi (visi, perubahan aturan lembaga, perubahan IPTEKS) dan perubahan eksternal (perkembangan kebutuhan masyarakat pemangku kepentingan dan kecenderungan keadaan masa depan).

Kurikulum di perguruan tinggi saat ini telah berubah. Dulu ada Kurikulum Nasional sesuai dengan SK Mendikbud No. 056/U/1994 yang berbasis pada isi (content) dan luarannya dinilai oleh perguruan tinggi sebagai kemampuan minimal penguasaan pengetahuan, ketrampilan dan sikap sesuai sasaran kurikulum program studinya. Saat ini sudah terbit SK Mendiknas No 323/U/2002 tentang kurikulum inti dan institutional yang berbasis pada kompetensi. Luaran perguruan tinggi dinilai dari kompetensi seseorang untuk dapat melakukan tindakan cerdas, penuh tanggung jawab sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. Artinya penilaian bukan lagi dilakukan oleh perguruan tinggi semata, melainkan oleh pemangku kepentingan. Dengan demikian orientasi hasil bukan terletak pada output saja melainkan bergeser ke outcome. Bukan saja nilai mahasiswa yang bagus (IPK diatas 2.75) melainkan apakah mereka akan dapat berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperoleh dan mengimplementasikannya dengan sikap dan berperilaku dalam berkarya.

Kurikulum berbasis kompetensi merupakan kurikulum yang berorientasi pada kebudayaan yang menghasilkan lulusan perguruan tinggi lebih humanis. Berkaitan dengan pendidikan yang bersifat humanis, maka diperlukan muatan nilai kebudayaan di dalam pendidikan tinggi, mencakup :
(i) fenomena anthrophos dicakup dalam pengembangan manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, berkepribadian mantap, dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
(ii) fenomena tekne dicakup dalam penguasaan ilmu dan ketrampilan untuk mencapai derajat keahlian berkarya.
(iii) fenomena oikos dicakup dalam kemampuan untuk memahami kaidah kehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya.
(iv) fenomena etnos, dicakup dalam pembentukan sikap dan perilaku yang diperlukan seseorang dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keahlian yang dikuasai.

Ditegaskan dalam SK Mendiknas No 045/U/2002 tentang kurikulum inti pendidikan tinggi yang seyogyanya mengandung lima elemen, yaitu:
1) landasan kepribadian
2) penguasaan ilmu dan keterampilan
3) kemampuan berkarya
4) sikap dan perilaku dalam berkarya
5) pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat
Kurikulum ini juga mengusung empat pilar UNESCO yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan Leaning to live together. Pada Kepmen tersebut dijelaskan bahwa ada tiga jenis kompetensi yang harus dimiliki oleh lulusan yaitu komptensi utama, kompetensi pendukung dan kompetensi lainnya. Kompetensi utama adalah kemampuan minimal untuk menampilkan unjuk kerja yang memuaskan sesuai dengan penciri program studi. Kompetensi pendukung yaitu kemampuan yang gayut dan dapat mendukung kompetensi utama serta merupakan ciri khas PT yang bersangkutan. Sedangkan kompetensi lain yaitu kemampuan yang ditambahkan yang dapat membantu meningkatkan kualitas hidup, dan ditetapkan berdasarkan keadaan serta kebutuhan lingkungan PT. Misalnya jika di IPB mengusung pertanian tropika, maka walaupun mahasiswa belajar di Fakultas Ekonomi dan Manajemen, mereka akan memiliki kemampuan dalam bidang pertanian yang ada kaitannya dengan ekonomi atau manajemen, karena core business IPB adalah pertanian. Kemampuan ini dapat diberikan dengan cara mahasiswa mengambil supporting course yang diampu oleh departemen lain di lain fakultas. Kompetensi yang sudah dirumuskan tidak selalu harus diberikan melalui pembelajaran mata kuliah melainkan dapat diberikan melalui hidden curriculum dalam proses pembelajaran. Sebagai suatu contoh, di Departemen Teknologi Industri Pertanian (TIN) IPB salah satu kompetensinya adalah kemampuan komunikasi efektif. Kompetensi ini dapat diperoleh baik melalui pengambilan mata kuliah di departemen lain sebagai supporting course, atau diselipkan dalam proses pembelajaran yang sudah ada di departemen TIN, melalui diskusi, diskusi kelompok, presentasi lisan dan penugasan dalam bentuk makalah yang sifatnya kontekstual, relevan dengan bidang kajiannya. Kenyataan saat ini adalah supporting course yang diambil oleh mahasiswa TIN tidak ada kaitannya dengan kompetensi yang sudah dirancang sebelumnya, karena masalah teknis yaitu bentrok jadwal kuliah.

Di sisi lain, acapkali dosen program studi merasa puas apabila sudah memberikan kemampuan tersebut dalam mata kuliah. Namun, sayangnya hampir semua yang diberikan dalam mata kuliah selalu dinilai hanya satu aspek saja yaitu aspek kognitif. Misalnya satu mata kuliah 3 sks mengandung 1 sks praktikum. Ketika mahasiswa praktikum tidak dinilai psikomotoriknya, melainkan hasil praktikumnya berupa laporan, dimana laporan sifatnya adalah kognitif. Seharusnya apabila mahasiswa praktikum yang dinilai adalah aspek psikomotorik, afektif dan kognitifnya secara utuh.

Kurikulum berbasis kompetensi berupaya untuk mensinergikan hard skills dan soft skills. Untuk mengimplementasikannya diperlukan keberanian untuk berubah, kreativitas dosen dalam mengoptimalkan sumberdaya fasilitas dan kemauan serta komitmen yang kuat dari pimpinan perguruan tinggi untuk menerapkannya. Mengapa harus dimulai dari pimpinan?, karena kebijakan adanya di pimpinan perguruan tinggi. Apabila ingin memberikan pendidikan berkarakter dan berkualitas, maka kebijakan dalam mengatur team teaching (tatap muka dalam tim dosen, bukan berarti giliran mengajar dalam satu mata kuliah), mengatur penjadwalan, menyediakan fasilitas ruangan dan alat, komitmen, dan insentif bagi dosen yang memadai.

Ciri-ciri kurikulum berbasis kompetensi yaitu:
1. Menyatakan secara jelas rincian kompetensi peserta didik sebagai luaran proses pembelajaran
2. Materi ajar dan proses pembelajaran dirancang dengan orientasi pada pencapaian kompetensi dan berfokus pada minat peserta didik (Student Centered Learning)
3. Lebih mensinergikan dan mengintegrasikan penguasaan ranah koqnitif, psikomotorik dan afektif.
4. Proses penilaian hasil belajar lebih ditekankan pada kemampuan untuk berkreasi secara prosedural atas dasar pemahaman penerapan, analisis, dan evaluasi yang benar pula
5. Disusun oleh penyelenggara pendidikan tinggi dan pihak-pihak berkepentingan terhadap lulusan pendidikan tinggi (masyarakat profesi dan pengguna lulusan).


Penyusunan Kurikulum Berbasis Kompetensi

Langkah-langkah penyusunannya secara bertahap dimulai dengan penentuan profil lulusan berdasarkan analisa SWOT dan tracer study juga melibatkan pemangku kepentingan dan asosiasi yang berkaitan dengan program studi tersebut. Profil yaitu “Peran” yang diharapkan dapat dilakukan nantinya oleh lulusan di dunia kehidupan bermasyarakat. Peran ini dapat menunjuk kepada suatu profesi (dokter, arsitek, pengacara) atau jenis pekerjaan yang khusus (manager perusahaan, praktisi hukum, akademisi) atau bentuk kerja yang dapat digunakan dalam beberapa bidang yang lebih umum (komunikator, kreator, leader) yang dicanangkan oleh program studi yang bersangkutan. Sebagai contoh untuk kurikulum di kedokteran profil yang untuk lulusannya:
1. Care provider
2. Decision maker
3. Communicator
4. Community Leader
5. Manager

Apabila program studi telah menetukan profil lulusan maka langkah kedua adalah menentukan kompetensi utama, kompetensi pendukung dan kompetensi lainnya. Kompetensi dirumuskan bukan hanya oleh dosen (dari sisi scientific vision), melainkan bersama-sama dengan pengguna lulusan, asosiasi dan alumni sebagai sumber informasi market signal dan mempertimbangkan nilai-nilai perguruan tinggi. Berdasarkan kompetensi kedokteran di atas, University of Indiana menyusun kompetensi kedokteran sbb:
(a) Communication
(b) Clinical Skills
© Life long learning
(d) Self awareness
(e) Social & community contexts
(f) Ethics & Morals
(g) Problem Solving
(h) Professionalism

Contoh lain yaitu kompetensi bidang teknik di University of Texas:
(a). an ability to apply knowledge of mathematics, science, and engineering
(b) an ability to design and conduct experiments, as well as to analyze and interpret data
(c) an ability to design a system, component, or process to meet desired needs
(d) an ability to function on multi-disciplinary teams
(e) an ability to identify, formulate, and solve engineering problems
(f) an understanding of professional and ethical responsibility
(g) an ability to communicate effectively
(h) the broad education necessary to understand the impact of engineering solutions in a global and societal context
(i) a recognition of the need for, and an ability to engage in life-long learning
(j) a knowledge of contemporary issues
(k) an ability to use the techniques, skills, and modern engineering tools necessary for engineering practice.

Menilik kompetensi dalam bidang keteknikan di Universitas tersebut, terlihat bahwa ada sinergi antara hard skills dan soft skills. Kompetensi yang telah dirumuskan tersebut tentunya dapat diberikan melalui bahan-bahan kajian tertentu, yang dapat diprediksi kedalaman dan keluasan kajiannya yang dituangkan dalam satuan kredit semester (sks). Lalu bahan kajian tersebut, diturunkan dalam berbagai mata kuliah yang relevan, dan dirancang cara pembelajarannya, metodenya serta evaluasinya. Bagan alir penyusunan kurikulum dapat dilihat pada Gambar 3.

Pada kurikulum berbasis kompetensi, setiap bahan kajian di periksa apakah bahan kajian tersebut memiliki elemen kompetensi seperti yang diharapkan pemerintah yang tertuang dalam SK Mendiknas No 045/U/2002.

Tidak harus setiap bahan kajian memenuhi elemen tersebut. Namun di satu kurikulum program studi ke lima elemen tersebut harus terpenuhi dalam pendidikan di perguruan tinggi, baik melalui konteks, konten maupun proses pembelajarannnya.


Gambar 3. Bagan alir penyusunan kurikulum

Bahan kajian merupakan bangunan ilmu, teknologi, dan atau seni yang menunjukkan :

• Cabang ilmu tertentu/ bidang kajian Program studi, atau inti keilmuan yang dipilih oleh PS
• Pilihan cabang ilmu yang dikembangkan di PS
• Pengetahuan/ bidang kajian yang akan dikembangkan, yang dipilih karena dinilai bermanfaat bagi lulusan dimasa depan.

Pilihan bahan kajian sangat dipengaruhi oleh visi keilmuan PS, dan program pengembangan PS (misal pohon penelitian yang dibangun). Tingkat keluasan dan kedalaman dari bahan kajian ini merupakan pilihan yang otonom dari masyarakat ilmiahnya. Sedangkan keluasan bahan kajian dan besarnya sks ditentukan oleh tingkat penguasaan /kompetensi mahasiswa yang ingin dicapai, waktu untuk mencapai kompetensi atau penguasaan tertentu dan sistem pembelajaran yang diterapkan untuk mencapai kompetensi.

Dalam konsep KBK ini, sebuah mata kuliah memungkinkan berisi berbagai bahan kajian yang terkait erat dan diperlukan untuk disatukan karena pertimbangan efektifitas pembelajarannya. Artinya suatu bahan kajian dipahami dalam konteks tertentu (kontekstual). Misal materi etika bisa digabung dengan materi rekayasa, atau mungkin dengan materi manajemen. Belajar matematika dalam konteks elektro, sangat mungkin menjadi satu mata kuliah. Sehingga dengan adanya penggabungan materi ajar (sistem block) ini, ada kecenderungan jumlah mata kuliah menjadi lebih sedikit dengan bobot sks yang lebih besar. Demikian pula sebuah mata kuliah dapat dibangun untuk mencapai satu kompetensi atau beberapa kompetensi sekaligus. Dengan demikian, maka pengelompokkan mata kuliah untuk mencapai kelompok kompetensi menjadi kurang tepat.

Hal lain yang perlu dicermati adalah bahwa kompetensi dapat dicapai dengan berbagai cara. Kompetensi yang sama dapat dicapai dengan cara yang berbeda di masing-masing perguruan tinggi. Seperti halnya kompetensi keberanian berwirausaha di satu program studi diajarkan melalui satu mata kuliah berbobot 3 sks. Namun, di tempat lain boleh jadi diberikan dan diselipkan di semua mata kuliah yang relevan dengan berbagai metoda pembelajaran yang membangun spirit kewirausahaan. Untuk ini, nampaknya disinilah modal perguruan tinggi untuk bersaing dengan yang lainnya. Artinya hanya dengan proses pembelajaran yang berbeda, perguruan tinggi akan mampu menununjukkan keunggulannya dan menarik mahasiswa untuk belajar yang menyenangkan. Proses pembelajaran lah yang dapat dijadikan nilai jual, karena sumber belajar saat ini sudah dapat diakses oleh mahasiswa secara bebas melalui media virtual di era global.






















Bab V.
PENULARAN SOFT SKILLS
MELALUI PROSES PEMBELAJARAN




Student Centered Learning

Proses pembelajaran di perguruan tinggi sedang mengalami pergeseran dari pembelajaran berbasis isi ke berbasis kompetensi. Apabila kurikulum ini dijalankan, maka tidak terlalu sulit untuk mahasiswa merubah dirinya dari yang kurang kompeten menjadi yang paling kompeten. Perubahan yang dimaksud dalam SK Mendiknas 045/U/2002, bukan semata-mata hanya mengganti daftar mata kuliah, atau susunan mata kuliah, melainkan yang lebih hakiki adalah perubahan proses pembelajaran, penyampaian dan evaluasinya. Proses pembelajaran dari teacher centered ke student centered learning. Pendidikan yang berfokus hanya pada isi sudah seharusnya bergeser pada proses. Saat ini kepemilikan pembelajaran bukan lagi berpusat pada dosen melainkan mahasiswa yang mana mereka aktif mengkonstruksikan ilmu pengetahuan bersama dosennya sebagai fasilitator, sehingga penekanan bukan lagi hanya pada teori melainkan juga pada bagaimana suatu pekerjaan dikerjakan. Oleh karenanya, perubahan pada kurikulum menjadi penting adanya dengan cara memberikan berbagai pengalaman belajar kepada mahasiswa.

Proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan SCL (Student Centered Learning) menjadi salah satu pilihan dalam KBK. Soft skills dikembangkan tidak melalui satu mata kuliah, melainkan di selipkan di setiap mata kuliah. Apabila atribut soft skills yang akan dikembangkan adalah komunikasi lisan, maka proses pembelajaran yang menggunakan presentasi, diskusi, diskusi kelompok menjadi perlu dilakukan. Namun, apabila kerjasama yang akan difokuskan, maka penugasan berkelompok yang banyak diberikan.

Saat ini dosen seringkali memberi penugasan berkelompok. Tetapi hasilnya kurang memuaskan, karena dosen menyerahkan sepenuhnya kepada mahasiswa untuk berkelompok tanpa pendampingan dari dosen. Andai tugas yang diberikan adalah membuat tulisan kelompok, maka dosen seharusnya berada di tengah kelompok memperhatikan dan mengarahkan bagaimana mereka menentukan kordinator/ketuanya, bagaimana mereka memutuskan topik yang akan ditulis, bagaimana mereka membagi tugas dan menulis bersama. Adakah sinkronisasi dilakukan setelah semua tulisan terkumpul?. Tidak heran jika tulisan yang disusun tidak runtut dari satu bab ke bab lain, karena mahasiswa tidak benar-benar bekerjasama, tetapi sama-sama bekerja. Asistensi seperti yang dilakukan di bidang arsitek perlu mendapat acungan jempol dalam menjadikan mahasiswa kompeten di bidangnya. Demikian juga yang dilakukan di teknik kimia di beberapa perguruan tinggi, saat mengadakan pembicaraan antara dosen dan mahasiswa sebelum masuk laboratorium. Hal ini tidak mungkin dilakukan dengan waktu yang terbatas dan jumlah mahasiswa yang banyak di kelas. Seyogyanya perubahan proses pendidikan diawali dengan perubahan aturan akademik terlebih dahulu. Sebagai contoh di TI ITS yang membatasi mahasiswa dalam satu kelas hanya maksimal 35 orang. Padahal satu tahun mahasiswa yang diterima sekitar 150 orang. Dengan demikian kelas paralel diterapkan oleh pimpinan perguruan tinggi.

Beberapa perubahan dalam proses pembelajaran dapat disimpulkan sebagai berikut:
1). Dari sisi pengetahuan
Dulu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sudah jadi, tinggal dipindahkan dari dosen ke mahasiswa. Namun sekarang pengetahuan adalah hasil konstruksi atau hasil transformasi seseorang yang belajar.
2) Dulu belajar adalah menerima pengetahuan (pasif-reseptif), sekarang belajar adalah mencari dan mengkonstruksi (membentuk) pengetahuan aktif dan spesifik caranya.
3) Dulu mengajar adalah menjalankan sebuah instruksi yang telah dirancang, namun kini menjalankan berbagai strategi yang membantu mahasiswa untuk dapat belajar.

Berbagai metoda telah banyak ditemukan oleh para peneliti pendidikan. Tinggal memilih mana yang cocok dan relevan untuk diterapkan pada mata kuliah yang diampu sesuai dengan kompetensi yang akan diberikan melalui mata kuliah tersebut. Dalam satu mata kuliah dapat diterapkan pengembangan soft skills lebih dari 2 atribut sekaligus. Misalnya melatih berpikir analitis, kreatif, berfikir kritis dan manajemen waktu dapat dilakukan pendekatan SCL dengan menggunakan Problem based Learning atau studi kasus. Intinya pembelajaran SCL:
1) mengutamakan tercapainya kompetensi mahasiswa (kemampuan kognitif, psikomotor, dan afektif secara utuh),
2) memberi pengalaman belajar mahasiswa. (bukan hanya memberi soal ujian/ tes,sedangkan proses belajarnya tidak bisa diketahui),
3) jadi mahasiswa harus dapat menunjukan hasil belajarnya/kinerjanya,.
4) pemberian tugas menjadi pokok dalam pembelajaran,
5) mahasiswa mempresentasikan penyelesaian tugasnya, dibahas bersama, dikoreksi, dan diperbaiki, merupakan proses yang penting dalam pembelajaran SCL.
6) penilaian proses sama pentingnya dengan penilaian hasil (ujian tulis lebih banyak mengarah pada penilaian hasil belajar, bukan prosesnya).

Beberapa metode yang dapat digunakan dalam pendekatan SCL, yaitu:
• Small Group Discussion
• Role-Play & Simulation
• Case Study
• Discovery Learning (DL)
• Self-Directed Learning (SDL)
• Cooperative Learning (CL)
• Collaborative Learning (CbL)
• Contextual Instruction (CI)
• Project Based Learning (PjBL)
• Problem Based Learning and Inquiry (PBL)

Pada saat menentukan metode pembelajaran, yang utama adalah menentukan kemampuan apa yang akan diubah dari mahasiswa setelah menjalani pembelajaran tersebut baik dari sisi hard skills maupun soft skills. Sebagai teladan, jika mata kuliah tersebut mengharapkan peningkatan atribut soft skills komunikasi, kerjasama kelompok, dan berfikir analitis dan kritis, maka diskusi kelompok diikuti dengan penyajian lisan akan menjadi pilihan untuk diterapkan. Dengan demikian pendekatan pembelajaran SCL belum tentu cocok antara satu mata kuliah dengan mata kuliah lainnya.

Cara Penularan Soft Skills

Terdapat sedikitnya tiga cara penularan soft skills dalam pembelajaran, yaitu melalui:
1) Lecturer role model
2) Message of the week
3) Hidden curriculum

Seperti yang telah diuraikan di awal tulisan ini, bahwa pengembangan soft skills hanya efektif jika melalui penularan. Salah satunya dengan menjadikan dosen role model bagi mahasiswanya. Misalnya jika akan menegakkan disiplin mahasiswa, maka contoh baik dapat didemonstrasikan kepada mahasiswa oleh dosennya. Apabila dosen menginginkan mahasiswa datang tepat waktu, maka dosen harus duluan datang ke kelas. Apabila mahasiswa diminta untuk selalu menjaga kebersihan kelas, maka dosen harus mampu menghapus papan tulis setelah selesai kuliah. Apabila dosen berjanji akan mengembalikan tugas dalam tiga minggu, maka jangan sampai mengembalikan 5 minggu kemudian.

Role model dosen dapat diperlihatkan dengan saling edifikasi dengan teman sejawat di depan mahasiswa. Edifikasi berasal dari kata to edify yaitu memberikan penghargaan sekaligus proposi bagi teman sejawat. Saling menjelekkan antar dosen di depan mahasiswa patut dihindari. Jika dosen kalah dalam satu kompetisi, jangan sampai mahasiswa menjadi tumpahan keluhan rasa kekesalan dosen dengan menyalahkan orang lain. Sering-seringlah memberikan pujian kepada mahasiswa di depan mahasiswa lainnya jika mahasiswa mampu mencapai prestasi tertentu, seperti pada kompetisi KKTM, KPKM, PKM, dan mahasiswa berprestasi serta lomba lainnya.

Penularan cara kedua dapat dilakukan dengan memberi pesan moral di setiap waktu tatap muka baik pada saat awal membuka perkuliahan atau menutup pertemuan. Cara ini disebut Message of the week (MOW). Pesan yang disampaikan dapat berupa kata-kata mutiara dari berbagai sumber dengan pemaknaannya dalam berkehidupan, atau animasi yang mendukung dari web site internet. Dapat juga dilakukan ”sharing” dari mahasiswa sendiri. Andai satu semester ada 14 kali pertemuan, dan setiap mahasiswa minimal mengambil 6 mata kuliah, maka paling tidak dalam satu smester mereka akan diinspirasi dengan 84 kata-kata dan cerita yang membangun moral. Masa iya tidak dapat memperbaiki pola pikir mahasiswa?

Selain cara kedua di atas yaitu melalui hidden curriculum.
”Hidden Curriculum is the broader concept of which the informal curriculum is a part” Pelajaran dari kurikulum tersembunyi diajarkan secara implisit. Kurikulum tersembunyi lebih ampuh karena dapat membuat proses pembelajaran lebih menarik minat dan menyenangkan. Peran dosen dalam hal ini adalah:
– Membangun proses dialog
– Menangani dinamika kelompok
– Terlibat dengan motivasi mahasiswa
– Mengintroduksikan berpikir kritis
– Memberdayakan kurikulum tersembunyi (Empowering Hidden Curriculum)

Pada saat dosen mentransferkan pengetahuan, biasanya dosen melakukannya dengan metode ceramah, dan mungkin diikuti dengan tanya jawab. Sebagai contoh ketika dosen menyampaikan sebuah ilustrasi kasus di depan mahasiswa tentang teori organisasi, pengetahuan yang ditransferkan dapat berupa struktur organisasi, fungsi tiap lini, tugas dan wewenang personilnya. Kasus ini tidak akan menceriterakan proses pengambilan keputusan ( Yogijanto, 2006). Namun jika dosen ingin memberikan kasus tersebut untuk mengembangkan ”wisdom”, maka proses pembelajarannya adalah self acquired process, yang berarti mahasiswa harus aktif berperan dan dosen bertindak sebagai fasilitator dan tanggungjawab keberhasilannya ada pada mahasiswa. Tujuan pembelajaran ini adalah untuk meningkatkan kemampuan analitis, kemampuan komunikasi, mengembangkan kepribadian dan cara berfikir berkualitas serta meningkatkan kearifan.

Pada proses pembelajaran KBK, rencana pembelajaran harus sedikit berubah dari perencanaan cara konvensional. Pada tabel perencanaan perkuliahan, seharusnya kolom kedua adalah kompetensi yang diharapkan yang akan dimiliki mahasiswa setelah selesai mengikuti perkuliahan. Pada perencanaan seharusnya juga dicantumkan metode pembelajaran untuk mencapai kompetensi tertentu. Aspek yang tidak kalah pentingnya dalam perencanaan adalah indikator penilaian. Acapkali dalam perencanaan pembelajaran konvensional, indikator penilaian tidak dicantumkan, sehingga ketika mahasiswa menggugat penilaian, dosen kurang mampu menjelaskannya. Hal ini menyebabkan mahasiswa kurang puas terhadap pelayanan dosen. Lampiran 1 menunjukkan contoh borang rencana pembelajaran yang berbasis kompetensi. Lampiran 2 menunjukkan contoh apa yang dilakukan dosen dan apa yang dilakukan mahasiswa pada pembelajaran dengan pendekatan SCL.

Setiap metoda pembelajaran spesifik untuk mencapai kompetensi tertentu, sehingga boleh jadi cara pembelajaran satu mata kuliah tidak sesuai jika diterapkan untuk mata kuliah lainnya. Kreativitas dosen dalam memotivasi mahasiswa sangat besar pengaruhnya dalam keberhasilan SCL. Pendekatan SCL ini hanya dapat dilakukan jika jumlah mahasiswa di dalam satu kelas tidak terlalu banyak yaitu antara 50 -60 orang. Jika jumlah mahasiswa sampai 100 orang seharusnya dilakukan kelas paralel. Kenyataan di IPB walaupun sudah diatur oleh Dit. AJMP untuk melakukan kelas paralel, pada kenyataan di lapangan kelas tersebut dijadikan satu, dan sayangnya hal ini tidak menjadi perhatian Fakultas yang menjadi penjamin mutu pendidikan.

Cara penilaian

Penilaian (assessment) dapat dilakukan dengan berbagai cara. Ranah kognitif dapat dinilai dengan ujian tulis, ranah psikomotiorik dengan menilai saat mahasiswa praktek, dan ranah afektif dapat dilakukan dengan amatan. Nah, bagaimana jika jumlah sks hanya 2, lalu jumlah mahasiswa lebih dari 100 orang?. Rasanya student centered learning sulit untuk diterapkan, karena penilaian utuh aspek kognitif, psikomotorik dan afektif tidak dapat dilakukan. Kecuali dilakukan Team Teaching dimana dalam satu kali pertemuan, banyak dosen yang berada di dalam kelas untuk menilai proses pembelajaran pada saat-saat tertentu. Jumlah sks yang kecil hanya cocok untuk mata kuliah pengantar atau dasar.

Ada sebuah contoh yang menarik ketika melihat perencanaan pembelajaran mata kuliah kepribadian di salah satu perguruan tinggi. Kompetensinya dinyatakan sebagai kemampuan menjelaskan ilmu pengetahun, sejarah filsafat, definisi logika, perbedaan pengetahuan dan ilmu pengetahuan, pengertian etika, pengertian Pancasila dan pengertian ideologi. Namun, apabila direnungkan dengan baik, sebenarnya kompetensi apa yang pantas dicapai ketika mahasiswa mempelajari kepribadian?. Bukan kah hanya ranah kognitif saja yang akan dicapai jika mahasiswa hanya mampu menjelaskan?, bukan melakukan sesuatu dengan santun dan benar. Semuanya ini perlu kita renungkan bersama bagaimana melakukan yang terbaik bagi anak didik kita. Mari kita jawab pertanyaan di bawah ini dengan nurani kita masing-masing:
 sikap seperti apa yang mau kita teladankan?
 kehendak seperti apa yang mau kita bangun?
 dan sikap seperti apa yang mau kita dukung?

Hidup kita ini hanya sementara dan sebentar saja, jadi ada baiknya kita isi kehidupan ini dengan sesuatu yang meninggalkan kebaikan yang signfikan bagi orang lain. Sebagai penutup dapat dikemukakan bahwa tugas dosen dalam pembelajaran dengan pendekatan SCL yaitu:
1. Memfasilitasi: menyediakan buku, modul ajar, hand-out, journal, hasil penelitian,dan waktu.
2. Memotivasi: dengan memberi perhatian pada mahasiswa; Memberi materi yang relevan dengan tingkat kemampuan mahasiswa dan dengan situasi yang kontektual; Memberi semangat dan kepercayaan pada mahasiswa bahwa ia dapat mencapai kompetensi yang diharapkan; Memberi kepuasan pada mahasiswa terhadap pembelajaran yang kita jalankan.
3. Memberi tutorial: menunjukkan jalan / cara / metode yang dapat membantu mahasiswa menelusuri dan menemukan penyelesaian masalah yang berkaitan dengan materi pembelajaran.
4. Memberi umpan balik: memonitor dan mengkoreksi jalan pikiran / hasil kinerjanya agar mencapai sasaran yang optimum sesuai kemampuannya.












BAB VI.
PENGEMBANGAN SOFT SKILLS MELALUI
KEGIATAN KEMAHASISWAAN


Lembaga kemahasiswaan semakin berkembang jika diisi dengan berbagai kegiatan yang menarik dan bermanfaat bagi mahasiswa. Kecenderungan saat ini adalah munculnya gejala keengganan mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan. Masih tidak sedikit mahasiswa yang hanya belajar saja, tanpa menghiraukan kegiatan ko-kurikuler apalagi kegiatan ekstra kurikuler. Alasannya malas, mengganggu konsentrasi belajar, hanya membuang waktu, atau tidak bermanfaat. Tidak sedikit juga kegiatan mahasiswa yang tidak mendukung peningkatan personal growth. Misalnya kegiatannya bagus yaitu seminar ilmiah, namun mahasiswa banyak yang berkerumun di luar ruangan karena menjadi panitia logistik, penerima tamu dll. Akhirnya mahasiswa yang berorganisasi menjadi panitia tidak mendapatkan pembelajaran dari seminar tersebut. Padahal pekerjaan teknis sebenarnya dapat disederhanakan. Hal ini terpulang kembali pada ada tidaknya pendampingan oleh dosen yang membimbing kegiatan kemahasiswaan. Jadi kegiatan yang bagimana yang akan mengembangkan soft skills?. Kegiatan yang terencana, terprogram dan tersistem. Setiap kegiatan harus ada coach atau mentornya yang membimbing kemana arah kegiatan tersebut akan dilaksanakan, walau tidak harus setiap saat ada.

Beberapa kegiatan pengembangan soft skills telah dilakukan oleh perguruan tinggi. Misalnya success skills telah dicanangkan oleh UGM sejak tahun 2005 untuk meningkatkan thinking skills, learning skills dan living skills. Program ini diberikan kepada mahasiswa baru pada masa orientasi kampus.

 Learning Skills adalah keterampilan yang digunakan agar mahasiswa selalu dapat mengembangkan diri melalui proses belajar yang berkelanjutan
 Thinking Skills adalah keterampilan yang dibutuhkan pada saat mahasiswa berpikir untuk memecahkan masalah di kehidupan sehari-hari
 Living skills adalah keterampilan yang dibutuhkan untuk beradaptasi dalam kehidupan sehari-hari.

Program ini disajikan dengan sangat menarik, mengikutsertakan teknik-teknik simulasi, role play dan diskusi. Pada peningkatan learning skills, peserta didik mendapatkan teknik belajar, pemetaan pikiran, dan teknik membaca. Sedangkan thinking skills difokuskan pada peningkatan kemampuan menyelesaikan persoalan, pengambilan keputusan. Sementara living skills lebih ditekankan pada beberapa hal diantaranya manajemen diri, membangun impian, teknik berkomunikasi, mengelola konflik dan mengelola waktu.

Lain halnya dengan Universitas Airlangga yang sudah beberapa tahun memiliki program Mahasiswa Unggulan. Mahasiswa yang menjadi peserta adalah mahasiswa pilihan dari berbagai fakultas yang dinyatakan berprestasi. Program ini diisi dengan caring and sharing antara pakar/praktisi dengan mahasiswa seputar isu-isu aktual. Keuntungan program ini adalah dapat menjaring future leader dan membinanya dari sejak awal sebelum mereka lulus. Kemampuan yang ingin ditingkatkan adalah wawasan yang luas, saling menghormati satu sama lain, berjiwa entrepreneur, berfikir kreatif dan kemampuan belajar yang lebih baik.

Di ITS telah dilakukan kegiatan yang secara tidak langsung akan meningkatkan soft skills mahasiswa melalui center for entrepreneurship development, atau kegiatan business gathering. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan jiwa entrepreneurial, diantanya berani mengambil resiko, berani bermimpi, pantang menyerah dan selalu bersemangat.

Sebenarnya kegiatan pengembangan soft skills tidak akan optimal bila hanya dilakukan melalui pelatihan, seminar dan workshop. Pengembangan soft skills harus dipraktekkan berulang-ulang dan didampingi oleh mentor. Seorang pakar dalam bidang pengembangan pendidikan Christoph Hanssert dari Jerman menyarankan agar pengembangan soft skills untuk mahasiswa Indonesia dilakukan dengan cara menjalin jejaring kerja (networking) dosen Indonesia dengan dosen luar negeri yang melibatkan mahasiswa, misalnya dalam bidang penelitian. Dengan jejaring ini, mau tidak mau mahasiswa akan terpaksa berkomunikasi tulisan dengan menggunakan bahasa asing. Suatu saat mahasiswa ini difasilitasi untuk bertemu bertukar pikiran, saling menghargai pendapat, mempelajari budaya orang lain dan belajar bekerjasama dalam tim.

Berbagai kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa seperti yang diselenggarakan di IPB dan juga di berbagai perguruan tinggi lainnya, sudah banyak muatan soft skills yang dapat dikembangkan oleh mahasiswa. Hal ini akan berhasil guna jika program yang digulirkan lebih terarah untuk mengembangkan atribut tertentu sesuai dengan kebutuhan populasinya. Unit kegiatan karate saja, apabila dihayati dan benar-benar ditujukan untuk pengembangan soft skills mahasiswa, dapat diarahkan untuk memperkuat atribut komitmen, bersemangat, mandiri, dan ketangguhan.

Kegiatan pelatihan harus terprogram dengan baik, ada durasi, capaian dan keberlanjutan. Apakah pelatihan akan diarahkan pada transformasi keyakinan, motivasi, karakter, impian. Lantas tidak hanya berhenti di pelatihan tanpa adanya coaching oleh para coach yang tangguh, sampai akhirnya dalam durasi tertentu akan terjadi transformasi diri yang seutuhnya.

Prijosaksono dalam buku terbarunya berjudul the Power of Transformation (2005) menuliskan bahwa Transformasi Diri 90 hari akan mampu membangun kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih baik. Dalam buku itu juga diuraikan bahwa ada 5 prinsip transformasi yaitu:
(1) meyakini dan mendayagunakan kekuatan dan anugrah Tuhan dalam diri
(2) membuat pilihan dan keputusan dalam diri
(3) melakukan kebiasaan-kebiasaan baik secara terus menerus dalam kehidupan ini
(4) mampu membangun interaksi dengan orang lain
(5) mampu bekerja secara sinergis dan kreatif dengan orang lain dalam organisasi

Dalam pelaksanaan pelatihan harus diperhitungkan efisiensi dan efektivitasnya. Sangat tidak efisien kalau pesertanya terlalu banyak dengan fasilitas yang seadanya/terbatas. Untuk itu, perlu dilakukan Multi Level Training (MLT) yaitu pelatihan yang dilakukan secara bertingkat. Mulanya hanya 20-30 orang mahasiswa pilihan yang memiliki kemauan dan kemampuan dalam memimpin, berbagi pengalaman dan pengetahuan. Setiap satu orang diwajibkan memiliki anggota 3-5 orang dalam durasi tertentu (misalnya 1-2 bulan). Orang baru tersebut dipanggil front liners. Front liners ini melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh Up liners. Kegiatan dalam kelompok kecil itu masing-masing adalah pertemuan rutin, sharing, membuat program kecil seperti mengubah kebiasaan yang dinilai buruk selama ini menjadi kebiasaan yan glebih produktif. Dalam kelompok kecil itu lebih banyak dilakukan coaching oleh up liners. Apabila hal ini dilakukan terus menerus, maka metoda training yang efisien akan terwujud tanpa mengurangi kualitas hasil pelatihan tersebut. Sistem ini pula yang dianut oleh Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja Bali dalam pengembangan soft skills dengan mengadopsi multi level role model dalam menerapkan Trikaya Parisudha (Berpikir baik, berkata baik dan berbuat baik).

Masih banyak metoda yang mungkin dapat dilakukan oleh para pendidik kita untuk mahasiswanya. Untuk itu, perlu digali potensi-potensi yang ada di tiap perguruan tinggi. Kadangkala, apa yang bagus dan dapat diterapkan di satu perguruan tinggi dalam pengembangan soft skills belum tentu dapat diterapkan begitu saja di perguruan tinggi lainnya. Boleh jadi strategi dan tekniknya akan bervariasi tergantung pada visi perguruan tinggi, soft skills yang dimiliki oleh mahasiswa saat ini dan harapan pengembangan soft skills dari mahasiswa, kebutuhan soft skills para pengguna lulusan dan coach dan mentor serta sarana prasarana yang dimiliki perguruan tinggi.

Langkah-langkah dalam penyusunan Program Pengembangan Soft Skills dalam kegiatan kemahasiswaan:
1. Perguruan Tinggi atau di tingkat Fakultas menyusun citra lulusannya yang sesuai dengan nilai dan norma yang diusung Perguruan Tinggi. Sebagai contoh, lulusan salah satu Fakultas Kedokteran ingin dicitrakan sebagai ”dokter yang unggul, siap setiap saat membantu rakyat sebagai community leader”, karena sesuai dengan visi dan misi Perguruan Tingginya. Apakah di Fakultas Pertanian IPB ingin dicitrakan sebagai pemimpin masyarakat tani yang produktif, berani mengambil resiko dan komitmen?

2. Menentukan atribut soft skills yang mendukung ketercapaian pernyataan tersebut diatas, misal fokus pada atribut kepemimpinan, maka yang perlu dikembangkan percaya diri, inisiatif, komunikatifsi, integritas dan yang terkaitnya.

3. Mengidentifikasi kondisi soft skills mahasiswa sebelum dijalankan program pengembangan soft skills, karena sesungguhnya mahasiswa sudah memiliki atribut tertentu. Fokuskan pada karakteristik atribut soft skills yang akan dikembangkan. Lalu jangan lupa apa faktanya?. Misal teramati bahwa mahasiswa saat ini kurang percaya diri. Faktanya apa?, kurang berani untuk bertanya di dalam kelas, kurang mampu mengemukakan pendapat dan berbicara di depan kelas. Faktanya?, apabila diajukan pertanyaan, hanya 1-2 orang yang berani menjawab, atau kalau diberi kesempatan untuk bertanya tidak berani mengajukan pertanyaan. Namun ketika diberi pertanyaan tertulis, mereka dapat menjawab, dan ketika ditanya alasannya mengapa tidak mengajukan pertanyaan, mereka banyak yang mengatakan takut ditertawakan teman karena pertanyaannya dikira mudah dst. Jadi kalau program peningkatan percaya diri sudah dilakukan, maka indikator keberhasilan dari program tersebut adalah peningkatan jumlah orang yang bertanya, atau menanggapi pertanyaan, atau mengajukan pendapat di dalam kelas.
4. Menggali market signals dari pemangku kepentingan, para alumni dan para pengguna lulusan perguruan tinggi tentang atribut apa yang harus dimiliki di dunia kerja, keunggulan apa yang dimiliki oleh lulusan IPB, kelemahannya apa yang masih ada di lulusan IPB dalam bekerja di kehidupan masyarakat.
5. Menciptakan, merencanakan dan mengembangkan program yang mengakomodir pengembangan soft skills dengan atribut hasil kajian di atas dan dituangkan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang tersistem (terkait satu elemen dengan elemen yang lainnya)
6. Tuangkan rencana dalam berbagai kegiatan dengan disertai pendampingan oleh dosen pendamping (coach/mentor)
7. Mendistribusikan kegiatan ke dalam tingkatan mahasiswa mulai dari tingkat I sampai tingkat akhir. Terkadang banyak dilupakan bahwa kegiatan tersebut hanya untuk tingkat I, II dan III, sedangkan diatasnya tidak lagi dilibatkan dalam bentuk kegiatan kemahasiswaan.
8. Evaluasi setiap kegiatan sebagai umpan balik dalam pengembangan soft skills mahasiswa.

Ada pertanyaan dari beberapa kawan, bagaimana menilai kalau penularan soft skills sudah tercapai?. Cara termudah yaitu dengan amatan, apakah atribut soft skills yang lemah sudah ada perbaikan?, Pada saat awal ketika kita menentukan atribut soft skills yang menjadi kelemahan mahasiswa senantiasa harus disertai fakta. Perubahan dari fakta inilah yang akan menunjukkan tingkat keberhasilan dari suatu program.

Pada umumnya jarang sekali perguruan tinggi melakukan identifikasi awal kondisi mahasiswa yang masuk ke perguruan tinggi dari sisi soft skills-nya. Yang banyak dilakukan perguruan tinggi adalah mengidentifikasi kondisi awal kemampuan dalam berbahasa Inggris, atau bahasa asing lainnya. Program studi juga jarang menanyakan kepada mahasiswa baru maupun lama tentang pembelajaran apa yang disukai dan tidak disukai selama ini?. Nah, dalam era kepuasan konsumen, nampaknya harus sudah berubah kita harus lebih banyak berkomunikasi dan menggali informasi dari mahasiswa kita.

Kita sering menyamakan pendidikan sebagaimana layaknya proses produksi barang di sebuah industri. Ada yang dinamakan input yang disetarakan dengan mahasiswa yang baru masuk, lalu ada proses produksi yang disetarakan dengan proses pembelajaran, dan ada yang dinamakan produk yang disebut lulusan. Di dalam industri dibuat SOP dan kita pun dalam dalam rangka penjaminan mutu membuat SOP. Namun ada yang dilupakan bahwa bahan baku perguruan tinggi walaupun telah disaring memiliki rentang keragaman yang cukup tinggi, bukan hanya pada intelektualnya melainkan dari sisi karakternya. Hal ini disebabkan karena pengaruh kebiasaaan belajar, pola hidup dan pola pikir yang berulang-ulang dilakukan sampai mereka berada di SMA. Belum lagi pengaruh budaya yang membentuknya. Perubahan inilah yang menjadi hakekat dari pendidikan, dimana tujuan pendidikan adalah untuk merubah perilaku. Perubahan perilaku merupakan fungsi dari olah hati dikalikan dengan fungsi dari olah pikir, olah raga dan olah rasa. Jadi mari kita tidak hanya menjadi seorang pengajar tetapi menjadi seorang pendidik.








BAB VII.
PENUTUP

Strategi sukses secara operasional dalam pengembangan soft skills dapat diringkas, yaitu (1) perguruan tinggi beserta sumberdaya manusia yang ada memiliki kepedulian dan komitmen yang tinggi dalam pengembnagan soft skills mahasiswa, (2) perguruan tinggi mengidentifikasi atribut soft skills yang telah dimiliki mahasiswanya dan yang ingin dikembangkannya, (3) perguruan tinggi menetapkan atribut soft skills yang akan dikembangkan 5 tahun ke depan berdasarkan sinyal pasar dari pendapat pengguna dan alumninya, (4) perguruan tinggi merancang langkah konkrit yang menjadi agenda akademik dan non akademik, (5) perguruan tinggi menjalankan kegiatan yang terencana dan terevaluasi, (6) perguruan tinggi membuat buku cetak biri pengembangan soft skills yang paling paripurna untuk dijalankan.

Tulisan kecil ini masih harus disempurnakan lebih lanjut dengan menambahkan rincian penjelasan transformasi karakter bagi dosen dan mahasiswa, serta cerita sukses dalam proses pembelajaran. Hal yang lebih prinsip sebenarnya adalah adanya kemauan untuk berubah, yang dimulai dari para dosennya. Untuk itu, perubahan perlu dilakukan mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang.



Bahan Bacaan tentang Soft Skills


Basith, A. 2004. Berani Sukses. PT. Grhadika. Jakarta.

Direktorat Akademik, 2005, Tanya Jawab Seputar Kurikulum Berbasis kompetensi. Ditjen DIKTI. Jakarta.

______________________, Tanya Jawab Seputar Unit Pengembangan Materi dan Proses Pembelajaran di Perguruan Tinggi. Ditjen Dikti. Jakarta

Heller R. 1998. Motivating People. Dorling Kindersley Limited. London

Helmi, A. V., D. Hastjarjo, N. Ramdhani, S. Dewayani, 2005. menjadi Pembelajar Sukses. Program Peningkatan pertumbuhan Kepemimpinan Berkualitas. UGM. Jogyakarta.

Jogiyanto, 2006. Pembelajaran Metode Kasus. Penerbit Andi. Jogyakarta.

Klaus, P. 2007. The Hard Truth about Soft Skills. Harper Collins Publisher. New York.

Nasution, A.H., 2006. Creative Thinking. Penerbit Andi. Jogyakarta.

Nasution, A.H., B.A. Noer, dan M. Suef, 2007. Entrepreneurship: Membangun Spirit Teknopreneurship. Penerbit Andi. Jogyakarta.

Neff, TJ dan J.M. Citrin. 2001. Lesson from The Top. Doubleday Business. New York.

Prijosaksono, A. M. Marlan. 2005. The Power of Transformation. Penerbit Elex Media Komputindo. Jakarta.

Prijosaksono, A dan A. Erningpraja. 2003. Enrich Your Life Everyday. Penerbit Elex Media Komputindo. Jakarta.

Prijosaksono, A., dan R. Sembel. 2002. Control Your Life. Penerbit Elex Media Komputindo. Jakarta.

----------------------------------------------, 2003. Maximize Your Strength. Penerbit Elex Media Komputindo. Jakarta.

Prijosaksono, A., dan P. Hartono. 2002. Make Yourself A Leader. Penerbit Elex Media Komputindo. Jakarta.

Putra, I.S. dan Pratiwi A. 2005. Sukses dengan Soft Skills. Direktorat Pendidikan ITB. Bandung.

Quilliam, S. 2003. Positive Thinking. Dorling Kindersley Limited. London.

Samani, M. 2007. Menggagas Pendidikan Bermakna. Penerbit SIC. Surabaya.

Suhardjono, 2002. Pengantar Pembelajaran Afektif. Lembaga Penerbitan Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang.








“A hundred times
every day
I remind myself
that my inner and
outer life
are based on the labors
of other men,
living and dead,
and I must exert myself in order to give in
the same measure
as I have received and
am still receiving.”

Albert Einstein

.








Lampiran 1.
Contoh Borang Perencanaan Pembelajaran

Minggu ke Kompetensi
yang
diharapkan Materi
Bahasan Metode Indikator penilaian Bobot
Nilai (%)




























Lampiran 2.
Penjelasan kegiatan SCL untuk dosen dan mahasiswa

No MODEL BELAJAR YANG DILAKUKAN MAHASISWA YANG DILAKUKAN DOSEN
1 Small Group Discussion membentuk kelompok (5-10)
memilih bahan diskusi
mepresentasikan paper dan mendiskusikan di kelas Membuat rancangan bahan dikusi dan aturan diskusi.
Menjadi moderator dan sekaligus mengulas pada setiap akhir sesion diskusi mahasiswa.
2 Simulasi mempelajari dan menjalankan suatu peran yang ditugaskan kepadanya.
atau mempraktekan/mencoba berbagai model (komputer) yang telah disiapkan. Merancang situasi/ kegiatan yang mirip dengan yang sesungguhnya, bisa berupa bermain peran, model komputer, atau berbagai latihan simulasi.
Membahas kinerja mahasiswa.
3 Discovery Learning mencari, mengumpulkan, dan menyusun informasi yang ada untuk mendeskripsikan suatu pengetahuan. Menyediakan data, atau petunjuk (metode) untuk menelusuri suatu pengetahuan yang harus dipelajari oleh mahasiswa.
Memeriksa dan memberi ulasan terhadap hasil belajar mandiri mahasiswa.

SAUDARI KU APA YANG MEMBUATMU MEMBUKA AURAT

Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
SAUDARIKU
APA YANG MENGHALANGIMU UNTUK
BERJILBAB
Oleh :
Syaikh Abdul Hamid Al-Bilaly
Penerjemah
Ustadz Ainul Haris Umar Thayib, Lc.
Publication : 1428, Jumadi Tsani 16 / 2007, Juli 2

MUQADDIMAH
بسم الله الرحمن الرحيم
_ ونفس وما سوها, فألهمها فجورها ونقوها _
“ Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaanya) maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu ( jalan ) kefasikan dan ketakwaannya” ( Asy Syams : 7-8).Manusia diciptakan oleh Allah dengan sarana untuk meniti jalan kebaikan dan jalankejahatan. Allah memerintahkan agar kita saling berwasiat untuk mentaati kebenaran, saling memberi nasehat di antara kita dan menjadikannya di antara sifat-sifat orang yang terhindar dari kerugian. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al
‘Ashr. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa kewajiban kita terhadap sesama adalah saling menasehati. Beliau Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :
" المؤمن مرآة المؤمن "
“ Orang mukmin adalah cermin bagi orang mukmin lainnya”[1] .Dengan kata lain seorang mukmin bias menyaksikan dan mengetahui kekurangannya dari mukmin yang lain, sehingga ia laksana cermin
bagi dirinya. Tetapi cermin itu tidak memantulkan gambar secara fisik, melainkan memantulkan gambar secara akhlak dan perilaku. Islam juga sebagaimana dalam banyak hadits- menganjurkan dan mengajak pemeluknya agar sebagian mereka mencintai sebagian yang lain. Di antara pilar utama dari kecintaan ini, hendaknya engkau berharap agar saudaramu masuk surga dan dijauhkan dari neraka. Tak sebatas berharap, namun engkau harus berupaya keras dan maksimal untuk menyediakan berbagai sarana dan menjauhkan saudaramu dari hal-hal yang membahayakan dan merugikannya, di dunia maupun di akhirat. Lebih khusus, buku kami hadirkan untuk segolongan kaum muslimah yang belum mentaati (1 ) Diriwayatkan oleh Thabrani dalam Al Ausath dan dishahihkan oleh Al AlBani dalam Sahih Jami’ush Shaghir no: 6531. perintah merhijab [2], seperti yang diperintahkan syariat. Baik karena belum mengetahui bahwa hijab adalah wajib, atau karena tidak mampu melawan tipu daya dan pesona dunia, karena takluk di hadapan nafsu yang senantiasa memerintahkan keburukan atau tunduk oleh bisikan setan, karena pengaruh teman yang tidak suka kepada kebaikan bagi sesama jenisnya atau karena alasan-alasan yang lain. Kami memohon kepada Allah semoga uraian dalam buku sederhana ini menjadi pembuka hati yang terkunci, menggetarkan perasaan yang tertidur, sehingga bisamengembalikan segenap akhawat yang belummentaati perintah berhijab kepada fitrah yang telah diperintahkan Allah Ta’ala.Tidak lupa kami menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada ustadzah Badriyah Al Azzaz atas berbagai koreksiannya yang amat berharga tarhadap naskah ini. Semoga Allah memberi taufik, kebenaran dan kesudahan hidup yang baik kepada kita. Amin. (2 ) Hijab: Maksudnya, busana wanita muslimah yang menutupi seluruh badan tubuhnya dari kepala sampai telapak ka ki, hijab tersebut mempunyai syarat-syarat tertentu.( lihat hal no: 62)

SYUBHAT DAN SYAHWAT
Setan bisa masuk kepada manusia melalui duapintu utama, yaitu syubhat ddan syahwat.Seorang tidak melakukan suatu tindakan maksiat kecuali dari dua pintu tersebut. Dua perkara itu merupakan penghalang sehingga seorang muslim tidak mendapatkan keridhaan Allah, masuk surga dan jauh dari neraka. Di bawah ini akan kita
uraikan sebab-sebab utama dari syubhat dan syahwat.

SYUBHAT PERTAMA : MENAHAN GEJOLAK SEKSUAL

Syubhat ini menyatakan bahwa gejolak nafsu seksual pada setiap manusia adalah sangat besar dan membahayakan. Ironinya, bahaya ini timbul ketika nafsu tersebut ditahan dan dibelenggu. Jika terus menerus ditekan, ia bias mengakibatkan ledakan dasyat. Hijab wanita akan meyembunyikan kecantikannya, sehingga para pemuda tetap berada dalam gejolak nafsu seksual yang tertahan, dan hampir meledak, bahkan terkadang tak tertahankan sehingga ia lampiaskan dalam bentuk tindak perkosaan atau pelecehan seksual lainnya. Sebagai pemecahan masalah tersebut, satu-satunya cara adalah membebaskan wanita dari mengenakan hijab, agar para pemuda
mendapatkan sedikit nafas bagi pelampiasan nafsu mereka yang senantiasa bergejolak di dalam. Dengan demikian, hasrat mereka sedikit bisa terpenuhi. Suasana itu lalu akan mengurangi bahaya ledakan gejolak nafsu yang sebelumnya tertahan dan tertekan.
BANTAHAN :

Sepintas , syubhat di atas secara lahiriah nampak logis dan argumentatif. Kelihatannya, sejak awal, pihak yang melemparkan jalan pemecahan tersebut ingin mencari kemaslahatan bagi masyarakat dan menghindarkan mereka dari kehancuran. Padahal kenyataannya, mereka justru menyebabkan bahaya yang jauh lebih besar bagi masyarakat, yaitu menyebabkan tercerai berainya masyarakat, kehancurannya, bahkan berputar sampai seratus delapan puluh derajat pada kebinasaan. Seandainya jalan pemecahan yang mereka ajukan itu benar, tentu amerika dan negara-negara eropa serta negara-negara yang berkiblat kepada mereka akan menjadi negara yang paling kecil kasus perkosaan dan kekerasannya terhadap
kaum wanita di dunia, juga dalam kasus –kasus kejahatan yang lain. Amerika dan negara-negara Eropa ama tmemperhatikan masalah ini, dengan alas an kebebasan induvidual. Di sana, dengan mudah anda akan mendapatkan berbagai majalah porno dijual di sembarang tempat. Acara-acara televisi, khususnya setelah pukul dua belas malam, menayangkan berbagai adegan tak senonoh, yang membangkitkan hasrat seksual. Bila musim panas tiba, banyak wanita di sana yang membuka pakaiannya dan hanya mengenakan pakaian bikini. Dengan keadaan seperti itu, mereka berjemur di pinggir pantai atau kota-kota pesisir lainnya. Bahkan di sebagian besar pantai dan pesisir, mereka boleh bertelanjang dada dan hanya memakai penutup ala kadarnya. Terminalterminal video rental bertebaran diseluruh pelosok Amerika dengan semboyan “ Adults only” ( khusus untuk orang dewasa ) . di terminalterminal ini, anak anak cepat tumbuh matang dalam hal seksual sebelum waktunya. Siapa saja dengan mudah bisa menyewa kaset-kaset video lalu memutarnya di rumah atau langsung menontonnya di tempat penyewaan. Rumah-rumah bordil bertaburan dimana-mana. Bahkan di sebagian negara memajang para wanita tuna susila (pelacur) di etalase sehingga bias dilihat oleh peminatnya dari luar. Apakah kesudahan dari gaya hidup yang serba boleh(permisif) itu ? apakah kasus perkosaan semakin bekurang ? Apakah kepuasan mereka terpenuhi, sebagaimana yang ramai mereka bicarakan ? apakah para wanita terpelihara dari bahaya besar ini?.

DATA STATISTIK AMERIKA
Dalam sebuah buku berjudul “ crime in U.S.A” terbitan pemerintah federal di Amerika – yang berarti data statistiknya bias dipertanggungjawabkan karena ia dikeluarkan oleh pihak pemerintah, tidak oleh paguyupan sensus- di halaman 6 dari buku ini di tulis : “setiap kasus perkosaan yang ada selalu di lakukan dengan cara kekerasan dan itu terjadi di Amerika setiap enam menit sekali”. Data ini adalah yang terjadi pada tahun 1988, yang di maksud dengan kekerasan di sini adalah dengan menggunakan senjata tajam. Dalam buku yang sama juga disebutkan:
1. Pada tahun 1978 di Amerika terjadi sebanyak 147.389 perkosaan.
2. Pada tahun 1979 di Amerika terjadi sebanyak 168.134 perkosaan.
3. Pada tahun 1981 di Amerika terjadi sebanyak 189.045 perkosaan.
4. Pada tahun 1983 di Amerika terjadi sebanyak 311.691 perkosaan.
5. Pada tahun 1987 di Amerika terjadi sebanyak 221.764 perkosaan.

TAFSIR EMPIRIS AYAT AL-QUR’AN.
Data stastik ini, juga data-data sejenis lainnya - yang dinukil dari sumber-sumber berita yang dapat dipertanggungjawabkan- menunjukkan semakin melonjaknya tingkat pelecehan seksual di negara-negara tersebut. Tidak lain, kenyataan ini merupakan penafsiran empiris (secara nyata dan dalam praktek kehidupan sehari-hari) dari firman Allah :
يا َأي  ها النبِ  ي ُقل لَِّأ  ز  واجِ  ك  وبناتِ  ك  ونِ  ساء اْل  م  ؤمِنِ  ين ي  دنِ  ين  عَليهِ  ن مِن _
_  جَلابِيبِهِ  ن َذلِ  ك َأ  دنى َأن ي  عرْف  ن َفَلا ي  ؤَذي  ن
“ Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anakanak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu….( Al Ahzab: 59). Sebab turunnya ayat – sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qurthubi dalam tafsirnyakarena para wanita biasa melakukan buang besar di padang terbuka sebelum dikenalnya kakus (tempat buang air khusus dan tertutup). Di antara mereka itu dapat dibedakan antara budak dengan wanita merdeka. Perbedaan itu bias dikenali yakni kalau wanita-wanita merdeka mereka menggunakan hijab. Dengan begitu para pemuda enggan mengganggunya. Sebelum turunnya ayat ini, wanita-wanita muslimah juga melakukan buang hajad di padang terbuka terebut. Sebagian orang-orang durjana mengira kalau dia adalah budak, ketika diganggu, wanita muslimah itu berteriak sehingga laki-laki itu pun kabur. Kemudian mereka mengadukan peristiwa tersebut kapada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sehingga turunlah ayat ini [3]. Hal ini menegaskan , wanita yang memamerkan auratnya, dan mempertontonkan kecantikannya dan kemolekan tubuhnya kepada setiap orang yang lalu lalang, lebih berpotensi untuk diganggu. Sebab dengan begitu, ia telah membangkitkan nafsu seksual yang terpendam. Adapun wanita yang berhijab maka dia senantiasa menyembunyikan kecantikan dan perhiasannya. Tidak ada yang kelihatan daripadanya selain telapak tangan dan wajah menurut suatu pendapat. Dan pendapat lain mengatakan, tidak boleh terlihat daripada wanita tersebut selain matanya saja. (3 ) Tafsir Al Qurthubi : 8/ 5325 Syahwat apa yang bisa dibangkitkan oleh wanita berhijab itu?instink seksual apa yang bisa di
gerakkan oleh seorang wanita yang menutup rapat seluruh tubuhnya itu ? Allah mensyariatkan hijab agar menjadi benteng bagi wanita dari gangguan orang lain. Sebab Allah Ta’ala mengetahui bahwa pamer aurat akan mengakibatkan semakin bertambahnya kasus pelecehan seksual, sebab perbuatan tersebut membangkitkan nafsu seksual yang sebelumnya tenang. Kepada mereka yang masih mempertahankan dan meyakini kebenaran syubhat tersebut, kita bias menyanggah kesalahan mereka melalui empat
hakikat;
Pertama : berbagai data statistik telah mendustakan cara pemecahan yang mereka tawarkan.Kedua: Hasrat seksual terdapat pada masingmasing pria dan wanita. Ini merupakan rahasia Ilahi yang dititipkan Allah kepada keduanya untuk hikmah yang amat banyak. Di antaranya adalah demi kelangsungan keturunan, jika boleh berandai-andai , andaikata hasrat seksual itu tidak ada , apakah keturunan manusia masih bias dipertahankan ? tidak seorangpun memungkiri keberadaan hasrat dan naluri ini. Tetapi dengan tidak mempertimbangkan adanya naluri seksual tersebut tiba-tiba sebagian laki-laki di minta berlaku wajar di tengah pemandangan yang serba terbuka dan telanjang. Amat ironi memang. Ketiga : bahwa yang membangkitkan nafsu seksual laki-laki adalah tatkal ia melihat kecantikan wanita, baik wajah atau anggota tubuh lain yang mengundang syahwat. Seseorang tidak mungkin melawan fitrah yang diciptakan Allah
(kecuali mereka yang dirahmati Allah) sehingga bisa memadamkan gejolak syahwatnya tatkala melihat sesuatu yang membangkitkannya.

Keempat : orang yang mengaku bias mendiaqnosa nafsu seksual yang tertekan dengan mengumbar pandangan mata kepada wanita cantik dan telanjang sehingga nafsunya akan
terpuaskan (dan dengan demikian tidak menjurus kepada perbuatan yang lebih jauh, misalnya pemerkosaan atau pelecehan seksual lainnya ) maka yang ada hanya ada dua kemungkinan :

Pertama : orang itu adalah laki-laki yang tidak bisa terbangkitkan nafsu seksualnya meski oleh godaan syahwat yang bagaimanapun ( bentuk dan jenisnya ) ia termasuk kelompok orang yang dikebiri kalaminnya sehingga dengan cara apapun mereka tidak akan merasakan keberadaan nafsunya.

Kedua : laki-laki yang lemah syahwat atau impoten. Aurat yang dipamerkan itu tak akan mempengaruhi dirinya. Apakah orang yang membenarkan syubhat tersebut (sehingga dijadikannya jalan pemecahan) hendak memasukkan kaum laki-laki dari umat kita kedalam salah satu dari dua golongan manusia lemah di atas ( Na’udzubillah min dzalik).

SYUBHAT KEDUA : BELUM MANTAP
Hal ini lebih tepat digolongkan kepada syahwat dan menuruti hawa nafsu dari pada syubhat. Jika seorang ukhti yang belum mentaati perintah berhijab ditanya, mengapa ia tidak mengenakan hijab ? di antaranya ada yang menjawab “ Demi Allah, saya belum mantap dengan berhijab. Jika saya telah merasa mantap dengannya saya akan berhijab,Insya Allah”. Ukhti yang berdalih dengan syubhat ini hendaknya bisa membedakan antara dua hal. Yakni antara perintah Tuhan dengan perintah manusia. Jika perintah itu datangnya dari manusia, maka manusia bisa salah bisa benar. Imam Malik berkata: “ dan setiap orang bisa diterima ucapannya dan juga bisa ditolak, kecuali ( perkataan) orang yang ada di dalam kuburan ini”. Yang dimaksudkan adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Salagi masih dalam bingkai perkataan manusia, maka seseorang tidak bisa dipaksa untuk menerima. Karenanya, dalam hal ini, setiap orang bias berucap “ belum mantap” dan ia tidak dihukum karenanya. Adapun jika perintah itu merupakan salah satu dari perintah-perintah Allah, dengan kata lain Allah yang memerintahkan di dalam kitabNya, atau memerintahkan hal tersebut melalui NabiNya agar disampaikan kepada umatnya, maka tidak ada tempat bagi manusia untuk mengatakan “ saya belum mantap”. Bila ia masih mengatakan hal itu dengan penuh keyakinan padahal ia sendiri tahu bahwa perintah tersebut ada di dalam kitab Allah Ta’ala maka hal tersebut berpotensi untuk menyeretnya kepada bahaya yang lebih sangat besar, yakni keluar dari agama Allah, sementara dia tidak menyadarinya. Sebab dengan begitu berarti ia tidak percaya dan meragukan kebenaran perintah tersebut, maka itu adalah ungkapan yang sangat berbahaya. Seandainya ia berkata : “ Aku wanita kotor” aku tak kuat melawan nafsuku” “ jiwaku rapuh” Atau hasratku untuk itu sangat lemah” tentu ungkapanungkapan ini dan yang sejenisnya tidak bias disejajarkan dengan ucapan : “ Aku belum mantap” sebab ungkapan-ungkapan tersebut merupakan pengakuan atas kelemahan, kesalahan dan kemaksiatan dirinya, ia tidak menghukumi dengan salah atau benar terhadap perintah –perintah Allah secara semaunya. Juga tidak termasuk yang mengambil perintah Allah dan mencampakkan yang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
 وما َ كا َ ن لِ  م  ؤمِنٍ  وَلا م  ؤمِنةٍ إَِذا َق  ضى اللَّه  و ر  سوُله َأ  مرا َأن ي ُ كو َ ن َل  ه  م _
_ اْلخِيرُة مِ  ن َأ  مرِهِ  م  ومن ي  عصِ اللَّه  و ر  سوَله َفَق  د  ضلَّ  ضَلاًلا مبِينا
“ Tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan ( yang lain ) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia talah sesat, kesesatan yang nyata” (Al Ahzab : 36). Sikap yang dituntut Ketika seorang hamba mengaku beriman kepada Allah , percaya Allah lebih bijaksana dan lebih mengetahui dalam penetapan hukum dari padanya-sementara dia sangat miskin dan sangat lemah – maka jika telah datang perintah Allah tidak ada lagi pilihan baginya kecuali mentaati perintah tersebut. Ketika mendengar perintah Allah, sebagai seorang mukmin atau mukminah, mereka wajib mengatakan sebagaimana yang
dikatakan oleh orang-orang yang beriman.

_  سمِ  عنا  وَأ َ ط  عنا ُ غ ْ فران  ك  ربنا  وإَِلي  ك اْل مصِ  ير _
“Kami dengar dan kami taat(mereka berdo’a) Ampunilah kami ya Robb kami dan kepada
Engkaulah kami kembali” ( Al Baqarah : 285) Ketika Allah memerintahkan kita dengan suatu perintah, Dia Maha Mengetahui bahwa perintah itu untuk kebaikan kita, dan salah satu sebab bagi tercapainya kebahagiaan kita. Demikian pula halnya dengan ketika memerintah wanita berhijab, Dia Maha Mengetahui bahwa ia adalah salah satu sebab bagi tercapainya kebahagiaan, kemuliaan dan keagungan wanita. Allah Ta’ala Maha Mengetahui IlmuNya meliputi segala sesuatu, mengetahui sejak sebelum manusia diciptakan, juga mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang dengan tanpa batas, mengetahui apa yang tidak akan terjadi dari berbagai peristiwa, juga Dia mengetahui andaikata peristiwa tersebut terjadi apa yang terjadi selanjutnya. Dengan kepercayaan seperti ini, yang merupakan keyakinan kita umat Islam, apakah patut dan masuk akal kita menolak perintah Allah yang Maha Luas IlmuNya , selanjutnya kita menerima perkataan manusia yang memiliki banyak kekurangan, dan ilmunya sangat terbatas. Contoh dari kenyataan sehari-hari Sebagai contoh , dapat kita kemukakan dari kenyataan hidup sehari-hari. Bila kita membeli unit komputer sementara orang yang membuatnya ada di dekat kita, dia tahu betul bagaimana mengoperasikannya, memahami dari A sampai Z seluk beluk alat canggih tersebut, makalogiskah jika kita memanggil tukang cuci mobil untuk mengajari kita cara mengoperasikankomputer? Tentu sangat tidak logis. Akal kita akan mengatakan, bahwa kita mesti memanggil ahli komputer untuk mengajari bagaimana cara penggunaan alat tersebut, berikut cara memperbaikinya jika terjadi kerusakan.
Kita menyakini, yang menciptakan manusia dan membentuknya adalah Tuhan manusia, yaitu Allah. Karena itu sangat wajar, jika Allah yang sangat lebih mengetahui tentang apa yang membahayakan dan memberi manfaat manusia. Dan jelaslah, bertahkim, patuh, dan menyerah kepada selain Allah adalah cermin ketidakwarasan, kebodohan, dan kedunguan. Kandungan ini disebabkan karena kita patuh
kepada seseorang yang tidak mengetahui. Barang siapa yang mengambil nasihat orang bodoh berarti dia menggelincirkan dirinya dalam kebinasaan. Ironinya, inilah yang terjadi pada kita kaum muslimin, betapa banyak kaum muslimin yang menuntut jawaban dari orang yang tidak mengetahuinya.
Sebagaimana betapa banyak dari kalangan kita yang tidak memahami bahwa yang dimaksud kata “Islam” adalah menyerah, patuh dan tunduk secara total kepada perintah-perintah Allah dan larangan-laranganNya. Ukhti jangan terjerumus pada pertentangan Tatkala engkau menasehati sebagian ukhti yang belum berhijab, sebagian mereka ada yang menjawab: “ saya juga seorang muslimah, selalu menjaga shalat lima waktu dan sebagian shalat sunnah, saya puasa Ramadhan dan telah
melakukan haji, berkali-kali pula saya umrah, aktif sebagai donatur pada beberapa yayasan sosial, tetapi saya belum mantap dengan berhijab”. Pertanyaan buat Ukhti “Kalau memang anda sudah dan selalu melakukan amalan-amalan terpuji, yang berpangkal dari iman, kepatuhan pada perintah Allah serta takut siksaNya jika meninggalkan kewajiban-kewajiban itu, mengapa anda beriman kepada sebagian dan tidak beriman kepada sebagian yang lain, padahal sumber perintah-perintah itu adalah satu ?. sebagaimana shalat yang selalu anda jaga adalah suatu kewajiban, demikian juga halnya dengan hijab. Hijab itu wajib, dan kewajiban itu tidak diragukan adanya dalam Al Kitab dan Al Sunnah. Atau apakah , anda tidak pernah mendengar cercaan Allah terhadap Bani Israil, karena mereka melakukan sebagian perintah dan meninggalkan sebagian yang lain? Secara tegas, dalam hal ini Allah berfirman :


َأَفت  ؤمِنو َ ن بِب  عضِ اْلكِتابِ  وتكُْفرو َ ن بِب  عضٍ َف  ما  جزاء من ي ْ فع ُ ل َذلِ  ك _
مِن ُ ك  م إِلاَّ خِ  ز  ي فِي اْل  حياةِ ال  دنيا  ويوم اْلقِيامةِ يردو َ ن إَِلى َأ  ش  د اْلع َ ذابِ
_  وما الّله بِغافِلٍ  ع  ما ت  ع  مُلو َ ن
“Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian yang lain? Tidakkah balasan bagi orang-orang yang berbuat demikian daripadamu, malainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat pedih, Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”( Al Baqarah : 85). Selanjutnya, renungkan hadits shahih berikut ini :

" إن أهون أهل النار عذابا يوم القيامة رجل توضع على أخمص قدميه
جمرتان يغلي منهما دماغه كما يغلي المرجل بالقمقم " رواه البخاري
376/11 ) في الرقائق. )
“ sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat adalah orang yang diletakkan di tengah kedua telapak kakinya dua bara api, dari dua bara api ini otaknya mendidih, sebagaimana periuk yang mendidih dalam bejana besar yang dipanggang dalam kobaran api. Jika seperti ini adzab yang paling ringan pada hari kiamat, lalu bagaimana adzab bagi orang yang diancam oleh Allah dengan adzab yang amat pedih, sebagaimana disebutkan dalam ayat ini. Yakni bagi orang yang beriman kepada sebagian ayat dan meninggalkan sebagian yang lain?.
Wahai Ukhti …!!!
Apakah hanya demi penampilan, kabanggaan dan saling unggul-mengungguli di dunia, lalu anda rela menjual akherat dan siap menerima adzab yang pedih? Sungguh kami tidak berharap untuk ukhti, melainkan kebaikan di dunia dan akherat. Kami minta agar ukhti, mau menggunakan akal sehat dan menentukan pilihan ini.

SYUBHAT KETIGA : IMAN ITU LETAKNYA DI HATI

Jika seorang di antara mereka ditanya, mengapa dia tidak berhijab ? Maka ukhti yang terhormat ini akan menjawab : “ Ah iman itu letaknya di hati”. Ini adalah jawaban yang paling sering dilontarkan oleh para wanita muslimah yang belum berhijab. Karena itu di bawah ini akan kita bahas syubhat tersebut. Sumber syubhat. Mereka berusaha menafsirkan sebagian hadist, tetapi tidak sesuai dengan yang dimaksudkan , seperti dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :

" إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم
" رواه مسلم

“ Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentukbentuk (lahiriah ) dan harta kekayaanmu, tetapi Dia melihat pada hati dan amalmu sekalian”( HR. Muslim No : 2564 dari Abu Hurairah) pengarang kitab Nuzhatul Muttaqin berkata : “Hadits ini menunjukkan bahwa pahala amal tergantung pada keikhlasan hati, kelurusan niat, perhatian terhadap situasi hati pelempangan tujuan dan kebersihan hati dari segala sifat tercela yang dimurkai Allah [4].

Defnisi Iman
Iman tidak cukup hanya dalam hati. Iman dalam hati semata tidak cukup untuk menyelamatkan diri dari neraka dan mendapatkan surga. Devinisi iman menurut jumhur ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah : “ Keyakinan dalam hati, pengucapan dengan lisan, dan pelaksanaan dengan anggota badan”. Devinisi ini terdapat dalam setiap buku aqidah(tauhid) kecuali bukubuku yang menyimpang dan tidak berdasarkan manhaj (methode) Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Kesempurnaan Iman
Dalam Tashawwur (gambaran) kita, orang yang mengatakan iman dengan lidahnya, tetapi tidak disertai dengan keyakinan hatinya, itu adalah keadaan orang-orang munafik. Demikian pula orang yang beramal hanya sebatas aktivitas tubuh (4 ) Nuzhatul Muttaqin : 1/25. anggota badan, tetapi tidak disertai keyakinan hati , itu merupakan keadaan orang-orang munafik.
Pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka senantiasa shalat bersama beliau, berperang, mengeluarkan nafkah,pulang pergi bersama kaum muslimin, tetapi hati mereka tidak pernah beriman kepada agama Allah. Kepada mereka, Allah menghukumi sebagai orang-orang munafik, dan balasan untuk mereka adalah berada di kerak neraka ( dasar neraka). Demikian pula orang yang beriman hanya dengan hatinya tapi tidak disertai amalan anggota badan. Ini adalah keadaan Iblis. Dia percaya pada kekuasaan Allah ,Dzat yang menghidupkan dan mematikan, dia juga percaya terhadap adanya hari kiamat, tetapi dia tidak beramal dengan anggota tubuhnya. Allah berfirman :

_ َأبى  وا  ست ْ كبر  و َ كا َ ن مِ  ن اْل َ كافِرِي  ن _
“ Ia ( Iblis) enggan dan takabbur dan adalah dia termasuk golongan orang-orang kafir” ( Al Baqarah : 34).
Dalam AL Qur’an : setiap kali di sebutkan kata iman, selalu disertai dengan amal, seperti :“ Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh…” Amal selalu beriringan dan merupakan konsekuensi iman, keduanya tidak dapat dipisahpisahkan. Kepada ukhti yang belum berhijab dengan alas an : Iman itu letaknya dalam hati” kami hendak bertanya : “ Andaikata seorang kepala sekolah memintanya membuat laporan, atau mengawasi murid-murid, atau memberi pelajaran ekstra kurikuler, atau menjadi petugas piket untuk menjadi guru yang berhalangan hadir atau pekerjaan lain, logislahkah jika ia menjawab : “ Dalam hati, saya percaya, dan belum mantap terhadap apa yang diminta oleh direktur kepadaku, tetapi aku tidak mau melaksanakan yang dikehendakinya dariku” Apakah jawaban ini bisa diterima? Lalu apa akibat yang bakal
menimpanya? Ini sekedar contoh dalam kehidupan mnusia, lalu bagaimana jika urusan itu berhubungan dengan Allah, Tuhan manusia yang memiliki sifat yang Maha Tinggi?.

SYUBHAT KEEMPAT : ALLAH BELUM MEMBERIKU HIDAYAH.

Pada akhawat yang tidak berhijab banyak yang berdalih : Allah belum memberiku hidayah. Sebenarnya aku juga ingin berhijab, tetapi hendak bagaimana jika saat ini Allah belum memberiku hidayah ? do’akanlah aku agar segera mendapat hidayah !” Ukhti yang berdalih seperti ini telah terperosok dalam kekeliruan yang nyata. Kami ingin bertanya : “ bagaimana engkau mengetahui bahwa Allah belum memberimu hidayah”? Jika jawabannya , “ Aku tahu”, maka ada satu dari dua kemungkinan :

Pertama: dia mengetahui ilmu ghaib yang ada di dalam kitab yang tersembunyi ( lauhul mahfudz ). Dia pasti pula tahu bahwa dirinya termasuk orangorang yang celaka dan bakal masuk neraka. Kedua : ada makhluk lain yang mengabarkan padanya tentang nasib dirinya, bahwa dia tidak termasuk wanita yang mendapatkan hidayah. Bisa jadi yang memberi tahu itu malaikat ataupun manusia. Jika kedua jawaban itu tidak mungkin adanya, bagaimana engkau mengetahui bahwa Allah belum memberimu hidayah ? ini satu masalah. Masalah lain adalah, Allah telah menerangkan dalam KitabNya, bahwa hidayah itu ada dua macam. Masing-masing adalah hidayah dilalah dan hidayah taufiq.

HIDAYAH DILALAH

Ini adalah bimbingan atau petunjuk pada kebenaran. dalam hidayah ini, terdapat campur
tangan dan usaha manusia, di samping hidayah Allah dan bimbingan RasulNya. Allah telah menunjukkan jalan kebenaran kepada manusia yang mukallaf, juga dia telah menunjukkan jalan kebatilan yang menyimpang dari petunjuk para rasul dan KitabNya. Para rasulpun talah menerangkan jalan ini kepada kaumnya. Begitu pula para da’i. Mreka semua menerangkan jalan ini kepada manusia . jadi semua ikut ambil bagian dalam hidayah ini.

HIDAYAH TAUFIQ

Hidayah ini hanya milik Allah semata, tidak ada sekutu baginya(dalam pemberi hidayah taufiq ini). Ia berupa peneguhan kebenaran dalam hati, penjagaan dari penyimpangan pertolongan agar tetap meniti dan teguh di jalan kebenaran, pendorong pada kecintaan iman. Pendorong pada kebencian terhadap kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Hidayah taufiq diberikan kepada orang yang memenuhi panggilan Allah dan mengikuti petunjukNya.

Jenis hidayah ini datang sesudah hidayah dilalah . sejak awal, dengan tidak pilih kasih, Allah memperlihatkan kebenaran kepada semua manusia. Allah berfirman :

_  وَأما َث  مود َف  ه  دينا  ه  م َفا  ست  حبوا اْلع مى  عَلى اْل  ه  دى _
“Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta ( kesesatan ) daripada petunjuk itu …” ( Fushishilat : 17). Dan untuk itu, Allah menciptakan potensi dalam diri setiap orang mukallaf untuk memilih antara jalan kebenaran dan jalan kebatilan. Jika dia memilih jalan kebenaran menurut kemauannya sendiri maka hidayah taufiq akan dating kepadanya. Allah berfirman :

_  والَّذِي  ن ا  هت  د  وا  زاد  ه  م  ه  دى  وآتا  ه  م ت ْ قوا  ه  م _
“Dan orang-orang yang melakukan petunjuk, Allah ( akan ) menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka( balasan) ketakwaannya” ( Muhammada : 17). Jika dia memilih kebatilan menurut kemauannya sendiri, maka Allah akan menambahkan kesesatan padanya dan Dia mengharamkannya mendapat hidayah taufiq, Allah berfirman :

_ ُق ْ ل من َ كا َ ن فِي ال  ضَلاَلةِ َفْلي  م  د  د َله الر  ح  م  ن م  دا _

“ Katakanlah: barang siapa yang berada dalam kesesatan, maka biarlah Dzat yang Maha
Pemurah menambahi baginya[kesesatan] …” ( Maryam : 75).
_ فلما زاغوا أزاغ الله قلوم _
“…Maka tatkala mereka berpaling ( dari kebenaran ) Allah memalingkan hati mereka” ( Ash Shaf : 5).

PERUMPAMAAN HIDAYAH TAUFIQ
Syaikh Asy Sya’rawi memberikan perumpamaan yang amat mengena tentang hidayah taufiq ini , dan itu merupakan sunnatullah . beliau mengupamakan dengan seseorang yang
menanyakan suatu alamat. Orang itu pergi ke polisi lalu lintas untuk menanyakan alamat
tersebut. Lalu polisi menyarankan : “ anda bias berjalan lurus sepanjang jalan ini, sampai di perempatan anda belok ke kanan, selanjutnya ada gang, anda belok ke kiri, di situ anda
mendapatkan jalan raya. Di seberang jalan raya tersebut akan terlihat gedung dengan pamphlet besar, itulah alamat yang anda cari”. Orang tersebut dihadapkan pada dua pilihan, percaya kepada petunjuk polisi atau mendustakannya. Jika percaya pada polisi, ia akan segera beranjak mengikuti petunjuk yang diterimanya. Jika berjalan terus sesuai dengan petunjuk polisi, ia akan semakin dekat dengan tempat dan alamat yang ia inginkan. Jika dia tidak memepercayai saran polisi itu bahkan malah mengumpatnya sebagai pendusta, sehingga ia berjalan menuju arah yang berlawanan, maka semakin jauh dia berjalan, semakin jauh pula kesesatannya. Itulah perumpamaan petunjuk dan kesesatan 5. Ini merupakan perumpamaan yang tepat untuk mendekatkan pengertian sunnatullah ini. Siapa yang memilih kebenaran, maka Allah akan menolong dan meneguhkannya, dan siapa yang memilih kebatilan, Allah akan menyesatkannya dan membiarkannya bersama setan yang menyertainya.

CARILAH SEBAB-SEBAB HIDAYAH, NISCAYA ANDA MENDAPATKANNYA.

Itulah sunnatullah yang berlaku pada semua makhlukNya. Allah berfirman : (5 ) ceramah syaikh Asy Sya’rawi dengan judul : Apakah manusia dipaksa atau punya pilihan ? disampaikan di kuwait pada tahun 80 an.

_ َفَلن تجِ  د لِ  سنتِ اللَّهِ تبدِيًلا  وَلن تجِ  د لِ  سنتِ اللَّهِ ت  حوِيًلا _
“ … Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah” ( Al Fathir : 43). Adapun sunnatullah dalam perubahan nasib, hanya akan terjadi jika manusia memulai dengan mengubah terlebih dahulu dirinya sendiri, lalu mengupayakan sebab-sebab perubahan yang dimaksudnya. Allah berfirman :



_ إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم _

“ Sesungguhny Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” ( Ar Ra’ad: 11). Maka orang yang menginginkan hidayah, serta menghendaki agar orang lain mendo’akan dirinya
agar mendapatkannya, ia harus berusaha keras dengan sebab-sebab yang bisa menghantarkannya mendapat hidayah tersebut. Dalam hal ini, terdapat teladan yang baik pada diri Maryam, suatu hari, dia amat membutuhkan makanan. Padahal ketika itu, ia dalam kondisi yang sangat lemah seperti yang biasa terjadi pada wanita yang hendak melahirkan. Lalu Allah memerintahkan padanya untuk melakukan suatu usaha yang orang laki-laki paling kuat sekalipun tidak akan mampu melakukannya. Maryam di minta untuk menggoyang-nggoyangkan pangkal pohon korma, meskipun pangkal pohon korma itu sangat kokoh dan sulit untuk digoyanggoyangkan.

Allah berfirman :

_  و  هزي إَِليكِ بِجِ ْ ذعِ الن  خَلةِ _
“Dan goyanglah pangkal pohon korma itu... ” (Maryam : 25). Maryam tidak mungkin mampu menggoyang pangkal pohon korma, sementara dia dalam kondisi yang amat lemah. Itu hanya dimaksudkan sebagai usaha mencari sebab dengan cara meletakkan tangannya di pohon korma. Dengan begitu terpenuhilah hukum kuasalitas dan sunnatullah dalam hal perubahan . maka hasilnya adalah :
_ ت  ساقِ ْ ط  عَليكِ  ر َ طبا  جنِيا _

“ Pohon itu akan menggugurkan buah korma yang masak kepadamu.” ( Maryam : 25).
Inilah sunnatullah dalam perubahan. Tidak mungkin orang mukmin terus menerus di dalam masjid, bahkan meskipun di Masjidil Haram dengan hanya duduk dan beribadah kepada Allah, seraya mengharap rizki dari Allah. Tentu Allahtidak akan mengabulkannya tanpa dia sendiri mencari sebab-sebab rezki tersebut. langit tak mungkin sekonyong-konyong menurunkan hujan emas dan perak. Karena itu , wahai ukhti, berusahalah mendapatkan sebab-sebab hidayah, niscaya anda mendapatkan hidayah tersebut dengan izin Allah. Di antara usaha itu adalah berdo’a agar mendapatkan hidayah, memilih teman yang shalihah, selalu membaca, mempelajari dan merenungkan kitab Allah, mengikuti majlis-majlis dzikir dan ceramah agama, membaca buku-buku tentang keimanan dan sebagainya. Tetapi, sebelum melakukan semua itu, hendaknya terlebih dahulu engkau meninggalkan hal-hal yang bisa menjauhkanmu dari jalan hidayah. Seperti teman yang tidak baik, membaca majalah-majalah yang tidak mendidik, menyaksikan tayangantayangan televisi yang membangkitkan perbuatan haram, bepergian tanpa disertai mahram, menjalin hubungan dengan para pemuda ( pacaran ) , dan hal-hal lain yang bertentangan dengan jalan hidayah.

SYUBHAT KELIMA : TAKUT TIDAK LAKU NIKAH

Sebagian akhawat yang tidak berhijab berdalih dengan takut tidak laku nikah. Syubhat yang dibisikkan setan kepada sebagian akhawat yang tidak berhijab ini, pangkalnya adalah perasaan bahwa para pemuda tidak akan mau memutuskan menikah kecuali jika ia telah melihat badan, rambut, kulit, kecantikan, dan perhiasan sang gadis. Jika ia berhijab atau memakai cadar, tentu tak ada yang bisa dilihat pada dirinya, sehingga sang pemuda enggan mengambil keputusan untuk menikahinya. Ironinya, kepercayaan ini, tidak hanya dimonopoli para akhawat, tetapi juga merupakan kepercayaan para orang tua, pada akhirnya, mereka melarang anak-anak putrinya memakai hijab. Syubhat ini tidak bisa diterima lewat dua alasan mendasar. Penilaian dari sisi teori dasar Meskipun kecantikan merupakan salah satu sebab paling pokok dalam pernikahan, tetapi ia bukan satu-satunya sebab dinikahinya wanita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

" تنكح المرأة لأربع : لمالها, ولحسبها, ولجمالها، ولدينها، فاظفر
115 ) في النكاح. / بذات الدين تربت يداك " رواه البخاري : ( 9

“ Wanita dinikahi itu karena empat hal : Yaitu karena harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang berpegang teguh dengan agama( jika tidak ) niscaya kedua tanganmu berlumur debu” 6 . Memang demikian yang terjadi, kaum laki-laki tidak hanya melihat unsur kecantikan semata, tetapi ada hal-hal lain yang menyatu dengan kecantikan itu atau terlepas darinya, yang dijadikan pertimbangan dalam memilih istri. Namun para gadis dan orang tua banyak yang menganggap kecantikan adalah segala-galanya. Atau setidak-tidaknya menjadikan kecantikan sebagai unsur yang terpenting, sedangkan hal lainnya bisa dikesampingkan. Jelas, jalan pikiran seperti ini bertentangan dengan naluri manusia. (6 )
a. Diriwaytkan oleh Al Bukhari, kitaabun nikah, 9/115.
b. Kedua tanganmu berlumur debu maksudnya : menjadi fakir ( Subulus Salaam, 2/112

c. Dalam Al Misbah di sebutkan , اك __ ___ adalah ungkapan bhasa orang-orang Arab dalam bentuk do’a. hanya saja saja dalam hadits ini tidak dimaksudkan sebagai do’a, tetapi sebagai motivasi dan anjuran.

Penilaian dari sisi empiris

Bisa jadi sikap gadis-gadis yang biasa memperlihatkan aurat(yang dimaksudkan untuk menawan hati pria) menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Betapa banyak tindakan itu malah membuat para pemuda enggan menikahinya. Sebab bisa saja pemuda itu beranggapan, bahwa jika wanita tersebut berani melanggar salah satu perintah Allah, yaitu hijab, tidak menutup kemungkinan dia akan berani melanggar perintahperantah yang lain. Karena setan memiliki banyak kiat. Meskipun terkadang kenyataan yang ada tidak selalu sesuai dengan pendapat ini, tetapi memang begitulah keadaan mayoritas pemuda kita di zaman sekarang. Pemuda yang menyunting gadis berhijab, namanya akan menjadi harum, meskipun dia sendiri tidak termasuk orang-orang yang taat menjalankan perintah agama.

SYUBHAT KEENAM : IA MASIH BELUM DEWASA
Syubhat ini banyak beredar dikalangan orang tua serta sebagian akhawat yang tidak berhijab. Sebenarnya anak-anak tersebut sudah memiliki niat untuk memakai hijab, tetapi kemudian di tunda karena syubhat ini. Karena itu dalih ini lebih pantas disebut hawa nafsu dari pada syubhat. Kebanyakan mereka berkata: jangan sampai melarangnya menikmati kehidupan. Dia toh masih belum dewasa. Dia masih senang memakai pakaian yang indah, bersolek dengan berbagai macam make up serta masih suka menampakkan kecantikannya. Semua itu membuatnya lebih berbahagia dan menikamati hidup. Kenapa kita melarang dan menghalangi kebahagiaan justru pada saat umur mereka masih relatif sangat muda ? kalau kita terlanjur ketinggalan kereta, mengapa kita membuatnya pula ketinggalan kereta dengan begitu tergesagesa ? ( maksudnya jika ia menyuruh anak putrinya memakai hijab sejak dini). Menurut pendapat mereka , masa belum dewasa berlangsung hingga anak berumur dua puluh tahun. Karenanya, meskipun ada gadis yang
sudah datang bulan pada umur tiga belas tahun, dia masih dianggap anak-anak.

Nasihat untuk para wali:
Sesungguhnya para wali baik bapak atau ibu yang mencegah anak putrinya berhijab, dengan dalih karena masih belum dewasa, mereka memiliki tanggung jawab yang besar di hadapan Allah pada hari kiamat. Ketika seorang gadis mendapatkan haidh, seketika itu pula ia wajib berhijab, menurut syariat. Jika wali gadis itu melarangnya berhijab, maka dia mendapat dosa yang besar, dan Allah akan menanyakan hal itu pada hari kiamat.

Allah berfirman :
_  وقُِفو  ه  م إِن  هم م  سُئوُلو َ ن _
“ Dan tahanlah mereka ( di tempat perhentian ) karena sesungguhnya mereka akan ditanya” ( Ash Shaaffaat : 24). Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

/ " كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته " رواه البخاري ( 13
100 ) في الأحكام – وله تكملة.

“Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan ditanya tentang yang dipimpinnya….” 7. Seorang ayah adalah pemimpin pertama dalam rumah tangga, pada hari kiamat dia akan ditanya tentang masing-masing orang yang ada di bawah kepemimpinannya. (7 ) Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari, kitaabul Ahkaam. 13/100. Hadits ini masih ada sambungannya.

Setiap ayah hendaknya bertanya kepada diri mereka sendiri: “betapa banyak para pemuda
yang tergoda oleh anak putrinya ? seberapa jauh putrinya menyebabkan penyimpangan para pemuda? Ungkapan cinta untuk anak-anak putrid Allah sebagai saksi, betapa kami amat mengkhawatirkan dirimu akan mendapat siksa Allah. Kami begitu ingin menyelamatkanmu dari segala bahaya yang akan menimpamu, baik di dunia maupun di akhirat. Ini adalah kewajiban seorang muslim kepada saudaranya muslim yang lain. Di antara bahaya yang akan menimpa ukhti yang tidak berhijab, baik di dunia maupun di akhirat, adalah seperti di sebutkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya :

" سيكون في آخر أمتي رجال بركبون على السروج كأشباه الرجال
ينزلون عل أبواب المساجد نسائهم كاسيات عاريات على
رؤوسهن كأسنمة البخت العجاف العنوهن فإن ملعونات" ( رواه
223 ) قال الهيثمي : رجال أحمد رجال الصحيح ( مجمع / أحمد ( 2
الزوائد ).

“ Akan ada di akhir umatku, kaum laki yang menunggang pelana ( seperti layaknya kaum lelaki) mereka turun di depan pintu-pintu masjid, wanita-wanita mereka berpakaian ( tetapi ) telanjang , di atas kepala mereka ( terdapat) sesuatu seperti punuk onta yang lemah gemulai. Laknatlah mereka ! sesungguhnya mereka adalah wanita-wanita terlaknat”8 . Wahai ukhti yang tidak berhijab! Tahukah engkau makna laknat ? Laknat artinya dijauhkan dari rahmat Allah Ta’ala. Dalam hadits tadi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan setiap muslim, agar melaknat tipe wanita seperti yang telah disebutkan. Yaitu mereka yang mengenakan pakaian di tubuh mereka tapi tidak sampai menutup auratnya, sehingga seakan –akan mereka telanjang dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

" صنفان من أهل النار لم أرهما قوم معهم سياط كأذناب البقر
يضربون ا الناس، ونساء عاريات مميلات مائلات رؤوسهن كأسنمة

(8 ) Diriwayatkan oleh Imam Ahmad ( 2/223) Al Hutsaimi berkata : “ Rijal ( perawai perawi ) Ahmad ( dalam hadits ini ) adalah rijal shahih ( Majmauz zawa’id )

البخت المائلة لا يدخلون الجنة ولا يجدون ريحها وإن ريحها لتوجد
( من مسيرة كذا وكذا" رواه مسلم ( 2118
“ Dua kelompok termasuk penghuni neraka, aku ( sendiri) belum pernah melihat mereka, yaitu orang-orang yang membawa cemeti seperti ekor sapi, dengannya mereka mencambuki manusia, dan para wanita yang berpakaian ( tetapi ) telanjang , bergoyang-goyang dan berlenggak lenggok, kepala mereka ( ada sesuatu ) seperti punuk onta yang bergoyang-goyang. Mereka tentu tidak masuk surga, bahkan tidak mendapatkan baunya, dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian”.( HR Muslim ,No : 2128).
Dalam hadits tersebut terdapat sifat-sifat secara rinci tetang golongan wanita ini, yaitu :

1. mengenakan sebagian pakaian , tetapi dia menyerupai orang telanjang, karena sebagian
tubuh mereka terbuka dan itu mudah membangkitkan birahi laki-laki, seperti paha, lengan, rambut, dada, dan lain-lainnya. Juga pakaian yang tembus pandang atau yang amat ketat, sehingga membentuk lekuk –lekuk tubuhnya, maka ia seperti telanjang, meski
berpakaian.

2. jalannya lenggak-lenggok dan bergoyang sehingga membangkitkan nafsu birahi.

3. kepalanya tampak lebih tinggi, karena ia membuat seni hiasan dari bulu atau rambut sintesis, karena tingginya ia seperti punuk onta. Hadits tersebut juga menjelaskan hakikat
golongan wanita yang tidak masuk surga, bahkan sekedar menciaum bau wanginyapun tidak, padahal rahmat Allah meliputi segenap langit dan bumi. Belum lagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kaum muslimin agar melaknat mereka: “laknatlah
mereka,sesungguhnya mereka adalah wanita terlaknat”. Kami tidak menginginkan, selain kebaikan bagi anda. Kekhawatiran bagi diri anda, mendorong kami berharap dari lubuk hati kami yang paling dalam, untuk menjauhkan anda dari segala yang tidak disenangi. Semoga Allah mengisi hati anda dengan cahayaNya yang tidak pernah padam, lalu anda menang dalam pertarungan melawan setan jin dan manusia, selanjutnya anda berketepatan melepaskan jeratan dan memerdekakan diri dari tawanan hawa nafsu, menuju alam kebebasan, kemuliaan, kehormatan, ketenangan dan alam kesucian.

Apakah anda menjamin umur masih panjang? Wahai ukhti yang tidak berhijab! Engkau tidak mau berhijab dengan dalih masih belum dewasa, apakah engkau dapat menjamin umurmu masih beberapa saat? Apakah engkau tahu, atau seseorang mengabarkan kepadamu tentang kapan bakal mati? Jika tidak, maka boleh jadi kematian akan menjemputmu setelah setahun, sebulan, seminggu, sehari, sejam, atau sedetik kemudian.
Semua itu serba mungkin, selama kita tidak tahu ajal kita akan datang. Wahai ukhti, kematian tidak hanya mengetuk pintu orang yang sakit, tidak pula orang yang lanjut usia saja, tetapi juga orang-orang yang sehat walafiat, orang dewasa,pemuda, bahkan bayi yang masih menetek di pangkuan ibunya, banyak contoh yang tidak bias dipaparkan.

KISAH-KISAH NYATA

Kematian yang tiba-tiba:
Seorang anggota parlemen dalam kondisi kesehatan yang prima, penuh energik dan memiliki etos kerja sangat tinggi, orangnya masih muda. Namun, tiba-tiba virus ganas menyerang otaknya. Tak berlangsung lama, virus tersebut berubah menjadi segumpal daging. Anggota parlemen itu akhirnya tidak berdaya dan meninggal dengan cara yang amat mengenaskan. Kematian tak kenal orang sehat sehat atau sakit Seorang komandan tinggi dijajaran angkatan bersenjata, ia tidak pernah mengeluhkan suatu penyakit apapun, tubuhnya padat berisi, ototototnya kekar, lincah dan gesit dalam melakukan tugas diteritorialnya. Seperti biasa , pada suatu malam, ia pergi tidur. Di pagi hari, sang ibu membangunkannya. Tak ada jawaban. Apa yang terjadi ? ternyata tubuhnya telah dingin dan terbujur kaku. Tidur itu mengahantarkan pada kematian yang tak akan kembali lagi.
Temanku mati terbakar Abu Abdillah berkata : “ Aku tak tahu, bagaimana harus menuturkan kisah ini padamu.
Kisah yang pernah aku alami sendiri beberapa tahun yang lalu, sehingga mengubah total perjalanan hidupku, sebenarnya aku tak ingin menceritakannya, tapi demi tanggung jawab di hadapan Allah, dan peringatan bagi para pemuda yang mendurhakai Allah dan demi pelajaran bagi para gadis yang mengejar bayangan semu, yang disebut cinta, maka aku ungkapkan kisah ini. Ketika itu, kami tiga sekawan. Yang mengumpulkan kami adalah kesamaan nafsu dan kesia-siaan. Oh tidak, kami berempat satunya lagi adalah setan. Kami berburu gadis-gadis. Mereka kami rayu dengan kata-kata manis, hingga mereka takluk, lalu kami bawa ke sebuah taman kecil terpencil. Di sana kami berubah menjadi serigala-serigala yang tak menaruh belas kasihan mendengar rintihan permohonan mereka, hati dan perasaan kami sudah mati. Begitulah hari-hari kami di taman, di tenda atau dalam mobil yang di parkir di pinggir pantai. Sampai suatu hari, yang tak pernah saya bias melupakannya, seperti biasa kami pergi ke taman. Seperti biasa pula, masing-masing kami menyantap satu mangsa gadis, di temani minunan
laknat. Satu hal kami lupa saat itu, makanan.

Segera salah seorang di antara kami bergegas membeli makanan dengan mengendarai mobilnya. Saat ia berangkat. Jam menunjukkan pukul enam sore. Beberapa jam berlalu, tapi taman kami itu belum juga kembali. Pukul sepuluh malam , hatiku mulai tak enak dan gusar. Maka aku segera membawa mobil untuk mencarinya, di tengah perjalanan, di kejauhan aku melihat jilatan api, aku mencoba mendekat. Astaghfirullah, aku hampir tak percaya dengan yang kulihat. Ternyata api itu bersumber dari mobil temanku yang terbalik dan terbakar. Aku panik seperti orang gila. Aku segera mengeluarkan tubuh temanku dari mobilnya yang masih menyala. Aku ngeri tatkala melihat separuh tubuhnya masak terpanggang api.
Kubopong tubuhnya lalu kuletakkan di tanah. Sejenak kemudian, dia berusaha membuka kedua belah matanya, ia berbisik lirih : “ api …., api ……! Aku memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit dengan mobilku. Tetapi dengan suara campur tangis, ia mencegah: “ Tak ada gunanya .. aku tak akan sampai …! Air mataku tumpah, aku harus menyaksikan temanku meninggal di hadapanku. Di tengah kepanikanku, tiba-tiba ia berteriak lemah: “ apa yang mesti kukatakan kepadaNya? Apa yang mesti kukatakan padaNya? Aku memandanginya penuh keheranan. “ siapa ? Tanyaku. Dengan suara yang seakan berasal dari sumur yang amat dalam, dia menjawab : “Allah!”

Aku merinding ketakutan. Tubuh dan perasaanku terguncang keras. Tiba-tiba temanku itu menjerit, gemanya menyelusup kesetiap relung malam yang gulita, lalu kudengar teriakan nafasnya yang terakhir : “ Innaalillaahi wa’inna ilaihi raajiuun.” Setelah itu, hari-hari berlalu seperti sedia kala, tetapi bayangan temanku yang meninggal, jerit kesakitannya, api yang membakarnya, dan lolongannya” apa yang harus kukatakan padaNya ? Apa yang harus kukatakan padaNya? Seakan terus membuntuti setiap gerak dan diamku. Pada diriku sendiri aku bertanya: “ Aku …apa yang harus kukatakan padaNya?
Air mataku menetes lalu sebuah getaran aneh menjalari jiwaku. Saat puncak perenungan itulah, sayup-sayup aku mendengar adzan subuh menggema: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyhadu la ilaaha illa Allah …. Asyhadu Anna Muhammadar Rasuulullah, Hayya ‘ Alash Shalaah …” Aku merasa bahwa adzan itu hanya ditujukan pada jalan cahaya dan hidayah. Aku segera bangkit mandi dan wudhu, mensucikan tubuhku dari noda-noda kehinaan yang menenggelamku selama bertahuntahun. Sejak saat itu, aku tak pernah lagi meninggalkan shalat. Aku memuji Allah, yang tidak layak dipuji selain Dia. Aku telah menjadi manusia lain.
Maha Suci Allah yang mengubah berbagai keadaan. Dengan seizing Allah , aku telah menunaikan umrah. Insya Allah aku akan melaksanakan haji dalam waktu dekat, siapa yang tahu ? umur ada di tangan Alloh ? [9]. Kesudahan yang berlawanan Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orang tuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran mengapa ayah shalat begitu lama, apa lagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang. Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diriku sendiri : “ alangkah (9 ) Lisy Syababi Faqoth ( Hal : 7-10) sabarnya mereka …. Setiap hari begitu ….. benarbenar mengherankan!. Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalatshalat orang-orang pilihan… mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk bermunajat kepada Allah. Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah.padahal berbagai nasihat kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing. Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku ditugasi mengatur lalu lintas di jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan. Tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan, aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi, tetapi hidupku bagaikan di ombang- ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian… bayak waktu luang …. Pengetahuanku terbatas. Aku mulai jenuh… tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir setiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan. Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol … tiba –tiba kami dikagetkan oleh sebuah benturan yang amat keras, kami mengedarkan pandangan. Ternyata sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi sangat kritis, keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah : “Laailaaha Illallaah … laailaaha illallaah perintah temanku. Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan ini membuatku merinding. Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat… kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu, aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulangulang bacaan syahadat , tetapi … keduanya tetap terus saja melantunkan lagu tak ada gunanya…Suara lagunya terdengar semakin melemah.. lemah dan lemah sekali. Orangpertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak … keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah katapun. Selama perjalanannya ada kebisuan, hening. Kesucian pecah ketika temanku mulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah ( kesudahan yang buruk ). Ia berkata : “ Manusia akan mengakhiri hidupnya...”

Jumat, 10 April 2009

JUJURKAH DUNIA PENDIDIKAN KITA

BY.D KEMALAWATI
Seorang peserta ujian nasional terkulai lemas, saat di papan pengumuman nomor ujiannya benar-benar tidak kelihatan. Ia baru saja mendapatkan penghargaan sekaligus telah mengharumkan nama daerah karena telah berhasil menjadi juara pertama salah satu bidang keahlian dalam Lomba Ketrampilan Siswa SMK Tingkat Nasional. Siapa yang membayangkan ia akan gagal di tingkat UN sedangkan di tingkat nasional ia telah menunjukkan kemampuannya.


Dilain tempat, seorang siswa yang selalu membuat onar di sekolah, memprovokasi temannya untuk tak mengikuti pelajaran tertentu, dan hampir tak pernah sama sekali mengikuti pelajaran tambahan di sore hari, terlihat meloncat-loncat gembira karena nomor ujiannya tertera dengan sangat terang di papan pengumuman. Boleh jadi dalam hatinya ia mulai tak percaya tentang semua nasehat guru-gurunya agar rajin belajar dan mengikuti seluruh aturan sekolah. Selama mengikuti ujian nasional tak ada usaha yang dilakukan.

Tentang pelajaran Bahasa Indonesia ia merasa sudah cukup dapat membaca dan menulis dengan baik. Bahasa Inggris hanya dianggap angin lalu. Matematika apalagi. Setiap bertemu dengan operasi bilangan, baik itu perkalian apalagi pembagian dengan desimal ia langsung menutup buku. Konon lagi harus menghafal sudut-sudut istimewa serta rumus jumlah dan selisih kosinus, sinus dan tangen. Maka beralihlah ruangan kelasnya ke kantin sekolah dengan alasan ke toilet, atau sangat haus.



Hasil UN tahun ini walau telah menunjukkan peningkatan dalam hal bertambahnya prosentase kelulusan, namun masih tetap menimbulkan berbagai reaksi. Hal mana dipicu oleh tak adanya kesempatan mengulang bagi siswa yang belum berhasil. Demonstrasi yang dimotori artis Sophia Latjuba yang akhirnya berujung dialog dengan para legislatif memperlihatkan bahwa praktik UN semakin dipermasalahkan.



Pada kesempatan itu, ketua komisi X DPR RI, Zuber Safawi menyatakan tidak sependapat dengan komentar Wapres Jusuf Kalla yang menyebutkan siswa tidak lulus UN karena malas. Zuber juga menjelaskan, sebelum UN digelar sikap komisi X sudah tegas dengan adanya tujuh fraksi yang menolak UN. Ini merupakan jawaban bagi pertanyaan yang berkembang dalam masyarakat. Ada dua fraksi setuju UN, itupun dengan syarat ada ujian ulang, sedangkan satu fraksi setuju UN dan ujian ulang ditiadakan.




Kasus percobaan bunuh diri juga dapat kita temukan pemberitaannya sebagai reaksi atas kegagalan menembus ujian nasional. Kemudian kita disuguhi alternatif paket C yang juga ditanggapi beragam. Tuntutan untuk tidak diadakan lagi ujian nasional terus bergulir, sementara standar nasional hampir semua kita mengakui sangat diperlukan.



Kita tinggalkan dua kasus keberhasilan dan kegagalan di atas. Karena dalam suatu penilaian yang sesaat semua kemungkinan bisa terjadi. Keberhasilan dan kegagalan hanyalah sekeping mata uang yang berlainan sisi. Kita beralih pada perolehan hasil beberapa hari kemudian. Sebut saja Yanti, salah seorang lulusan sekolah menengah atas yang terbelalak matanya menyaksikan nilai 9,67 tertera pada mata pelajaran Matematika. Nilai Bahasa Inggris 10, sedangkan Bahasa Indonesia diperoleh nilai 7 dalam Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHU). Selama tiga tahun belajar di SMA tersebut, Yanti belum pernah memperoleh nilai matematika setinggi itu.



Gurunya selalu mengatakan bahwa ia takkan mampu mempertanggungjawabkan nilai tersebut dengan kemampuan yang dimilikinya tentang Bahasa Inggris, walaupun ia sangat rajin mengikuti les baik di sekolah maupun di lembaga pendidikan lain di luar sekolah, ia masih tak merasa mampu. Listening-nya masih sangat jelek. Sedangkan saat ujian, dengan kapasitas tape recorder yang jelek ia merasa sedikit kewalahan menyimak apa yang disampaikan narator. Kalau Bahasa Indonesia, ia sangat yakin itu memang kemampuannya, walau sebenarnya ia mengharap lebih pada pelajaran yang satu ini.



Yanti bisa saja bernafas lega telah memiliki SKHU yang lumayan bagus. Orang tua Yanti dan keluarganya boleh merayakan keberhasilan anaknya dengan pesta atau mungkin ia akan mentraktir temannya makan di Pizza House itu. Sekolah boleh merasa puas telah mengantarkan siswanya ke gerbang yang lapang dan akan menuju jalan yang lurus. Tapi, apa yang terjadi saat Yanti mendaftar di salah satu perguruan tinggi, ia mulai merasa gerah dengan nilai bagusnya. Seorang petugas penerima pendaftaran meledek dirinya. Ada juga yang terang-terangan menyatakan ketakyakinan mereka tentang nilai yang luar biasa itu. Yanti mulai was-was. Apakah artinya nilai yang bagus itu kalau ternyata ia gagal sebagai mahasiswi?

Lain halnya Rifki, lulusan salah satu sekolah menengah pertama yang datang melamar di sekolah SMK yang agak favorit di kota ini. Ia sudah mendengar tentang ada sekolah menengah atas yang hanya menerima calon siswanya dengan SKHU bernilai 27, berarti calon siswa yang akan masuk kesana harus memiliki nilai rata-rata 9 pada setiap mata ujinya. Rifki yang nilai matematikanya 10 dengan membusung dada lebih memilih mendaftar ke SMK bidang teknologi walau sebenarnya ia bisa saja mendaftar di SMA favorit itu. Ia mengambil jurusan mesin otomotif yang kabarnya lebih bergengsi. Ketua jurusan mesin otomotif yang turut menjadi panitia terlihat bergairah menerima calon siswanya yang menurut anggapannya pintar karena nilai matematikanya itu.



Tapi apa lacur, siswa tersebut sama sekali tak mampu menghafal kali-kali 4 dengan baik. Tahukah siswa tersebut bagaimana penarikan akar dalam operasi bilangan real, apakah ia tahu bagaimana mengerjakan persamaan kuadrat dengan melengkapkan kuadrat sempurna, atau berapa jumlah sudut suatu segitiga yang pernah ia pelajari di sekolah lanjutan pertama yang merupakan dasar untuk melanjutkan ke lanjutan atas.

Melonjaknya perolehan nilai lulusan hampir di semua sekolah tidak mungkin terjadi begitu saja. Dua kasus diatas merupakan pelajaran berharga yang merupakan buah dari kekalutan yang disebabkan tekanan-tekanan dari berbagai pihak. Berkali-kali mutu pendidikan kita terpuruk dan hampir menduduki angka kunci dari seluruh provinsi di negeri ini, menjadi salah satu penyebab terjadinya upaya penghapusan imej tak baik dengan berbagai cara. Kambing hitam-kambing hitam yang pernah dikorbankan sekarang tak mudah ditemukan lagi. Komflik telah berakhir.



Bencana, sebagian besar sudah tertangani. Bangunan sekolah telah banyak terganti. Guru-guru baru sudah juga diangkat. Turun tangan BRR dalam mempersiapkan para siswa juga tak bisa dianggap kecil. Ini terlihat dari anggaran yang disediakan untuk menambah jam belajar bagi mereka yang akan mengikuti UN. Maka selama satu semester penuh para siswa dan guru yang terkait dengan mata uji UN tersebut hampir tak pernah menikmati istirahat siang karena harus kembali ke sekolah untuk membahas materi UN yang setiap tahun tak pernah bergeser jauh itu.



Sudah jujurkah dunia pendidikan kita? Dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR RI (28/6-2006) Mendiknas Bambang Sudidyo menyatakan rasa malunya karena dari penyelidikan yang dilakukan oleh tim investigasi, telah terbukti adanya kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan UN. Dugaan kecurangan dalam UN merebak karena ada sekolah yang tingkat kelulusannya mencapai 100 persen. Sebaliknya ada sekolah yang angka kelulusannya nol persen.

Diakui, beberapa siswa berprestasi seperti dua siswa SMK yang disebutkan diatas telah dinyatakan gagal dalam menempuh UN. Kepada kepala sekolah yang siswa berprestasinya tidak lulus sempat saya pertanyakan kenapa hal itu bisa terjadi. “Siswa saya memang memiliki ketrampilan tapi mungkin dalam hal teori ia masih ketinggalan,” demikian pengakuan kepala sekolah tersebut. Ketika kepadanya ditanyakan konsekuensinya sebagai kepala sekolah yang gagal mendongkrak prosentase kelulusan, ia hanya menjawab “saya bekerja Lillahi Ta‘ala.”

Bagi sebagian orang kecurangan dalam pendidikan bukan jadi soal. Toh, banyak sekali sarjana-sarjana palsu yang telah membeli selembar ijazah. Tapi bagi daerah yang sedang giat-giatnya mengklaim berbudaya islami hal ini sungguh pekerjaan yang memalukan. Generasi kita seakan tak diberi kesempatan untuk mengetahui kemampuan yang ada pada dirinya. Tanpa disadari, kita telah membelokkan arah pendidikan yang seharusnya menciptakan masyarakat berbudaya luhur ke arah yang hina.



Ada beberapa penyebab terjadinya kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan UN, walau tak semua layak diungkapkan di sini. Hasil try out yang dilakukan baik oleh sekolah maupun oleh pihak lain yang terkait telah membuktikan bahwa kesiapan siswa kita dalam menghadapi UN sangat mengkhawatirkan. Ada daerah kabupaten kota yang terang-terangan mengumumkan hasil try out siswanya yang nol persen lulus dan diekpos media massa. Tapi banyak sekolah yang telah melakukan try out ketika memperoleh hasil yang tidak memuaskan, mereka bungkam. Di kelas-kelas unggul memang didapati hasil try out diatas 80 persen keberhasilannya. Akan tetapi berapa kelaskah di negeri ini yang merupakan kelas unggulan?

Kontrak kelulusan juga mempengaruhi psykologis para kepala sekolah. Kita mendengar bahwa sebelum UN berlangsung, antara kepala sekolah dan pihak dinas pendidikan telah terjadi deal yaitu meneken kontrak kelulusan. Segi positifnya, setiap kepala sekolah akan terus memacu guru dalam mempersiapkan siswanya mengikuti UN agar mencapai target kelulusan. Namun disisi lain, tanpa disadari telah terjadi penekanan-penekanan yang berujung hilangnya kepercayaan pada peserta didik yang nyata-nyata dari hasil try out memperlihatkan ketakmampuannya.

Persoalan menjadi komplek ketika ada anggapan bahwa jika kontrak kelulusan tidak terpenuhi maka akan terjadilah perpindahan kekuasaan, kompentensi guru diragukan, sekolah menjadi cemoohan. Maka dalam kekalapan terjadilah kesalahan dalam melakukan penyelesaian. Sepucuk surat jawaban menggelinding mulus dari alat komunikasi canggih. Apakah artinya kejujuran, harga diri dan entah apa namanya lagi sebab yang penting menemukan cara mudah agar segelintir orang senang.



Adalah yang terpenting memperoleh surat keterangan dengan nilai yang sangat memuaskan sedangkan kemampuan tak mereka hiraukan. Apakah sekolah lanjutan hanya membutuhkan selembar SKHU yang diperoleh hanya karena mampu mengerjakan tiga mata uji pokok saja, sementara bertahun-tahun ke depan ia akan menjadi orang yang kalah terus dalam mengikuti tanjakan pada setiap mata pelajaran. Sedangkan orang-orang yang kreatif yang mampu memberdayakan dirinya dan kalah teliti dalam membaca soal sesaat dianggap gagal melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Padahal ialah orang yang mestinya akan menggantikan generasi yang sedang menjadi pelaku hari ini.



Dalam konteks keimanan ternyata kita sudah terlalu jauh dalam retorika. Memperlihatkan pada khalayak, telah berjalannya syariat dengan mempertontonkan hanya sekadar penyabung ayam menjadi kesombongan akan masyarakat yang sempurna. Bahwasanya terjadi pembohongan publik dan ketakpercayaan orang tentang nilai-nilai yang kita tawarkan telah menjadi bagian gaya hidup yang tak dirisaukan lagi. Kalau saja dunia pendidikan kita demikian putih bersih, pasti mata kita tak sakit melihatnya.

Senin, 06 April 2009

DEMOKRASI

Saat ini mayoritas negara-negara Islam menghadapi cobaan (berat) dalam memilih pemimpin (kepala negara) mereka melalui cara pemilihan umum, yang ini merupakan (penerapan) sistem demokrasi yang sudah dikenal. Padahal terdapat perbedaan yang sangat jauh antara sistem demokrasi dan (syariat) Islam (dalam memilih pemimpin), yang ini dijelaskan oleh banyak ulama (ahlus sunnah wal jama’ah). Untuk penjelasan masalah ini, saudara-saudaraku (sesama ahlus sunnah) bisa merujuk kepada sebuah kitab ringkas yang ditulis oleh seorang ulama besar dan mulia, yaitu kitab “al-’Adlu fil Islaam wa laisa fi dimokratiyyah al maz’uumah” (Keadilan yang hakiki ada pada syariat Islam dan bukan pada sistem demokrasi yang dielu-elukan), tulisan guru kami syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-’Abbaad al-Badr –semoga Allah menjaga beliau dan memanjangkan umur beliau dalam ketaatan kepada-Nya –.

‘Ala kulli hal, pemilihan umum dalam sistem demokrasi telah diketahui, yaitu dilakukan dengan cara seorang muslim atau kafir memilih seseorang atau beberapa orang tertentu (sebagai calon presiden). Semua perempuan dan laki-laki juga ikut memilih, tanpa mempertimbangkan/membedakan orang yang banyak berbuat maksiat atau orang shaleh yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semua ini (jelas) merupakan pelanggaran terhadap (syariat) Islam. Sesungguhnya para sahabat yang membai’at (memilih) Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu (sebagai khalifah/pemimpin kaum muslimin sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) di saqiifah (ruangan besar beratap tempat pertemuan) milik (suku) Bani Saa’idah, tidak ada seorang perempuan pun yang ikut serta dalam pemilihan tersebut. Karena urusan siyasah (politik) tidak sesuai dengan tabiat (fitrah) kaum perempuan, sehingga mereka tidak boleh ikut berkecimpung di dalamnya. Dan ini termasuk pelanggaran (syariat Islam), padahal Allah Ta’ala berfirman:

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى

“Dan laki-laki tidaklah seperti perempuan.” (Qs. Ali ‘Imraan: 36)

Maka bagaimana kalian (wahai para penganut sistem demorasi) menyamakan antara laki-laki dan perempuan, padahal Allah yang menciptakan dua jenis manusia ini membedakan antara keduanya?! Allah Ta’ala berfirman:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” (Qs. al-Qashash: 68)

Di sisi lain Allah Ta’ala berfirman:

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir). Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (Qs. al-Qalam: 35 - 36)

Sementara kalian (wahai para penganut sistem demokrasi) menyamakan antara orang muslim dan orang kafir?! Maka ini tidak mungkin untuk…(kalimat yang kurang jelas). Masalah ini (butuh) penjelasan yang panjang lebar.

Akan tetapi (bersamaan dengan itu), sebagian dari para ulama zaman sekarang berpendapat bolehnya ikut serta dalam pemilihan umum dalam rangka untuk memperkecil kerusakan (dalam keadaan terpaksa). Meskipun mereka mengatakan bahwa (hukum) asal (ikut dalam pemilihan umum) adalah tidak boleh (haram). Mereka mengatakan: Kalau seandainya semua orang diharuskan ikut serta dalam pemilu, maka apakah anda ikut memilih atau tidak? Mereka berkata: anda ikut memilih dan pilihlah orang yang paling sedikit keburukannya di antara mereka (para kandidat yang ada). Karena umumnya mereka yang akan dipilih adalah orang-orang yang memasukkkan (mencalonkan) diri mereka dalam pemilihan tersebut. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu:

“Janganlah engkau (berambisi) mencari kepemimpinan, karena sesungguhnya hal itu adalah kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat nanti.” (Gabungan dua hadits shahih riwayat imam al-Bukhari (no. 6248) dan Muslim (no. 1652), dan riwayat Muslim (no. 1825))

Maka orang yang terpilih dalam pemilu adalah orang yang (berambisi) mencari kepemimpinan, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang (berambisi) mencari kepemimpinan maka dia akan diserahkan kepada dirinya sendiri (tidak ditolong oleh Allah dalam menjalankan kepemimpinannya).” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lain, dinyatakan lemah oleh syaikh al-Albani dalam “adh-Dha’iifah” (no. 1154). Lafazh hadits yang shahih Riwayat al-Bukhari dan Muslim: “Jika engkau menjadi pemimpin karena (berambisi) mencarinya maka engkau akan diserahkan kepadanya (tidak akan ditolong oleh Allah).”

Allah akan meninggalkannya (tidak menolongnya), dan barangsiapa yang diserahkan kepada dirinya sendiri maka berarti dia telah diserahkan kepada kelemahan, ketidakmampuan dan kesia-siaan, sebagaimana yang dinyatakan oleh salah seorang ulama salaf – semoga Allah meridhai mereka–.

‘Ala kulli hal, mereka berpendapat seperti ini dalam rangka menghindari atau memperkecil kerusakan (yang lebih besar). Ini kalau keadaannya memaksa kita terjeremus ke dalam dua keburukan (jika kita tidak memilih). Adapun jika ada dua orang calon (pemimpin yang baik), maka kita memilih yang paling berhak di antara keduanya.

Akan tetapi jika seseorang tidak mengatahui siapa yang lebih baik (agamanya) di antara para kandidat yang ada, maka bagaimana mungkin kita mewajibkan dia untuk memilih, padahal dia sendiri mengatakan: aku tidak mengetahui siapa yang paling baik (agamanya) di antara mereka. Karena Allah Ta’ala berfirman:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (Qs. al-Israa’: 36)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menipu/mengkhianati kami maka dia bukan termasuk golongan kami.” (HSR Muslim (no. 101)). Jika anda memilih orang yang anda tidak ketahui keadaannya maka ini adalah penipuan/pengkhianatan.

Demikian pula, jika ada seorang yang tidak merasa puas dengan kondisi pemilu (tidak memandang bolehnya ikut serta dalam pemilu) secara mutlak, baik dalam keadaan terpaksa maupun tidak, maka bagaimana mungkin kita mewajibkan dia melakukan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam?!

Maka ‘ala kulli hal, kita meyakini bahwa Allah Ta’ala Dialah yang memilih untuk umat ini pemimpin-pemimpin mereka. Kalau umat ini baik maka Allah akan memilih untuk mereka pemimpin-pemimpin yang baik pula, (sabaliknya) kalau mereka buruk maka Allah akan memilih untuk mereka pemimpin-pemimpin yang buruk pula. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضاً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (Qs. al-An’aam: 129)

Maka orang yang zhalim akan menjadi pemimpin bagi masyarakat yang zhalim, demikianlah keadaannya.

Kalau demikian, upayakanlah untuk menghilangkan kezhaliman dari umat ini, dengan mendidik mereka mengamalkan ajaran Islam (yang benar), agar Allah memberikan untuk kalian pemimpin yang kalian idam-idamkan, yaitu seorang pemimpin yang shaleh. Karena Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Dalam ayat ini) Allah tidak mengatakan “…sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada pemimpin-pemimpin mereka”, akan tetapi (yang Allah katakan): “…sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Aku telah menulis sebuah kitab tentang masalah ini, yang sebenarnya kitab ini khusus untuk para juru dakwah, yang mengajak (manusia) ke jalan Allah Ta’ala, yang aku beri judul “Kamaa takuunuu yuwallaa ‘alaikum” (sebagaimana keadaanmu maka begitupulalah keadaan orang yang menjadi pemimpinmu). Aku jelaskan dalam kitab ini bahwa watak para penguasa selalu berasal dari watak masyarakatnya, maka jika masyarakatnya (berwatak) baik penguasanya pun akan (berwatak) baik, dan sebaliknya.

Maka orang-orang yang menyangka bahwa (yang terpenting dalam) masalah ini adalah bersegera untuk merebut kekuasaan, sungguh mereka telah melakukan kesalahan yang fatal dalam hal ini, dan mereka tidak mungkin mencapai hasil apapun (dengan cara-cara seperti ini). Allah Ta’ala ketika melihat kerusakan pada Bani Israil disebabkan (perbuatan) Fir’aun, maka Allah membinasakan Fir’aun dan memberikan kepada Bani Israil apa yang mereka inginkan, dengan Allah menjadikan Nabi Musa ‘alaihissalam sebagai pemimpin mereka. (Akan tetapi) bersamaan dengan itu, kondisi (akhlak dan perbuatan) mereka tidak menjadi baik, sebagaimana yang Allah kisahkan dalam al-Qur’an. Mereka tidak menjadi baik meskipun pemimpin mereka adalah kaliimullah (orang yang langsung berbicara dengan Allah Ta’ala), yaitu Nabi Musa ‘alaihissalam, sebagaimana yang sudah kita ketahui. Bahkan sewaktu Allah berfirman (menghukum) sebagian dari Bani Israil:

كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

“Jadilah kamu kera yang hina.” (Qs. al-Baqarah: 65)

Kejadian ini bukanlah di zaman kekuasaan Fir’aun. Akan tetapi hukuman Allah ini (menimpa) sebagian mereka (karena mereka melanggar perintah Allah) ketika mereka di bawah kepemimpinan Nabi Musa ‘alaihissalam dan para Nabi Bani Israil ‘alaihimussalam sepeninggal Nabi Musa ‘alaihissalam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Bani Israil selalu dipimpin oleh para Nabi ‘alaihimussalam, setiap seorang Nabi wafat maka akan digantikan oleh Nabi berikutnya.” (HSR al-Bukhari dan Muslim)

Dan hanya Allah-lah yang mampu memberikan taufik (kepada manusia).

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Madinah Nabawiyyah, 15 Rabi’ul awal 1430 H / 11 Maret 2009 M

***

Penulis: Abdullah bin Taslim al-Buthani, Lc.