BAB I
PENDAHULUAN
A. GAMBARAN UMUM MENGENAI TEKNOLOGI
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita sering sekali mendengar istilah teknologi dan komunikasi. Ini tidak dapat kita pungkiri karena kita selalu menggunakan kedua alat tersebut. Teknologi tersebut tidak mengenal tua muda, besar kecil, dan miskin atau kayanya seseorang tetapi kita di sini harus dituntut untuk menguasai teknologi dan komunikasi supaya kita tidak mengalami ketertinggalan.
Teknologi dan komunikasi sangat berkaitan erat satu sama lain. Oleh karena itu keduanya tidak dapat dipisahkan. Karena sulit sekali suatu komunikasi tanpa menggunakan teknologi. Misalkan saja betapa sulitnya jika dalam berkomunikasi jarak jauh dengan kerabat, teman atau keluarga, kita tidak menggunakan handphone atau telepone sebagai teknologinya. Oleh karena itu banyak orang berbondong-bondong ingin membelinya agar mereka dapat berkomunikasi dengan relasi-relasi mereka yang berada di tempat yang jauh.
Zaman menuntut kita untuk menguasai ilmu dan teknologi yang ada dan berkembang sekarang ini. Jika dalam hal pengetahuan teknologi, kita sudah selangkah lebih maju dari orang lain, maka kita akan dicap sebagai orang yang maju dalam teknologi. Coba bandingkan dengan orang yang tak tahu apa-apa dengan teknologi, mereka pasti akan dicap sebagai orang yang kolot atau orang yang kurang dalam hal teknologi (gagap teknologi). Ini bukan sekedar opini belaka, dan memang fakta mengatakan bahwa seseorang yang selalu mengikuti perkembangan zaman akan lebih mudah dalam kehidupannya. Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan teknologi demi menunjang kehidupan dan aktivitas kita.
Masyarakat telah terpengaruh dalam arus perkembangan teknologi dan komunikasi. Seiring berjalannya waktu, banyak perusahaan-perusahaan yang sudah mulai bersaing mengeluarkan berbagai jenis produk-produk teknologi terbaru untuk dimanfaatkan bagi masyarakat. Dapat di lihat di bidang industri komunikasi seperti perusahaan handphone. Bayangkan saja, setiap waktu para pengusaha tersebut terus memikirkan bagaimana suatu produk yang mereka ciptakan itu dapat benar-benar menarik perhatian masyarakat dan berguna bagi kehidupan. Lalu munculah berbagai macam jenis handphone yang dilengkapi berbagai macam fasilitas-fasilitas yang canggih. Handpone pertama yang keluar adalah tipe monocrome, namun pada zaman sekarang tipe monocrome hampir-hampir tak ditemukan lagi karena tipe polyphoenix sudah bermunculan sehingga menekan produk-produk lama. Maka, kita sebagai pengguna dapat melihat secara tak langsung bahwa semakin hari produk-produk teknologi semakin berkembang dan tak dapat dipungkiri, kitapun ikut terpengaruh di tengah banjirnya perubahan itu.
Sebagai masyarakat awam, kita mungkin sedikit terkejut dengan adanya perubahan ini. Tetapi kita juga harus dapat membaca perubahan tersebut secara bijaksana dan memanfaatkannya sebaik mungkin agar kita tidak terlarut ke dalam keterpanaan teknologi yang semakin mengagumkan. Namun ada kalanya kita selalu belajar, supaya kita tidak terseret terlalu jauh ke dalam dampak negatif yang ditimbulkannya. Oleh karena itu, supaya kita tidak salah memanfaatkan teknologi dan komunikasi, kita harus benar-benar paham apa saja fungsi dan manfaat teknologi bagi kehidupan kita. Sehingga, teknologi dan komunikasi bisa menjadi pelengkap yang kuat dalam menunjang kemajuan dan kehidupan kita.
B. PERMASALAHAN
Perkembangan teknologi dan komunikasi sangat begitu penting di dalam menunjang keberlangsungan hidup kita. Hal ini telah kita rasakan betapa nyatanya kemudahan-kemudahan yang diberikan teknologi-teknologi tersebut. Dahulu akses-akses dalam pencarian sumber informasi dan data-data begitu sulit untuk diperoleh. Kita harus pergi ke perpustakaan untuk memperoleh semuanya itu. Namun dengan adanya teknologi internet, akses-akses pencarian data menjadi lebih mudah dilakukan dan menjadi sangat tidak terbatas. Internet telah menghubungkan segala ujung dunia di dalam suatu sistem netting, di mana dengan sistem itulah kita dapat menemukan segala informasi-informasi yang ada. Bahkan secara pribadi, kita sendiri telah dapat memanfaatkan teknologi internet itu di rumah kita masing-masing. Jika sudah seperti demikian, maka semua jarak yang terasa jauh akan dirasakan semakin dekat seolah-olah jarak yang menjadi tembok pemisah tersebut runtuh seketika saat teknologi internet muncul. Tidak hanya perkembangan teknologi internet saja, di bidang otomotif telah ditemukan mesin-mesin yang lebih hebat dibandingkan dengan mesin-mesin keluaran lama.
Di bidang komunikasi, kini telah keluar sistem 3 G (three G) atau Third Generation technology yang merupakan teknologi terbaru yang mengacu pada sistem telepone nirkabel (wireless). Dengan adanya 3 G kita sudah dapat menggunakan handphone dengan akses kecepatan tinggi (high speed). Selain itu dengan adanya 3 G, kita dapat menghubungi teman kita dengan juga menerakan wajah kita melalui kamera yang ada di handphone kita (Video Call). Ini lebih canggih dari pada MMS yang hanya memunculkan gambar saja.
Dengan munculnya berbagai macam teknologi ini, apakah kita mampu memanfaatkannya sebaik mungkin. Atau justru dengan adanya teknologi tersebut justru dapat mengganggu kehidupan kita. Hal ini tergantung kita sendiri sebagai user dalam memanfaatkani teknologi tersebut.
C. TUJUAN PERMASALAHAN
Seperti kita ketahui bahwa kita hidup dikelilingi oleh teknologi-teknologi yang ada di sekeliling kita. Dan kita juga mengetahui betapa besar pengaruh perkembangan teknologi tersebut. Karena pengaruh itulah, kita harus selalu berantisipasi karena jika kita tidak memanfaatkan teknologi sebaik mungkin, mungkin saja teknologi tersebut dapat membawa kerugian bagi kita. Banyak orang menggunakan Handphone, tapi justru malah disalahgunakan dengan istilah yang sering kita dengar “miss call”. Ini merupakan penyelewengan teknologi yang sangat mengganggu. Coba bayangkan apabila setiap orang mempunyai kebiasaan seperti ini, para pengusaha handphone yang semula ingin menjadikan produknya tersebut sebagai sarana komunikasi, justru secara tidak langsung disalahkan atas dilema yang terjadi tersebut. Oleh karena itu, masalah penyalahgunaan teknologi ini menjadi tujuan permasalahan yang ideal untuk dibahas dalam makalah ini. Sehingga bagi para pembaca dapat terbuka wawasannya agar dapat memanfaatkan teknologi sebaik mungkin supaya teknologi tersebut dapat menjadi penunjang yang sangat baik demi kelancaran aktivitas kita.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. APLIKASI PADA BIDANG KEHIDUPAN
Dalam bidang kehidupan, teknologi sangat diperlukan untuk menunjang segala kegiatan yang kita lakukan. Misalkan saja contohnya: teknologi surat. Pada zaman dahulu, banyak orang-orang dari satu daerah dan daerah yang lain menggunakan sistem pengiriman surat melalui tenaga manusia, yakni dengan pengiriman dengan perahu dari satu pulau ke pulau lain atau dari satu wilayah ke wilayah lain. Kemudian semakin hari zaman semakin berubah, orang memanfaatkan kepintaran seekor burung merpati untuk mengirimkan surat. Namun ada kendala pada hewan yang satu ini. Jika angin bertiup kencang atau tiba-tiba hujan lebat di tengah pengiriman, si burung akan kembali lagi ke tempat asal di mana orang mengirimkan surat tersebut. Jadi, hal tersebut kadang menjadi tidak efisien, apalagi burung merpati tidak dapat mengirimkan barang-barang besar. Kemudian, zaman semakin maju dan ditemukanlah mesin faksimile dan sistem post kilat. Teknologi ini sudah cukup baik dan cepat di mana waktu untuk mengirimkan pesan berjalan tidak terlalu lama. Di zaman informasi teknologi sudah semakin sangat maju, internetpun muncul. Sehingga untuk transfer surat bisa dilakukan sendiri dan biayanyapun jauh lebih hemat. Aplikasinya telah dimanfaatkan di mesin-mesin ATM, Credit Card, Handphone dan lain-lain. Teknologi-teknologi ini dipakai dalam aspek kehidupan kita sehari-hari. (Sumber: www.pontianakpost.com)
B. APLIKASI PADA BIDANG EKONOMI
Teknologi yang kita gunakan saat ini tidak lepas dari adanya persaingan bisnis. Ini terlihat dari berbagai teknologi menerakan sebuah label pembuatan atas nama instansi tertentu ataupun dari negara tertentu. Biasanya itu ditunjukan dengan adanya peneraan kata “Made in …..”. Melihat hal tersebut sangat jelas sekali bahwa setiap perusahaan teknologi memanfaatkan label tersebut sebagai peluang bisnis. Semakin menarik suatu teknologi dan service yang disajikan, maka semakin besar pula keuntungan yang diperoleh dari penjualan teknologi tersebut.
Semakin baru dan canggih suatu teknologi, maka harganyapun sangat mahal. Fakta ini tidak dapat disangkal, karena memang benar demikian bahwa harga suatu teknologi setiap waktunya akan mengalami variasi. Jika teknlogi yang baru muncul, maka teknologi lama akan semakin murah, sedangkan teknologi yang baru akan semakin mahal karena masih hangat-hangatnya. Mengingat bahwa mayoritas orang khususnya orang perkotaan tidak dapat lepas dari adanya teknologi sehingga sebesar apapun harga yang ditawarkan kepada konsumen, karena kebutuhan akan teknologi ini begitu besar akhirnya orang tanpa pikir lagi untuk membelinya. Kondisi seperti ini sangat ideal bagi para pesaing bisnis yang berkecimpung di bidang teknologi, karena peluang untuk teknologi selalu terbuka dengan sangat luas untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.
Selain pemanfaatan teknologi dalam hal persaingan bisnis, pemanfaatan teknologi di bidang ekonomi juga cukup besar. Mesin ATM yang sekarang sangat bermanfaat bagi perbankan di negara kita. Tanpa ATM kita akan sulit untuk mentransfer uang kita sehingga sirkulasi mata uang akan terhambat. Dengan adanya mesin ATM dan berbekal sebuah kartu dengan teknologi scanning magnet, kita dengan mudah mentransfer dana dari satu tempat ke tempat lain secara cepat. Kita dapat membawa akses ATM dengan kartu kredit, master card, ATM card. Dengan ukurannya yang minimalis, sehingga banyak sektor-sektor ekonomis memanfaatkannya sebagai sarana transaksi. Sektor-sektor itu antara lain: Mall, Super Market, Mini Market dan tempat transaksi jual beli lainnya.
C. APLIKASI PADA BIDANG PEMBERDAYAAN TENAGA KERJA
Untuk menghasilkan teknologi terbaru diperlukan para ahli yang memang mampu untuk menciptakannya. Dengan adanya pendidikan yang diberikan sejak dini tentang teknologi dapat menghindari adanya gagap teknologi. Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, dia harus semakin mapan juga dalam penguasaan teknologi.
Dalam memperoleh pekerjaan, penguasaan teknologi sangat diperlukan. Di samping sebagai jaminan mutu potensi kerja suatu pribadi, penguasaan teknologi ini bertujuan juga supaya dalam melaksanakan tugasnya, seseorang bisa menjadi lebih profesional. Misalkan saja di iklan-iklan baris yang ada di surat kabar. Coba Anda baca saja kolom lamaran kerja, dalam menawarkan pekerjaan paling tidak kita diharuskan menguasai teknologi di bidang yang digeluti. Di bidang teknologi pangan dan gizi, kita harus menguasai mesin-mesin pengolahan pangan dan tahu bagaimana cara mengolah makanan dengan teknologi yang ada. Di bidang perkantoran, seorang karyawan paling tidak tahu dan mengerti cara mengoperasikan komputer dasar, jika tidak dapat menguasainya tak mungkin orang tersebut dapat diterima oleh perusahaan terkait karena itu merupakan suatu tuntutan untuk perusahaannya.
Semakin ahli seseorang pada suatu teknologi, maka harga profesionalitasnya akan semakin tinggi. Fakta ini juga tidak dapat disangkal karena semakin besar pengetahuan dan keahlian kita akan suatu teknologi, begitu mudah bagi kita untuk memperoleh pekerjaan. Keahlian di dalam bidang teknologi sangat mutlak diperlukan supaya dalam menjalankan pekerjaannya, dia tidak perlu lagi melakukan pelatihan karena berbekal pendidikan akan teknologi sudah mampu membuatnya bekerja dengan kinerja yang begitu profesional. Oleh karena itu, mental penguasaan teknologi sekarang menjadi titik berat dalam menggali karier di segala bidang. Dengan adanya keahlian akan teknologi, tak perlu diragukan lagi. Peluang kerja kita terbuka secara luas. Intinya keahlian adalah kunci utama dalam memperoleh kesuksesan.
D. APLIKASI PADA BIDANG LINGKUNGAN HIDUP
Lingkungan hidup kita memerlukan teknologi khusus agar keberlangsungannya tetap terjaga. Polusi yang terjadi semakin besar di sekeliling kita membuat kerusakan lingkungan hidup bagi alam kita. Kita sebagai penghuninya tak mungkin hanya diam saja. Oleh karena itu muncullah teknologi muktahir yang digunakan untuk memulihkan lingkungan hidup.
Industri adalah bidang yang berpotensi besar dalam kerusakan lingkungan. Karena asap-asap dari pabrik-pabrik bahan organik maupun non-organik dapat menyebabkan kerusakan pada sistem udara. Untungnya sekarang sudah ada teknologi penyaring udara yang terpasang di setiap cerobong asap pabrik-pabrik. Paling tidak dapat mencegah terjadinya polusi udara besar-besaran.
Di bidang pertambangan, teknologi juga sangat diperlukan. Terutama dalam hal menjaga kerusakan ekosistem di sekitar area pertambangan. Untuk menggali, orang tidak lagi memerlukan tenaga berlebihan untuk mencangkul. Dengan adanya teknologi mesin derek, orang hanya tinggal diam menyetir dan menggali melalui kursi mesin derek.
Teknologi dibidang ilmu pengetahuan Alam untuk mengatasi permasalahan lingkungan sudah diintensifkan. Teknologi kimia untuk menyaring struktur merkuri dimanfaatkan supaya limbah merkuri tidak mencemari air.
Sumber: Kompas; Janin Terkontaminasi Merkuri
BAB I
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. PERKEMBANGAN TEKNOLOGI
Sudah kita baca di atas aplikasi-aplikasi teknologi di sekeliling kita. Dan pengaruhnya juga sangat luar biasa bagi aktivitas kita. Perkembangan teknologi yang terjadi di sekeliling kita adalah suatu inovasi yang berjalan secara alami dan kita sendiri sebagai usernya secara alami pula ikut terpengaruh. Pengaruh-pengaruh ini dapat menyebabkan perubahan-perubahan yang spesifik di dalam kehidupan kita. Di mana ruang dan waktu menjadi lebih singkat dengan adanya teknologi. Kita beruntung menjadi makhluk yang memiliki daya kreasi dan cipta yang tinggi. Sehingga kemampuan kita itu dapat menjadi dinamis dalam menghasilkan teknologi-teknologi terbaru untuk dimanfaatkan bagi kehidupan kita.
Manusia kadang kala memiliki ambisi khusus dalam menggunakan teknologi. Di mana teknologi itu memiliki manfaat agar mempermudah jalannya suatu kehidupan dan aktivitas. Namun ada juga orang yang memanfaatkan teknologi untuk kepentingan diri sendiri dan kadang merugikan orang lain. Misalkan saja: teknologi nuklir. Kita tahu bahwa aplikasi teknologi nuklir adalah sebagai pembangkit tenaga listrik. Namun ketakutan besar akan bermunculan ketika aplikasinya dialihkan sebagai senjata pemusnah. Sudah bijaksanakah kita akan pemanfaatan teknologi tersebut?
(sumber: http://www.walhi.or.id/kampanye/energi/pltn/)
B. MANFAAT TEKNOLOGI
Adapun manfaat teknologi secara umum, antara lain:
• Memberikan kemudahan bagi pengguna (user)
• Membuat pekerjaan menjadi lebih singkat dan cepat
• Pekerjaan menjadi lebih efisien
Sedangkan manfaat teknologi secara khusus, antara lain:
• Dalam keluarga, pemanfaatan teknologi secara dini akan mendidik anak supaya terbiasa akan teknologi
• Teknologi menjadi sarana eksplorasi untuk menambah wawasan
• Menghubungkan keefektifan dalam pekerjaan
C. KEBIJAKSANAAN DALAM PEMANFAATAN TEKNOLOGI
Agar teknologi bukan sekadar alat, atau bahkan “memperalat” kehidupan manusia seyogianya kita menyadari hubungan antara manusia dengan teknologi itu sendiri. Menarik adalah pendapat Bambang Sugiharto (2002) yang meyakini bahwa memang teknologi tidak bisa dilihat sebagai entitas yang terpisah dari realitas hidup manusia. Menurut Bambang, teknologi bisa ada “di dalam” tubuh manusia, (teknologi medis, teknologi pangan), “di samping” (telepon, faks, komupter, “di luar” (satelit), menjadi tempat tinggal (ruangan ber-AC). Relasi mutual ini tentu membawa realitas yang kompleks. Kenyataan lebih besar juga harus kita lihat secara jeli: sains, teknologi dan kultur telah bercampur aduk dalam kesatuan entitas. Dari sinilah kemudian kondisi objektif ini merekomendasikan pelaku bisnis di era teknologi modern harus mampu menangkap esensi hubungan. Tanpa kemampuan dan kejernihan melihat realitas itu niscaya gerak bisnis, baik gerak perusahaan maupun gerak kepemimpinan dan inisiatif tidak akan mencapai sasaran.
Demikianlah juga kita sebagai manusia harus tetap mempertimbangkan secara bijaksana agar penyatuan bermacam-macam aspek tersebut menjadi lebih matematis dan teratur. Orang harus benar-benar paham apa sebenarnya manfaat teknologi tersebut bagi hidupnya. Dan jangan sampai teknologi tersebut menjadi penghalang atau penghambat untuk melakukan sesuatu. Sehingga pemanfaatan teknologi akan benar-benar terarah pada manfaat yang sebenarnya.
BAB III
KESIMPULAN
A. SARAN
Semakin cepatnya perkembangan Teknologi menuntut manusia untuk mencoba membuat perubahan di segala jenis kehidupannya yang tujuannya adalah mendapatkan hasil maupun kondisi yang terbaik yang dapat dicapai. Banyaknya sektor kehidupan yang ada diharapkan membuka inovasi baru bagi kita untuk menciptakan sesuatu yang baru untuk kemajuan peradaban manusia. Namun semua inovasi tersebut hendaknya harus dibatasi oleh aturan hukum negara dan budaya bangsa Indonesia.
B. PENUTUP
Semoga makalah ini dapat menggerakkan manusia Indonesia untuk lebih berkarya dan berinovasi sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia sehingga mampu meningkatkan image bangsa di mata bangsa di dunia.
IV . Daftar Pustaka
1. Materi TOT Technologi Information & Communication oleh Unesco dan Pusnas RI di Yogyakarta 1999
2. Konsep, Desain dan Implementasi Perpustakaan Elektronik : Integrasi Perpustakaan Terotomasi dan Perpustakaan Digital Untuk Perpustakaan Nasional di Indonesia Oleh: Ismail Fahmi
3. Model Implementasi Protokol OAI dalam IndonesiaDLN dan Hubungannya dengan Digital Library di Luar Negeri oleh Rurie Muharto
4. Alu, A.O. (2000) Effects of Information Technology on Customer Services in the Banking Industry in Nigeria M.B.A Thesis in Management and Accounting, Obafemi Awolowo University, Nigeria.
5. Coombs, R., Saviotti, P. and Walsh, V. (1987) Economics and Technological Change, Macmillan: London.
6. Ige, O. (1995) Information Technology in a De-Regulated Telecommunications Environment, Keynote Address, INFOTECH 95. First International Conference on Information Technology Management, Lagos, November 16-17.
7. Levitt, T. (1992) The Globalization of Markets, in: Transnational Management: Text, Cases and Readings in Cross-Broder Management. Richard D. Irwin.
8. Smith, Adam (1776): The Wealth of Nations Ugwu, L.O. (1999): Assessment of Impacts of Information Technology on Selected Service
9. Industries in South Western Nigeria, MSc. Thesis in technology Management, Obafemi Awolowo University, Nigeria.
BUATLAH APA YANG BELUM DIFIKIRKAN ORANG LAIN,BERHENTI TIADA TEMPAT BAGIMU, LAMBAT BER ARTI MATI, KARENA ENGKAU AKAN TER INJAK INJAK OLEH MASA
ASSALAMU ALAIKUM
Rabu, 07 Oktober 2009
Minggu, 20 September 2009
tafsir al fatihah
TAFSIR AL FATIHAH
"BismillahirRahmanirRahim"
(Dengan nama Allah Maha Pemurah Maha Penyayang)
Dalam al Qur'an al Karim dan juga pada awal setiap surah selain Surah al Taubah dimulakan dengan "Bismillahir Rahmanir Rahim". Ini memberikan satu panduan agar kita memulakan segala apa yang kita lakukan dengan menyebut nama Allah terlebih dahulu.
Rasulullah s.a.w bersabda yang mafhumnya:
"Setiap urusan yang baik yang tidak dimulakan dengan "Bismillahir Rahmanir Rahim", maka tidak akan mendapat barakah" (Abu Dawud)
Perkataan "ISM" adalah suatu perkataan yang menunjukkan zat atau makna. Sedangkan lafz al Jalalah,yaituALLAH, adalah zat yang mesti ada, suatu nama yang pokok dan penghimpun. Adapun selain daripada itu adalah sifat sifat Allah yang berkenaan dengan perbuatan maupun dengan perkataan, yang semua itu dinamakan Asma' al Husna atau nama nama yang indah. Di mana setiap nama itu berarti sifat yang menunjukkan pada zat dan sifat perbuatan. Sedangkan ism al Jalalah ini menunjukkan itu semua dengan seluruh kesempurnaan dan kesucian Nya daripada segala sifat yang berlawanan dengannya. Itu sendiri menunjukkan sifat zat yang bersifat Maha Sempurna dan bersih daripada segala sifat kekurangan.
"ArRahmanir Rahim" pula adalah dua sifat Allah yang berasal daripada perkataan rahmah dengan arti yang layak bagi Allah.
Ibnul Qayim mengatakan: "Menghimpun antara Rahman dan Rahim di sini mengandungi arti yang indah sekali. "Rahman " menunjukkan sifat dasar bagi Allah. "Rahim" pula menunjukkan hubungannya dengan yang diberi rahmat. Jadi seolah olah yang pertama itu berarti sifat, sedang yang kedua itu berarti perbuatan. Yang pertama menunjukkan, bahwa rahmah dan kasih sayang itu menjadi sifat zat Allah, sedang yang kedua menunjukkan, bahwa Dia memberi rahmat kepada makhluk Nya dengan sifat kasih sayangnya itu.
Untuk memahami arti ini, renungkan firman Allah yang mafhumnya:
"Dia adalah maha kasih sayang kepada orang orang mukmin"
"Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang dan pengasih kepada orang mereka"
Di situ tidak terdapat kata "Rahman" kepada mereka. Dengan demikian, maka kamu dapat mengetahui, bahwa "Rahman" itu berarti zat yang disifati dengan rahmah, sedang "Rahim" berarti zat yang diberi rahmat.
Selanjutnya kata ibn al gayim:
"Titik ini hampir tidak dijumpai dalam kitab mana pun."
Tetapi Syeikh Muhammad Abduh berpendapat lain. Beliau mengatakan:
"Yang saya ketahui, bahwa sighat "Fa'Laan" menunjukkan sifat perbuatan yang mengandung arti mubalaghah (sangat) separti "Fa'aalun" yang dalam penggunaan bahasa terpakai untuk sifat sifat mendatang separti "Atsyan"(orang haus), "Gharthan" (orang yang Iapar), "Ghad ban" (orang yang marah)"
Sedang sighat "Fa'iilun" menunjukkan arti yang tetap, separti akhlaq dan tabiat manusia separti: "alim (yang mengetahui), hakim (yang bijaksana), halim (yang sabar) dan jamil (yang bagus). Sedang al Quran tidak pernah keluar daripada gaya bahasa Arab yang mengena dalam menceriterakan sifat sifat Allah 'azza wajalla, yang sentiasa jauh daripada menyamai sifat sifat makhluk.
Jadi perkataan "Rahman" berarti menunjukkan zat yang daripadanya timbul rahmah itu dengan perbuatannya pula yang meliputi seluruh keni'matan dan kebaikan. Sedang kata "Rahim" berarti menunjukkan pangkal timbulnya rahmah dan ihsan itu, dan ini adalah sifat yang selalu ada pada Allah.
Dengan demikian satu sama lain saling berkaitan. Tidak berarti yang kedua sebagai penguat yang pertama. Maka apabila seseorang Arab mendengar sifat Allah dengan "Rahman", dan ia mengarti bahwa secara kenyataan Dialah yang meluaskan ni'mat ni'mat itu, dia tidak boleh mempercayai bahwa Rahmah itu sifat yang mesti dan selalu ada, sekalipun terjadi dalam banyak hal. Tetapi kalau dia mendengar "Rahim" maka kepercayaannya kepada Allah menjadi sempurna menurut arti yang layak bagi Allah dan di redainya serta dia akan mengetahui, bahwa Allah mempunyai satu sifat yang disebut "Rahmah" yang daripadanya akan membuahkan satu pengaruh yang besar, kendati sifat sifat yang tersebut tidak sama dengan sifat sifat makhluk.
Sifat ini disebut, sesudah menyebut kata "Rahman", adalah tak ubahnya dengan menyebut dalil sesudah madlulnya untuk memberikan kejelasan baginya.
Demikian kami ringkaskan daripada Tafsir al Manar.
Barangkali pendapat terakhir ini lebih mendekati kepada kaedah-kaedah dan uslub bahasa Arab.
Syeikh Muhammad Abduh dalam menjawab sementara lawan berfikirnya dan pengarahan pendapatnya ini sehingga melupakan satu aliran yang sangat lembut sekali, yang hendak kami bawakan di sini secara ringkas, separti berikut:
"Kemungkinan untuk memperkuat dengan menyebut dua sifat itu secara bersama sama bagi tujuan meniadakan berbilang, adalah sangat jauh. Kerana antara tauhid dan arti rahmah sama sekali tidalc ada hubungannya, sedang sepanjang sejarah tidak pernah ada orang yang berpendapat. bahwa "Rahman" itu berarti ma'bud (yang disembah) dan "Rahim" pun berarti ma'bud yang lain, sehingga periu dikongkritkan, bahwa Rahman dan Rahim itu berarti satu"
Tetapi yang dikenal pengartian separti ini ialah perkataan orangorang Kristian yang berpendirian Triniti (Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus), dengan anggapan Tiga sama dengan Satu. Kemudian Allah bermaksud menjadikan pembuka amal baik kaum muslimin yang terdiri dari tiga makna: Yang pertama "zat" sedang yang kedua dan ketigayaitu"Dua Sifat".
Lafz al Jalalah (Allah) adalah zat yang sama dengan penyebut Bapa menurut orang Kristian. Rahman adalah sifat perbuatan yang selalu baru yang timbul sebagai pengaruh daripada keluasan kedermawanNya. Ini separti kata "Anak" menurut anggapan Kristian, sebab 'rahman' adalah basil daripada zat. Sedang kata "Rahim" menunjukkan sifat yang abadi daripada zat yang Maha Suci, yang kepadanya kembalilah perbuatan yang baru itu. Dengan anggapan timbul dan serba bare adalah separti penyebutan Ruhul Kudus menurut anggapan Kristian dalam hubungannya antara anak dan bapa, namun mereka akan terus berusaha untuk menutupinya dengan pelbagai cara.
Kemudian al Quran mengajar kita bagaimana harus kita meletakkan Tauhid di tempat Triniti, dan kita ganti lafaz lafaz tanzih (kata yang membersihkan) yang justru lebih baik dengan lafaz lafaz tasybih (kata yang menyerupai). Dan kami mengarti arti yang dijadikan alasan untuk maksud Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus itu, adalah arti daripada Rahmah dan meluasnya ni'mat.
Di sinilah perlunya mengapa dua kata (Rahman dan Rahim) diulang dalam permulaan tiap surat dan hita disunnatkan membacanya dalam setiap melakukan amal kebajikan. '
Daripada beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa kebanyakan ahli tafsir mengartikan arti kata "Rahman" itu berarti pemberi ni'mat dalam bentuk barang kasar. Sedang kata "Rahim" berarti pemberi ni'mat dalam bentuk barang yang halus. Tetapi pendapat ini tidak bersandar dalil.
Atau kedua duanya mempunyai arti yang lama. Sedang kata yang kedua sebagai penguat (ta'kid) bagi yang pertama.
Ini adalah pendapat al Jalal, al Shabban dan sebahagian ahli tafsir. Tetapi pendapat ini dipandang lemah. Sebab di dalam al Quran tidak ada satu pun kata tambahan yang tidak mengandung pengartian yang dimaksud. Demikian sebagaimana yang ditegaskan oleh ibnu Jarir alTabari.
Atau salah satu sifatnya itu menunjukkan arti Rahmah yang tetap pada diri Allah. Sedang yang kedua menunjukkan berulangnya perbuatanperbuatan yang ada hubungannya dengan sifat ini. Inilah pendapat ibn al Qayim dan Syeikh Muhammad Abduh. Dan ini pula kiranya cukup dapat mententeramkan hati.
Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin
(Segala puji bagi Allah, Tuhan bagi sekelian alam)
"ALHAMDU", adalah segala pujian yang bagus dan indah. Pujian ini sangat bergantung kepada kadar pengenalan pemujanya kepada sifat sifat yang dipuji. Kalau pemujanya mempunyai pengetahuan yang luas dan menyeluruh, maka akan tepadah pujiannya itu. Justru itulah setup muslim berkewajipan bersungguh sungguh untuk mengkaji rahsia alum dan mengetahui seluruh daya dan keindahan yang terkandung di dalamnya. supaya dengan demikian mereka dapat mengenal dengan baik akan keagungan penciptanya. Dan dengan itu pula pujiannya itu akan tepat dan benar, sebab pujiannya itu benar benar tumbuh dari pengenalan yang hakiki dan perasaan yang tumbuh dari hati nurani serta penghormatan yang timbul dari rasio, bukan sekedar memberi atau ketaatan yang turun temurun.
Justru itu pula, pujian dan sanjungan yang tartinggi, ialah pujian dan sanjungan Allah terhadap dirinya sendiri: "Maha Suci Engkau, Kami tidak dapat menghitung pujian atas Mu sebagaimana Engkau telah memuji sendiri pada Diri MU".
Pujian Allah pada dirinya itu satu hat yang wajar dan mesti, kerana Dialah yang bersifat mahasempurna, yang berhak mendapat segala macam pujian, kendati ada beberapa sebab yang mempengaruhi arti pujian ini kepada jiwa hambanya, separti halnya seorang yang lapar akan memuji ketika ia sudah kenyang, seorang haus ketika puas mendapat minum, seorang miskin ketika kaya, seorang bodoh ketika memperoleh pengetahuan dan seorang yang tersingkirkan apabila telah dikabulkan permintaannya, separti pujian Nabi Ibrahim yang mafhumnya:
"Segala puji bagi Allah yang telah memberiku Ismail dan Ishak sesudah tuaku, kerana memang sesungguhnya Tuhanku sungguh mendengarkan pemohonan" (Ibrahim: 39)
Di sinilah letak rahsia menghimpun antara hak pujian (ALHAMDU) dan ketuhanan Allah terhadap seluruh clam ini (RABBIL ALAMIN).
"RABBIL ALAMIN" (Tuhan bagi sekelian alam)
Imam Baidawi mengatakan, "Rabbun" pada asalnya adalah kata 'masdar' yang berarti 'tarbiyah' (pendidikan),yaitumenyampaikan sesuatu secara sempurna dengan bertahap. Maka Allah disifati dengan "Rabbun" adalah untuk melebihkan (lil mubalaghah). Rabb juga disebut "Malik" (pemilik) kerana Dia melindungi dan mendidik apa yang dimilikinya.
Kata "Rabb"ini tidak boleh dipakai untuk selain Allah, kecuali dengan adanya pembatasan atau disandarkan kepada yang lain.
Sedang al Raghib berpendapat, "Rabb" itu pada asalnya berarti tarbiyah,yaitumenumbuhkan sesuatu secara bertahap hingga sempurna.
Kata "Rabb" ini tidak boleh dipergunakan secara mutlak, kecuali bagi Allah.
"'ALAMIN" (sekelian alam)
Kata ini sebagai kata jama' daripada "ALAM", yang menurut sementara pendapat maksudnya ialah: manusia, berdasarkan firman Allah yang mafhumnya:
"Supaya ia (Nabi) itu menjadi pengancam bagi manusia" (Al Furqan: 1)
Sementara adaa juga yang berpendapat, meliputi semua makhluk Allah yang berilmu, separti malaikat, manusia dan jin.
Dan ada juga yang mengatakan, setup jumlah yang berbeda dengan afradnya sebagai sifat yang mendekati berakal, separti: 'alam al insan (alam manusia), 'alam al nabat (aam tumbuh tumbuhan) dan 'alam alhayawanat (alam binatang). Tetapi untuk benda benda mati separti batu, gunung dan sebagainya tidak dapat disebut alam. Oleh kerana itu tidak boleh disebut: 'alam al hajar (alam batu), 'alam al jabal (alam gunung) dan sebagainya.
Bahkan ada juga yang berpendapat, bahwa yang disebut 'alaminyaitusemua jenis makhluk, dengan alasan firman Allah yang mafhumnya:
"Fir'aun berkata: "Siapakah Tuhan bagi alam semesta ini? " Musa menjawab: Yaitu Tuhannya Iangit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, kalau benar benar kamu beriman." (As Syu'ara': 23-24)
Daripada sekian banyak pendapat, barangkali pendapat yang lebih tepat bahwa arti itu semua tidak lepas daripada karenah. Sedang yang dimaksud dengan kata "'Alamin" di surah al Fatihah ini ialah arti yang terakhir. Sebab sesungguhnya Allah adalah zat yang mengatur seluruh makhluk ini. '
Sedang pengaturan Tuhan terhadap seluruh makhluk ini nampak dengan jelas dalam seluruh manifestasi dunia ini, daripada yang paling kecil hingga yang paling besar. Misalnya benda benda yang mati, yang mengatur adalah Allah, dengan hukum hukum clam Nya, yang tidak terlepas daripada satu reaksi, konstruksi, peleburan, campuran, gabungan dan penukaran.
Selanjutnya dalam keanekaragaman tumbuh tumbuhan, dalamnya terkandung pengartian tarbiyah ilahiyah dengan satu bentuk yang lebih jelas, dibandingkan dengan apa yang terkandung dalam bendabenda mati, kerana di dalamnya terdapat arti dan dasar dasar hidup. Kita ambit contoh misalnya janin tumbuh tumbuhan yang bersembunyi dalam biji bijian, sehingga apabila ia telah bertemu dengan tanah yang subur, dia akan berkembang, bergerak dan memakan bahan bahan makanan yang berada di sekitarnya, yang memang disediakan untuk itu. Maka bahan bahan makanan yang dihisap oleh janin tadi tak ubahnya dengan puting binatang. Begitulah sehingga janin ini apabila sudah tumbuh dan membesar, akarnya menghunjam di tanah dan menghisap makanannya dari tanah, kemudian bertambah menjadi susunan yang indah nampak di permukaan bumf berbentuk tumbuhtumbuhan yang akan menjadi pohon kecil, terus membesar dengan beranting, berdaun dan berbunga yang bernafas, makan dan bunting kemudian melahirkan buah buahan.
Binatang dengan seluruh macamnya, dan manusia dengan seluruh jenisnya adalah diatur oleh Allah dalam seluruh tahap tahap hayatnya, sejak dari bentuk nutfah sampai menjadi darah menggumpal, dan menginjak kepada segumpal daging, dan terus dilengkapi dengan tulang belulang sampai kepada bentuk yang sempurna. Kemudian lahir, menyusu , berkembang dan besar dengan dimudahkan jalanjalan untuk mempertahankan hidup serta penjagaan yang sempurnayaitudengan dijaganya perlengkapan, anggota dan jalan mencari makan melalui cara cara pengetahuan dan perasaan yang bermacammacam, sehingga dengan demikian manusia dapat membedakan antara yang baik dengan yang buruk dan .clapat merasakan arti kebaikan, kebenaran dan keindahan.
"ARRAHMANIRRAHIM" (Pemurah lagi Penyayang)
Tafsir al Manar mengatakan: "Kalimat ini diulang untuklmenunjukkan bahwa pengaturan Tuhan terhadap alam semesta ini bukan kerana keperluan Allah kepada mereka separti demi mengambil manfaat atau menolak mudarat. Tetapi itu semua hanyalah semata mata menunjukkan keluasan rahmat kasih sayang Allah serta kebaikan Nya kepada makhluk Nya.
Walaupun arti "rabb" yang difahami sebagai kekuasaan dan paksaan, Allah hendak menyadarkan mereka itu dengan rahmah dan kebaikanNya supaya mereka dapat memadukan antara kepercayaan terhadap keagungan dengan kebaikan Allah. Maka disebutlah kata "RAHMAN" dengan arti yang meluaskan ni'mat serta berganti gantinya ni'mat itu yang tiada habis habisnya. Dan disusulnya dengan kata "RAHIM" yang berarti mempunyai sifat rahmah yang abadi yang tidak pernah tiada untuk selama lamanya.
Jadi seolah olah Allah hendak memperlihatkan kasih Nya kepada hamba Nya, kemudian memperlihatkan kepada mereka bahwa pengaturannya itu adalah pengaturan yang berbentuk kerana rahmah dan kebaikan Nya, supaya mereka tahu, bahwa sifat inilah (RAHMAN dan RAHIM) yang menjadi sumber seluruh sifat, sehingga dengan demikian mereka akan mahu menerima dengan rela untuk mencari keredaan Nya.
Sifat ini tidak berarti akan meniadakan keumuman rahmah dan hukum hukum Allah tentang hukuman di dunia dan akhirat bagi orang orang yang memperkosa hukum dan melanggar larangan.
Sesungguhnya Allah, sekalipun disebut "QAHHAR" (pemaksa) dilihat di segi bentuk dan realitinya, tetapi pada hakikatnya paksaan Nya itu berbentuk rahmah, kerana di dalamnya terdapat suatu pendidikan bagi manusia dan menghalang mereka daripada melanggar hukum Allah, sebab dengan pelanggarannya itu mereka akan jadi celaka. Sedang disiplin pada hukum Allah akan membawa kebahagiaan dan kesenangan mereka.
"MAALIKI YAUMIDDIN" (Yang merajai hari kemudian)
"MAALIKI" dengan dipanjangkan "mim"nya berarti memiliki, dapat dibaca "MALIKI" dengan dipendekkan "mim"nya yang artinya ; raja. Kedua dua bacaan ini mempunyai dasar dalam ayat al Quran. Yang pertamayaitudasar fir man Allah yang mafhumnya:
"Pada suatu hari di mana satu jiwa tidak dapat menolong jiwa lainnya, sebab semua urusan di hari itu adalah kepunyaan Allah." (Al Infitar: l9)
Alasan bagi bacaan kedua ialah firman Allah yang mafhumnya:
"Milik siapakah kerajaan pada hari itu? ihlilik Allah yang Maha Esa dan Maha perkasa." (Ghafir: 16)
"AL-DIN" artinya: al hisab (perhitungan) , al mukafa'ah (kecukupan) dan al jaza' (pembalasan). Arti terakhir inilah yang sangat munasabah bagi ayat ini.
Maka arti "Yaumiddin"yaituhari kebangkitan yang besar untuk menerima perhitungan dan balasan amal. Separti juga diterangkan oleh Allah dalam al Quran yang mafhumnya:
"Yaitu suatu hari yang tiap tiap jiwa akan mendapatkan di hadapannya kebaikan yang mereka lakukan dan kejahatan yang mereka lakukan; tiap tiap jiwa itu akan merasa senang kalau antara dia dan hari itu ada jarak yang jauh". (Ali 'Imran: 30)
Allah memperingatkan makhluknya dengan kelembutan perhitunganNya, sehingga dengan demikian manusia mahu mengikuti dan mengakui, bahwa TUHAN SEKELIAN ALAM YANG MAHA RAHMAN DAN RAHIM itu adalah raja pada hari kemudian (maaliki yaumiddin), yang kemudian Dia akan menghitung dan memberi balasan amal yang mereka kerjakan.
"IYYAKA NA' BUDU WAIYYAKA NASTA'IN"
(Hanya kepada Mu kami menyembah dan hanya kepada Mu kami minta tolong).
Pengartian menurut bahasa berarti taat dengan benar benar tunduk. Tetapi pentafsiran ini belum dapat mencapai maksud ibadah. Ibadah tidak sama dengan pengabdian. Menurut Syeikh Muhammad Abduh dalam tafsirnya mengenai arti ibadah ialah secara ringkasnya: "Seorang yang mencintai orang lain akan berlebih Lebihan dalam menyanjung kekasihnya sehingga sanggup berkorban untuk memenuhi kehendak kekasihnya". Ini belum dinamakan ibadah dengan arti yang sebenarnya.
Pengartian ibadah yang sebenarnya ialah ketaatan yang paling tinggi yang tumbuh dari hati kerana merasa kebesaran yang diabdi, yakin akan kekuasaan Nya.
Justru itu ibadah ini mempunyai beberapa bentuk yang disyariatkan demi menyedarkan manusia akan kekuasaan Tuhan yang Maha Tinggi sebagai jiwa dan rahsia ibadah.
Setiap bentuk ibadah yang benar mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk keperibadian pelakunya serta membersihkan jiwanya yang berpunca daripada ketaatan dan pengagungan.
"ISTI'ANAH" atau "nasta'in" artinya ialah: mencari bantuan untuk mengatasi kelemahannya dan bantuan untuk apa yang tidak dapat dilaksanakan atau disempurnakan.
Permintaan bantuan ini dalam persoalan duniawi yang menjadi kekuasaan manusia dan perbuatan manusia, boleh dilakukan antara manusia itu sendiri. Bahkan cara ini termasuk cara bertaqarrub kepada Allah sebagaimana hadis Nabi s.a.w yang mafhumnya:
"Bahwa sesungguhnya Allah akan memberi pertolongan kepada hamba Nya, selama hamba tersebut mahu menolong saudaranya"
Memberi dan meminta pertolongan kepada manusia separti tersebut di atas adalah satu cara yang dibenarkan, demi melaksanakan dan menyempurnakan perbuatan perbuatannya.
Adapun meminta pertolongan (isti'anah) dalam hal hal yang khusus buat Allah dan yang tidak dibenarkan minta bantuan kepada selain Allah, adalah hal hal yang di luar kemampuan manusia, separti minta sembuh daripada penyakit setelah berubat, meminta kemenangan untuk melawan musuh sesudah mengadakan persiapan dan mengerahkan seluruh daya kemampuan, dan separti meminta Allah daripada segala macam gangguan dan bala yang memang perkara tersebut semata mata berada di tangan Allah yang tidak mungkin dielakkan kecuali oleh zat yang mengatur urusan bumi dan langit ini.
Ibadah dan isti'anah dan pengartiannya separti ini, hanya untuk dan kepada Allah semata. Justru itu didahulukannya dhamir "IYYAKA" (hanya kepada Mu), untuk menunjukkan kekhususan, separti yang dikatakan oleh ahli bahasa.
Setiap manifestasi yang menunjukkan ibadah secara syar'i, yang nampak ataupun yang tidak nampak, tidak boleh tidak kecuali untuk Allah semata mata, separti: salat, ruku', sujud, nadzar, qurban, sumpah, takut, mengharap, tawakkal, cinta, senang, merendah diri dan seterusnya.
Begitu juga bentuk bentuk permintaan pertolongan yang secara khusus oleh syara' ditentukan hanya kepada Allah, tidak boleh dilakukan kepada selain Allah, separti: do'a, minta hujan, minta panjang umur, minta kekuatan, minta dicapainya seluruh keperluan.
Dengan demikian, maka selamatlah agama seseorang mu'min, iman dan kepercayaannya akan menjadi lebih sempurna. Dan dia pun akan selamat daripada noda noda syirik serta dapat memadukan antara tauhid uluhiyah (mengakui keesaan Tuhan) dan tauhid rububiyah (mengakui keesaan pengaturan).
Ayat ini termasuk kata yang lengkap (jawami'ul kalim), sebab dalam kalimat ini telah disyariatkan kesimpulan seluruh risalah dan hak serta kurnia Allah kepada makhluk Nya yang telah dibawa oleh para rasul.
Tidak ada persoalan pertama yang lebih banyak dibawa oleh Agama selain mengenal Allah, dalam bentuk "HANYA KEPADAMULAH KAMI MENYEMBAH DAN HANYA KEPADAMULAH KAMI MINTA PERTO LO NGAN. "
Di antara kehalusan kata "ISTI'ANAH" (minta pertolongan). Kata ini dapat menimbulkan ghairah beramal dan mencari jalan untuk beramal, sebab "isti'anah" itu sendiri artinya minta pertolongan kepada Allah.
'Umar bin al Khattab r.a. pernah berkata:'
"Janganlah kamu mencari rezki sambit duduk dengan cukup mengatakan 'Ya Allah berilah aku rezki!' kerana kamu tahu, bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak"
Dalam uacapan ini tersimpul suatu penghargaan bagi manusia,yaitudengan menjadikan "amal" sebagai dasar pokok untuk mencapai seluruh keperluannya.
Sementara ahli tafsir ada yang berpendapat, bahwa meminta pertolongan itu terbatas pada meminta taufiq kepada Allah dengan mengerjakan ibadah, berdasar sabda Nabi s.a.w kepada Mu'adh r.a. yang mafhumnya:
"Demi Allah saya sangat menyukaimu, makaku wasiatkan kepadamu kiranya kamu tidak akan meninggatkan berdo'a setiap selesai sembahyang, dengan mengucapkan: "Ya Allah! Ya Tuhan kami! Berilah aku pertolongan untuk mengingat Kamu dan bersyukur kepada Mu serta beribadah kepadaMu dengan baik!"
"IHDINAS SIRATAL MUSTAQIM" (Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus)
"Sirat" artinya: jalan; "Mustaqim" artinya: lurus. Ayat ini merupakan kalimat yang lengkap (jawami'ul kalim). Sebab setiap manusia pada hakikatnya perlu pada pimpinan ke jalan yang lures, baik dalam perkataannya, perbuatannya, fikirannya maupun kehendaknya.
Jalan lurus inilah Agama uyang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. tanpa tambahan, pengurangan, dan perubahan separti firman Allah yang mafhumnya:
"KatakanIah! Inilah jaIanku yang ku seru kalian kepada Allah dengan terang; begituIah aku dan orang orang yang mengikuti aku; Maha Suci Allah dan aku tidak tergolong orang orang yang menyekutukan Allah." (Yusuf: 108)
"Dan sesungguhnya ini adalah jalan Ku yang Lurus; oleh kerana itu ikutilah dia dan jangan kamu mengikuti macam macam jalan, maka jalan jaIan itu akan memisahkan kamu daripada jalan Allah." (Al An'am: 153)
"Dan sesungguhnya engkau sungguh akan memimpin ke jaIan yang lurus,yaitujalan Allah yang memiliki semua apa yang di Langit dan apa yang di bumi; Ingat! Kepada ALIahlah seluruh urusan ini akan dikembalikan." (As-Syura: 52-53)
Ada empat cara yang diberikan Allah kepada manusia untuk mendapat pimpinan, yang masing masing akan naik setingkat demi setingkat sesuai dengan tingkatan perkembangan dan persediaannya.
Pertama: melalui perasaan dan ilham yang'telah menjadi tabi'at dan naluri manusia yang dibawanya sejak manusia itu lahir ke dunia separti seorang bayi yang lapar. Apabila diberikan susu ibunya terns dihisapnya dengan menggunakan alat nalurinya yang tidak pernah difikir dan dihayati sebelumnya.
Kedua: Melalui indra dan alat perasa yang tumbuh bersama pertumbuhan manusia sendiri, separti pendengaran, penglihatan, perasaan, pencium dan peraba.
Ketiga: Melalui seluruh kekuatan akalnya separti berfikir, mengh'afal, mengingat dan ini semua adalah asas adanya hukum dan taklif bagi manusia.
Keempat: Melalui al Din dan pimpinan Allah serta risalah yang dibawa oleh para rasul
Kadang kadang manusia salah dalam mempergunakannya, tidak tahu memanfaatkannya atau akalnya lemah oleh kerana sesuatu sebab. Oleh kerana itu Allah mensyari'atkan agar kita memohon hidayah kepadaNya ke jalan yang lurus sehingga daya indra kita tidak sempat dan akal kita tidak lemah dan tidak salah dalam memahami al Din dan kebenaran.
Namun untuk benar benar sampai ke siratal mustaqim (jalan yang lures) dalam seluruh ucapan dan perbuatan adalah mustahil kerana setiap perkataan dan perbuatan itu ada batasnya.
"Siratalladhina an'amta 'alaihim ghairil maghduubi 'alaihim waladdallin"
(Jalan orang orang yang telah Engkau beri ni'mat, yang tidak dimurka dan tidak sesat).
Dalam ayat ini ada tiga bentuk manusia:
1. Orang orang yang mendapat ni'mat
2. Orang orang yang dimurka
3. Orang orang yang sesat
Ahli tafsir berpendapat bahwa maksud golongan pertama ialah: orang orang mu'min daripada kalangan umat Muhammad s.a.w maupun umat sebelumnya.
Golongan kedua ialah orang orang Yahudi yang telah menyimpang daripada tuntutan Taurat.
Golongan ketiga ialah orang orang Kristian yang tidak mahu berpegang pada ajaran Injil yang sebenarnya.
Maksud "maghduubi 'alaihim" ialah mereka yang berbuat bid'ah dan maksud "dallin" ialah orang orang yang sesat daripada sunnah.
Maksud yang lebih menyeluruh bagi "mereka yang beroleh ni'mat " ialah orang orang yang mengetahui kebenaran dan beroleh pimpinan Allah sehingga mereka itu mahu jalan yang benar. Maksud "orang-orang yang dimurkai" ialah orang orang yang mengetahui kebenaran tetapi menyimpang daripada agama yang dianuti. Sikap ini menjadi bukti kemarahan Allah atas mereka. Maksud "orang-orang yang sesat" itu adalah orang orang yang lalai daripada kebenaran dan sesat atau mereka yang mencari kebenaran tetapi tidak mahu mengikuti kebenaran itu daripada agama apa pun yang mereka peluk di mana pun mereka berada.
Maka Allah memimpin kita untuk selalu meminta kepada Nya pimpinan untuk mengikuti jejak golongan pertama,yaituorang orang yang beroleh ni'mat daripada Allah dan menghindar daripada golongan kedua yang rosak itu.
"Amin" (Ya Allah! Kabulkanlah!)
Kalimat ini bukan bahagian daripada al Fatihah, dengan ijma' dan maksudnya ialah: Ya Tuhan kami! Kabulkanlah kami!
"Amin" ini dibaca sesudah kita membaca al Fatihah dalam sembahyang dan juga di luar sembahyang, adalah sunat, sebagaimana hadith yang diriwayatkan oleh Wail bin Hujr yang mafhumnya: "Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w. membaca "ghairil maghdubi 'alaihim walad dallin", kemudian ia membaca amin, dengan suara yang panjang." (Ahmad, Abu Daud, Tarmidhi)
Dan juga hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda yang mafhumnya:
"Apabila imam membaca amin, malca bacalah amin, kerana barangsiapa aminnya itu bersamaan dengan aminnya Malaikat, dosa dosanya yang lalu itu akan diampuninya"
Ibnu Syihab berkata: Rasulullah s.a.w juga pernah membaca amin" Jama'ah kecuali Tirmidhi tidak menyebutkan perkataan Ibnu Syihab tersebut.
Abu Hurairah juga pernah berkata yang mafhumnya:
"Rasulullah s.a.w. apabita telah membaca "ghairil maghdubu 'alaihim waladh daLlin" ia membaca amin, sehingga orang orang di saf pertama yang berada disampingnya mendengar bacaan itu. Sehingga masjid gemwuh dengan suara amin." (Abu Daud, Ibnu Majah)
Imam Syafi'i dan Malik dalam riwayat ahli Madinah berpendapat, bahwa amin ini hendaknya dibaca dengan kuat, baik oleh imam ataupun makmum. Abu Hanifah, sebahagian ahli Madinah dan Tabari berpendapat: tidak perlu dikuatkan bacaannya.
Membaca amin itu disunnatkan pada akhir setiap do'a. Abu Zuhair mengatakan yang mafhumnya:
"Mahukah kamu saga beritahu tentang itu?yaitupada suatu malam kami pernah keluar bersama Rasuiuilah s. a. w, kemudian kami datang ke tempat seorang laki laki yang tidalc berhenti henti berdo'a, Iantas Rasulullah s.a.w. mendengar)cannya, lalu berkata: Dia pasti akan dikabulkan kalau ia mahu mengalchiri. Kemudian ada seorang iai Iaki bertanya: Dengan apa ia harus mengakhiri? Nabi menjawab: Dengan "amin", sebab kalau dia mahu mengakhiri dengan amin, nescaya dikabuIkan." Kemudian orang bertanya )cepada Nabi itu pergi dan mendatangi laki Iaki tersebut dan berkata: Akhirilah hai fulan, dan gembiralah kamu"
http://www.geocities.com/farouq1965/TPSM/index.htm
Keutamaan Surat Al-Fatihah
Pertama: Membaca Al-Fatihah Adalah Rukun Shalat
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al Fatihah).” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu)
Dalam sabda yang lain beliau mengatakan yang artinya, “Barangsiapa yang shalat tidak membaca Ummul Qur’an (surat Al Fatihah) maka shalatnya pincang (khidaaj).” (HR. Muslim)
Makna dari khidaaj adalah kurang, sebagaimana dijelaskan dalam hadits tersebut, “Tidak lengkap”. Berdasarkan hadits ini dan hadits sebelumnya para imam separti imam Malik, Syafi’i, Ahmad bin Hanbal dan para sahabatnya, serta mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum membaca Al Fatihah di dalam shalat adalah wajib, tidak sah shalat tanpanya.
Kedua: Al Fatihah Adalah Surat Paling Agung Dalam Al Quran
Dari Abu Sa’id Rafi’ Ibnul Mu’alla radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Maukah kamu aku ajari sebuah surat paling agung dalam Al Quran sebelum kamu keluar dari masjid nanti?” Maka beliau pun berjalan sembari menggandeng tanganku. Tatkala kami sudah hampir keluar maka aku pun berkata; Wahai Rasulullah, Anda tadi telah bersabda, “Aku akan mengajarimu sebuah surat paling agung dalam Al Quran?” Maka beliau bersabda, “(surat itu adalah) Alhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin (surat Al Fatihah), itulah As Sab’ul Matsaani (tujuh ayat yang sering diulang-ulang dalam shalat) serta Al Quran Al ‘Azhim yang dikaruniakan kepadaku.” (HR. Bukhari, dinukil dari Riyadhush Shalihin cet. Darus Salam, hal. 270)
Penjelasan Tentang Bacaan Ta’awwudz dan Basmalah
Makna bacaan Ta’awwudz
أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”
Maknanya: “Aku berlindung kepada Allah dari kejelekan godaan syaitan agar dia tidak menimpakan bahaya kepadaku dalam urusan agama maupun duniaku.” Syaitan selalu menempatkan dirinya sebagai musuh bagi kalian. Oleh sebab itu maka jadikanlah diri kalian sebagai musuh baginya. Syaitan bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan umat manusia. Allah menceritakan sumpah syaitan ini di dalam Al Quran,
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُ
“Demi kemuliaan-Mu sungguh aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (yang diberi anugerah keikhlasan).” (QS. Shaad: 82-83)
Dengan demikian tidak ada yang bisa selamat dari jerat-jerat syaitan kecuali orang-orang yang ikhlas.
Isti’adzah/ta’awwudz (meminta perlindungan) adalah ibadah. Oleh sebab itu ia tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. Karena menujukan ibadah kepada selain Allah adalah kesyirikan. Orang yang baik tauhidnya akan senantiasa merasa khawatir kalau-kalau dirinya terjerumus dalam kesyirikan. Sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang demikian takut kepada syirik sampai-sampai beliau berdoa kepada Allah,
ً وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ
“Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan berhala.” (QS. Ibrahim: 35)
Ini menunjukkan bahwasanya tauhid yang kokoh akan menyisakan kelezatan di dalam hati kaum yang beriman. Yang bisa merasakan kelezatannya hanyalah orang-orang yang benar-benar memahaminya. Syaitan yang berusaha menyesatkan umat manusia ini terdiri dari golongan jin dan manusia. Hal itu sebagaimana disebutkan oleh Allah di dalam ayat yang artinya,
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً
“Dan demikianlah Kami jadikan musuh bagi setiap Nabi yaitu (musuh yang berupa) syaithan dari golongan manusia dan jin. Sebagian mereka mewahyukan kepada sebagian yang lain ucapan-ucapan yang indah untuk memperdaya (manusia).” (QS. Al An’aam: 112) (Diringkas dari Syarhu Ma’aani Suuratil Faatihah, Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alus Syaikh hafizhahullah).
Makna bacaan Basmalah
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
Maknanya; “Aku memulai bacaanku ini seraya meminta barokah dengan menyebut seluruh nama Allah.” Meminta barokah kepada Allah artinya meminta tambahan dan peningkatan amal kebaikan dan pahalanya. Barokah adalah milik Allah. Allah memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Jadi barokah bukanlah milik manusia, yang bisa mereka berikan kepada siapa saja yang mereka kehendaki (Syarhu Ma’aani Suratil Fatihah, Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alus Syaikh hafizhahullah).
Allah adalah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi dengan disertai rasa cinta, takut dan harap. Segala bentuk ibadah hanya boleh ditujukan kepada-Nya. Ar-Rahman dan Ar-Rahiim adalah dua nama Allah di antara sekian banyak Asma’ul Husna yang dimiliki-Nya. Maknanya adalah Allah memiliki kasih sayang yang begitu luas dan agung. Rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Akan tetapi Allah hanya melimpahkan rahmat-Nya yang sempurna kepada hamba-hamba yang bertakwa dan mengikuti ajaran para Nabi dan Rasul. Mereka inilah orang-orang yang akan mendapatkan rahmat yang mutlak yaitu rahmat yang akan mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi. Adapun orang yang tidak bertakwa dan tidak mengikuti ajaran Nabi maka dia akan terhalangi mendapatkan rahmat yang sempurna ini (lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 19).
Penjelasan Kandungan Surat
Makna Ayat Pertama
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِ
Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.”
Makna Alhamdu adalah pujian kepada Allah karena sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Dan juga karena perbuatan-perbuatanNya yang tidak pernah lepas dari sifat memberikan karunia atau menegakkan keadilan. Perbuatan Allah senantiasa mengandung hikmah yang sempurna. Pujian yang diberikan oleh seorang hamba akan semakin bertambah sempurna apabila diiringi dengan rasa cinta dan ketundukkan dalam dirinya kepada Allah. Karena pujian semata yang tidak disertai dengan rasa cinta dan ketundukkan bukanlah pujian yang sempurna.
Makna dari kata Rabb adalah Murabbi (yang mentarbiyah; pembimbing dan pemelihara). Allahlah Zat yang memelihara seluruh alam dengan berbagai macam bentuk tarbiyah. Allahlah yang menciptakan mereka, memberikan rezeki kepada mereka, memberikan nikmat kepada mereka, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah bentuk tarbiyah umum yang meliputi seluruh makhluk, yang baik maupun yang jahat. Adapun tarbiyah yang khusus hanya diberikan Allah kepada para Nabi dan pengikut-pengikut mereka. Di samping tarbiyah yang umum itu Allah juga memberikan kepada mereka tarbiyah yang khusus yaitu dengan membimbing keimanan mereka dan menyempurnakannya. Selain itu, Allah juga menolong mereka dengan menyingkirkan segala macam penghalang dan rintangan yang akan menjauhkan mereka dari kebaikan dan kebahagiaan mereka yang abadi. Allah memberikan kepada mereka berbagai kemudahan dan menjaga mereka dari hal-hal yang dibenci oleh syariat.
Dari sini kita mengetahui betapa besar kebutuhan alam semesta ini kepada Rabbul ‘alamiin karena hanya Dialah yang menguasai itu semua. Allah satu-satunya pengatur, pemberi hidayah dan Allah lah Yang Maha kaya. Oleh sebab itu semua makhluk yang ada di langit dan di bumi ini meminta kepada-Nya. Mereka semua meminta kepada-Nya, baik dengan ucapan lisannya maupun dengan ekspresi dirinya. Kepada-Nya lah mereka mengadu dan meminta tolong di saat-saat genting yang mereka alami (lihat Taisir Lathiifil Mannaan, hal. 20).
Makna Ayat Kedua
الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ
Artinya: “Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
Ar-Rahman dan Ar-Rahiim adalah nama Allah. Sebagaimana diyakini oleh Ahlusunnah wal Jama’ah bahwa Allah memiliki nama-nama yang terindah. Allah ta’ala berfirman,
“Milik Allah nama-nama yang terindah, maka berdo’alah kepada Allah dengan menyebutnya.” (QS. Al A’raaf: 180)
Setiap nama Allah mengandung sifat. Oleh sebab itu beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keimanan kepada Allah. Dalam mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah ini kaum muslimin terbagi menjadi 3 golongan yaitu: (1) Musyabbihah, (2) Mu’aththilah dan (3) Ahlusunnah wal Jama’ah.
Musyabbihah adalah orang-orang yang menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk. Mereka terlalu mengedepankan sisi penetapan nama dan sifat dan mengabaikan sisi penafian keserupaan sehingga terjerumus dalam tasybih (peyerupaan). Adapun Mu’aththilah adalah orang-orang yang menolak nama atau sifat-sifat Allah. Mereka terlalu mengedepankan sisi penafian sehingga terjerumus dalam ta’thil (penolakan). Ahlusunnah berada di tengah-tengah. Mereka mengimani dalil-dalil yang menetapkan nama dan sifat sekaligus mengimani dalil-dalil yang menafikan keserupaan. Sehingga mereka selamat dari tindakan tasybih maupun ta’thil. Oleh sebab itu mereka menyucikan Allah tanpa menolak nama maupun sifat. Mereka menetapkan nama dan sifat tapi tanpa menyerupakannya dengan makhluk. Inilah akidah yang dipegang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya serta para imam dan pengikut mereka yang setia hingga hari ini. Inilah aqidah yang tersimpan dalam ayat yang mulia yang artinya,
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuura: 11) (silakan baca Al ‘Aqidah Al Wasithiyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan juga ‘Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah karya Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumallahu ta’ala).
Allah Maha Mendengar dan juga Maha Melihat. Akan tetapi pendengaran dan penglihatan Allah tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan makhluk. Meskipun namanya sama akan tetapi hakikatnya berbeda. Karena Allah adalah Zat Yang Maha Sempurna sedangkan makhluk adalah sosok yang penuh dengan kekurangan. Sebagaimana sifat makhluk itu terbatas dan penuh kekurangan karena disandarkan kepada diri makhluk yang diliputi sifat kekurangan. Maka demikian pula sifat Allah itu sempurna karena disandarkan kepada sosok yang sempurna. Sehingga orang yang tidak mau mengimani kandungan hakiki nama-nama dan sifat-sifat Allah sebenarnya telah berani melecehkan dan berbuat lancang kepada Allah. Mereka tidak mengagungkan Allah dengan sebagaimana semestinya. Lalu adakah tindakan jahat yang lebih tercela daripada tindakan menolak kandungan nama dan sifat Allah ataupun menyerupakannya dengan makhluk? Di dalam ayat ini Allah menamai diri-Nya dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahiim. Di dalamnya terkandung sifat Rahmah (kasih sayang). Akan tetapi kasih sayang Allah tidak serupa persis dengan kasih sayang makhluk.
Makna Ayat Ketiga
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Artinya: “Yang Menguasai pada hari pembalasan.”
Maalik adalah zat yang memiliki kekuasaan atau penguasa. Penguasa itu berhak untuk memerintah dan melarang orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya. Dia juga yang berhak untuk mengganjar pahala dan menjatuhkan hukuman kepada mereka. Dialah yang berkuasa untuk mengatur segala sesuatu yang berada di bawah kekuasaannya menurut kehendaknya sendiri. Bagian awal ayat ini boleh dibaca Maalik (dengan memanjangkan mim) atau Malik (dengan memendekkan mim). Maalik maknanya penguasa atau pemilik. Sedangkan Malik maknanya raja.
Yaumid diin adalah hari kiamat. Disebut sebagai hari pembalasan karena pada saat itu seluruh umat manusia akan menerima balasan amal baik maupun buruk yang mereka kerjakan sewaktu di dunia. Pada hari itulah tampak dengan sangat jelas bagi manusia kemahakuasaan Allah terhadap seluruh makhluk-Nya. Pada saat itu akan tampak sekali kesempurnaan dari sifat adil dan hikmah yang dimiliki Allah. Pada saat itu seluruh raja dan penguasa yang dahulunya berkuasa di alam dunia sudah turun dari jabatannya. Hanya tinggal Allah sajalah yang berkuasa. Pada saat itu semuanya setara, baik rakyat maupun rajanya, budak maupun orang merdeka. Mereka semua tunduk di bawah kemuliaan dan kebesaran-Nya. Mereka semua menantikan pembalasan yang akan diberikan oleh-Nya. Mereka sangat mengharapkan pahala kebaikan dari-Nya. Dan mereka sungguh sangat khawatir terhadap siksa dan hukuman yang akan dijatuhkan oleh-Nya. Oleh karena itu di dalam ayat ini hari pembalasan itu disebutkan secara khusus. Allah adalah penguasa hari pembalasan. Meskipun sebenarnya Allah jugalah penguasa atas seluruh hari yang ada. Allah tidak hanya berkuasa atas hari kiamat atau hari pembalasan saja (lihat Taisir Karimir Rahman, hal. 39).
Makna Ayat Keempat
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Artinya: “Hanya kepada-Mu lah Kami beribadah dan hanya kepada-Mu lah Kami meminta pertolongan.”
Maknanya: “Kami hanya menujukan ibadah dan isti’anah (permintaan tolong) kepada-Mu.” Di dalam ayat ini objek kalimat yaitu Iyyaaka diletakkan di depan. Padahal asalnya adalah na’buduka yang artinya Kami menyembah-Mu. Dengan mendahulukan objek kalimat yang seharusnya di belakang menunjukkan adanya pembatasan dan pengkhususan. Artinya ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Tidak boleh menujukan ibadah kepada selain-Nya. Sehingga makna dari ayat ini adalah, ‘Kami menyembah-Mu dan kami tidak menyembah selain-Mu. Kami meminta tolong kepada-Mu dan kami tidak meminta tolong kepada selain-Mu.
Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Ibadah bisa berupa perkataan maupun perbuatan. Ibadah itu ada yang tampak dan ada juga yang tersembunyi. Kecintaan dan ridha Allah terhadap sesuatu bisa dilihat dari perintah dan larangan-Nya. Apabila Allah memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu dicintai dan diridai-Nya. Dan sebaliknya, apabila Allah melarang sesuatu maka itu berarti Allah tidak cinta dan tidak ridha kepadanya. Dengan demikian ibadah itu luas cakupannya. Di antara bentuk ibadah adalah do’a, berkurban, bersedekah, meminta pertolongan atau perlindungan, dan lain sebagainya. Dari pengartian ini maka isti’anah atau meminta pertolongan juga termasuk cakupan dari istilah ibadah. Lalu apakah alasan atau hikmah di balik penyebutan kata isti’anah sesudah disebutkannya kata ibadah di dalam ayat ini?
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahulah berkata, “Didahulukannya ibadah sebelum isti’anah ini termasuk metode penyebutan sesuatu yang lebih umum sebelum sesuatu yang lebih khusus. Dan juga dalam rangka lebih mengutamakan hak Allah ta’ala di atas hak hamba-Nya….”
Beliau pun berkata, “Mewujudkan ibadah dan isti’anah kepada Allah dengan benar itu merupakan sarana yang akan mengantarkan menuju kebahagiaan yang abadi. Dia adalah sarana menuju keselamatan dari segala bentuk kejelekan. Sehingga tidak ada jalan menuju keselamatan kecuali dengan perantara kedua hal ini. Dan ibadah hanya dianggap benar apabila bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditujukan hanya untuk mengharapkan wajah Allah (ikhlas). Dengan dua perkara inilah sesuatu bisa dinamakan ibadah. Sedangkan penyebutan kata isti’anah setelah kata ibadah padahal isti’anah itu juga bagian dari ibadah maka sebabnya adalah karena hamba begitu membutuhkan pertolongan dari Allah ta’ala di dalam melaksanakan seluruh ibadahnya. Seandainya dia tidak mendapatkan pertolongan dari Allah maka keinginannya untuk melakukan perkara-perkara yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang itu tentu tidak akan bisa tercapai.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 39).
Makna Ayat Kelima
اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
Artinya: “Tunjukilah Kami jalan yang lurus.”
Maknanya: “Tunjukilah, bimbinglah dan berikanlah taufik kepada kami untuk meniti shirathal mustaqiim yaitu jalan yang lurus.” Jalan lurus itu adalah jalan yang terang dan jelas serta mengantarkan orang yang berjalan di atasnya untuk sampai kepada Allah dan berhasil menggapai surga-Nya. Hakikat jalan lurus (shirathal mustaqiim) adalah memahami kebenaran dan mengamalkannya. Oleh karena itu ya Allah, tunjukilah kami menuju jalan tersebut dan ketika kami berjalan di atasnya. Yang dimaksud dengan hidayah menuju jalan lurus yaitu hidayah supaya bisa memeluk erat-erat agama Islam dan meninggalkan seluruh agama yang lainnya. Adapun hidayah di atas jalan lurus ialah hidayah untuk bisa memahami dan mengamalkan rincian-rincian ajaran Islam. Dengan begitu do’a ini merupakan salah satu do’a yang paling lengkap dan merangkum berbagai macam kebaikan dan manfaat bagi diri seorang hamba. Oleh sebab itulah setiap insan wajib memanjatkan do’a ini di dalam setiap rakaat shalat yang dilakukannya. Tidak lain dan tidak bukan karena memang hamba begitu membutuhkan do’a ini (lihat Taisir Karimir Rahman, hal. 39).
Makna Ayat Keenam
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ
Artinya: “Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat atas mereka.”
Siapakah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah? Di dalam ayat yang lain disebutkan bahwa mereka ini adalah para Nabi, orang-orang yang shiddiq/jujur dan benar, para pejuang Islam yang mati syahid dan orang-orang salih. Termasuk di dalam cakupan ungkapan ‘orang yang diberi nikmat’ ialah setiap orang yang diberi anugerah keimanan kepada Allah ta’ala, mengenal-Nya dengan baik, mengetahui apa saja yang dicintai-Nya, mengarti apa saja yang dimurkai-Nya, selain itu dia juga mendapatkan taufik untuk melakukan hal-hal yang dicintai tersebut dan meninggalkan hal-hal yang membuat Allah murka. Jalan inilah yang akan mengantarkan hamba menggapai keridhaan Allah ta’ala. Inilah jalan Islam. Islam yang ditegakkan di atas landasan iman, ilmu, amal dan disertai dengan menjauhi perbuatan-perbuatan syirik dan kemaksiatan. Sehingga dengan ayat ini kita kembali tersadar bahwa Islam yang kita peluk selama ini merupakan anugerah nikmat dari Allah ta’ala. Dan untuk bisa menjalani Islam dengan baik maka kita pun sangat membutuhkan sosok teladan yang bisa dijadikan panutan (lihat Aisarut Tafaasir, hal. 12).
Makna Ayat Ketujuh
غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
Artinya: “Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.”
Orang yang dimurkai adalah orang yang sudah mengetahui kebenaran akan tetapi tidak mau mengamalkannya. Contohnya adalah kaum Yahudi dan semacamnya. Sedangkan orang yang tersesat adalah orang yang tidak mengamalkan kebenaran gara-gara kebodohan dan kesesatan mereka. Contohnya adalah orang-orang Nasrani dan semacamnya. Sehingga di dalam ayat ini tersimpan motivasi dan dorongan kepada kita supaya menempuh jalan kaum yang shalih. Ayat ini juga memperingatkan kepada kita untuk menjauhi jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sesat dan menyimpang (lihat Aisarut Tafaasir, hal. 13 dan Taisir Karimir Rahman hal. 39).
Kesimpulan Isi Surat
Surat yang demikian ringkas ini sesungguhnya telah merangkum berbagai pelajaran yang tidak terangkum secara terpadu di dalam surat-surat yang lain di dalam Al Quran. Surat ini mengandung intisari ketiga macam tauhid. Di dalam penggalan ayat Rabbil ‘alamiin terkandung makna tauhid rububiyah. Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatanNya separti mencipta, memberi rezeki dan lain sebagainya. Di dalam kata Allah dan Iyyaaka na’budu terkandung makna tauhid uluhiyah. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam bentuk beribadah hanya kepada-Nya. Demikian juga di dalam penggalan ayat Alhamdu terkandung makna tauhid asma’ wa sifat. Tauhid asma’ wa sifat adalah mengesakan Allah dalam hal nama-nama dan sifat-sifatNya. Allah telah menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi diri-Nya sendiri. Demikian pula Rasul shallallahu’alaihi wa sallam. Maka kewajiban kita adalah mengikuti Allah dan Rasul-Nya dalam menetapkan sifat-sifat kesempurnaan itu benar-benar dimiliki oleh Allah. Kita mengimani ayat ataupun hadits yang berbicara tentang nama dan sifat Allah sebagaimana adanya, tanpa menolak maknanya ataupun menyerupakannya dengan sifat makhluk.
Selain itu surat ini juga mencakup intisari masalah kenabian yaitu tersirat dari ayat Ihdinash shirathal mustaqiim. Sebab jalan yang lurus tidak akan bisa ditempuh oleh hamba apabila tidak ada bimbingan wahyu yang dibawa oleh Rasul. Surat ini juga menetapkan bahwasanya amal-amal hamba itu pasti ada balasannya. Hal ini tampak dari ayat Maaliki yaumid diin. Karena pada hari kiamat nanti amal hamba akan dibalas. Dari ayat ini juga bisa ditarik kesimpulan bahwa balasan yang diberikan itu berdasarkan prinsip keadilan, karena makna kata diin adalah balasan dengan adil. Bahkan di balik untaian ayat ini terkandung penetapan takdir. Hamba berbuat di bawah naungan takdir, bukan terjadi secara merdeka di luar takdir Allah ta’ala sebagaimana yang diyakini oleh kaum Qadariyah (penentang takdir). Dan menetapkan bahwasanya hamba memang benar-benar pelaku atas perbuatan-perbuatanNya. Hamba tidaklah dipaksa sebagaimana keyakinan kaum Jabriyah. Bahkan di dalam ayat Ihdinash shirathal mustaqiim itu terdapat intisari bantahan kepada seluruh ahli bid’ah dan penganut ajaran sesat. Karena pada hakikatnya semua pelaku kebid’ahan maupun penganut ajaran sesat itu pasti menyimpang dari jalan yang lurus; yaitu memahami kebenaran dan mengamalkannya. Surat ini juga mengandung makna keharusan untuk mengikhlaskan ketaatan dalam beragama demi Allah ta’ala semata. Ibadah maupun isti’anah, semuanya harus lillaahi ta’aala. Kandungan ini tersimpan di dalam ayat Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (disadur dari Taisir Karimir Rahman, hal. 40).
Allaahu akbar, sungguh menakjubkan isi surat ini. Maka tidak aneh apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai surat paling agung di dalam Al Quran.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat. Jauhkanlah kami dari jalan orang yang dimurkai dan sesat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Mengabulkan do’a. Wallahu a’lam bish shawaab
Faedah Keenam: Kewajiban untuk meminta petunjuk kepada-Nya
Hal ini terkandung dalam ayat ‘Ihdinas shirathal mustaqim’. Hidayah merupakan anugerah dari Allah ta’ala kepada hamba yang dipilih-Nya. Sedangkan hidayah itu terdiri dari dua macam; hidayah ilmu dan hidayah amal. Dan hidayah semacam itu dibutuhkan oleh manusia di setiap saat dalam perjalanan hidupnya. Setiap hamba senantiasa membutuhkan hidayah tersebut selama dia masih hidup di alam dunia ini. Oleh karena besarnya kebutuhan setiap hamba untuk memohon hidayah maka Allah pun mewajibkan mereka memintanya dalam sehari dan semalam minimal tujuh belas kali di dalam sholat.
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “…Seandainya bukan karena besarnya kebutuhan dirinya untuk mendapatkan hidayah di waktu malam maupun siang niscaya Allah ta’ala tidak akan membimbingnya untuk melakukan hal itu -meminta hidayah setiap kali sholat-. Sebab seorang hamba itu sesungguhnya di setiap saat dan keadaan senantiasa memerlukan pertolongan dari Allah untuk bisa tegar mengikuti hidayah dan berpijak dengan kokoh padanya, agar terus mendapatkan pencerahan, peningkatan ilmu, dan bisa terus menerus berada di atasnya. Karena setiap hamba tidaklah menguasai kemanfaatan maupun kemudharatan bagi dirinya sendiri kecuali sebatas yang Allah kehendaki. Oleh sebab itulah maka Allah ta’ala membimbingnya untuk senantiasa meminta hidayah itu di setiap saat agar Allah mencurahkan kepadanya pertolongan, keteguhan dan tafik dari-Nya.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/39])
Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad mengatakan, “Doa ini mengandung seagung-agung tuntutan seorang hamba yaitu mendapatkan petunjuk menuju jalan yang lurus. Dengan meniti jalan itulah seseorang akan keluar dari berbagai kegelapan menuju cahaya serta akan menuai keberhasilan dunia dan akhirat. Kebutuhan hamba terhadap petunjuk ini jauh lebih besar daripada kebutuhan dirinya terhadap makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanyalah bekal untuk menjalani kehidupannya yang fana. Sedangkan petunjuk menuju jalan yang lurus merupakan bekal kehidupannya yang kekal dan abadi. Doa ini juga mengandung permintaan untuk diberikan keteguhan di atas petunjuk yang telah diraih dan juga mengandung permintaan untuk mendapatkan tambahan petunjuk.” (Min Kunuz al-Qur’an)
Segala puji hanya bagi Allah yang telah menunjukkan kita ke jalan Islam. Sebab dengan Islam inilah seorang hamba akan bisa masuk ke dalam surga. Allah ta’ala berfirman mengenai kegembiraan penduduk surga,
وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ
“Mereka mengatakan; ‘Segala puji hanya bagi Allah yang telah menunjukkan kepada kami ke surga ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kami. Sesungguhnya rasul-rasul Rabb kami telah datang dengan membawa kebenaran.’.” (QS. al-A’raaf: 43)
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir maka tidak akan pernah diterima dari mereka emas sepenuh bumi walaupun hal itu mereka gunakan untuk menebus siksa, mereka itu memang layak untuk menerima siksa yang sangat menyakitkan dan tidak ada bagi mereka seorang penolongpun.” (QS. Ali Imran: 91)
Allah juga berfirman,
إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan bagi orang-orang zalim itu tidak ada seorang penolong.” (QS. al-Maa’idah: 72)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ
“Tidak akan masuk ke dalam surga melainkan jiwa yang muslim.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Dalam riwayat lainnya, beliau bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ
“Tidak akan masuk surga selain orang-orang yang beriman.” (HR. Muslim dari Umar bin Khatthab radhiyallahu’anhu)
Hidayah juga bukan yang perkara sepele, namun dia adalah anugerah Allah kepada hamba pilihan-Nya. Allah ta’ala berfirman,
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya engkau tidak akan bisa memberikan hidayah (taufik) kepada orang yang kamu cintai, akan tetapi Allah lah yang memberikan petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui siapakah orang yang ditakdirkan mendapatkan hidayah.” (QS. al-Qashash: 56)
al-Musayyab radhiyallahu’anhu menuturkan,
لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيُعِيدُ لَهُ تِلْكَ الْمَقَالَةَ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Di saat kematian akan menghampiri Abu Thalib maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun datang untuk menemuinya dan ternyata di sisinya telah ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata; ‘Wahai pamanku, ucapkanlah la ilaha illallah, sebuah kalimat yang akan aku gunakan untuk bersaksi untukmu di sisi Allah’. Maka Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah mengatakan; ‘Wahai Abu Thalib, apakah kamu benci kepada agama Abdul Muthallib -bapakmu-?’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menawarkan dan mengulangi ajakannya itu, sampai akhirnya Abu Thalib mengucapkan perkataan terakhirnya kepada mereka bahwa dia tetap berada di atas agama Abdul Muthallib. Dia enggan untuk mengucapkan la ilaha illallah…” (HR. Muslim)
Faedah Ketujuh: Kewajiban untuk mengikuti Rasul dan para sahabatnya
Hal itu terkandung dalam ayat ‘Shirathalladzina an’amta ‘alaihim’. Jalan orang-orang yang mendapatkan kenikmatan dari Allah, yaitu jalan para nabi, orang-orang shiddiq, syuhada’ dan orang-orang salih. Allah ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul, maka mereka itulah orang-orang yang akan bersama dengan orang-orang yang diberi kenikmatan oleh Allah yaitu para nabi, orang-orang shiddiq, syuhada’, dan orang-orang salih. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. an-Nisaa’: 69)
Allah ta’ala juga berfirman,
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia juga mengikuti selain jalan orang-orang beriman maka Kami akan membiarkan dia terlantar di atas kesesatan yang dipilihnya dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’: 115)
Allah ta’ala berfirman,
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
“Tidaklah pantas bagi seorang mukmin lelaki maupun perempuan apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan yang lainnya dalam menghadapi masalah mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. al-Ahzab: 36)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Maka para sahabat bertanya, ‘Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?’. beliau menjawab, “Barangsiapa yang menaatiku akan masuk surga dan barangsiapa yang durhaka kepadaku dialah yang enggan.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpesan,
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang masih hidup sesudahku maka dia pasti akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk tetap mengikuti Sunnah/ajaranku dan Sunnah para khalifah yang berada di atas petunjuk dan terbimbing. Berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan -di dalam agama-, karena sesungguhnya setiap yang diada-adakan -dalam agama- itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah pasti sesat.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu, disahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib [37])
Inilah jalan lurus itu, yaitu mengikuti pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ilmu maupun amalan. Allah ta’ala berfirman,
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama -membela Islam- dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Allah sediakan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah keberuntungan yang sangat besar.” (QS. at-Taubah: 100)
Faedah Kedelapan: Kewajiban untuk mengamalkan ilmu
Hal ini terkandung dalam potongan ayat ‘Ghairil maghdhubi ‘alaihim’. Orang yang dimurkai itu adalah orang yang mengetahui kebenaran tapi justru tidak mau mengamalkannya. Sebagaimana orang-orang Yahudi dan yang mengikuti mereka. Syaikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “(Shirathal Mustaqim) adalah jalan terang yang akan mengantarkan hamba menuju Allah dan masuk ke dalam Surga-Nya. Hakikat jalan itu adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya…” (Taisir Karimir Rahman, hal. 39). Sehingga jalan yang lurus itu menuntut seorang muslim untuk mengamalkan ilmunya.
Syaikh Abdul Muhsin mengatakan, “Petunjuk menuju jalan yang lurus itu akan menuntun kepada jalan orang-orang yang diberikan kenikmatan yaitu para nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada’, dan orang-orang salih. Mereka itu adalah orang-orang yang memadukan ilmu dengan amal. Maka seorang hamba memohon kepada Rabbnya untuk melimpahkan hidayah menuju jalan lurus ini yang merupakan sebuah pemuliaan dari Allah kepada para rasul-Nya dan wali-wali-Nya. Dia memohon agar Allah menjauhkan dirinya dari jalan musuh-musuh-Nya yaitu orang-orang yang memiliki ilmu akan tetapi tidak mengamalkannya. Mereka itulah golongan Yahudi yang dimurkai.” (Min Kunuz al-Qur’an)
Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata,
“Hendaknya diingat bahwa seseorang yang tidak beramal dengan ilmunya maka ilmunya itu kelak akan menjadi bukti yang menjatuhkannya. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits Abu Barzah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia akan ditanya tentang empat perkara, diantaranya adalah tentang ilmunya, apa yang sudah diamalkannya.” (HR. Tirmidzi 2341)
Hal ini bukan berlaku bagi para ulama saja, sebagaimana anggapan sebagian orang. Akan tetapi semua orang yang mengetahui suatu perkara agama maka itu berarti telah tegak padanya hujjah. Apabila seseorang memperoleh suatu pelajaran dari sebuah pengajian atau khutbah Jum’at yang di dalamnya dia mendapatkan peringatan dari suatu kemaksiatan yang dikerjakannya sehingga dia pun mengetahui bahwa kemaksiatan yang dilakukannya itu adalah haram maka ini juga ilmu. Sehingga hujjah juga sudah tegak dengan apa yang didengarnya tersebut. Dan terdapat hadits yang sah dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“al-Qur’an itu adalah hujjah bagimu atau hujjah untuk menjatuhkan dirimu” (HR. Muslim)” (Hushulul Ma’mul, hal. 18)
Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah mengatakan, “Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu itu ada dalam rangka mencapai sesuatu yang lainnya. Ilmu diibaratkan separti sebuah pohon, sedangkan amalan adalah separti buahnya. Maka setelah mengetahui ajaran agama Islam seseorang harus menyertainya dengan amalan. Sebab orang yang berilmu akan tetapi tidak beramal dengannya lebih jelek keadaannya daripada orang bodoh. Di dalam hadits disebutkan, “Orang yang paling keras siksanya adalah seorang berilmu dan tidak diberi manfaat oleh Allah dengan sebab ilmunya.” Orang semacam inilah yang termasuk satu di antara tiga orang yang dijadikan sebagai bahan bakar pertama-tama nyala api neraka. Di dalam sebuah sya’ir dikatakan,
Orang alim yang tidak mau
Mengamalkan ilmunya
Mereka akan disiksa sebelum
Disiksanya para penyembah berhala
(Hasyiyah Tsalatsatul Ushul, hal. 12)
Ibnu Katsir rahimahullah di dalam kitab tafsirnya ketika membahas firman Allah ta’ala (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya kebanyakan pendeta dan rahib-rahib benar-benar memakan harta manusia dengan cara yang batil dan memalingkan manusia dari jalan Allah.” (QS. at-Taubah: 34) menukilkan ucapan Sufyan bin Uyainah yang mengatakan, “Orang-orang yang rusak di antara orang berilmu di kalangan kita, padanya terdapat keserupaan dengan Yahudi. Dan orang-orang yang rusak di antara para ahli ibadah di kalangan kita, padanya terdapat keserupaan dengan Nasrani.” (Min Kunuz al-Qur’an)
Faedah Kesembilan: Kewajiban untuk beribadah di atas ilmu
Hal ini terkandung dalam potongan ayat ‘wa lad dhaallin’. Orang-orang yang sesat itu adalah orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah namun dengan cara yang tidak benar, sebagaimana kaum Nasrani. Allah ta’ala berfirman,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
“Ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, dan minta ampunlah bagi dosa-dosamu.” (QS. Muhammad: 19)
Ilmu merupakan landasan ucapan dan perbuatan. Oleh sebab itu Imam Bukhari rahimahullah membuat sebuah bab di dalam Kitab Shahihnya dengan judul al-’Ilmu qablal qaul wal ‘amal (Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan). Allah ta’ala berfirman,
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, itu semua pasti akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. al-Israa’: 36)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangisapa ang dikehendaki baik oleh Allah maka akan dipahamkan dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya seluruh sifat yang menyebabkan hamba dipuji oleh Allah di dalam al-Qur’an maka itu semua merupakan buah dan hasil dari ilmu. Dan seluruh celaan yang disebutkan oleh-Nya maka itu semua bersumber dari kebodohan dan akibat darinya…” (al-’Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 128). Beliau juga menegaskan, “Tidaklah diragukan bahwa sesungguhnya kebodohan adalah pokok seluruh kerusakan. Semua bahaya yang menimpa manusia di dunia dan di akhirat maka itu adalah akibat dari kebodohan…” (al-’Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 101)
Syaikh Muhammad al-Amin as-Syinqithi mengatakan di dalam kitabnya Adhwa’ul Bayan (1/53), “Orang-orang Yahudi dan Nasrani -meskipun sebenarnya mereka sama-sama sesat dan sama-sama dimurkai- hanya saja kemurkaan itu lebih dikhususkan kepada Yahudi -meskipun orang Nasrani juga termasuk di dalamnya- dikarenakan mereka telah mengenal kebenaran namun justru mengingkarinya, dan secara sengaja melakukan kebatilan. Karena itulah kemurkaan lebih condong dilekatkan kepada mereka. Adapun orang-orang Nasrani adalah orang yang bodoh dan tidak mengetahui kebenaran, sehingga kesesatan merupakan ciri mereka yang lebih menonjol. Meskipun begitu Allah menyatakan bahwa ‘al magdhubi ‘alaihim’ adalah kaum Yahudi melalui firman-Nya ta’ala tentang mereka (yang artinya), “Maka mereka pun kembali dengan menuai kemurkaan di atas kemurkaan.” (QS. al-Baqarah: 90). Demikian pula Allah berfirman mengenai mereka (yang artinya), “Katakanlah; maukah aku kabarkan kepada kalian tentang golongan orang yang balasannya lebih jelek di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dilaknati Allah dan dimurkai oleh-Nya.” (QS. al-Ma’idah: 60). Begitu pula firman-Nya (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan patung sapi itu sebagai sesembahan niscaya akan mendapatkan kemurkaan.” (QS. al-A’raaf: 152). Sedangkan golongan ‘adh dhaalliin’ telah Allah jelaskan bahwa mereka itu adalah kaum Nasrani melalui firman-Nya ta’ala (yang artinya), “Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah tersesat, dan mereka pun menyesatkan banyak orang, sungguh mereka telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. al-Ma’idah: 77)”
Semoga tulisan yang ringkas ini bermanfaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
"BismillahirRahmanirRahim"
(Dengan nama Allah Maha Pemurah Maha Penyayang)
Dalam al Qur'an al Karim dan juga pada awal setiap surah selain Surah al Taubah dimulakan dengan "Bismillahir Rahmanir Rahim". Ini memberikan satu panduan agar kita memulakan segala apa yang kita lakukan dengan menyebut nama Allah terlebih dahulu.
Rasulullah s.a.w bersabda yang mafhumnya:
"Setiap urusan yang baik yang tidak dimulakan dengan "Bismillahir Rahmanir Rahim", maka tidak akan mendapat barakah" (Abu Dawud)
Perkataan "ISM" adalah suatu perkataan yang menunjukkan zat atau makna. Sedangkan lafz al Jalalah,yaituALLAH, adalah zat yang mesti ada, suatu nama yang pokok dan penghimpun. Adapun selain daripada itu adalah sifat sifat Allah yang berkenaan dengan perbuatan maupun dengan perkataan, yang semua itu dinamakan Asma' al Husna atau nama nama yang indah. Di mana setiap nama itu berarti sifat yang menunjukkan pada zat dan sifat perbuatan. Sedangkan ism al Jalalah ini menunjukkan itu semua dengan seluruh kesempurnaan dan kesucian Nya daripada segala sifat yang berlawanan dengannya. Itu sendiri menunjukkan sifat zat yang bersifat Maha Sempurna dan bersih daripada segala sifat kekurangan.
"ArRahmanir Rahim" pula adalah dua sifat Allah yang berasal daripada perkataan rahmah dengan arti yang layak bagi Allah.
Ibnul Qayim mengatakan: "Menghimpun antara Rahman dan Rahim di sini mengandungi arti yang indah sekali. "Rahman " menunjukkan sifat dasar bagi Allah. "Rahim" pula menunjukkan hubungannya dengan yang diberi rahmat. Jadi seolah olah yang pertama itu berarti sifat, sedang yang kedua itu berarti perbuatan. Yang pertama menunjukkan, bahwa rahmah dan kasih sayang itu menjadi sifat zat Allah, sedang yang kedua menunjukkan, bahwa Dia memberi rahmat kepada makhluk Nya dengan sifat kasih sayangnya itu.
Untuk memahami arti ini, renungkan firman Allah yang mafhumnya:
"Dia adalah maha kasih sayang kepada orang orang mukmin"
"Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang dan pengasih kepada orang mereka"
Di situ tidak terdapat kata "Rahman" kepada mereka. Dengan demikian, maka kamu dapat mengetahui, bahwa "Rahman" itu berarti zat yang disifati dengan rahmah, sedang "Rahim" berarti zat yang diberi rahmat.
Selanjutnya kata ibn al gayim:
"Titik ini hampir tidak dijumpai dalam kitab mana pun."
Tetapi Syeikh Muhammad Abduh berpendapat lain. Beliau mengatakan:
"Yang saya ketahui, bahwa sighat "Fa'Laan" menunjukkan sifat perbuatan yang mengandung arti mubalaghah (sangat) separti "Fa'aalun" yang dalam penggunaan bahasa terpakai untuk sifat sifat mendatang separti "Atsyan"(orang haus), "Gharthan" (orang yang Iapar), "Ghad ban" (orang yang marah)"
Sedang sighat "Fa'iilun" menunjukkan arti yang tetap, separti akhlaq dan tabiat manusia separti: "alim (yang mengetahui), hakim (yang bijaksana), halim (yang sabar) dan jamil (yang bagus). Sedang al Quran tidak pernah keluar daripada gaya bahasa Arab yang mengena dalam menceriterakan sifat sifat Allah 'azza wajalla, yang sentiasa jauh daripada menyamai sifat sifat makhluk.
Jadi perkataan "Rahman" berarti menunjukkan zat yang daripadanya timbul rahmah itu dengan perbuatannya pula yang meliputi seluruh keni'matan dan kebaikan. Sedang kata "Rahim" berarti menunjukkan pangkal timbulnya rahmah dan ihsan itu, dan ini adalah sifat yang selalu ada pada Allah.
Dengan demikian satu sama lain saling berkaitan. Tidak berarti yang kedua sebagai penguat yang pertama. Maka apabila seseorang Arab mendengar sifat Allah dengan "Rahman", dan ia mengarti bahwa secara kenyataan Dialah yang meluaskan ni'mat ni'mat itu, dia tidak boleh mempercayai bahwa Rahmah itu sifat yang mesti dan selalu ada, sekalipun terjadi dalam banyak hal. Tetapi kalau dia mendengar "Rahim" maka kepercayaannya kepada Allah menjadi sempurna menurut arti yang layak bagi Allah dan di redainya serta dia akan mengetahui, bahwa Allah mempunyai satu sifat yang disebut "Rahmah" yang daripadanya akan membuahkan satu pengaruh yang besar, kendati sifat sifat yang tersebut tidak sama dengan sifat sifat makhluk.
Sifat ini disebut, sesudah menyebut kata "Rahman", adalah tak ubahnya dengan menyebut dalil sesudah madlulnya untuk memberikan kejelasan baginya.
Demikian kami ringkaskan daripada Tafsir al Manar.
Barangkali pendapat terakhir ini lebih mendekati kepada kaedah-kaedah dan uslub bahasa Arab.
Syeikh Muhammad Abduh dalam menjawab sementara lawan berfikirnya dan pengarahan pendapatnya ini sehingga melupakan satu aliran yang sangat lembut sekali, yang hendak kami bawakan di sini secara ringkas, separti berikut:
"Kemungkinan untuk memperkuat dengan menyebut dua sifat itu secara bersama sama bagi tujuan meniadakan berbilang, adalah sangat jauh. Kerana antara tauhid dan arti rahmah sama sekali tidalc ada hubungannya, sedang sepanjang sejarah tidak pernah ada orang yang berpendapat. bahwa "Rahman" itu berarti ma'bud (yang disembah) dan "Rahim" pun berarti ma'bud yang lain, sehingga periu dikongkritkan, bahwa Rahman dan Rahim itu berarti satu"
Tetapi yang dikenal pengartian separti ini ialah perkataan orangorang Kristian yang berpendirian Triniti (Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus), dengan anggapan Tiga sama dengan Satu. Kemudian Allah bermaksud menjadikan pembuka amal baik kaum muslimin yang terdiri dari tiga makna: Yang pertama "zat" sedang yang kedua dan ketigayaitu"Dua Sifat".
Lafz al Jalalah (Allah) adalah zat yang sama dengan penyebut Bapa menurut orang Kristian. Rahman adalah sifat perbuatan yang selalu baru yang timbul sebagai pengaruh daripada keluasan kedermawanNya. Ini separti kata "Anak" menurut anggapan Kristian, sebab 'rahman' adalah basil daripada zat. Sedang kata "Rahim" menunjukkan sifat yang abadi daripada zat yang Maha Suci, yang kepadanya kembalilah perbuatan yang baru itu. Dengan anggapan timbul dan serba bare adalah separti penyebutan Ruhul Kudus menurut anggapan Kristian dalam hubungannya antara anak dan bapa, namun mereka akan terus berusaha untuk menutupinya dengan pelbagai cara.
Kemudian al Quran mengajar kita bagaimana harus kita meletakkan Tauhid di tempat Triniti, dan kita ganti lafaz lafaz tanzih (kata yang membersihkan) yang justru lebih baik dengan lafaz lafaz tasybih (kata yang menyerupai). Dan kami mengarti arti yang dijadikan alasan untuk maksud Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus itu, adalah arti daripada Rahmah dan meluasnya ni'mat.
Di sinilah perlunya mengapa dua kata (Rahman dan Rahim) diulang dalam permulaan tiap surat dan hita disunnatkan membacanya dalam setiap melakukan amal kebajikan. '
Daripada beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa kebanyakan ahli tafsir mengartikan arti kata "Rahman" itu berarti pemberi ni'mat dalam bentuk barang kasar. Sedang kata "Rahim" berarti pemberi ni'mat dalam bentuk barang yang halus. Tetapi pendapat ini tidak bersandar dalil.
Atau kedua duanya mempunyai arti yang lama. Sedang kata yang kedua sebagai penguat (ta'kid) bagi yang pertama.
Ini adalah pendapat al Jalal, al Shabban dan sebahagian ahli tafsir. Tetapi pendapat ini dipandang lemah. Sebab di dalam al Quran tidak ada satu pun kata tambahan yang tidak mengandung pengartian yang dimaksud. Demikian sebagaimana yang ditegaskan oleh ibnu Jarir alTabari.
Atau salah satu sifatnya itu menunjukkan arti Rahmah yang tetap pada diri Allah. Sedang yang kedua menunjukkan berulangnya perbuatanperbuatan yang ada hubungannya dengan sifat ini. Inilah pendapat ibn al Qayim dan Syeikh Muhammad Abduh. Dan ini pula kiranya cukup dapat mententeramkan hati.
Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin
(Segala puji bagi Allah, Tuhan bagi sekelian alam)
"ALHAMDU", adalah segala pujian yang bagus dan indah. Pujian ini sangat bergantung kepada kadar pengenalan pemujanya kepada sifat sifat yang dipuji. Kalau pemujanya mempunyai pengetahuan yang luas dan menyeluruh, maka akan tepadah pujiannya itu. Justru itulah setup muslim berkewajipan bersungguh sungguh untuk mengkaji rahsia alum dan mengetahui seluruh daya dan keindahan yang terkandung di dalamnya. supaya dengan demikian mereka dapat mengenal dengan baik akan keagungan penciptanya. Dan dengan itu pula pujiannya itu akan tepat dan benar, sebab pujiannya itu benar benar tumbuh dari pengenalan yang hakiki dan perasaan yang tumbuh dari hati nurani serta penghormatan yang timbul dari rasio, bukan sekedar memberi atau ketaatan yang turun temurun.
Justru itu pula, pujian dan sanjungan yang tartinggi, ialah pujian dan sanjungan Allah terhadap dirinya sendiri: "Maha Suci Engkau, Kami tidak dapat menghitung pujian atas Mu sebagaimana Engkau telah memuji sendiri pada Diri MU".
Pujian Allah pada dirinya itu satu hat yang wajar dan mesti, kerana Dialah yang bersifat mahasempurna, yang berhak mendapat segala macam pujian, kendati ada beberapa sebab yang mempengaruhi arti pujian ini kepada jiwa hambanya, separti halnya seorang yang lapar akan memuji ketika ia sudah kenyang, seorang haus ketika puas mendapat minum, seorang miskin ketika kaya, seorang bodoh ketika memperoleh pengetahuan dan seorang yang tersingkirkan apabila telah dikabulkan permintaannya, separti pujian Nabi Ibrahim yang mafhumnya:
"Segala puji bagi Allah yang telah memberiku Ismail dan Ishak sesudah tuaku, kerana memang sesungguhnya Tuhanku sungguh mendengarkan pemohonan" (Ibrahim: 39)
Di sinilah letak rahsia menghimpun antara hak pujian (ALHAMDU) dan ketuhanan Allah terhadap seluruh clam ini (RABBIL ALAMIN).
"RABBIL ALAMIN" (Tuhan bagi sekelian alam)
Imam Baidawi mengatakan, "Rabbun" pada asalnya adalah kata 'masdar' yang berarti 'tarbiyah' (pendidikan),yaitumenyampaikan sesuatu secara sempurna dengan bertahap. Maka Allah disifati dengan "Rabbun" adalah untuk melebihkan (lil mubalaghah). Rabb juga disebut "Malik" (pemilik) kerana Dia melindungi dan mendidik apa yang dimilikinya.
Kata "Rabb"ini tidak boleh dipakai untuk selain Allah, kecuali dengan adanya pembatasan atau disandarkan kepada yang lain.
Sedang al Raghib berpendapat, "Rabb" itu pada asalnya berarti tarbiyah,yaitumenumbuhkan sesuatu secara bertahap hingga sempurna.
Kata "Rabb" ini tidak boleh dipergunakan secara mutlak, kecuali bagi Allah.
"'ALAMIN" (sekelian alam)
Kata ini sebagai kata jama' daripada "ALAM", yang menurut sementara pendapat maksudnya ialah: manusia, berdasarkan firman Allah yang mafhumnya:
"Supaya ia (Nabi) itu menjadi pengancam bagi manusia" (Al Furqan: 1)
Sementara adaa juga yang berpendapat, meliputi semua makhluk Allah yang berilmu, separti malaikat, manusia dan jin.
Dan ada juga yang mengatakan, setup jumlah yang berbeda dengan afradnya sebagai sifat yang mendekati berakal, separti: 'alam al insan (alam manusia), 'alam al nabat (aam tumbuh tumbuhan) dan 'alam alhayawanat (alam binatang). Tetapi untuk benda benda mati separti batu, gunung dan sebagainya tidak dapat disebut alam. Oleh kerana itu tidak boleh disebut: 'alam al hajar (alam batu), 'alam al jabal (alam gunung) dan sebagainya.
Bahkan ada juga yang berpendapat, bahwa yang disebut 'alaminyaitusemua jenis makhluk, dengan alasan firman Allah yang mafhumnya:
"Fir'aun berkata: "Siapakah Tuhan bagi alam semesta ini? " Musa menjawab: Yaitu Tuhannya Iangit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, kalau benar benar kamu beriman." (As Syu'ara': 23-24)
Daripada sekian banyak pendapat, barangkali pendapat yang lebih tepat bahwa arti itu semua tidak lepas daripada karenah. Sedang yang dimaksud dengan kata "'Alamin" di surah al Fatihah ini ialah arti yang terakhir. Sebab sesungguhnya Allah adalah zat yang mengatur seluruh makhluk ini. '
Sedang pengaturan Tuhan terhadap seluruh makhluk ini nampak dengan jelas dalam seluruh manifestasi dunia ini, daripada yang paling kecil hingga yang paling besar. Misalnya benda benda yang mati, yang mengatur adalah Allah, dengan hukum hukum clam Nya, yang tidak terlepas daripada satu reaksi, konstruksi, peleburan, campuran, gabungan dan penukaran.
Selanjutnya dalam keanekaragaman tumbuh tumbuhan, dalamnya terkandung pengartian tarbiyah ilahiyah dengan satu bentuk yang lebih jelas, dibandingkan dengan apa yang terkandung dalam bendabenda mati, kerana di dalamnya terdapat arti dan dasar dasar hidup. Kita ambit contoh misalnya janin tumbuh tumbuhan yang bersembunyi dalam biji bijian, sehingga apabila ia telah bertemu dengan tanah yang subur, dia akan berkembang, bergerak dan memakan bahan bahan makanan yang berada di sekitarnya, yang memang disediakan untuk itu. Maka bahan bahan makanan yang dihisap oleh janin tadi tak ubahnya dengan puting binatang. Begitulah sehingga janin ini apabila sudah tumbuh dan membesar, akarnya menghunjam di tanah dan menghisap makanannya dari tanah, kemudian bertambah menjadi susunan yang indah nampak di permukaan bumf berbentuk tumbuhtumbuhan yang akan menjadi pohon kecil, terus membesar dengan beranting, berdaun dan berbunga yang bernafas, makan dan bunting kemudian melahirkan buah buahan.
Binatang dengan seluruh macamnya, dan manusia dengan seluruh jenisnya adalah diatur oleh Allah dalam seluruh tahap tahap hayatnya, sejak dari bentuk nutfah sampai menjadi darah menggumpal, dan menginjak kepada segumpal daging, dan terus dilengkapi dengan tulang belulang sampai kepada bentuk yang sempurna. Kemudian lahir, menyusu , berkembang dan besar dengan dimudahkan jalanjalan untuk mempertahankan hidup serta penjagaan yang sempurnayaitudengan dijaganya perlengkapan, anggota dan jalan mencari makan melalui cara cara pengetahuan dan perasaan yang bermacammacam, sehingga dengan demikian manusia dapat membedakan antara yang baik dengan yang buruk dan .clapat merasakan arti kebaikan, kebenaran dan keindahan.
"ARRAHMANIRRAHIM" (Pemurah lagi Penyayang)
Tafsir al Manar mengatakan: "Kalimat ini diulang untuklmenunjukkan bahwa pengaturan Tuhan terhadap alam semesta ini bukan kerana keperluan Allah kepada mereka separti demi mengambil manfaat atau menolak mudarat. Tetapi itu semua hanyalah semata mata menunjukkan keluasan rahmat kasih sayang Allah serta kebaikan Nya kepada makhluk Nya.
Walaupun arti "rabb" yang difahami sebagai kekuasaan dan paksaan, Allah hendak menyadarkan mereka itu dengan rahmah dan kebaikanNya supaya mereka dapat memadukan antara kepercayaan terhadap keagungan dengan kebaikan Allah. Maka disebutlah kata "RAHMAN" dengan arti yang meluaskan ni'mat serta berganti gantinya ni'mat itu yang tiada habis habisnya. Dan disusulnya dengan kata "RAHIM" yang berarti mempunyai sifat rahmah yang abadi yang tidak pernah tiada untuk selama lamanya.
Jadi seolah olah Allah hendak memperlihatkan kasih Nya kepada hamba Nya, kemudian memperlihatkan kepada mereka bahwa pengaturannya itu adalah pengaturan yang berbentuk kerana rahmah dan kebaikan Nya, supaya mereka tahu, bahwa sifat inilah (RAHMAN dan RAHIM) yang menjadi sumber seluruh sifat, sehingga dengan demikian mereka akan mahu menerima dengan rela untuk mencari keredaan Nya.
Sifat ini tidak berarti akan meniadakan keumuman rahmah dan hukum hukum Allah tentang hukuman di dunia dan akhirat bagi orang orang yang memperkosa hukum dan melanggar larangan.
Sesungguhnya Allah, sekalipun disebut "QAHHAR" (pemaksa) dilihat di segi bentuk dan realitinya, tetapi pada hakikatnya paksaan Nya itu berbentuk rahmah, kerana di dalamnya terdapat suatu pendidikan bagi manusia dan menghalang mereka daripada melanggar hukum Allah, sebab dengan pelanggarannya itu mereka akan jadi celaka. Sedang disiplin pada hukum Allah akan membawa kebahagiaan dan kesenangan mereka.
"MAALIKI YAUMIDDIN" (Yang merajai hari kemudian)
"MAALIKI" dengan dipanjangkan "mim"nya berarti memiliki, dapat dibaca "MALIKI" dengan dipendekkan "mim"nya yang artinya ; raja. Kedua dua bacaan ini mempunyai dasar dalam ayat al Quran. Yang pertamayaitudasar fir man Allah yang mafhumnya:
"Pada suatu hari di mana satu jiwa tidak dapat menolong jiwa lainnya, sebab semua urusan di hari itu adalah kepunyaan Allah." (Al Infitar: l9)
Alasan bagi bacaan kedua ialah firman Allah yang mafhumnya:
"Milik siapakah kerajaan pada hari itu? ihlilik Allah yang Maha Esa dan Maha perkasa." (Ghafir: 16)
"AL-DIN" artinya: al hisab (perhitungan) , al mukafa'ah (kecukupan) dan al jaza' (pembalasan). Arti terakhir inilah yang sangat munasabah bagi ayat ini.
Maka arti "Yaumiddin"yaituhari kebangkitan yang besar untuk menerima perhitungan dan balasan amal. Separti juga diterangkan oleh Allah dalam al Quran yang mafhumnya:
"Yaitu suatu hari yang tiap tiap jiwa akan mendapatkan di hadapannya kebaikan yang mereka lakukan dan kejahatan yang mereka lakukan; tiap tiap jiwa itu akan merasa senang kalau antara dia dan hari itu ada jarak yang jauh". (Ali 'Imran: 30)
Allah memperingatkan makhluknya dengan kelembutan perhitunganNya, sehingga dengan demikian manusia mahu mengikuti dan mengakui, bahwa TUHAN SEKELIAN ALAM YANG MAHA RAHMAN DAN RAHIM itu adalah raja pada hari kemudian (maaliki yaumiddin), yang kemudian Dia akan menghitung dan memberi balasan amal yang mereka kerjakan.
"IYYAKA NA' BUDU WAIYYAKA NASTA'IN"
(Hanya kepada Mu kami menyembah dan hanya kepada Mu kami minta tolong).
Pengartian menurut bahasa berarti taat dengan benar benar tunduk. Tetapi pentafsiran ini belum dapat mencapai maksud ibadah. Ibadah tidak sama dengan pengabdian. Menurut Syeikh Muhammad Abduh dalam tafsirnya mengenai arti ibadah ialah secara ringkasnya: "Seorang yang mencintai orang lain akan berlebih Lebihan dalam menyanjung kekasihnya sehingga sanggup berkorban untuk memenuhi kehendak kekasihnya". Ini belum dinamakan ibadah dengan arti yang sebenarnya.
Pengartian ibadah yang sebenarnya ialah ketaatan yang paling tinggi yang tumbuh dari hati kerana merasa kebesaran yang diabdi, yakin akan kekuasaan Nya.
Justru itu ibadah ini mempunyai beberapa bentuk yang disyariatkan demi menyedarkan manusia akan kekuasaan Tuhan yang Maha Tinggi sebagai jiwa dan rahsia ibadah.
Setiap bentuk ibadah yang benar mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk keperibadian pelakunya serta membersihkan jiwanya yang berpunca daripada ketaatan dan pengagungan.
"ISTI'ANAH" atau "nasta'in" artinya ialah: mencari bantuan untuk mengatasi kelemahannya dan bantuan untuk apa yang tidak dapat dilaksanakan atau disempurnakan.
Permintaan bantuan ini dalam persoalan duniawi yang menjadi kekuasaan manusia dan perbuatan manusia, boleh dilakukan antara manusia itu sendiri. Bahkan cara ini termasuk cara bertaqarrub kepada Allah sebagaimana hadis Nabi s.a.w yang mafhumnya:
"Bahwa sesungguhnya Allah akan memberi pertolongan kepada hamba Nya, selama hamba tersebut mahu menolong saudaranya"
Memberi dan meminta pertolongan kepada manusia separti tersebut di atas adalah satu cara yang dibenarkan, demi melaksanakan dan menyempurnakan perbuatan perbuatannya.
Adapun meminta pertolongan (isti'anah) dalam hal hal yang khusus buat Allah dan yang tidak dibenarkan minta bantuan kepada selain Allah, adalah hal hal yang di luar kemampuan manusia, separti minta sembuh daripada penyakit setelah berubat, meminta kemenangan untuk melawan musuh sesudah mengadakan persiapan dan mengerahkan seluruh daya kemampuan, dan separti meminta Allah daripada segala macam gangguan dan bala yang memang perkara tersebut semata mata berada di tangan Allah yang tidak mungkin dielakkan kecuali oleh zat yang mengatur urusan bumi dan langit ini.
Ibadah dan isti'anah dan pengartiannya separti ini, hanya untuk dan kepada Allah semata. Justru itu didahulukannya dhamir "IYYAKA" (hanya kepada Mu), untuk menunjukkan kekhususan, separti yang dikatakan oleh ahli bahasa.
Setiap manifestasi yang menunjukkan ibadah secara syar'i, yang nampak ataupun yang tidak nampak, tidak boleh tidak kecuali untuk Allah semata mata, separti: salat, ruku', sujud, nadzar, qurban, sumpah, takut, mengharap, tawakkal, cinta, senang, merendah diri dan seterusnya.
Begitu juga bentuk bentuk permintaan pertolongan yang secara khusus oleh syara' ditentukan hanya kepada Allah, tidak boleh dilakukan kepada selain Allah, separti: do'a, minta hujan, minta panjang umur, minta kekuatan, minta dicapainya seluruh keperluan.
Dengan demikian, maka selamatlah agama seseorang mu'min, iman dan kepercayaannya akan menjadi lebih sempurna. Dan dia pun akan selamat daripada noda noda syirik serta dapat memadukan antara tauhid uluhiyah (mengakui keesaan Tuhan) dan tauhid rububiyah (mengakui keesaan pengaturan).
Ayat ini termasuk kata yang lengkap (jawami'ul kalim), sebab dalam kalimat ini telah disyariatkan kesimpulan seluruh risalah dan hak serta kurnia Allah kepada makhluk Nya yang telah dibawa oleh para rasul.
Tidak ada persoalan pertama yang lebih banyak dibawa oleh Agama selain mengenal Allah, dalam bentuk "HANYA KEPADAMULAH KAMI MENYEMBAH DAN HANYA KEPADAMULAH KAMI MINTA PERTO LO NGAN. "
Di antara kehalusan kata "ISTI'ANAH" (minta pertolongan). Kata ini dapat menimbulkan ghairah beramal dan mencari jalan untuk beramal, sebab "isti'anah" itu sendiri artinya minta pertolongan kepada Allah.
'Umar bin al Khattab r.a. pernah berkata:'
"Janganlah kamu mencari rezki sambit duduk dengan cukup mengatakan 'Ya Allah berilah aku rezki!' kerana kamu tahu, bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak"
Dalam uacapan ini tersimpul suatu penghargaan bagi manusia,yaitudengan menjadikan "amal" sebagai dasar pokok untuk mencapai seluruh keperluannya.
Sementara ahli tafsir ada yang berpendapat, bahwa meminta pertolongan itu terbatas pada meminta taufiq kepada Allah dengan mengerjakan ibadah, berdasar sabda Nabi s.a.w kepada Mu'adh r.a. yang mafhumnya:
"Demi Allah saya sangat menyukaimu, makaku wasiatkan kepadamu kiranya kamu tidak akan meninggatkan berdo'a setiap selesai sembahyang, dengan mengucapkan: "Ya Allah! Ya Tuhan kami! Berilah aku pertolongan untuk mengingat Kamu dan bersyukur kepada Mu serta beribadah kepadaMu dengan baik!"
"IHDINAS SIRATAL MUSTAQIM" (Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus)
"Sirat" artinya: jalan; "Mustaqim" artinya: lurus. Ayat ini merupakan kalimat yang lengkap (jawami'ul kalim). Sebab setiap manusia pada hakikatnya perlu pada pimpinan ke jalan yang lures, baik dalam perkataannya, perbuatannya, fikirannya maupun kehendaknya.
Jalan lurus inilah Agama uyang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. tanpa tambahan, pengurangan, dan perubahan separti firman Allah yang mafhumnya:
"KatakanIah! Inilah jaIanku yang ku seru kalian kepada Allah dengan terang; begituIah aku dan orang orang yang mengikuti aku; Maha Suci Allah dan aku tidak tergolong orang orang yang menyekutukan Allah." (Yusuf: 108)
"Dan sesungguhnya ini adalah jalan Ku yang Lurus; oleh kerana itu ikutilah dia dan jangan kamu mengikuti macam macam jalan, maka jalan jaIan itu akan memisahkan kamu daripada jalan Allah." (Al An'am: 153)
"Dan sesungguhnya engkau sungguh akan memimpin ke jaIan yang lurus,yaitujalan Allah yang memiliki semua apa yang di Langit dan apa yang di bumi; Ingat! Kepada ALIahlah seluruh urusan ini akan dikembalikan." (As-Syura: 52-53)
Ada empat cara yang diberikan Allah kepada manusia untuk mendapat pimpinan, yang masing masing akan naik setingkat demi setingkat sesuai dengan tingkatan perkembangan dan persediaannya.
Pertama: melalui perasaan dan ilham yang'telah menjadi tabi'at dan naluri manusia yang dibawanya sejak manusia itu lahir ke dunia separti seorang bayi yang lapar. Apabila diberikan susu ibunya terns dihisapnya dengan menggunakan alat nalurinya yang tidak pernah difikir dan dihayati sebelumnya.
Kedua: Melalui indra dan alat perasa yang tumbuh bersama pertumbuhan manusia sendiri, separti pendengaran, penglihatan, perasaan, pencium dan peraba.
Ketiga: Melalui seluruh kekuatan akalnya separti berfikir, mengh'afal, mengingat dan ini semua adalah asas adanya hukum dan taklif bagi manusia.
Keempat: Melalui al Din dan pimpinan Allah serta risalah yang dibawa oleh para rasul
Kadang kadang manusia salah dalam mempergunakannya, tidak tahu memanfaatkannya atau akalnya lemah oleh kerana sesuatu sebab. Oleh kerana itu Allah mensyari'atkan agar kita memohon hidayah kepadaNya ke jalan yang lurus sehingga daya indra kita tidak sempat dan akal kita tidak lemah dan tidak salah dalam memahami al Din dan kebenaran.
Namun untuk benar benar sampai ke siratal mustaqim (jalan yang lures) dalam seluruh ucapan dan perbuatan adalah mustahil kerana setiap perkataan dan perbuatan itu ada batasnya.
"Siratalladhina an'amta 'alaihim ghairil maghduubi 'alaihim waladdallin"
(Jalan orang orang yang telah Engkau beri ni'mat, yang tidak dimurka dan tidak sesat).
Dalam ayat ini ada tiga bentuk manusia:
1. Orang orang yang mendapat ni'mat
2. Orang orang yang dimurka
3. Orang orang yang sesat
Ahli tafsir berpendapat bahwa maksud golongan pertama ialah: orang orang mu'min daripada kalangan umat Muhammad s.a.w maupun umat sebelumnya.
Golongan kedua ialah orang orang Yahudi yang telah menyimpang daripada tuntutan Taurat.
Golongan ketiga ialah orang orang Kristian yang tidak mahu berpegang pada ajaran Injil yang sebenarnya.
Maksud "maghduubi 'alaihim" ialah mereka yang berbuat bid'ah dan maksud "dallin" ialah orang orang yang sesat daripada sunnah.
Maksud yang lebih menyeluruh bagi "mereka yang beroleh ni'mat " ialah orang orang yang mengetahui kebenaran dan beroleh pimpinan Allah sehingga mereka itu mahu jalan yang benar. Maksud "orang-orang yang dimurkai" ialah orang orang yang mengetahui kebenaran tetapi menyimpang daripada agama yang dianuti. Sikap ini menjadi bukti kemarahan Allah atas mereka. Maksud "orang-orang yang sesat" itu adalah orang orang yang lalai daripada kebenaran dan sesat atau mereka yang mencari kebenaran tetapi tidak mahu mengikuti kebenaran itu daripada agama apa pun yang mereka peluk di mana pun mereka berada.
Maka Allah memimpin kita untuk selalu meminta kepada Nya pimpinan untuk mengikuti jejak golongan pertama,yaituorang orang yang beroleh ni'mat daripada Allah dan menghindar daripada golongan kedua yang rosak itu.
"Amin" (Ya Allah! Kabulkanlah!)
Kalimat ini bukan bahagian daripada al Fatihah, dengan ijma' dan maksudnya ialah: Ya Tuhan kami! Kabulkanlah kami!
"Amin" ini dibaca sesudah kita membaca al Fatihah dalam sembahyang dan juga di luar sembahyang, adalah sunat, sebagaimana hadith yang diriwayatkan oleh Wail bin Hujr yang mafhumnya: "Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w. membaca "ghairil maghdubi 'alaihim walad dallin", kemudian ia membaca amin, dengan suara yang panjang." (Ahmad, Abu Daud, Tarmidhi)
Dan juga hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda yang mafhumnya:
"Apabila imam membaca amin, malca bacalah amin, kerana barangsiapa aminnya itu bersamaan dengan aminnya Malaikat, dosa dosanya yang lalu itu akan diampuninya"
Ibnu Syihab berkata: Rasulullah s.a.w juga pernah membaca amin" Jama'ah kecuali Tirmidhi tidak menyebutkan perkataan Ibnu Syihab tersebut.
Abu Hurairah juga pernah berkata yang mafhumnya:
"Rasulullah s.a.w. apabita telah membaca "ghairil maghdubu 'alaihim waladh daLlin" ia membaca amin, sehingga orang orang di saf pertama yang berada disampingnya mendengar bacaan itu. Sehingga masjid gemwuh dengan suara amin." (Abu Daud, Ibnu Majah)
Imam Syafi'i dan Malik dalam riwayat ahli Madinah berpendapat, bahwa amin ini hendaknya dibaca dengan kuat, baik oleh imam ataupun makmum. Abu Hanifah, sebahagian ahli Madinah dan Tabari berpendapat: tidak perlu dikuatkan bacaannya.
Membaca amin itu disunnatkan pada akhir setiap do'a. Abu Zuhair mengatakan yang mafhumnya:
"Mahukah kamu saga beritahu tentang itu?yaitupada suatu malam kami pernah keluar bersama Rasuiuilah s. a. w, kemudian kami datang ke tempat seorang laki laki yang tidalc berhenti henti berdo'a, Iantas Rasulullah s.a.w. mendengar)cannya, lalu berkata: Dia pasti akan dikabulkan kalau ia mahu mengalchiri. Kemudian ada seorang iai Iaki bertanya: Dengan apa ia harus mengakhiri? Nabi menjawab: Dengan "amin", sebab kalau dia mahu mengakhiri dengan amin, nescaya dikabuIkan." Kemudian orang bertanya )cepada Nabi itu pergi dan mendatangi laki Iaki tersebut dan berkata: Akhirilah hai fulan, dan gembiralah kamu"
http://www.geocities.com/farouq1965/TPSM/index.htm
Keutamaan Surat Al-Fatihah
Pertama: Membaca Al-Fatihah Adalah Rukun Shalat
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al Fatihah).” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu)
Dalam sabda yang lain beliau mengatakan yang artinya, “Barangsiapa yang shalat tidak membaca Ummul Qur’an (surat Al Fatihah) maka shalatnya pincang (khidaaj).” (HR. Muslim)
Makna dari khidaaj adalah kurang, sebagaimana dijelaskan dalam hadits tersebut, “Tidak lengkap”. Berdasarkan hadits ini dan hadits sebelumnya para imam separti imam Malik, Syafi’i, Ahmad bin Hanbal dan para sahabatnya, serta mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum membaca Al Fatihah di dalam shalat adalah wajib, tidak sah shalat tanpanya.
Kedua: Al Fatihah Adalah Surat Paling Agung Dalam Al Quran
Dari Abu Sa’id Rafi’ Ibnul Mu’alla radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Maukah kamu aku ajari sebuah surat paling agung dalam Al Quran sebelum kamu keluar dari masjid nanti?” Maka beliau pun berjalan sembari menggandeng tanganku. Tatkala kami sudah hampir keluar maka aku pun berkata; Wahai Rasulullah, Anda tadi telah bersabda, “Aku akan mengajarimu sebuah surat paling agung dalam Al Quran?” Maka beliau bersabda, “(surat itu adalah) Alhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin (surat Al Fatihah), itulah As Sab’ul Matsaani (tujuh ayat yang sering diulang-ulang dalam shalat) serta Al Quran Al ‘Azhim yang dikaruniakan kepadaku.” (HR. Bukhari, dinukil dari Riyadhush Shalihin cet. Darus Salam, hal. 270)
Penjelasan Tentang Bacaan Ta’awwudz dan Basmalah
Makna bacaan Ta’awwudz
أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”
Maknanya: “Aku berlindung kepada Allah dari kejelekan godaan syaitan agar dia tidak menimpakan bahaya kepadaku dalam urusan agama maupun duniaku.” Syaitan selalu menempatkan dirinya sebagai musuh bagi kalian. Oleh sebab itu maka jadikanlah diri kalian sebagai musuh baginya. Syaitan bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan umat manusia. Allah menceritakan sumpah syaitan ini di dalam Al Quran,
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُ
“Demi kemuliaan-Mu sungguh aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (yang diberi anugerah keikhlasan).” (QS. Shaad: 82-83)
Dengan demikian tidak ada yang bisa selamat dari jerat-jerat syaitan kecuali orang-orang yang ikhlas.
Isti’adzah/ta’awwudz (meminta perlindungan) adalah ibadah. Oleh sebab itu ia tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. Karena menujukan ibadah kepada selain Allah adalah kesyirikan. Orang yang baik tauhidnya akan senantiasa merasa khawatir kalau-kalau dirinya terjerumus dalam kesyirikan. Sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang demikian takut kepada syirik sampai-sampai beliau berdoa kepada Allah,
ً وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ
“Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan berhala.” (QS. Ibrahim: 35)
Ini menunjukkan bahwasanya tauhid yang kokoh akan menyisakan kelezatan di dalam hati kaum yang beriman. Yang bisa merasakan kelezatannya hanyalah orang-orang yang benar-benar memahaminya. Syaitan yang berusaha menyesatkan umat manusia ini terdiri dari golongan jin dan manusia. Hal itu sebagaimana disebutkan oleh Allah di dalam ayat yang artinya,
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً
“Dan demikianlah Kami jadikan musuh bagi setiap Nabi yaitu (musuh yang berupa) syaithan dari golongan manusia dan jin. Sebagian mereka mewahyukan kepada sebagian yang lain ucapan-ucapan yang indah untuk memperdaya (manusia).” (QS. Al An’aam: 112) (Diringkas dari Syarhu Ma’aani Suuratil Faatihah, Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alus Syaikh hafizhahullah).
Makna bacaan Basmalah
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
Maknanya; “Aku memulai bacaanku ini seraya meminta barokah dengan menyebut seluruh nama Allah.” Meminta barokah kepada Allah artinya meminta tambahan dan peningkatan amal kebaikan dan pahalanya. Barokah adalah milik Allah. Allah memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Jadi barokah bukanlah milik manusia, yang bisa mereka berikan kepada siapa saja yang mereka kehendaki (Syarhu Ma’aani Suratil Fatihah, Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alus Syaikh hafizhahullah).
Allah adalah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi dengan disertai rasa cinta, takut dan harap. Segala bentuk ibadah hanya boleh ditujukan kepada-Nya. Ar-Rahman dan Ar-Rahiim adalah dua nama Allah di antara sekian banyak Asma’ul Husna yang dimiliki-Nya. Maknanya adalah Allah memiliki kasih sayang yang begitu luas dan agung. Rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Akan tetapi Allah hanya melimpahkan rahmat-Nya yang sempurna kepada hamba-hamba yang bertakwa dan mengikuti ajaran para Nabi dan Rasul. Mereka inilah orang-orang yang akan mendapatkan rahmat yang mutlak yaitu rahmat yang akan mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi. Adapun orang yang tidak bertakwa dan tidak mengikuti ajaran Nabi maka dia akan terhalangi mendapatkan rahmat yang sempurna ini (lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 19).
Penjelasan Kandungan Surat
Makna Ayat Pertama
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِ
Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.”
Makna Alhamdu adalah pujian kepada Allah karena sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Dan juga karena perbuatan-perbuatanNya yang tidak pernah lepas dari sifat memberikan karunia atau menegakkan keadilan. Perbuatan Allah senantiasa mengandung hikmah yang sempurna. Pujian yang diberikan oleh seorang hamba akan semakin bertambah sempurna apabila diiringi dengan rasa cinta dan ketundukkan dalam dirinya kepada Allah. Karena pujian semata yang tidak disertai dengan rasa cinta dan ketundukkan bukanlah pujian yang sempurna.
Makna dari kata Rabb adalah Murabbi (yang mentarbiyah; pembimbing dan pemelihara). Allahlah Zat yang memelihara seluruh alam dengan berbagai macam bentuk tarbiyah. Allahlah yang menciptakan mereka, memberikan rezeki kepada mereka, memberikan nikmat kepada mereka, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah bentuk tarbiyah umum yang meliputi seluruh makhluk, yang baik maupun yang jahat. Adapun tarbiyah yang khusus hanya diberikan Allah kepada para Nabi dan pengikut-pengikut mereka. Di samping tarbiyah yang umum itu Allah juga memberikan kepada mereka tarbiyah yang khusus yaitu dengan membimbing keimanan mereka dan menyempurnakannya. Selain itu, Allah juga menolong mereka dengan menyingkirkan segala macam penghalang dan rintangan yang akan menjauhkan mereka dari kebaikan dan kebahagiaan mereka yang abadi. Allah memberikan kepada mereka berbagai kemudahan dan menjaga mereka dari hal-hal yang dibenci oleh syariat.
Dari sini kita mengetahui betapa besar kebutuhan alam semesta ini kepada Rabbul ‘alamiin karena hanya Dialah yang menguasai itu semua. Allah satu-satunya pengatur, pemberi hidayah dan Allah lah Yang Maha kaya. Oleh sebab itu semua makhluk yang ada di langit dan di bumi ini meminta kepada-Nya. Mereka semua meminta kepada-Nya, baik dengan ucapan lisannya maupun dengan ekspresi dirinya. Kepada-Nya lah mereka mengadu dan meminta tolong di saat-saat genting yang mereka alami (lihat Taisir Lathiifil Mannaan, hal. 20).
Makna Ayat Kedua
الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ
Artinya: “Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
Ar-Rahman dan Ar-Rahiim adalah nama Allah. Sebagaimana diyakini oleh Ahlusunnah wal Jama’ah bahwa Allah memiliki nama-nama yang terindah. Allah ta’ala berfirman,
“Milik Allah nama-nama yang terindah, maka berdo’alah kepada Allah dengan menyebutnya.” (QS. Al A’raaf: 180)
Setiap nama Allah mengandung sifat. Oleh sebab itu beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keimanan kepada Allah. Dalam mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah ini kaum muslimin terbagi menjadi 3 golongan yaitu: (1) Musyabbihah, (2) Mu’aththilah dan (3) Ahlusunnah wal Jama’ah.
Musyabbihah adalah orang-orang yang menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk. Mereka terlalu mengedepankan sisi penetapan nama dan sifat dan mengabaikan sisi penafian keserupaan sehingga terjerumus dalam tasybih (peyerupaan). Adapun Mu’aththilah adalah orang-orang yang menolak nama atau sifat-sifat Allah. Mereka terlalu mengedepankan sisi penafian sehingga terjerumus dalam ta’thil (penolakan). Ahlusunnah berada di tengah-tengah. Mereka mengimani dalil-dalil yang menetapkan nama dan sifat sekaligus mengimani dalil-dalil yang menafikan keserupaan. Sehingga mereka selamat dari tindakan tasybih maupun ta’thil. Oleh sebab itu mereka menyucikan Allah tanpa menolak nama maupun sifat. Mereka menetapkan nama dan sifat tapi tanpa menyerupakannya dengan makhluk. Inilah akidah yang dipegang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya serta para imam dan pengikut mereka yang setia hingga hari ini. Inilah aqidah yang tersimpan dalam ayat yang mulia yang artinya,
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuura: 11) (silakan baca Al ‘Aqidah Al Wasithiyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan juga ‘Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah karya Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumallahu ta’ala).
Allah Maha Mendengar dan juga Maha Melihat. Akan tetapi pendengaran dan penglihatan Allah tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan makhluk. Meskipun namanya sama akan tetapi hakikatnya berbeda. Karena Allah adalah Zat Yang Maha Sempurna sedangkan makhluk adalah sosok yang penuh dengan kekurangan. Sebagaimana sifat makhluk itu terbatas dan penuh kekurangan karena disandarkan kepada diri makhluk yang diliputi sifat kekurangan. Maka demikian pula sifat Allah itu sempurna karena disandarkan kepada sosok yang sempurna. Sehingga orang yang tidak mau mengimani kandungan hakiki nama-nama dan sifat-sifat Allah sebenarnya telah berani melecehkan dan berbuat lancang kepada Allah. Mereka tidak mengagungkan Allah dengan sebagaimana semestinya. Lalu adakah tindakan jahat yang lebih tercela daripada tindakan menolak kandungan nama dan sifat Allah ataupun menyerupakannya dengan makhluk? Di dalam ayat ini Allah menamai diri-Nya dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahiim. Di dalamnya terkandung sifat Rahmah (kasih sayang). Akan tetapi kasih sayang Allah tidak serupa persis dengan kasih sayang makhluk.
Makna Ayat Ketiga
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Artinya: “Yang Menguasai pada hari pembalasan.”
Maalik adalah zat yang memiliki kekuasaan atau penguasa. Penguasa itu berhak untuk memerintah dan melarang orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya. Dia juga yang berhak untuk mengganjar pahala dan menjatuhkan hukuman kepada mereka. Dialah yang berkuasa untuk mengatur segala sesuatu yang berada di bawah kekuasaannya menurut kehendaknya sendiri. Bagian awal ayat ini boleh dibaca Maalik (dengan memanjangkan mim) atau Malik (dengan memendekkan mim). Maalik maknanya penguasa atau pemilik. Sedangkan Malik maknanya raja.
Yaumid diin adalah hari kiamat. Disebut sebagai hari pembalasan karena pada saat itu seluruh umat manusia akan menerima balasan amal baik maupun buruk yang mereka kerjakan sewaktu di dunia. Pada hari itulah tampak dengan sangat jelas bagi manusia kemahakuasaan Allah terhadap seluruh makhluk-Nya. Pada saat itu akan tampak sekali kesempurnaan dari sifat adil dan hikmah yang dimiliki Allah. Pada saat itu seluruh raja dan penguasa yang dahulunya berkuasa di alam dunia sudah turun dari jabatannya. Hanya tinggal Allah sajalah yang berkuasa. Pada saat itu semuanya setara, baik rakyat maupun rajanya, budak maupun orang merdeka. Mereka semua tunduk di bawah kemuliaan dan kebesaran-Nya. Mereka semua menantikan pembalasan yang akan diberikan oleh-Nya. Mereka sangat mengharapkan pahala kebaikan dari-Nya. Dan mereka sungguh sangat khawatir terhadap siksa dan hukuman yang akan dijatuhkan oleh-Nya. Oleh karena itu di dalam ayat ini hari pembalasan itu disebutkan secara khusus. Allah adalah penguasa hari pembalasan. Meskipun sebenarnya Allah jugalah penguasa atas seluruh hari yang ada. Allah tidak hanya berkuasa atas hari kiamat atau hari pembalasan saja (lihat Taisir Karimir Rahman, hal. 39).
Makna Ayat Keempat
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Artinya: “Hanya kepada-Mu lah Kami beribadah dan hanya kepada-Mu lah Kami meminta pertolongan.”
Maknanya: “Kami hanya menujukan ibadah dan isti’anah (permintaan tolong) kepada-Mu.” Di dalam ayat ini objek kalimat yaitu Iyyaaka diletakkan di depan. Padahal asalnya adalah na’buduka yang artinya Kami menyembah-Mu. Dengan mendahulukan objek kalimat yang seharusnya di belakang menunjukkan adanya pembatasan dan pengkhususan. Artinya ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Tidak boleh menujukan ibadah kepada selain-Nya. Sehingga makna dari ayat ini adalah, ‘Kami menyembah-Mu dan kami tidak menyembah selain-Mu. Kami meminta tolong kepada-Mu dan kami tidak meminta tolong kepada selain-Mu.
Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Ibadah bisa berupa perkataan maupun perbuatan. Ibadah itu ada yang tampak dan ada juga yang tersembunyi. Kecintaan dan ridha Allah terhadap sesuatu bisa dilihat dari perintah dan larangan-Nya. Apabila Allah memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu dicintai dan diridai-Nya. Dan sebaliknya, apabila Allah melarang sesuatu maka itu berarti Allah tidak cinta dan tidak ridha kepadanya. Dengan demikian ibadah itu luas cakupannya. Di antara bentuk ibadah adalah do’a, berkurban, bersedekah, meminta pertolongan atau perlindungan, dan lain sebagainya. Dari pengartian ini maka isti’anah atau meminta pertolongan juga termasuk cakupan dari istilah ibadah. Lalu apakah alasan atau hikmah di balik penyebutan kata isti’anah sesudah disebutkannya kata ibadah di dalam ayat ini?
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahulah berkata, “Didahulukannya ibadah sebelum isti’anah ini termasuk metode penyebutan sesuatu yang lebih umum sebelum sesuatu yang lebih khusus. Dan juga dalam rangka lebih mengutamakan hak Allah ta’ala di atas hak hamba-Nya….”
Beliau pun berkata, “Mewujudkan ibadah dan isti’anah kepada Allah dengan benar itu merupakan sarana yang akan mengantarkan menuju kebahagiaan yang abadi. Dia adalah sarana menuju keselamatan dari segala bentuk kejelekan. Sehingga tidak ada jalan menuju keselamatan kecuali dengan perantara kedua hal ini. Dan ibadah hanya dianggap benar apabila bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditujukan hanya untuk mengharapkan wajah Allah (ikhlas). Dengan dua perkara inilah sesuatu bisa dinamakan ibadah. Sedangkan penyebutan kata isti’anah setelah kata ibadah padahal isti’anah itu juga bagian dari ibadah maka sebabnya adalah karena hamba begitu membutuhkan pertolongan dari Allah ta’ala di dalam melaksanakan seluruh ibadahnya. Seandainya dia tidak mendapatkan pertolongan dari Allah maka keinginannya untuk melakukan perkara-perkara yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang itu tentu tidak akan bisa tercapai.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 39).
Makna Ayat Kelima
اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
Artinya: “Tunjukilah Kami jalan yang lurus.”
Maknanya: “Tunjukilah, bimbinglah dan berikanlah taufik kepada kami untuk meniti shirathal mustaqiim yaitu jalan yang lurus.” Jalan lurus itu adalah jalan yang terang dan jelas serta mengantarkan orang yang berjalan di atasnya untuk sampai kepada Allah dan berhasil menggapai surga-Nya. Hakikat jalan lurus (shirathal mustaqiim) adalah memahami kebenaran dan mengamalkannya. Oleh karena itu ya Allah, tunjukilah kami menuju jalan tersebut dan ketika kami berjalan di atasnya. Yang dimaksud dengan hidayah menuju jalan lurus yaitu hidayah supaya bisa memeluk erat-erat agama Islam dan meninggalkan seluruh agama yang lainnya. Adapun hidayah di atas jalan lurus ialah hidayah untuk bisa memahami dan mengamalkan rincian-rincian ajaran Islam. Dengan begitu do’a ini merupakan salah satu do’a yang paling lengkap dan merangkum berbagai macam kebaikan dan manfaat bagi diri seorang hamba. Oleh sebab itulah setiap insan wajib memanjatkan do’a ini di dalam setiap rakaat shalat yang dilakukannya. Tidak lain dan tidak bukan karena memang hamba begitu membutuhkan do’a ini (lihat Taisir Karimir Rahman, hal. 39).
Makna Ayat Keenam
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ
Artinya: “Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat atas mereka.”
Siapakah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah? Di dalam ayat yang lain disebutkan bahwa mereka ini adalah para Nabi, orang-orang yang shiddiq/jujur dan benar, para pejuang Islam yang mati syahid dan orang-orang salih. Termasuk di dalam cakupan ungkapan ‘orang yang diberi nikmat’ ialah setiap orang yang diberi anugerah keimanan kepada Allah ta’ala, mengenal-Nya dengan baik, mengetahui apa saja yang dicintai-Nya, mengarti apa saja yang dimurkai-Nya, selain itu dia juga mendapatkan taufik untuk melakukan hal-hal yang dicintai tersebut dan meninggalkan hal-hal yang membuat Allah murka. Jalan inilah yang akan mengantarkan hamba menggapai keridhaan Allah ta’ala. Inilah jalan Islam. Islam yang ditegakkan di atas landasan iman, ilmu, amal dan disertai dengan menjauhi perbuatan-perbuatan syirik dan kemaksiatan. Sehingga dengan ayat ini kita kembali tersadar bahwa Islam yang kita peluk selama ini merupakan anugerah nikmat dari Allah ta’ala. Dan untuk bisa menjalani Islam dengan baik maka kita pun sangat membutuhkan sosok teladan yang bisa dijadikan panutan (lihat Aisarut Tafaasir, hal. 12).
Makna Ayat Ketujuh
غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
Artinya: “Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.”
Orang yang dimurkai adalah orang yang sudah mengetahui kebenaran akan tetapi tidak mau mengamalkannya. Contohnya adalah kaum Yahudi dan semacamnya. Sedangkan orang yang tersesat adalah orang yang tidak mengamalkan kebenaran gara-gara kebodohan dan kesesatan mereka. Contohnya adalah orang-orang Nasrani dan semacamnya. Sehingga di dalam ayat ini tersimpan motivasi dan dorongan kepada kita supaya menempuh jalan kaum yang shalih. Ayat ini juga memperingatkan kepada kita untuk menjauhi jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sesat dan menyimpang (lihat Aisarut Tafaasir, hal. 13 dan Taisir Karimir Rahman hal. 39).
Kesimpulan Isi Surat
Surat yang demikian ringkas ini sesungguhnya telah merangkum berbagai pelajaran yang tidak terangkum secara terpadu di dalam surat-surat yang lain di dalam Al Quran. Surat ini mengandung intisari ketiga macam tauhid. Di dalam penggalan ayat Rabbil ‘alamiin terkandung makna tauhid rububiyah. Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatanNya separti mencipta, memberi rezeki dan lain sebagainya. Di dalam kata Allah dan Iyyaaka na’budu terkandung makna tauhid uluhiyah. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam bentuk beribadah hanya kepada-Nya. Demikian juga di dalam penggalan ayat Alhamdu terkandung makna tauhid asma’ wa sifat. Tauhid asma’ wa sifat adalah mengesakan Allah dalam hal nama-nama dan sifat-sifatNya. Allah telah menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi diri-Nya sendiri. Demikian pula Rasul shallallahu’alaihi wa sallam. Maka kewajiban kita adalah mengikuti Allah dan Rasul-Nya dalam menetapkan sifat-sifat kesempurnaan itu benar-benar dimiliki oleh Allah. Kita mengimani ayat ataupun hadits yang berbicara tentang nama dan sifat Allah sebagaimana adanya, tanpa menolak maknanya ataupun menyerupakannya dengan sifat makhluk.
Selain itu surat ini juga mencakup intisari masalah kenabian yaitu tersirat dari ayat Ihdinash shirathal mustaqiim. Sebab jalan yang lurus tidak akan bisa ditempuh oleh hamba apabila tidak ada bimbingan wahyu yang dibawa oleh Rasul. Surat ini juga menetapkan bahwasanya amal-amal hamba itu pasti ada balasannya. Hal ini tampak dari ayat Maaliki yaumid diin. Karena pada hari kiamat nanti amal hamba akan dibalas. Dari ayat ini juga bisa ditarik kesimpulan bahwa balasan yang diberikan itu berdasarkan prinsip keadilan, karena makna kata diin adalah balasan dengan adil. Bahkan di balik untaian ayat ini terkandung penetapan takdir. Hamba berbuat di bawah naungan takdir, bukan terjadi secara merdeka di luar takdir Allah ta’ala sebagaimana yang diyakini oleh kaum Qadariyah (penentang takdir). Dan menetapkan bahwasanya hamba memang benar-benar pelaku atas perbuatan-perbuatanNya. Hamba tidaklah dipaksa sebagaimana keyakinan kaum Jabriyah. Bahkan di dalam ayat Ihdinash shirathal mustaqiim itu terdapat intisari bantahan kepada seluruh ahli bid’ah dan penganut ajaran sesat. Karena pada hakikatnya semua pelaku kebid’ahan maupun penganut ajaran sesat itu pasti menyimpang dari jalan yang lurus; yaitu memahami kebenaran dan mengamalkannya. Surat ini juga mengandung makna keharusan untuk mengikhlaskan ketaatan dalam beragama demi Allah ta’ala semata. Ibadah maupun isti’anah, semuanya harus lillaahi ta’aala. Kandungan ini tersimpan di dalam ayat Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (disadur dari Taisir Karimir Rahman, hal. 40).
Allaahu akbar, sungguh menakjubkan isi surat ini. Maka tidak aneh apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai surat paling agung di dalam Al Quran.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat. Jauhkanlah kami dari jalan orang yang dimurkai dan sesat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Mengabulkan do’a. Wallahu a’lam bish shawaab
Faedah Keenam: Kewajiban untuk meminta petunjuk kepada-Nya
Hal ini terkandung dalam ayat ‘Ihdinas shirathal mustaqim’. Hidayah merupakan anugerah dari Allah ta’ala kepada hamba yang dipilih-Nya. Sedangkan hidayah itu terdiri dari dua macam; hidayah ilmu dan hidayah amal. Dan hidayah semacam itu dibutuhkan oleh manusia di setiap saat dalam perjalanan hidupnya. Setiap hamba senantiasa membutuhkan hidayah tersebut selama dia masih hidup di alam dunia ini. Oleh karena besarnya kebutuhan setiap hamba untuk memohon hidayah maka Allah pun mewajibkan mereka memintanya dalam sehari dan semalam minimal tujuh belas kali di dalam sholat.
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “…Seandainya bukan karena besarnya kebutuhan dirinya untuk mendapatkan hidayah di waktu malam maupun siang niscaya Allah ta’ala tidak akan membimbingnya untuk melakukan hal itu -meminta hidayah setiap kali sholat-. Sebab seorang hamba itu sesungguhnya di setiap saat dan keadaan senantiasa memerlukan pertolongan dari Allah untuk bisa tegar mengikuti hidayah dan berpijak dengan kokoh padanya, agar terus mendapatkan pencerahan, peningkatan ilmu, dan bisa terus menerus berada di atasnya. Karena setiap hamba tidaklah menguasai kemanfaatan maupun kemudharatan bagi dirinya sendiri kecuali sebatas yang Allah kehendaki. Oleh sebab itulah maka Allah ta’ala membimbingnya untuk senantiasa meminta hidayah itu di setiap saat agar Allah mencurahkan kepadanya pertolongan, keteguhan dan tafik dari-Nya.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/39])
Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad mengatakan, “Doa ini mengandung seagung-agung tuntutan seorang hamba yaitu mendapatkan petunjuk menuju jalan yang lurus. Dengan meniti jalan itulah seseorang akan keluar dari berbagai kegelapan menuju cahaya serta akan menuai keberhasilan dunia dan akhirat. Kebutuhan hamba terhadap petunjuk ini jauh lebih besar daripada kebutuhan dirinya terhadap makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanyalah bekal untuk menjalani kehidupannya yang fana. Sedangkan petunjuk menuju jalan yang lurus merupakan bekal kehidupannya yang kekal dan abadi. Doa ini juga mengandung permintaan untuk diberikan keteguhan di atas petunjuk yang telah diraih dan juga mengandung permintaan untuk mendapatkan tambahan petunjuk.” (Min Kunuz al-Qur’an)
Segala puji hanya bagi Allah yang telah menunjukkan kita ke jalan Islam. Sebab dengan Islam inilah seorang hamba akan bisa masuk ke dalam surga. Allah ta’ala berfirman mengenai kegembiraan penduduk surga,
وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ
“Mereka mengatakan; ‘Segala puji hanya bagi Allah yang telah menunjukkan kepada kami ke surga ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kami. Sesungguhnya rasul-rasul Rabb kami telah datang dengan membawa kebenaran.’.” (QS. al-A’raaf: 43)
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir maka tidak akan pernah diterima dari mereka emas sepenuh bumi walaupun hal itu mereka gunakan untuk menebus siksa, mereka itu memang layak untuk menerima siksa yang sangat menyakitkan dan tidak ada bagi mereka seorang penolongpun.” (QS. Ali Imran: 91)
Allah juga berfirman,
إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan bagi orang-orang zalim itu tidak ada seorang penolong.” (QS. al-Maa’idah: 72)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ
“Tidak akan masuk ke dalam surga melainkan jiwa yang muslim.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Dalam riwayat lainnya, beliau bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ
“Tidak akan masuk surga selain orang-orang yang beriman.” (HR. Muslim dari Umar bin Khatthab radhiyallahu’anhu)
Hidayah juga bukan yang perkara sepele, namun dia adalah anugerah Allah kepada hamba pilihan-Nya. Allah ta’ala berfirman,
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya engkau tidak akan bisa memberikan hidayah (taufik) kepada orang yang kamu cintai, akan tetapi Allah lah yang memberikan petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui siapakah orang yang ditakdirkan mendapatkan hidayah.” (QS. al-Qashash: 56)
al-Musayyab radhiyallahu’anhu menuturkan,
لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيُعِيدُ لَهُ تِلْكَ الْمَقَالَةَ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Di saat kematian akan menghampiri Abu Thalib maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun datang untuk menemuinya dan ternyata di sisinya telah ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata; ‘Wahai pamanku, ucapkanlah la ilaha illallah, sebuah kalimat yang akan aku gunakan untuk bersaksi untukmu di sisi Allah’. Maka Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah mengatakan; ‘Wahai Abu Thalib, apakah kamu benci kepada agama Abdul Muthallib -bapakmu-?’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menawarkan dan mengulangi ajakannya itu, sampai akhirnya Abu Thalib mengucapkan perkataan terakhirnya kepada mereka bahwa dia tetap berada di atas agama Abdul Muthallib. Dia enggan untuk mengucapkan la ilaha illallah…” (HR. Muslim)
Faedah Ketujuh: Kewajiban untuk mengikuti Rasul dan para sahabatnya
Hal itu terkandung dalam ayat ‘Shirathalladzina an’amta ‘alaihim’. Jalan orang-orang yang mendapatkan kenikmatan dari Allah, yaitu jalan para nabi, orang-orang shiddiq, syuhada’ dan orang-orang salih. Allah ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul, maka mereka itulah orang-orang yang akan bersama dengan orang-orang yang diberi kenikmatan oleh Allah yaitu para nabi, orang-orang shiddiq, syuhada’, dan orang-orang salih. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. an-Nisaa’: 69)
Allah ta’ala juga berfirman,
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia juga mengikuti selain jalan orang-orang beriman maka Kami akan membiarkan dia terlantar di atas kesesatan yang dipilihnya dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’: 115)
Allah ta’ala berfirman,
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
“Tidaklah pantas bagi seorang mukmin lelaki maupun perempuan apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan yang lainnya dalam menghadapi masalah mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. al-Ahzab: 36)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Maka para sahabat bertanya, ‘Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?’. beliau menjawab, “Barangsiapa yang menaatiku akan masuk surga dan barangsiapa yang durhaka kepadaku dialah yang enggan.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpesan,
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang masih hidup sesudahku maka dia pasti akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk tetap mengikuti Sunnah/ajaranku dan Sunnah para khalifah yang berada di atas petunjuk dan terbimbing. Berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan -di dalam agama-, karena sesungguhnya setiap yang diada-adakan -dalam agama- itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah pasti sesat.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu, disahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib [37])
Inilah jalan lurus itu, yaitu mengikuti pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ilmu maupun amalan. Allah ta’ala berfirman,
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama -membela Islam- dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Allah sediakan untuk mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah keberuntungan yang sangat besar.” (QS. at-Taubah: 100)
Faedah Kedelapan: Kewajiban untuk mengamalkan ilmu
Hal ini terkandung dalam potongan ayat ‘Ghairil maghdhubi ‘alaihim’. Orang yang dimurkai itu adalah orang yang mengetahui kebenaran tapi justru tidak mau mengamalkannya. Sebagaimana orang-orang Yahudi dan yang mengikuti mereka. Syaikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “(Shirathal Mustaqim) adalah jalan terang yang akan mengantarkan hamba menuju Allah dan masuk ke dalam Surga-Nya. Hakikat jalan itu adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya…” (Taisir Karimir Rahman, hal. 39). Sehingga jalan yang lurus itu menuntut seorang muslim untuk mengamalkan ilmunya.
Syaikh Abdul Muhsin mengatakan, “Petunjuk menuju jalan yang lurus itu akan menuntun kepada jalan orang-orang yang diberikan kenikmatan yaitu para nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada’, dan orang-orang salih. Mereka itu adalah orang-orang yang memadukan ilmu dengan amal. Maka seorang hamba memohon kepada Rabbnya untuk melimpahkan hidayah menuju jalan lurus ini yang merupakan sebuah pemuliaan dari Allah kepada para rasul-Nya dan wali-wali-Nya. Dia memohon agar Allah menjauhkan dirinya dari jalan musuh-musuh-Nya yaitu orang-orang yang memiliki ilmu akan tetapi tidak mengamalkannya. Mereka itulah golongan Yahudi yang dimurkai.” (Min Kunuz al-Qur’an)
Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata,
“Hendaknya diingat bahwa seseorang yang tidak beramal dengan ilmunya maka ilmunya itu kelak akan menjadi bukti yang menjatuhkannya. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits Abu Barzah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia akan ditanya tentang empat perkara, diantaranya adalah tentang ilmunya, apa yang sudah diamalkannya.” (HR. Tirmidzi 2341)
Hal ini bukan berlaku bagi para ulama saja, sebagaimana anggapan sebagian orang. Akan tetapi semua orang yang mengetahui suatu perkara agama maka itu berarti telah tegak padanya hujjah. Apabila seseorang memperoleh suatu pelajaran dari sebuah pengajian atau khutbah Jum’at yang di dalamnya dia mendapatkan peringatan dari suatu kemaksiatan yang dikerjakannya sehingga dia pun mengetahui bahwa kemaksiatan yang dilakukannya itu adalah haram maka ini juga ilmu. Sehingga hujjah juga sudah tegak dengan apa yang didengarnya tersebut. Dan terdapat hadits yang sah dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“al-Qur’an itu adalah hujjah bagimu atau hujjah untuk menjatuhkan dirimu” (HR. Muslim)” (Hushulul Ma’mul, hal. 18)
Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah mengatakan, “Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu itu ada dalam rangka mencapai sesuatu yang lainnya. Ilmu diibaratkan separti sebuah pohon, sedangkan amalan adalah separti buahnya. Maka setelah mengetahui ajaran agama Islam seseorang harus menyertainya dengan amalan. Sebab orang yang berilmu akan tetapi tidak beramal dengannya lebih jelek keadaannya daripada orang bodoh. Di dalam hadits disebutkan, “Orang yang paling keras siksanya adalah seorang berilmu dan tidak diberi manfaat oleh Allah dengan sebab ilmunya.” Orang semacam inilah yang termasuk satu di antara tiga orang yang dijadikan sebagai bahan bakar pertama-tama nyala api neraka. Di dalam sebuah sya’ir dikatakan,
Orang alim yang tidak mau
Mengamalkan ilmunya
Mereka akan disiksa sebelum
Disiksanya para penyembah berhala
(Hasyiyah Tsalatsatul Ushul, hal. 12)
Ibnu Katsir rahimahullah di dalam kitab tafsirnya ketika membahas firman Allah ta’ala (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya kebanyakan pendeta dan rahib-rahib benar-benar memakan harta manusia dengan cara yang batil dan memalingkan manusia dari jalan Allah.” (QS. at-Taubah: 34) menukilkan ucapan Sufyan bin Uyainah yang mengatakan, “Orang-orang yang rusak di antara orang berilmu di kalangan kita, padanya terdapat keserupaan dengan Yahudi. Dan orang-orang yang rusak di antara para ahli ibadah di kalangan kita, padanya terdapat keserupaan dengan Nasrani.” (Min Kunuz al-Qur’an)
Faedah Kesembilan: Kewajiban untuk beribadah di atas ilmu
Hal ini terkandung dalam potongan ayat ‘wa lad dhaallin’. Orang-orang yang sesat itu adalah orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah namun dengan cara yang tidak benar, sebagaimana kaum Nasrani. Allah ta’ala berfirman,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
“Ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, dan minta ampunlah bagi dosa-dosamu.” (QS. Muhammad: 19)
Ilmu merupakan landasan ucapan dan perbuatan. Oleh sebab itu Imam Bukhari rahimahullah membuat sebuah bab di dalam Kitab Shahihnya dengan judul al-’Ilmu qablal qaul wal ‘amal (Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan). Allah ta’ala berfirman,
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, itu semua pasti akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. al-Israa’: 36)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangisapa ang dikehendaki baik oleh Allah maka akan dipahamkan dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya seluruh sifat yang menyebabkan hamba dipuji oleh Allah di dalam al-Qur’an maka itu semua merupakan buah dan hasil dari ilmu. Dan seluruh celaan yang disebutkan oleh-Nya maka itu semua bersumber dari kebodohan dan akibat darinya…” (al-’Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 128). Beliau juga menegaskan, “Tidaklah diragukan bahwa sesungguhnya kebodohan adalah pokok seluruh kerusakan. Semua bahaya yang menimpa manusia di dunia dan di akhirat maka itu adalah akibat dari kebodohan…” (al-’Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 101)
Syaikh Muhammad al-Amin as-Syinqithi mengatakan di dalam kitabnya Adhwa’ul Bayan (1/53), “Orang-orang Yahudi dan Nasrani -meskipun sebenarnya mereka sama-sama sesat dan sama-sama dimurkai- hanya saja kemurkaan itu lebih dikhususkan kepada Yahudi -meskipun orang Nasrani juga termasuk di dalamnya- dikarenakan mereka telah mengenal kebenaran namun justru mengingkarinya, dan secara sengaja melakukan kebatilan. Karena itulah kemurkaan lebih condong dilekatkan kepada mereka. Adapun orang-orang Nasrani adalah orang yang bodoh dan tidak mengetahui kebenaran, sehingga kesesatan merupakan ciri mereka yang lebih menonjol. Meskipun begitu Allah menyatakan bahwa ‘al magdhubi ‘alaihim’ adalah kaum Yahudi melalui firman-Nya ta’ala tentang mereka (yang artinya), “Maka mereka pun kembali dengan menuai kemurkaan di atas kemurkaan.” (QS. al-Baqarah: 90). Demikian pula Allah berfirman mengenai mereka (yang artinya), “Katakanlah; maukah aku kabarkan kepada kalian tentang golongan orang yang balasannya lebih jelek di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dilaknati Allah dan dimurkai oleh-Nya.” (QS. al-Ma’idah: 60). Begitu pula firman-Nya (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan patung sapi itu sebagai sesembahan niscaya akan mendapatkan kemurkaan.” (QS. al-A’raaf: 152). Sedangkan golongan ‘adh dhaalliin’ telah Allah jelaskan bahwa mereka itu adalah kaum Nasrani melalui firman-Nya ta’ala (yang artinya), “Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah tersesat, dan mereka pun menyesatkan banyak orang, sungguh mereka telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. al-Ma’idah: 77)”
Semoga tulisan yang ringkas ini bermanfaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Kamis, 06 Agustus 2009
Six Principles of Effective e-Learning: What Works and Why By Ruth Clark
Take any e-Lesson — show it to five people and
ask them what they think. My bet is you will get five different opinions about the quality of the courseware. But, wait! What if the five reviewers are educational “experts” — specialists with advanced degreesin training and education? Now you might expect agreater consensus. Based on my experience over thepast three years reviewing courses with experts, I predict a little more agreement; but it’s not likely to be anything close to a consensus.
Unlike classroom training, e-Learning is very visible. While much of thevclassroom experience is packaged in the instructor, and in fact varies from class to class, you can easily see and hear all elements of e-Learning. Everything from screen color to content accuracy to the types of practices is readily available for scrutiny. I believe that this high visibility will prove to be a good thing. With this much more accessible instructional environment, we will be able to more readily identify effective and ineffective training. But to do so, we have to move beyond a reliance on end-user (or even expert) opinions. After a year of work on a commission tasked to identify the qualities of effective e-Learning, and hearing a great deal of (often contradictory) views, I decided I needed fewer opinions and more data.
THIS WEEK: Design Techniques
The eLearning Guild’s
Practical Applications of Technology for Learning
SM
Design Techniques
LEARNING SOLUTIONS | September 10, 2002 2
include synchronous or asynchronous communication options. For example, the screen in Figure 1 on page 3 is part of a Web-delivered course designed to teach the use of software called Dreamweaver to create Web pages. The main content is the steps needed to perform this particular task with Dreamweaver. The instructional methods include a demonstration of how to perform the steps along with an opportunity to practice and get feedback on your accuracy. There is a distinction among three important elements of an e-Lesson: the instructional methods, the instructional media, and media elements. In spite of optimistic projections of the positive impact of technology on learning, the reality has not lived up to expectations. From film to the Internet, each new wave of technology has stimulated prospects of revolutions in learning. But research comparing learning from one medium such as the classroom with another medium suchas the Internet generally fails to demonstrate significant advantages for any particular technology. These repeated failures lead us to abandon a technology-centered
approach to learning in favor of a learner-centered approach. Having participated in many poor training sessions in the classroom and on the computer, we recognize that it’s not the medium that causeslearning. Rather it is the design of the lesson itself and Learning Solutions e-Magazine™ is designed to serve as a catalyst for innovation and as a vehicle for the dissemination of new and practical strategies, techniques, and best practices for e-Learning design, development and management professionals. It is not intended to be THE definitive authority ... rather, it is intended to be a medium through which e-Learning professionals can share their knowledge, expertise, and experience. As in any profession, there are many different ways to accomplish a specific objective. Learning Solutions will share many different perspectives and does not position any one as “the right way,” but rather we position each article as “one of the right ways” for accomplishing an objective. We assume that readers will evaluate the merits of each article and use the ideas they contain in a manner appropriate for their specific situation. The articles in Learning Solutions are all written by people who are actively engaged in this profession — not by journalists or freelance writers. Submissions are always welcome, as are suggestions for future topics. To learn more about how to submit articles and/or ideas, please visit our Web site at www.eLearningGuild.com. Publisher David Holcombe Editorial Director Heidi Fisk Editor Bill Brandon Copy Editor Charles Holcombe Design Director Nancy Marland Wolinski The eLearning Guild™ Advisory Board Ruth Clark, Lance Dublin, Conrad Gottfredson, Bill Horton, Bob Mosher, Eric Parks, Brenda Pfaus, Marc Rosenberg, Allison Rossett Copyright 2002 to 2007. Learning Solutions e-Magazine™ (formerly The eLearning Developers’ Journal™). Compilation copyright by The eLearning Guild. All rights reserved. Please contact The eLearning Guild for reprint permission. Learning Solutions e-Magazine™ is published weeklyfor members of The eLearning Guild, 375 E Street, Suite 200, Santa Rosa, CA 95404. Phone: +1.707.566.8990. www.eLearningGuild.com Decisions about e-Learning courseware must begin with an understanding of how the mind works during learning and of what research data tell us about what factors lead to learning. This is where decisions must begin. Naturally factors other than psychological effectiveness
come into play in your multimedia learning decisions. For example, instructional strategies will be shaped by parameters of the technology like bandwidth and hardware, and by environmental factors
such as budget, time, and organizational culture.
What is e-Learning?
Since the term e-Learning is used inconsistently, let’s start with a basic definition. For the purposes of this discussion, e-Learning is content and instructional methods delivered on a computer (whether on CDROM, the Internet, or an intranet), and designed to build knowledge and skills related to individual or organizational goals. This definition addresses: The what: training delivered in digital form, The how: content and instructional methods to help learn the content, and The why: to improve organizational performance by building job-relevant knowledge and skills in workers. In this article, the main focus and examples are drawn from business self-study courseware that may
Decisions about e-Learning courseware must begin with an understanding of how the mind works during learning and of what research data tell us about what factors lead to learning.
the best use of instructional methods that make the difference. A learner-centered approach suggests that we design lessons that accommodate human learning processes regardless of the media involved. Instructional methods are the techniques used to help learners process new information in ways that lead to learning. Instructional methods include the use of techniques such as examples, practice exercises, simulations, and analogies. Instructional media are the delivery agents that contain
the content and the instructional methods including computers, workbooks, and even instructors. Not all media can carry all instructional methods with equal effectiveness. For each new technology that appears on the scene, we typically start by treating it like older media with which we are familiar. For example, much early Web-based training looked a lot like books — mostly using text on a screen to communicate content. As the technology behind a given medium matures, we get better at exploiting the features unique to that medium for learning. A third component of multimedia learning is the media elements. The media elements refer to the text, graphics, and audio used to present content and instructional
methods. For example in the Dreamweaver screen shown in Figure 1, the content is the steps needed to perform the particular task which is the focus of this lesson. The instructional methods include a demonstration and simulation practice with feedback. The media elements include a graphic of the screen and (during the demonstration) audio narration that explains the steps seen in the animation.
For the past ten years, Richard Mayer and his colleagues at the University of California at Santa Barbara have conducted a series of controlled experiments on how to best use audio, text, and graphics to optimize learning in multimedia. Six media element principles can be defined based on Mayer’s work. What follows is a summary of these principles along with supporting examples, psychological rationale, and research. Use this information as guidelines regarding the benefits of graphics, the placement of text and graphics on the screen, and the best way to present words that
describe graphics among others.
The multimedia principle: Adding graphics to words can improve learning.
By graphics we refer to a variety of illustrations including still graphics such as line drawings, charts, and photographs and motion graphics such as animation and video. Research has shown that graphics can improve learning. The trick is to use illustrations that are congruent with the instructional message. Images added for entertainment or dramatic value not
LEARNING SOLUTIONS | September 10, 2002 3
Design Techniques
only don’t improve learning but they can actually depress
learning (see the coherence principle below).
The research
Mayer compared learning about various mechanical
and scientific processes including how a bicycle
pump works and how lightning forms, from lessons
that used words alone or used words and pictures
(including still graphics and animations). In most
cases he found much improved understanding when
pictures were included. In fact, he found an average
gain of 89% on transfer tests from learners who studied
lessons with text and graphics compared to learners
whose lessons were limited to text alone. Therefore
we have empirical support that should discourage
the use of screens and screens of text as an
effective learning environment. However not all pictures
are equally effective. We will need more principles
to see how to best make use of visuals to promote
learning.
The psychology
Learning occurs by the encoding of new information
in permanent memory called long-term memory.
According to a theory called Dual Encoding, content
communicated with text and graphics sends two
codes — a verbal code and a visual code. Having two
opportunities for encoding into long-term memory
increases learning.
Figure 1
Practice exercise from an
e-Lesson on Dreamweaver.
With permission from
Element K.
Instructional media
are the delivery
agents that contain
the content and the
instructional methods
including computers,
workbooks,
and even instructors.
Not all media can
carry all instructional
methods with equal
effectiveness.
Design Techniques
LEARNING SOLUTIONS | September 10, 2002 4
The application
While graphics can boost learning, it will be important
to select the kind of graphic that is congruent
with the text and with the learning goal. As I’ll discuss
below, graphics that are irrelevant or gratuitous actually
depress learning. Consider selecting your graphics
based on the type of content you are teaching.
Table 1 summarizes some graphics that work well to
illustrate five key content types: facts, concepts, processes,
procedures, and principles. Processes for
example, are effectively illustrated by animations or
by still graphics that show change through arrows.
Figure 2 on page 5 shows an effective illustration of
a process in e-Learning.
The contiguity principle: placing text
near graphics improves learning.
Contiguity refers to the alignment of graphics and
text on the screen. Often in e-Learning when a scrolling
screen is used, the words are placed at the top
and the illustration is placed under the words so that
when you see the text you can’t see the graphic and
vice versa. This is a common violation of the contiguity
principle that states that graphics and text related to
the graphics should be placed close to each other on
the screen.
The research
Mayer compared learning about the science topics
described above in versions where text was placed
separate from the visuals with versions where text
was integrated on the screen near the visuals. The
visuals and text were identical in both versions. He
found that the integrated versions were more effective.
In five out of five studies, learning from screens
that integrated words near the visuals yielded an average
improvement of 68%.
The psychology
Learning occurs in humans by way of working memory
which is the active part of our memory system.
You have probably heard of “seven plus or minus two.”
This refers to the severe limits placed on working memory.
Working memory is not very efficient, and can
only hold seven (plus or minus two) facts or items at a
time.
Since working memory capacity is needed for
learning to occur, when working memory becomes
overloaded, learning is depressed. If words and the
visuals they describe are separate from each other,
the learner needs to expend extra cognitive resources
to integrate them. In contrast, in materials in which the
words and graphics are placed contiguously, the integration
is done for the learner. Therefore the learner is
While graphics can
boost learning, it will
be important to select
the kind of graphic
that is congruent
with the text and with
the learning goal.
Content Type Graphic Support Example
Fact
Concept
Process
Procedure
Principle
Realistic illustrations of specific
forms, screens, equipment
Realistic illustrations of multiple
examples of the concept
Animated diagrams illustrating
stages of process
Video or animated demonstrations
of near-transfer task being performed
Video or diagrams of far-transfer
tasks being performed
Illustration of software screen
Pictures of good Web pages to
illustrate concept of what is a good
Web page
Activities in a computer network
Animation of how to use a software
application
Video of effective sales closing
techniques.
TABLE 1: Graphics to support content types
LEARNING SOLUTIONS | September 10, 2002 5
Design Techniques
free to spend those scarce cognitive resources on
learning.
The application
As mentioned above, scrolling screens sometimes
violate the contiguity principle by separating text and
related visuals. But it is not the scrolling screen itself
which is to blame. One way to use scrolling screens
effectively is to embed smaller graphics on the screen
with related text close by. For example, a screen from
my online design course is shown in Figure 3. You
can see that the visual has been reduced and placed
on the screen near the text.
The modality principle: explaining
graphics with audio improves learning.
If you have the technical capabilities to use other
modalities like audio, it can substantially improve
learning outcomes. This is especially true of audio narration
of an animation or a complex visual in a topic
that is relatively complex and unfamiliar to the learner.
The research
Mayer compared learning from two e-Learning versions
that explained graphics with exactly the same
words — only the modality was changed. Thus he
compared learning from versions that explained animations
with words in text with versions that explained
animations with words in audio. In all comparisons,
the narrated versions yielded better learning with an
average improvement of 80%.
The psychology
As described under the contiguity principle, working
memory is a limited resource that must be preserved
for learning purposes. Cognitive psychologists
have learned that working memory has two sub-storage
areas — one for visual information and one for
phonetic information. One way to stretch the capacity
of working memory is to utilize both of these storage
areas. Figure 4 on page 6 illustrates how the use of
graphics which enter visual memory and audio which
enters phonetic memory maximize working memory
capacity.
The application
Audio should be used in situations where overload
is likely. For example, if you are watching an animated
demonstration of maybe five or six steps to use a software
application, you need to focus your visual resources
on the animation. If you have to read text and
at the same time watch the animation, overload is
more likely than when you can hear the animation
being narrated.
This does not mean that text should never be used.
For example, some information in e-Learning, such as
directions to an exercise, needs to be available to the
learner over a longer period of time. Any words that
are needed as reference should be presented in text.
Also, when using audio to explain an animation, a
replay option should be available for learners to hear
the explanation again.
Figure 3 An example of application of the contiguity principle.
Figure 2
e-Learning illustrating a
biological process.
Design Techniques
LEARNING SOLUTIONS | September 10, 2002 6
The redundancy principle: explaining
graphics with audio and redundant
text can hurt learning.
Some e-Lessons provide words in text and in audio
that reads the text. This might seem like a good way
to present information in several formats and thus
improve learning. Controlled research however, indicates
that learning is actually depressed when a
graphic is explained by a combination of text and
narration that reads the text.
The research
In studies conducted by Mayer and by others, researchers
have found that better transfer learning is
realized when graphics are explained by audio alone
rather than by audio and text. Mayer found similar
results in two studies for an average gain of 79%.
There are exceptions to the redundancy principle
as recently reported by Roxana Moreno and Mayer. In
a comparison of a scientific explanation presented
with narration alone and with narration and text, learning
was significantly better in conditions that included
both narration and text.
The researchers conclude that, “An effective technique
to promote broader learning with multimedia
explanations is to use the auditory and visual modalities
simultaneously for verbal information if no other
visual material is presented concurrently.” Therefore
there will be limited situations in which narration of onscreen
text could be helpful to learning such as when
there is no graphic on the screen or when readers
lack good reading skills.
The psychology
As illustrated in Figure 5, overload of the visual and
auditory components of working memory occurs if an
on-screen graphic is explained by both text (which
enters the visual center) and narration. However if
there is no on-screen visual, then overload would not
result and because dual codes would be provided,
learning would be increased.
The application
In general, it’s advisable to avoid narration of text
when there is a demanding visual illustration on the
screen. This is especially important when working
memory is subject to overload such as during an animation
in which learners have limited control over the
pacing, or during the presentation of complex new
information. In contrast, when there is no graphic
information on the screen, then research to date
would suggest that presenting words in text and auditory
format would benefit learning.
Multimedia
Presentation
Sensory
Memory
Working
Memory
Phonetic
Processing
Visual
Processing
Spoken
Words
Pictures
Ears
Eyes
Figure 5 Presenting words in text and audio can overload working memory in presence
of graphics.
Multimedia
Presentation
Sensory
Memory
Working
Memory
Eyes
Ears
Visual
Component
Auditory
Component
Printed
Words
Narration
Animation
The coherence principle: using gratuitous
visuals, text, and sounds can hurt
learning.
It’s common knowledge that e-Learning attrition
can be a problem. In well-intended efforts to spice up
e-Learning, some designers use what I call a Las
Vegas approach. By that I mean they add glitz and
games to make the experience more engaging. The
glitz can take a variety of forms such as dramatic
vignettes (in video or text) inserted to add interest,
background music to add appeal, or popular movie
characters or themes to add entertainment value.
As an example, consider a storyboard for a course
on using statistical quality control techniques to improve
quality, shown in Figure 6 on page 7. To add
interest, several stories about the costs of product
recalls were added. But how do these additions affect
learning?
The research
In the 1980’s research on details presented in text
Figure 4
Visual and supporting
auditory information
maximize working
memory resources.
Design Techniques
LEARNING SOLUTIONS | September 10, 2002 7
that were related to a lesson explanation but were
extraneous in nature found them to depress learning.
Such additions were called “seductive details.” In
more recent research, Mayer has found similar negative
effects from seductive details presented either via
text or video. For example, in the lesson on lightning
formation, short descriptions of the vulnerability of
golfers to lightning strikes and the effect of lightning
strikes on airplanes were added to the lesson.
In six of six experiments, learners who studied from
the base lesson showed much greater learning than
those who studied from the enhanced versions. The
average gain was 105%. Similar effects were seen in
a comparison of lessons that included background
music and environmental sounds with base lessons
that did not add extra auditory material.
Finally, a third series of experiments compared an
expanded explanation that used 500 words and several
captioned illustrations with a lesson that used
only the illustrations and their captions. Students who
received the summary version — just the visuals and
their captions — actually achieved 69% more learning.
The psychology
Mayer did several studies together with S. F. Harp
to determine why seductive details depress learning.
In these experiments they evaluated the hypotheses
that these added materials did their damage by:
1. Distracting learners from key instructional points,
2. Disrupting the learner’s organization of information
into a coherent mental model, or
3. Activating irrelevant prior knowledge.
They created three versions of lessons that included
seductive details but that also added instructional
methods that should compensate for their damaging
effects. Only one of their compensatory treatments
reduced the negative effects of the seductive details.
Seductive details placed at the beginning of a lesson
were more damaging than the same information
placed at the end of the lesson.
Therefore, they concluded that these details activate
inappropriate prior knowledge. Since learning
takes place by the integration of new information into
existing knowledge in long-term memory, stimulating
inappropriate prior knowledge would have a damaging
effect.
The application
The coherence principle essentially tells us that
“less is more” when learning is the primary goal. It
suggests that visuals or text that is not essential to
the instructional explanation be avoided. It suggests
that you not add music to instructional segments. It
also suggests that lean text that gets to the point is
better than lengthy elaborated text.
As designers we need to make a distinction between
entertainment and learning. This is not to say
that an effective e-Learning course is not interesting.
Mayer reminds us of prior distinctions between cognitive
interest and emotional interest. Cognitive interest
stems from materials that promote understanding of
the content presented — in other words from materials
that optimize learning. Emotional interest comes from
the addition of extraneous materials which have been
shown to depress learning. Our goal should be to
promote cognitive interest and avoid emotional interest
in situations that require cognitive learning processes.
The personalization principle: Use
conversational tone and pedagogical
agents to increase learning.
A series of interesting experiments summarized by
Byron Reeves and Clifford Nass in their book, The
Media Equation, showed that people responded to
computers following social conventions that apply
when responding to other people. For example,
Reeves and Nass found that when evaluating a computer
program on the same computer that presented
the program, the ratings were higher than if the evaluation
was made on a different computer. People were
unconsciously avoiding giving negative evaluations
directly to the source.
Of course individuals know that the computer is
not a person. However, deeply ingrained conventions
of social interaction tend to exert themselves unconsciously
in human-computer interactions. These find-
Figure 6
A seductive detail from a
quality lesson. From Clark
and Mayer, 2002.
The coherence principle
essentially tells us
that “less is more”
when learning is the
primary goal. It suggests
that visuals or
text that is not essential
to the instructional
explanation be avoided.
It suggests that
you not add music to
instuctional segments.
It also suggests that
lean text that gets to
the point is better than
lengthy elaborated
text.
Design Techniques
LEARNING SOLUTIONS | September 10, 2002 8
ings prompted a series of experiments that show that
learning is better when the learner is socially engaged
in a lesson either via conversational language or by an
informal learning agent.
The research
Based on the work of Reeves and Nass, Mayer
and others have established that learning programs
that engage the learner directly by using first and second
person language yield better learning than the
same programs that use more formal language. Likewise
a number of studies have shown that adding a
learning agent — a character who offers instructional
advice — can also improve learning.
While some computer scientists are working to
make agents very realistic, a series of studies using
Herman the Bug (see Figure 7) as an agent found
that:
1. The appearance of the agent made little difference
— a cartoon or human worked just as well.
2. Learning was better when the agent’s words
were presented in audio rather than in text and in
a conversational style rather than in a formal
style — congruent with the modality and personalization
principles.
3. The agent did not even need to be visible on the
screen — the voice alone was sufficient to promote
better learning.
The psychology
Learning is based on an engagement of the learner
with the content of the instruction. Even though learners
know that computers are inanimate, the use of
conversational language either directly in the program
or via an agent seems to stimulate very ingrained
unconscious social conventions that lead to deeper
learning.
When you are in a conversation with someone you
are expected to listen and respond in a meaningful
way. This requires you to invest attention in what the
person is saying, to process it and to generate a
meaningful response. A similar model seems to apply
when learners see the e-Learning as an engagement
with a social partner — even an inanimate one.
The application
When you write the script for your e-Lessons, use
first and second person constructions, but don’t over
do it. For example, dialog such as, “Hey Dude — Are
you ready for some exciting information on quality
control tools?” is incongruent and more distracting
than helpful. The research on pedagogical agents is
quite new so applications are still a bit tentative.
First, it seems that you don’t need to invest a lot of
effort in the physical representation of the agent. Second,
you need to consider the role of the agent. To
be useful the agent needs to serve an instructionally
valid role — not just appear as an on-screen character.
One example I liked is shown in Figure 8. In this
program designed to teach reading comprehension at
a fourth to sixth grade level, the agent Jim is introduced
and appears throughout the program to show
readers comprehension strategies that have worked
for him.
Conclusion
Figure 8 Jim serves as a pedagogical agent. With permission from Plato Learning
Systems.
Figure 7
Herman the Bug is a
pedagogical agent. From
Clark and Mayer, 2002.
Design Techniques
LEARNING SOLUTIONS | September 10, 2002 9
So there you have it. These six media element principles
should give you the basics since all e-Learning
programs must rely on some combination of graphics,
text, and audio to deliver their content. Perhaps now
that you better understand the research that has been
done, the psychological foundations of why the principles
work and have seen some examples of how the
principles are applied you will feel more confident in
using them yourself.
References
Clark, R.C. and Mayer, R.E. (2002).
E-Learning and the Science of Instruction: Proven
Guidelines for Consumers and Designers of
Multimedia Learning. San Francisco: Jossey-Bass
Pfeiffer.
Clark, R.C. (1999). Developing Technical Training: A
Structured Approach for Developing Classroom
and Computer-Based Instructional Materials. Silver
Spring, MD: International Society for Performance
Improvement.
Harp, S.F. and Mayer, R.E. (1998). How seductive
details do their damage: A theory of cognitive interest
in science learning. Journal of Educational
Psychology, 90 (3), 414-434.
Kalyuga, S., Chandler, P., and Sweller, J. (2000).
Journal of Educational Psychology, 92 (1), 126-
136.
Moreno, R. & Mayer, R.E. (2002). Verbal redundancy
in multimedia learning: When reading helps listening.
Journal of Educational Psychology, 94 (1),
156-163.
Reeves, B., & Nass, C. (1996). The Media Equation.
New York: Cambridge University Press.
Author Contact
Dr. Ruth Clark is a recognized specialist
in instructional design and technical
training, and holds a doctorate
in Educational Psychology and Instructional
Technology from the University
of Southern California. Prior to
founding Clark Training & Consulting, she served as
Training Manager for Southern California Edison. Dr.
Clark is a past president of the ISPI. She is the author
of three books including Developing Technical Training
and the award-winning Building Expertise. Her
most recent book, E-Learning & The Science of
Instruction is co-authored with Dr. Richard Mayer of
the University of California at Santa Barbara, a recognized
expert in multimedia research. Dr. Clark is a frequent
speaker at industry events around the world.
Reach Ruth by e-mail at Ruth@Clarktraining.com.
Discuss this article in the “Talk Back to the
Authors” Forum of Community Connections
(http://www. elearningguild. com/community_
connections/forum/ categories. cfm? catid= 17&
entercat=y). You can address your comments to the
author(s) of each week’s article, or you can make a
general comment to other readers.
Additional information on the topics covered in
this article is also listed in the Guild Resource
Directory.
This publication is by the people, for the people.
That means it’s written by YOU the readers and members of The eLearning Guild!
We encourage you to submit articles for publication in Learning Solutions e-Magazine.
Even if you have not been published before, we encourage you to submit a query if
you have a great idea, technique, case study, or practice to share with your peers in
the e-Learning community. If your topic idea for an article is selected by the editors,
you will be asked to submit a complete article on that topic. Don’t worry if you have
limited experience writing for publication. Our team of editors will work with you to
polish your article and get it ready for publication in Learning Solutions.
By sharing your expertise with the readers of Learning Solutions, you not only
add to the collective knowledge of the e-Learning community, you also gain the recognition
of your peers in the industry and your organization.
How to Submit a Query
If you have an idea for an article, send a plain-text e-mail to our editor, Bill Brandon,
at bbrandon@eLearningGuild.com, with the following information in the body of the
e-mail:
• A draft of the first paragraph
• A short outline of your main point.
• One paragraph on your background or current positio
• A working title
• Your contact information
Refer to www.eLearningGuild.com for Author Guidelines.
Get It Published in...
DO YOU HAVE AN INTERESTING
STRATEGY OR TECHNIQUE TO SHARE?
The eLearning Guild is a Community of Practice for e-Learning design,
development, and management professionals. Through this memberdriven
community we provide high-quality learning opportunities, networking
services, resources, and
publications. Members represent a
diverse group of managers, directors,
and executives focused on
training and learning services, as
well as e-Learning instructional
designers, content developers,
Web developers, project managers,
contractors, and consultants. Guild
members work in a variety of settings
including corporate, government,
and academic organizations.
Guild membership is an investment
in your professional development
and in your organization’s
future success with its e-Learning
efforts. Your membership provides
you with learning opportunities and
resources so that you can increase
your knowledge and skills. That’s
what the Guild is all about ... putting
the resources and information
you need at your fingertips so you
can produce more successful
e-Learning.
The eLearning Guild offers four
levels of membership. Each level
provides members with benefits
commensurate with your investment.
In the table you will find a
comprehensive summary of benefits
ask them what they think. My bet is you will get five different opinions about the quality of the courseware. But, wait! What if the five reviewers are educational “experts” — specialists with advanced degreesin training and education? Now you might expect agreater consensus. Based on my experience over thepast three years reviewing courses with experts, I predict a little more agreement; but it’s not likely to be anything close to a consensus.
Unlike classroom training, e-Learning is very visible. While much of thevclassroom experience is packaged in the instructor, and in fact varies from class to class, you can easily see and hear all elements of e-Learning. Everything from screen color to content accuracy to the types of practices is readily available for scrutiny. I believe that this high visibility will prove to be a good thing. With this much more accessible instructional environment, we will be able to more readily identify effective and ineffective training. But to do so, we have to move beyond a reliance on end-user (or even expert) opinions. After a year of work on a commission tasked to identify the qualities of effective e-Learning, and hearing a great deal of (often contradictory) views, I decided I needed fewer opinions and more data.
THIS WEEK: Design Techniques
The eLearning Guild’s
Practical Applications of Technology for Learning
SM
Design Techniques
LEARNING SOLUTIONS | September 10, 2002 2
include synchronous or asynchronous communication options. For example, the screen in Figure 1 on page 3 is part of a Web-delivered course designed to teach the use of software called Dreamweaver to create Web pages. The main content is the steps needed to perform this particular task with Dreamweaver. The instructional methods include a demonstration of how to perform the steps along with an opportunity to practice and get feedback on your accuracy. There is a distinction among three important elements of an e-Lesson: the instructional methods, the instructional media, and media elements. In spite of optimistic projections of the positive impact of technology on learning, the reality has not lived up to expectations. From film to the Internet, each new wave of technology has stimulated prospects of revolutions in learning. But research comparing learning from one medium such as the classroom with another medium suchas the Internet generally fails to demonstrate significant advantages for any particular technology. These repeated failures lead us to abandon a technology-centered
approach to learning in favor of a learner-centered approach. Having participated in many poor training sessions in the classroom and on the computer, we recognize that it’s not the medium that causeslearning. Rather it is the design of the lesson itself and Learning Solutions e-Magazine™ is designed to serve as a catalyst for innovation and as a vehicle for the dissemination of new and practical strategies, techniques, and best practices for e-Learning design, development and management professionals. It is not intended to be THE definitive authority ... rather, it is intended to be a medium through which e-Learning professionals can share their knowledge, expertise, and experience. As in any profession, there are many different ways to accomplish a specific objective. Learning Solutions will share many different perspectives and does not position any one as “the right way,” but rather we position each article as “one of the right ways” for accomplishing an objective. We assume that readers will evaluate the merits of each article and use the ideas they contain in a manner appropriate for their specific situation. The articles in Learning Solutions are all written by people who are actively engaged in this profession — not by journalists or freelance writers. Submissions are always welcome, as are suggestions for future topics. To learn more about how to submit articles and/or ideas, please visit our Web site at www.eLearningGuild.com. Publisher David Holcombe Editorial Director Heidi Fisk Editor Bill Brandon Copy Editor Charles Holcombe Design Director Nancy Marland Wolinski The eLearning Guild™ Advisory Board Ruth Clark, Lance Dublin, Conrad Gottfredson, Bill Horton, Bob Mosher, Eric Parks, Brenda Pfaus, Marc Rosenberg, Allison Rossett Copyright 2002 to 2007. Learning Solutions e-Magazine™ (formerly The eLearning Developers’ Journal™). Compilation copyright by The eLearning Guild. All rights reserved. Please contact The eLearning Guild for reprint permission. Learning Solutions e-Magazine™ is published weeklyfor members of The eLearning Guild, 375 E Street, Suite 200, Santa Rosa, CA 95404. Phone: +1.707.566.8990. www.eLearningGuild.com Decisions about e-Learning courseware must begin with an understanding of how the mind works during learning and of what research data tell us about what factors lead to learning. This is where decisions must begin. Naturally factors other than psychological effectiveness
come into play in your multimedia learning decisions. For example, instructional strategies will be shaped by parameters of the technology like bandwidth and hardware, and by environmental factors
such as budget, time, and organizational culture.
What is e-Learning?
Since the term e-Learning is used inconsistently, let’s start with a basic definition. For the purposes of this discussion, e-Learning is content and instructional methods delivered on a computer (whether on CDROM, the Internet, or an intranet), and designed to build knowledge and skills related to individual or organizational goals. This definition addresses: The what: training delivered in digital form, The how: content and instructional methods to help learn the content, and The why: to improve organizational performance by building job-relevant knowledge and skills in workers. In this article, the main focus and examples are drawn from business self-study courseware that may
Decisions about e-Learning courseware must begin with an understanding of how the mind works during learning and of what research data tell us about what factors lead to learning.
the best use of instructional methods that make the difference. A learner-centered approach suggests that we design lessons that accommodate human learning processes regardless of the media involved. Instructional methods are the techniques used to help learners process new information in ways that lead to learning. Instructional methods include the use of techniques such as examples, practice exercises, simulations, and analogies. Instructional media are the delivery agents that contain
the content and the instructional methods including computers, workbooks, and even instructors. Not all media can carry all instructional methods with equal effectiveness. For each new technology that appears on the scene, we typically start by treating it like older media with which we are familiar. For example, much early Web-based training looked a lot like books — mostly using text on a screen to communicate content. As the technology behind a given medium matures, we get better at exploiting the features unique to that medium for learning. A third component of multimedia learning is the media elements. The media elements refer to the text, graphics, and audio used to present content and instructional
methods. For example in the Dreamweaver screen shown in Figure 1, the content is the steps needed to perform the particular task which is the focus of this lesson. The instructional methods include a demonstration and simulation practice with feedback. The media elements include a graphic of the screen and (during the demonstration) audio narration that explains the steps seen in the animation.
For the past ten years, Richard Mayer and his colleagues at the University of California at Santa Barbara have conducted a series of controlled experiments on how to best use audio, text, and graphics to optimize learning in multimedia. Six media element principles can be defined based on Mayer’s work. What follows is a summary of these principles along with supporting examples, psychological rationale, and research. Use this information as guidelines regarding the benefits of graphics, the placement of text and graphics on the screen, and the best way to present words that
describe graphics among others.
The multimedia principle: Adding graphics to words can improve learning.
By graphics we refer to a variety of illustrations including still graphics such as line drawings, charts, and photographs and motion graphics such as animation and video. Research has shown that graphics can improve learning. The trick is to use illustrations that are congruent with the instructional message. Images added for entertainment or dramatic value not
LEARNING SOLUTIONS | September 10, 2002 3
Design Techniques
only don’t improve learning but they can actually depress
learning (see the coherence principle below).
The research
Mayer compared learning about various mechanical
and scientific processes including how a bicycle
pump works and how lightning forms, from lessons
that used words alone or used words and pictures
(including still graphics and animations). In most
cases he found much improved understanding when
pictures were included. In fact, he found an average
gain of 89% on transfer tests from learners who studied
lessons with text and graphics compared to learners
whose lessons were limited to text alone. Therefore
we have empirical support that should discourage
the use of screens and screens of text as an
effective learning environment. However not all pictures
are equally effective. We will need more principles
to see how to best make use of visuals to promote
learning.
The psychology
Learning occurs by the encoding of new information
in permanent memory called long-term memory.
According to a theory called Dual Encoding, content
communicated with text and graphics sends two
codes — a verbal code and a visual code. Having two
opportunities for encoding into long-term memory
increases learning.
Figure 1
Practice exercise from an
e-Lesson on Dreamweaver.
With permission from
Element K.
Instructional media
are the delivery
agents that contain
the content and the
instructional methods
including computers,
workbooks,
and even instructors.
Not all media can
carry all instructional
methods with equal
effectiveness.
Design Techniques
LEARNING SOLUTIONS | September 10, 2002 4
The application
While graphics can boost learning, it will be important
to select the kind of graphic that is congruent
with the text and with the learning goal. As I’ll discuss
below, graphics that are irrelevant or gratuitous actually
depress learning. Consider selecting your graphics
based on the type of content you are teaching.
Table 1 summarizes some graphics that work well to
illustrate five key content types: facts, concepts, processes,
procedures, and principles. Processes for
example, are effectively illustrated by animations or
by still graphics that show change through arrows.
Figure 2 on page 5 shows an effective illustration of
a process in e-Learning.
The contiguity principle: placing text
near graphics improves learning.
Contiguity refers to the alignment of graphics and
text on the screen. Often in e-Learning when a scrolling
screen is used, the words are placed at the top
and the illustration is placed under the words so that
when you see the text you can’t see the graphic and
vice versa. This is a common violation of the contiguity
principle that states that graphics and text related to
the graphics should be placed close to each other on
the screen.
The research
Mayer compared learning about the science topics
described above in versions where text was placed
separate from the visuals with versions where text
was integrated on the screen near the visuals. The
visuals and text were identical in both versions. He
found that the integrated versions were more effective.
In five out of five studies, learning from screens
that integrated words near the visuals yielded an average
improvement of 68%.
The psychology
Learning occurs in humans by way of working memory
which is the active part of our memory system.
You have probably heard of “seven plus or minus two.”
This refers to the severe limits placed on working memory.
Working memory is not very efficient, and can
only hold seven (plus or minus two) facts or items at a
time.
Since working memory capacity is needed for
learning to occur, when working memory becomes
overloaded, learning is depressed. If words and the
visuals they describe are separate from each other,
the learner needs to expend extra cognitive resources
to integrate them. In contrast, in materials in which the
words and graphics are placed contiguously, the integration
is done for the learner. Therefore the learner is
While graphics can
boost learning, it will
be important to select
the kind of graphic
that is congruent
with the text and with
the learning goal.
Content Type Graphic Support Example
Fact
Concept
Process
Procedure
Principle
Realistic illustrations of specific
forms, screens, equipment
Realistic illustrations of multiple
examples of the concept
Animated diagrams illustrating
stages of process
Video or animated demonstrations
of near-transfer task being performed
Video or diagrams of far-transfer
tasks being performed
Illustration of software screen
Pictures of good Web pages to
illustrate concept of what is a good
Web page
Activities in a computer network
Animation of how to use a software
application
Video of effective sales closing
techniques.
TABLE 1: Graphics to support content types
LEARNING SOLUTIONS | September 10, 2002 5
Design Techniques
free to spend those scarce cognitive resources on
learning.
The application
As mentioned above, scrolling screens sometimes
violate the contiguity principle by separating text and
related visuals. But it is not the scrolling screen itself
which is to blame. One way to use scrolling screens
effectively is to embed smaller graphics on the screen
with related text close by. For example, a screen from
my online design course is shown in Figure 3. You
can see that the visual has been reduced and placed
on the screen near the text.
The modality principle: explaining
graphics with audio improves learning.
If you have the technical capabilities to use other
modalities like audio, it can substantially improve
learning outcomes. This is especially true of audio narration
of an animation or a complex visual in a topic
that is relatively complex and unfamiliar to the learner.
The research
Mayer compared learning from two e-Learning versions
that explained graphics with exactly the same
words — only the modality was changed. Thus he
compared learning from versions that explained animations
with words in text with versions that explained
animations with words in audio. In all comparisons,
the narrated versions yielded better learning with an
average improvement of 80%.
The psychology
As described under the contiguity principle, working
memory is a limited resource that must be preserved
for learning purposes. Cognitive psychologists
have learned that working memory has two sub-storage
areas — one for visual information and one for
phonetic information. One way to stretch the capacity
of working memory is to utilize both of these storage
areas. Figure 4 on page 6 illustrates how the use of
graphics which enter visual memory and audio which
enters phonetic memory maximize working memory
capacity.
The application
Audio should be used in situations where overload
is likely. For example, if you are watching an animated
demonstration of maybe five or six steps to use a software
application, you need to focus your visual resources
on the animation. If you have to read text and
at the same time watch the animation, overload is
more likely than when you can hear the animation
being narrated.
This does not mean that text should never be used.
For example, some information in e-Learning, such as
directions to an exercise, needs to be available to the
learner over a longer period of time. Any words that
are needed as reference should be presented in text.
Also, when using audio to explain an animation, a
replay option should be available for learners to hear
the explanation again.
Figure 3 An example of application of the contiguity principle.
Figure 2
e-Learning illustrating a
biological process.
Design Techniques
LEARNING SOLUTIONS | September 10, 2002 6
The redundancy principle: explaining
graphics with audio and redundant
text can hurt learning.
Some e-Lessons provide words in text and in audio
that reads the text. This might seem like a good way
to present information in several formats and thus
improve learning. Controlled research however, indicates
that learning is actually depressed when a
graphic is explained by a combination of text and
narration that reads the text.
The research
In studies conducted by Mayer and by others, researchers
have found that better transfer learning is
realized when graphics are explained by audio alone
rather than by audio and text. Mayer found similar
results in two studies for an average gain of 79%.
There are exceptions to the redundancy principle
as recently reported by Roxana Moreno and Mayer. In
a comparison of a scientific explanation presented
with narration alone and with narration and text, learning
was significantly better in conditions that included
both narration and text.
The researchers conclude that, “An effective technique
to promote broader learning with multimedia
explanations is to use the auditory and visual modalities
simultaneously for verbal information if no other
visual material is presented concurrently.” Therefore
there will be limited situations in which narration of onscreen
text could be helpful to learning such as when
there is no graphic on the screen or when readers
lack good reading skills.
The psychology
As illustrated in Figure 5, overload of the visual and
auditory components of working memory occurs if an
on-screen graphic is explained by both text (which
enters the visual center) and narration. However if
there is no on-screen visual, then overload would not
result and because dual codes would be provided,
learning would be increased.
The application
In general, it’s advisable to avoid narration of text
when there is a demanding visual illustration on the
screen. This is especially important when working
memory is subject to overload such as during an animation
in which learners have limited control over the
pacing, or during the presentation of complex new
information. In contrast, when there is no graphic
information on the screen, then research to date
would suggest that presenting words in text and auditory
format would benefit learning.
Multimedia
Presentation
Sensory
Memory
Working
Memory
Phonetic
Processing
Visual
Processing
Spoken
Words
Pictures
Ears
Eyes
Figure 5 Presenting words in text and audio can overload working memory in presence
of graphics.
Multimedia
Presentation
Sensory
Memory
Working
Memory
Eyes
Ears
Visual
Component
Auditory
Component
Printed
Words
Narration
Animation
The coherence principle: using gratuitous
visuals, text, and sounds can hurt
learning.
It’s common knowledge that e-Learning attrition
can be a problem. In well-intended efforts to spice up
e-Learning, some designers use what I call a Las
Vegas approach. By that I mean they add glitz and
games to make the experience more engaging. The
glitz can take a variety of forms such as dramatic
vignettes (in video or text) inserted to add interest,
background music to add appeal, or popular movie
characters or themes to add entertainment value.
As an example, consider a storyboard for a course
on using statistical quality control techniques to improve
quality, shown in Figure 6 on page 7. To add
interest, several stories about the costs of product
recalls were added. But how do these additions affect
learning?
The research
In the 1980’s research on details presented in text
Figure 4
Visual and supporting
auditory information
maximize working
memory resources.
Design Techniques
LEARNING SOLUTIONS | September 10, 2002 7
that were related to a lesson explanation but were
extraneous in nature found them to depress learning.
Such additions were called “seductive details.” In
more recent research, Mayer has found similar negative
effects from seductive details presented either via
text or video. For example, in the lesson on lightning
formation, short descriptions of the vulnerability of
golfers to lightning strikes and the effect of lightning
strikes on airplanes were added to the lesson.
In six of six experiments, learners who studied from
the base lesson showed much greater learning than
those who studied from the enhanced versions. The
average gain was 105%. Similar effects were seen in
a comparison of lessons that included background
music and environmental sounds with base lessons
that did not add extra auditory material.
Finally, a third series of experiments compared an
expanded explanation that used 500 words and several
captioned illustrations with a lesson that used
only the illustrations and their captions. Students who
received the summary version — just the visuals and
their captions — actually achieved 69% more learning.
The psychology
Mayer did several studies together with S. F. Harp
to determine why seductive details depress learning.
In these experiments they evaluated the hypotheses
that these added materials did their damage by:
1. Distracting learners from key instructional points,
2. Disrupting the learner’s organization of information
into a coherent mental model, or
3. Activating irrelevant prior knowledge.
They created three versions of lessons that included
seductive details but that also added instructional
methods that should compensate for their damaging
effects. Only one of their compensatory treatments
reduced the negative effects of the seductive details.
Seductive details placed at the beginning of a lesson
were more damaging than the same information
placed at the end of the lesson.
Therefore, they concluded that these details activate
inappropriate prior knowledge. Since learning
takes place by the integration of new information into
existing knowledge in long-term memory, stimulating
inappropriate prior knowledge would have a damaging
effect.
The application
The coherence principle essentially tells us that
“less is more” when learning is the primary goal. It
suggests that visuals or text that is not essential to
the instructional explanation be avoided. It suggests
that you not add music to instructional segments. It
also suggests that lean text that gets to the point is
better than lengthy elaborated text.
As designers we need to make a distinction between
entertainment and learning. This is not to say
that an effective e-Learning course is not interesting.
Mayer reminds us of prior distinctions between cognitive
interest and emotional interest. Cognitive interest
stems from materials that promote understanding of
the content presented — in other words from materials
that optimize learning. Emotional interest comes from
the addition of extraneous materials which have been
shown to depress learning. Our goal should be to
promote cognitive interest and avoid emotional interest
in situations that require cognitive learning processes.
The personalization principle: Use
conversational tone and pedagogical
agents to increase learning.
A series of interesting experiments summarized by
Byron Reeves and Clifford Nass in their book, The
Media Equation, showed that people responded to
computers following social conventions that apply
when responding to other people. For example,
Reeves and Nass found that when evaluating a computer
program on the same computer that presented
the program, the ratings were higher than if the evaluation
was made on a different computer. People were
unconsciously avoiding giving negative evaluations
directly to the source.
Of course individuals know that the computer is
not a person. However, deeply ingrained conventions
of social interaction tend to exert themselves unconsciously
in human-computer interactions. These find-
Figure 6
A seductive detail from a
quality lesson. From Clark
and Mayer, 2002.
The coherence principle
essentially tells us
that “less is more”
when learning is the
primary goal. It suggests
that visuals or
text that is not essential
to the instructional
explanation be avoided.
It suggests that
you not add music to
instuctional segments.
It also suggests that
lean text that gets to
the point is better than
lengthy elaborated
text.
Design Techniques
LEARNING SOLUTIONS | September 10, 2002 8
ings prompted a series of experiments that show that
learning is better when the learner is socially engaged
in a lesson either via conversational language or by an
informal learning agent.
The research
Based on the work of Reeves and Nass, Mayer
and others have established that learning programs
that engage the learner directly by using first and second
person language yield better learning than the
same programs that use more formal language. Likewise
a number of studies have shown that adding a
learning agent — a character who offers instructional
advice — can also improve learning.
While some computer scientists are working to
make agents very realistic, a series of studies using
Herman the Bug (see Figure 7) as an agent found
that:
1. The appearance of the agent made little difference
— a cartoon or human worked just as well.
2. Learning was better when the agent’s words
were presented in audio rather than in text and in
a conversational style rather than in a formal
style — congruent with the modality and personalization
principles.
3. The agent did not even need to be visible on the
screen — the voice alone was sufficient to promote
better learning.
The psychology
Learning is based on an engagement of the learner
with the content of the instruction. Even though learners
know that computers are inanimate, the use of
conversational language either directly in the program
or via an agent seems to stimulate very ingrained
unconscious social conventions that lead to deeper
learning.
When you are in a conversation with someone you
are expected to listen and respond in a meaningful
way. This requires you to invest attention in what the
person is saying, to process it and to generate a
meaningful response. A similar model seems to apply
when learners see the e-Learning as an engagement
with a social partner — even an inanimate one.
The application
When you write the script for your e-Lessons, use
first and second person constructions, but don’t over
do it. For example, dialog such as, “Hey Dude — Are
you ready for some exciting information on quality
control tools?” is incongruent and more distracting
than helpful. The research on pedagogical agents is
quite new so applications are still a bit tentative.
First, it seems that you don’t need to invest a lot of
effort in the physical representation of the agent. Second,
you need to consider the role of the agent. To
be useful the agent needs to serve an instructionally
valid role — not just appear as an on-screen character.
One example I liked is shown in Figure 8. In this
program designed to teach reading comprehension at
a fourth to sixth grade level, the agent Jim is introduced
and appears throughout the program to show
readers comprehension strategies that have worked
for him.
Conclusion
Figure 8 Jim serves as a pedagogical agent. With permission from Plato Learning
Systems.
Figure 7
Herman the Bug is a
pedagogical agent. From
Clark and Mayer, 2002.
Design Techniques
LEARNING SOLUTIONS | September 10, 2002 9
So there you have it. These six media element principles
should give you the basics since all e-Learning
programs must rely on some combination of graphics,
text, and audio to deliver their content. Perhaps now
that you better understand the research that has been
done, the psychological foundations of why the principles
work and have seen some examples of how the
principles are applied you will feel more confident in
using them yourself.
References
Clark, R.C. and Mayer, R.E. (2002).
E-Learning and the Science of Instruction: Proven
Guidelines for Consumers and Designers of
Multimedia Learning. San Francisco: Jossey-Bass
Pfeiffer.
Clark, R.C. (1999). Developing Technical Training: A
Structured Approach for Developing Classroom
and Computer-Based Instructional Materials. Silver
Spring, MD: International Society for Performance
Improvement.
Harp, S.F. and Mayer, R.E. (1998). How seductive
details do their damage: A theory of cognitive interest
in science learning. Journal of Educational
Psychology, 90 (3), 414-434.
Kalyuga, S., Chandler, P., and Sweller, J. (2000).
Journal of Educational Psychology, 92 (1), 126-
136.
Moreno, R. & Mayer, R.E. (2002). Verbal redundancy
in multimedia learning: When reading helps listening.
Journal of Educational Psychology, 94 (1),
156-163.
Reeves, B., & Nass, C. (1996). The Media Equation.
New York: Cambridge University Press.
Author Contact
Dr. Ruth Clark is a recognized specialist
in instructional design and technical
training, and holds a doctorate
in Educational Psychology and Instructional
Technology from the University
of Southern California. Prior to
founding Clark Training & Consulting, she served as
Training Manager for Southern California Edison. Dr.
Clark is a past president of the ISPI. She is the author
of three books including Developing Technical Training
and the award-winning Building Expertise. Her
most recent book, E-Learning & The Science of
Instruction is co-authored with Dr. Richard Mayer of
the University of California at Santa Barbara, a recognized
expert in multimedia research. Dr. Clark is a frequent
speaker at industry events around the world.
Reach Ruth by e-mail at Ruth@Clarktraining.com.
Discuss this article in the “Talk Back to the
Authors” Forum of Community Connections
(http://www. elearningguild. com/community_
connections/forum/ categories. cfm? catid= 17&
entercat=y). You can address your comments to the
author(s) of each week’s article, or you can make a
general comment to other readers.
Additional information on the topics covered in
this article is also listed in the Guild Resource
Directory.
This publication is by the people, for the people.
That means it’s written by YOU the readers and members of The eLearning Guild!
We encourage you to submit articles for publication in Learning Solutions e-Magazine.
Even if you have not been published before, we encourage you to submit a query if
you have a great idea, technique, case study, or practice to share with your peers in
the e-Learning community. If your topic idea for an article is selected by the editors,
you will be asked to submit a complete article on that topic. Don’t worry if you have
limited experience writing for publication. Our team of editors will work with you to
polish your article and get it ready for publication in Learning Solutions.
By sharing your expertise with the readers of Learning Solutions, you not only
add to the collective knowledge of the e-Learning community, you also gain the recognition
of your peers in the industry and your organization.
How to Submit a Query
If you have an idea for an article, send a plain-text e-mail to our editor, Bill Brandon,
at bbrandon@eLearningGuild.com, with the following information in the body of the
e-mail:
• A draft of the first paragraph
• A short outline of your main point.
• One paragraph on your background or current positio
• A working title
• Your contact information
Refer to www.eLearningGuild.com for Author Guidelines.
Get It Published in...
DO YOU HAVE AN INTERESTING
STRATEGY OR TECHNIQUE TO SHARE?
The eLearning Guild is a Community of Practice for e-Learning design,
development, and management professionals. Through this memberdriven
community we provide high-quality learning opportunities, networking
services, resources, and
publications. Members represent a
diverse group of managers, directors,
and executives focused on
training and learning services, as
well as e-Learning instructional
designers, content developers,
Web developers, project managers,
contractors, and consultants. Guild
members work in a variety of settings
including corporate, government,
and academic organizations.
Guild membership is an investment
in your professional development
and in your organization’s
future success with its e-Learning
efforts. Your membership provides
you with learning opportunities and
resources so that you can increase
your knowledge and skills. That’s
what the Guild is all about ... putting
the resources and information
you need at your fingertips so you
can produce more successful
e-Learning.
The eLearning Guild offers four
levels of membership. Each level
provides members with benefits
commensurate with your investment.
In the table you will find a
comprehensive summary of benefits
Langganan:
Postingan (Atom)