ASSALAMU ALAIKUM

SELAMAT DATANG DI IQBAL'S BLOG

Jumat, 06 Juli 2012

KOMPARASI PEMIKIRAN PENDIDIKAN JOHN DEWEY DENGAN AL-GHAZALI

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi kehidupan manusia, kadang tidak selamanya berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Dan mungkin kita tidak tahu alasan mengapa kita berbuat sesuatu. Kalau kita mau bercermin pada pendapat Paulo Freire, maka kita dapat membaca jalan pikiran seseorang. Apakah ia termasuk pada kategori orang yamg berkesadaran magic, naif, atau kritis.Adanya wacana tentang tingkatan kesadaran tersebut, mau tidak mau guru atau dosen sebagai penanggungjawab akan perubahan pada peserta didik harus memformat pola pendidikan untuk membawa kesadaran manusia pada tingkatan yang lebih tinggi. Pendidikan dalam perjalanannya selalu berusaha mencari format untuk dapat mencapai tujuan pendidikan tersebut, yaitu memanusiakan manusia. Banyak tokoh pendidikan berusaha menawarkan format pendidikan menurut pemahaman dia mengenai pendidikan itu sendiri, tujuan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan. John Dewey sebagai salah seorang tokoh pendidikan berkebangsaan Amerika menawarkan tentang pola pendidikan partisipatif. Yang bertujuan untuk lebih memberdayakan peserta didik dalam jalannya proses pendidikan. Pendidikan partisipatif membawa peserta didik untuk mampu berhadapan secara langsung dengan realitas yang ada dilingkungannya. Sehingga, peserta didik dapat mengintegrasikan antara materi yang ia pelajari di kelas dengan realitas yang ada.Konsep pendidikan John Dewey, tidak bisa serta merta diterapkan di bumi Indonesia. Sebab, secara psikologis dan sosiologis negara kita berbeda dengan Amerika. Oleh karena itulah maka saat kita akan menerapkan konsep tersebut maka dasar psikologis dan sosiologis pun perlu kita perhatikan Banyak sekali tokoh dan pemikir Islam yang mampu merubah dunia. Di antara sekian tokoh pemikir tersebut al-Ghozali menjadi tokoh yang paling menarik untuk diperbincangkan. Al-Ghozali adalah sosok pengembara intelektual. Hampir seluruh hidupnya beliau curahkan dalam pengembaraan intelektual. Dalam ranah keilmuan Islam al-Ghozali mendapat gelar Hujjah al-Islam, ‘Alim al-‘Ulama, Warits al-Anbiya. sebuah bukti pengakuan atas kapasitas keilmuan dan tingkat penerimaan para ulama’ terhadapnya. Tetapi banyak dari kita yang mengenal al-Ghozali hanya sebagai teolog, faqih dan sufi karena pilihannya yang dikenal dengan tasawwuf sunni. Padahal ada sisi lain dari al-Ghozali yang kurang ter-cover dalam perhatian para sarjana belakangan, yaitu pemikirannya tentang pendidikan. Padahal pemikirannya tentang hal tersebut banyak berpengaruh pada ulama’ sunni dan banyak mengilhami para pemikir barat seperti Robert Ulinch, seorang guru besar ilmu pendidikan pada Harvard University, Descartes dan sebagainya. B. Rumusan masalah 1. Bagaimana pemikiran pendidikan John Dewey? 2. Bagaimana pemikiran pendidikan Al-Ghazali? BAB II PEMBAHASAN A. Pemikiran Pendidikan John Dewey 1. Riwayat Hidup John Dewey Ia dilahirkan di Burlington Amerika pada tanggal 20 Oktober tahun 1859 M, dan meninggal 1 Juni 1952 M, di New York. Sesudah mendapat diploma ujian kandidat, ia 2 tahun menjadi guru (1879). Tiga tahun kemudian ia menjadi mahasiswa lagi dan mendapat gelar doctor dalam filsafat (1884). Ia diangkat menjadi dosen lalu asisten professor dan kemudian professor di Michingan. Sebagai professor dalam filsafat di Chicago, ia memimpin juga dibidang Pedagogik dan mendirikan suatu sekolah percobaan untuk menguji dan mempraktekkan teorinya. Sepuluh tahun ia bekerja keras pada universitas ini dan mengumpulkan serta mendidik orang-orang yang akan meneruskan cita-citanya.Pada tahun 1904 sampai 1931 ia bekerja pada Universitas Columbia di New York, disamping memberikan kuliah filsafat ia juga sering di undang oleh berbagai negara untuk memberikan kuliah, seperti : Jepang, China, Turki, Mexico, Rusia, dan Inggris. Dan pada usianya yang ke-93 ia meninggal dunia pada tahun 1952. 2. Aliran John Dewey Pemikiran John Dewey banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin (1809-1882) yang mengajarkan bahwa hidup di dunia ini merupakan suatu proses, dimulai dari tingkatan terendah dan berkembang maju dan meningkat. Hidup tidak statis, melainkan bersifat dinamis. All is in the making, semuanya dalam perkembangan. Pandangan Dewey mencerminkan teori evolusi dan kepercayaannya pada kapasitas manusia dalam kemajuan moral dan lingkungan masyarakat, khususnya melalui pendidikan. Menurut Dewey, dunia ini penciptaannya belum selesai. Segala sesuatu berubah, tumbuh, berkembang, tidak ada batas, tidak statis, dan tidak ada finalnya. Bahkan, hukum moral pun berubah, berkembang menjadi sempurna. Tidak ada batasan hukum moral dan tidak ada prinsip-prinsip abadi, baik tingkah laku maupun pengetahuan. Pengalaman (experience) adalah salah satu kunci dalam filsafat instrumentalisme. Pengalaman merupakan keseluruhan aktivitas manusia yang mencakup segala proses yang saling mempengaruhi antara organisme yang hidup dalam lingkungan sosial dan fisik. Filsafat instrumentalisme Dewey dibangun berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan bergerak kembali menuju pengalaman . Untuk menyusun kembali pengalaman-pengalaman tersebut diperlukan pendidikan yang merupakan transformasi yang terawasi dari keadaan tidak menentu ke arah keadaan tertentu. Pandangan Dewey mengenai pendidikan tumbuh bersamaan dengan kerjanya di laboratorium sekolah untuk anak-anak di University of Chicago. Di lembaga ini, Dewey mencoba untuk mengupayakan sekolah sebagai miniatur komunitas yang menggunakan pengalaman-pengalaman sebagai pijakan. Dengan model tersebut, siswa dapat melakukan sesuatu secara bersama-sama dan belajar untuk memantapkan kemampuannya dan keahliannya. Sebagai tokoh pragmatisme, Dewey memberikan kebenaran berdasarkan manfaatnya dalam kehidupan praktis, baik secara individual maupun kolektif. Oleh karenanya, ia berpendapat bahwa tugas filsafat memberikan garis-garis arahan bagi perbuatan. Filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran metafisik yang sama sekali tidak berfaedah. Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan menyelidiki serta mengolah pengalaman tersebut secara aktif dan kritis. Dengan cara demikian, filsafat menurut Dewey dapat menyusun norma-norma dan nilai-nilai. 3. Pemikiran Pendidikan Dalam menghadapi industrialisasi Eropa dan Amerika, Dewey berpendirian bahwa sistem pendidikan sekolah harus diubah. Sains, menurutnya, tidak mesti diperoleh dari buku-buku, melainkan harus diberikan kepada siswa melalui praktek dan tugas-tugas yang berguna. Belajar harus lebih banyak difokuskan melalui tindakan dari pada melalui buku. Dewey percaya terhadap adanya pembagian yang tepat antara teori dan praktek. Hal ini membuat Dewey demikian lekat dengan atribut learning by doing. Yang dimaksud di sini bukan berarti ia menyeru anti intelektual, tetapi untuk mengambil kelebihan fakta bahwa manusia harus aktif, penuh minat dan siap mengadakan eksplorasi. Dalam masyarakat industri, sekolah harus merupakan miniatur lokakarya dan miniatur komunitas. Belajar haruslah dititiktekankan pada praktek dan trial and error. Akhirnya, pendidikan harus disusun kembali bukan hanya sebagai persiapan menuju kedewasaan, tetapi pendidikan sebagai kelanjutan pertumbuhan pikiran dan kelanjutan penerang hidup. Sekolah hanya dapat memberikan kita alat pertumbuhan mental, sedangkan pendidikan yang sebenarnya adalah saat kita telah meninggalkan bangku sekolah, dan tidak ada alasan mengapa pendidikan harus berhenti sebelum kematian menjemput. Tujuan pendidikan adalah efisiensi sosial dengan cara memberikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi pemenuhan kepentingan dan kesejahteraan bersama secara bebas dan maksimal. Tata susunan masyarakat yang dapat menampung individu yang memiliki efisiensi di atas adalah sistem demokrasi yang didasarkan atas kebebasan, asas saling menghormati kepentingan bersama, dan asas ini merupakan sarana kontrol sosial. Mengenai konsep demokrasi dalam pendidikan, Dewey berpendapat bahwa dalam proses belajar siswa harus diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat. Siswa harus aktif dan tidak hanya menerima pengetahuan yang diberikan oleh guru. Begitu pula, guru harus menciptakan suasana agar siswa senantiasa merasa haus akan pengetahuan. Karena pendidikan merupakan proses masyarakat dan banyak terdapat macam masyarakat, maka suatu kriteria untuk kritik dan pembangunan pendidikan mengandung cita-cita utama dan istimewa. Masyarakat yang demikian harus memiliki semacam pendidikan yang memberikan interes perorangan kepada individu dalam hubungan kemasyarakatan dan mempunyai pemikiran yang menjamin perubahan-perubahan sosial. Dasar demokrasi adalah kepercayaan dalam kapasitasnya sebagai manusia. Yakni, kepercayaan dalam kecerdasan manusia dan dalam kekuatan kelompok serta pengalaman bekerja sama. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa semua dapat menumbuhkan dan membangkitkan kemajuan pengetahuan dan kebijaksanaan yang dibutuhkan dalam kegiatan bersama. Ide kebebasan dalam demokrasi bukan berarti hak bagi individu untuk berbuat sekehendak hatinya. Dasar demokrasi adalah kebebasan pilihan dalam perbuatan (serta pengalaman) yang sangat penting untuk menghasilkan kemerdekaan inteligent. Bentuk-bentuk kebebasan adalah kebebasan dalam berkepercayaan, mengekspresikan pendapat, dan lain-lain. Kebebasan tersebut harus dijamin, sebab tanpa kebebasan setiap individu tidak dapat berkembang. Filsafat tidak dapat dipisahkan dari pendidikan, karena filsafat pendidikan merupakan rumusan secara jelas dan tegas membahas problema kehidupan mental dan moral dalam kaitannya dengan menghadapi tantangan dan kesulitan yang timbul dalam realitas sosial dewasa ini. Problema tersebut jelas memerlukan pemecahan sebagai solusinya. Pikiran dapat dipandang sebagai instrumen yang dapat menyelesaikan problema dan kesulitan tersebut. Di dalam filsafat John Dewey disebutkan adanya experimental continum atau rangkaian kesatuan pengalaman, yaitu proses pendidikan yang semula dari pengalaman menuju ide tentang kebiasaan (habit) dan diri (self) kepada hubungan antara pengetahuan dan kesadaran, dan kembali lagi ke pendidikan sebagai proses sosial. Kesatuan rangkaian pengalaman tersebut memiliki dua aspek penting untuk pendidikan, yaitu hubungan kelanjutan individu dan masyarakat serta hubungan kelanjutan pikiran dan benda. B. Pemikiran Pendidikan Al-Ghazali 1. Biogrfi Bagaimanapun seorang pemikir tidak akan lepas dari konteks dan kondisi sosio-kultural yang melingkupinya. Hasil-hasil pemikirannya pun mempunyai kaitan historis dengan pemikiran yang berkembang sebelumnya. Seorang pemikir juga dipengaruhi oleh alam pikiran yang berkembang di zamannya. Fenomena seperti ini juga terjadi pada al-Ghozali sebagai seorang ilmuan dan pemikir. Kaitan historis pemikiran al-Ghozali dengan pendahulunya diakui sendiri dalam beberapa karyanya, seperti dalam al-Munqidz min al-Dlalal. Untuk mengetahui keterkaitan antara pemikiran al-Ghozali dengan pendahulunya, agaknya perlu kita ketahui juga suasana dan iklim keilmuan sebelum al-Ghozali lahir. Secara umum, kondisi masyarakat Islam abad pertengahan ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan yang cukup pesat disertai dengan gesekan peradaban yang dinamis. Pada masa ini terjadi transformsi ilmu pengetahuan. Dengan maraknya penerjemahan buku-buku non muslim, terutama literatur dari peradaban Yunani. Situasi ini membawa dampak yang luar biasa bagi perkembangan keilmuan umat Islam. Di samping dampak positif di atas, muncul pula perkembangan yang kurang baik. Pada sat itu pola hidup masyarakat cenderung materialistik. Umat Islam semakin mendewakan akal di atas batas kewenangannya. Mereka berkompetisi memperoleh kekayaan dunia, bahkan cenderung bergaya hidup hedonistic. Sehingga tanpa disadari, dimensi ketuhanan (Ilahiyah) perlahan mulai terkikis dan semakin menipis. Bahkan disinyalir, bahwa salah satu penyebab jatuhnya peradaban Islam adalah kecenderungan yang berlebih pada masalah keduniawian. Dengan demikian, masuknya filsafat barat (Yunani) dan paham lain ke dalam Islam, di samping membawa dampak positif bagi terwujudnya peradaban Islam yang kokoh, juga sering berakibat terkontaminasinya nilai Islam yang menekankan keseimbangan antara dua aspek, aspek duniawi dan ukhrowi. Sedangkan di sisi ekonomi, al-Ghozali lahir di tengah masyarakat Islam yang cukup makmur. Hal inilah yang cukup mempengaruhi dunia keilmuan kembali mengalami masa kebangkitan dan berkembang cukup pesat, baik di bidang keagamaan maupun ilmu umum Aliran dan kepercayaan membuat perkembangan ilmu pengetahuan berjalan secara paralel sebagai wujud dari tingginya tingkat budaya masyarakat yang plural. Di sisi politik, eskalasi konflik yang cukup tinggi ini juga terjadi di dunia politik praktis. Pada waktu itu (abad ke-11 M) Dinasti Abbasiyah sedang mengalami kebingungan spiritual dan kekacauan politik. Tiga tahun sebelum al-Ghozali lahir, Baghdad-Ibukota Dinasti Abbasiyah- berhasil didominasi Bani Saljuk (keturunan turki) setelah lebih satu abad dikuasai oleh Bani Buhaiwiyah yang berhaluan Syi’ah. Perang ideologi mencapai puncaknya ketika Perdana Mentri Bani Saljuk, Nidzam al-Mulk membuat lembaga pendidikan yang dijadikan instrumen untuk memperkuat basis ideologi kaum Sunni. Pada sat inilah beliau meminta al-Ghozali untuk menjadi guru besar di Madrsah Nidzamiyah yang baru saja ia dirikan. Sebagaimana diketahui bahwa pendirian madrasah Nidzamiyah salah satunya juga karena mempertahankan ortodoksi Sunni. Jadi, al-Ghozali sangat intens berhubungan dengan pemerintahan Bani Saljuk. Keduanya bertemu dalam aliran yang sama, yaitu Sunny 2. Sejarah Hidup Al-Ghozali Nama lengkapnya ialah Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad al-Ghozali, mendapat gelar Hujjatul Islam. Ia lahir tahun 450 M. di Thus, suatu kota kecil di Khurasan (Iran). Nama al-Ghozali kadang-kadang di ucapkan al-Ghozzali (dua z). Kata ini berasal dari ghazzal, artinya tukang pintal benang, karena pekerjaan ayah Ghozali adalah memintal benang wol, sedangkan al-Ghozali dengan satu z, diambil dari kata ghazalah, nama kampung kelahiran al-Ghozali. yang terakhir ini inilah yang banyak dipakai. Pada masa kecilnya ia mencari Ilmu Fiqh di negerinya sendiri pada Syekh Ahmad bin Muhammad Ar Rasikani, kemudian belajar pada Imam Abi Nasar al-Ismaili di Negeri Jurjan. Setelah mempelajari beberapa ilmu di Negerinya, maka ia berangkat ke Nishabur dan belajar pada Imam al-Haromain. Di sinilah ia mulai kelihatan tanda-tanda ketajaman otaknya yang luar biasa dan dapat menguasai beberapa ilmu pengetahuan pokok pada masa itu seperti ilmu mantik (Logika), falasafah dan Fiqh Madzhab Syafi’i. Karena kecerdasannya itulah Imam al-Haromain mengatakan bahwa al-Ghozali itu adalah “ Lautan tak bertepi … ”. Setelah Imam al-Haromain wafat, al-Ghozali pergi ke al-Ashar untuk berkunjung kepada menteri Nizam Al Muluk dari Pemerintahan Dinasti Saljuk di Kota Mu’askam. Ia disambut dengan penuh penghormatan sebagai seorang Ulama’ besar. Kemudian dipertemukan dengan para Alim Ulama’ dan para Ilmuan. Semuanya mengakui akan ketinggian ilmu yang dimiliki al-Ghozali. Menteri Nizam al-Muluk akhirnya melantik al-Ghozali pada tahun 484 H. / 1091 M. sebagai Guru Besar (Profesor) pada Perguruan Tinggi Nidzamiyah yang berada di Kota Bagdad. Al-Ghozali kemudian mengajar di Perguruan Tinggi selama empat tahun. Ia mendapat perhatian yang serius dari para mahasiswa, baik yang datang dari dekat atau dari tepat yang jauh sampai ia menjauhkan diri dari keramaian. Pekerjaan itu dilaksanakannya dengan sangat berhasil. Selama di Bagdad, selain mengajar, ia juga memberikan bantahan-bantahan terhadap pikiran-pikiran golongan bathiniyah, islamiyah, golongan filasafat dan lain -lain. Pada tahun 488 H al-Ghozali pergi ke Mekkah untuk menunaikan kewajiban Rukun Islam yang ke lima. Setelah selesai mengerjakan haji, ia terus pergi ke Syria (Syam) untuk mengunjungi Baitul Maqdis, kemudian melanjutkan perjalannya ke Damaskus dan menetap untuk beberapa lama. Di sini beribadat di masjid Al-Umawi pada suatu sudut hingga terkenal sampai sekarang dengan nama Al-Ghozaliyah. pada saat itulah ia sangat terkenal yaitu Ihya Ulmuddin. al-Ghozali tinggal di Damaskus itu kurang lebih selama 10 tahun, dimana ia hidup dengan amat sederhana, berpakaian seadanya, menyedikitkan makan minum dan mengunjungi masjid-masjid. Setelah penulisan Ihya Ulum al-Din selesai, beliau kembali ke Baghdad, kemudian mengadakan majelis pengajaran dan menerangkan isi dan maksud dari kitabnya itu. Tetapi karena ada desakan dari penguasa yaitu Muhammad penguasa waktu itu. Al Ghozali diminta kembali ke Naisabur dan mengajar di Perguruan Nizamiyah. pekerjakaan ini hanya berlangsung dua tahun. untuk akhirnya kembali ke kampung asalnya, Thus. Di kampungnya al-Ghozali mendirikan sebuah sekolah yang berada di samping rumahnya, untuk belajar para Fuqaha dan para Mutashawwifin (Ahli Tasawuf). Beliau membagi waktunya guna membaca al-Qur’an, mengadakan pertemuan dengan para Fuqaha dan Ahli Tasawuf, memberikan pelajaran bagi orang yang ingin mengembilnya dan memperbanyak ibadah (sholat). Di kota Thus inilah beliau akhirnya meninggal pada hari senin tanggal 14 Jumadil akhir 505 H./ 1111 M. Sesaat sebelum meninggal beliau sempat mengucapkan kata-kata yang juga diucapkan oleh Francis Bacon, filosuf Inggris, yaitu: “Ku takkan arwahku di hadapan Allah dan tanamkanlah jasadku di lipat bumi yang sunyi senyap. Namaku akan bangkit kembali menjadi sebutan dan buah bibir umat manusia di masa yang akan datang”. 3. Pokok Pikiran Al-Ghozali Tentang Pendidikan a. Hakikat dan Tujuan Pendidikan Islam Yang dimaksud dengan tujuan pendidikan adalah target yang ingin dicapai suatu proses pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan dapat mempengaruhi performance manusia. Tujuan pendidikan mencakup tiga aspek, yaitu aspek kognitif yang meliputi pembinaan nalar, seperti kecerdasan, kepandaian dan daya pikir; aspek afektif, yang meliputi pembinaan hati, seperti pengembangan rasa, kalbu dan rohani; dan aspek psikomotorik, yaitu pembinaan jasmani, seperti kesehatan badan dan keterampilan. Al-Ghozali mempunyai pandangan berbeda dengan kebanyakan ahli filsafat pendidikan Islam mengenai tujuan pendidikan. Beliau menekankan tugas pendidikan adalah mengarah pada realisasi tujuan keagamaan dan akhlaq, dimana fadlilah (keutamaan) dan taqorrub kepada Allah merupakan tujuan yang paling penting dalam pendidikan. Sesuai penegasan beliau: “Manakala seorang ayah menjaga anaknya dari siksaan dunia, hendaknya ia menjaganya dari siksaan api neraka/akhirat, dengan cara medidik dan melatihnya serta mengajarnya dengan keutamaan akhirat, karena akhlaq yang baik merupakan sifat Rasulullah SAW dan sebaik-baik amal perbuatan orang-orang yang jujur, terpercaya,dan merupakan realisasi dari buahnya ketekunan orang yang dekat dengan Allah.” Selanjutnya beliau mengatakan, ”Wajiblah bagi seorang guru untuk mengarahkan murid kepada tujuan mempelajari ilmu, yaitu taqorrub kepada Allah bukannya mengarah kepada pimpinan dan kemegahan.” Sebab-sebab yang mendorong al-Ghozali sangat memperhatikan tujuan keagaman adalah karena pada waktu itu kerusakan akhlaq orang telah banyak dan merajalelayang ditimbulkan oleh gerakan keagamaan yang merusak seperti gerakan keagamaan yang dipimpin oleh Hasan bin Shabah .Al-Ghozali secara eksplisit menempatkan dua hal penting sebagai orientasi pendidikan. Pertama, mencapai kesempurnaan manusia untuk secara kualitatif mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kedua, mencapai kesempurnaan manusia untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Menurut al-Ghozali, kebahagiaan dunia akhirat merupakan sesuatu yang paling esensi bagi manusia. Kebahagiaan dunia dan akhirat memiliki nilai universal, abadi dan lebih hakiki. Sehingga pada akhirnya orientasi kedua akan sinergis bahkan menyatu dengan orientasi pertama. Konsepsi al-Ghozali ini menarik jika dikaitkan dengan konsepsi pendidikan mutakhir. Al-Ghozali merumuskan orientasi pendidikan secara makro dan berupaya menghindar dari problematika yang bersifat situasional. Sehingga konsepsi al-Ghozali tersebut dapat dikatakan sebagai ujung orientasi yang dapat dijabarkan ke dalam orientasi-orientasi yang lebih spesifik, yakni orientasi (intruksional) umum dan orientasi khusus. Sedangkan sarana pokok untuk mencapai tujuan pendidikan menurut al-Ghozali adalah berupa materi pendidikan. Artinya, anak didik harus disiapkan seperangkat materi (kurikulum) yang siap untuk dipelajari. Di samping itu pendidik juga harus mempunyai metode pengajaran yang dapat mendukung proses belajar secara baik. Pandangan beliau tentang tujuan dan hakikat pendidikan ini sebenarnya mendapat pengaruh yang luar biasa dari falsafah tasawwufnya. Beliau membagi jenis-jenis ilmu pengetahuan dan menerangkan nilai ilmiah serta kemanfatannya bagi murid. Beliau telah menyusun ilmu-ilmu itu menurut kepantingan dan kemanfaatan ilmiahnya. Beliau juga menjelaskan prinsip-prinsip yang harus dipegang oleh guru. Al-Ghozali berpendirian bahwa tujuan pendidikan bagi beliau adalah bersifat keagamaan dan keakhlakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan sekaligus untuk mendapatkan ridhonya, karena agama merupakan sistem kehidupan yang menitikberatkan pada pengalaman. Beliau menyatakan, “……maka barang siapa mengajarkan ilmu dan mengamalkan apa yang diajarkan, maka ia mendapatkan kebesaran di dalam cakrawala langit seperti kebesaran matahari menyinari benda-benda lainnya, ia menerangi jiwanya sendiri, atau bagaikan minyak kasturi yang semerbak bau harumnya (maka ia menjadi harum).” Yang dimaksud pengalaman adalah pengalaman pengalaman terhadap amal akhirat, dan beliau juga menjelaskan bahwa ilmu itu adalah fadlilah (keutamaan) dalam dzatnya secara mutlak. Maka sebenarnya sudah jelas bahwa pandangan beliau menunjukkan bahwa ilmu itu secara intrinsik mempunyai tujuan yaitu memberikan kebahagiaan dunia akhirat. Dari pandangan beliau inilah kita dapat mengatakan bahwa al-Ghozali selalu mementingkan amaliah dari ilmu, maka tidak heran jika beliau mendapat gelar “Hujjatul Islam” yang dalam hatinya bersinar petunjuk Allah. b. Etika Belajar dan Mengajar Al-Ghozali sangat menyetujui tentang pentingnya aspek keagamaan dalam pendidikan, tapi tidak mengabaikan aspek amaliah meskipun beliau tidak terlalu memusatkan perhatiannya pada aspek ini. Beliau menganjurkan agar pendidikan dilandasi dengan agama dan akhlaq. Itulah sebabnya beliau berpandangan bahwa teknik mengajar merupakan pekerjaan yang paling utama yang harus diikuti setiap orang. Pandangan demikian didasarkan atas dalil ‘aqli dan naqli. Dasar dalil naqli al-Ghozali ialah hadits yang menceritakan bahwa Rosulullah SAW pada suatu hari melihat dua majelis yang salah satunya terdiri dari kelompok orang yang berdoa kepada Allah SWT dan mencintai-Nya; dan sekelompok lainnya sedang mengajar orang banyak. Rosulullah bersabda, “Mereka yang berdoa kepada Allah SWT, bila Allah menghendaki, maka Dia akan mengabulkannya, atau jika menghendaki, Allah akan menolaknya. Orang-orang yang mengajar orang banyak, maka akupun diutus menjadi guru, lalu beliau menggabungkan diri dan duduk bersama mereka.” Hadits lainnya mengatakan bahwa Rosulullah SAW bersabda: Orang-orang yang menjadi penggantiku akan mendapat rahmat Allah. Lalu ditanyakan; Wahai Rosulullah, siapakah pengganti-pengganti engkau. Maka beliau menjawab: Orang-orang yang mencintai sunnahku dan mengajarkannya semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dalil ‘aqli dari pandangan beliau ialah pernyataan beliau bahwa Sesungguhnya sebaik-baiknya pekerjaan ialah yang sesuai dengan tempatnya, seperti halnya pertukangan kemasan lebih tinggi daripada penyamak kulit; karena yang pertama adalah emas dan tempat kedua adalah kulit bangkai (binatang), maka itu pekerjaan mengajar itu adalah kegiatan yang paling dibutuhkan dan paling sempurna peranannya. Karena itu seorang guru adalah orang yang paling banyak mengurusi hati dan jiwa manusia, paling mulia dalam hatinya. Sedangkan pekerjaan guru adalah menyempurnakan dan menyucikan hati itu dan serta membimbingnya ke arah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Maka dari itulah pekerjaan mengajar ilmu itu merupakan ibadah kepada Allah dan tugas kekholifahan Allah. Guru yang mengajar adalah menjalankan tugas kekhalifahan Allah. Sesungguhnya Allah membuka hati orang yang berilmu yang menjadikan dirinya memiliki sifat istimewa bagaikan harta kekayaan yang terdapat di dalam hasanah jiwanya. Dengan demikian sudah jelas sebenarnya beliau menempatkan pekerjaan mengajar itu pada tempat yang paling tinggi, karena pekerjaan ini merupakan paling mulia dan pekerjaan yang paling mendekati pekerjaan Rosulullah serta pekerjan bagi orang yang sholeh-sholeh. Oleh karena itu al-Ghozali menyebut guru sebagai penunjuk jalan yang terpercaya (Rasyid al-Amin). Sebagai konsekwensi logis atas posisi strategis pendidik di tengah komunitas masyarakat, maka al-Ghozali memberikan batasan-batasan ketat bagi profesi pendidik sebagai prasyarat yang harus dipenuhi, karena bagaimanapun semua orang yakin bahwa pendidik memiliki andil yang cukup besar terhadap keberhasilan pembelajaran. Tentunya keyakinan ini muncul karena manusia adalah makhluq yang lemah, dan dalam perkembangannya senantiasa membutuhkan orang lain, sejak lahir bahkan hingga saat meninggal. Di samping itu manusia adalah makhluq Allah yang paling sempurna yang dijadikan kholifah di muka bumi ini. Pertama; pendidik harus mempunyai sifat kasih sayang terhadap anak didik serta mampu memperlakukan mereka sebagai mana anak mereka sendiri. Sifat kasih sayang pendidik pada akhirnya akan melahirkan keakraban, percaya diri dan ketentraman belajar. Suasana yang kondusif inilah yang masih mempermudah proses transformasi dan transfer imu pengetahuan. Kedua, pendidik melakukan atifitas karena Allah SWT. Artinya, pendidik tidak melakukan komersialisasi dunia pendidikan. Dunia pendidikan adalah sarana transfer ilmu pengetahuan yang merupakan kewajiban setiap orang yang berilmu. Ketiga, pendidik harus memberi nasehat yang baik kepada anak didik.nasehat ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Seperti, pendidik harus mengarahkan murid dalam tahapan-tahapan belajar. Nasehat itu biasa berupa warning orientasi belajar, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kempat, pendidik harus mampu mengarahkan anak didik kepada hal-hal yang positif dan mencegah mereka melakukan aktifitas yang destruktif. Segala bentuk nasehat ini dilakukan dengan cara yang halus dan tidak melukai perasaan.hal untuk menjaga kestabilan emosi mereka dalm kerangka proses belajar. Hal ini menjadi penting karena berkaitan dengan pengalaman anak. Kelima, mengenali tingkat nalar dan intelektualitas anak didik. Hal ini diperlukan sebagai acuan untuk menentukan kadar ilmu pengetahuan yang akan diperlukan.pendidik harus memahami perbedaan individu anak didi, sehingga dapat di identifikasi kemampuan khususnya.dalam konteks ini pendidik dituntut untuk berkomukasi dengan “bahasa” mereka agar proses belajar dapat berjalan dengan baik dan tepat sasaran. Keenam, pendidik harus mempu menumbuhkan kegairahan murid terhadap ilmu yang dipelajarinya tanpa menimbulkan sikap apriori terhadapa disiplin ilmu yang lain. Hal ini diperlukan untuk menghindarkan anak didik terjebak pada sikap fanatik terhadapap suatu disiplin ilmu dan melalaikan yang lain. Ketujuh, pendidik harus mempu mengidentifikasi kelompok anak didik usia dini dan secara khusus memberi materi ilmu pengetahuan sesuai dengan perkembangan kejiwaan. Kelompok usia dini ini lebih tepat diberi ilmu praktis, tanpa argumentasi yang “berat” dan melelahkan. Kedelapan, pendidik harus mempu memberikan teladan kepada anak didiknya. Perilaku harus sesuai dengan kapasiatas keilmuan. Di samping pendidik, al-Ghozali juga berpandangan bahwa unsur terpenting dalam pendidikan adalah anak didik. Secanggih apapun metode yang digunkan, jika tidak didukung oleh kondisi terbaik anak didik maka proses pendidikan itu tidak berhasil anak didik dalam proses pendidikan ditempatkan sebagai obyek sekaligus subyek. Kondisi anak didik sangat menentukan suksesnya proses pendidikan. Untuk mendukung anak didik agar mencapai kondisi ideal, al-Ghozali memiki sepuluh kriteria yang harus di upayakan oleh anak didik. Pertama, sebelum memulai proses belajar, anak didik harus terlebih dahulu menyucikan jiwa dari perangai buruk dan sifat tercela. Belajar bermakna ibadah yang berorientasi mendekatkan diri kepada Allah SWT. Belajar tidak ubahnya sholat yang menuntut kesucian lahir batin. Kedua, semampu mungkin anak didik harus menjauhkan diri dari ketergantungan terhadap dunia. Fokus terhadap persoalan dunia akan menggangu konsentrasi anak didik terhadap ilmu yang dipelajarinya. Ketiga, anak didik harus bersikap rendah hati, memperhatikan intruksi dan arahan pendidik, dan mampu mengontrol emosinya. Keempat, anak didik harus menghindarkan diri dari suasana perdebatan yang membingungkan. Anak didik juga perlu memfokuskan dri pada bidang yang telah diarahkan oleh pendidknya sebelum mepelajari pendapat lain. Kelima, anak didik harus mempunyai semangat mempelajari semua ilmu pengetahuan yang layak dipelajari (al-‘Ulum al-Mahmudah) sebagai konsekwensi adanya keterkaitan antardisiplin ilmu pengetahuan. Keenam, anak didik harus belajar gradual.Ia perlu menentukan skala prioritas ilmu pengetahuan dengan acuan kepada manfaatnya, dalam hal ini adalah ilmu agama. Ketujuh, anak didik harus memahami hinarki ilmu pengetahuan. Sebab ada tahapan alami dalam ilmu pengetahuan, yang karenanya mempelajari suatu cabang ilmu akan mengantarkan pada cabang ilmu yang lain. Untuk itu, anak didik harus memahami hakikat-hakikat ilmu dengan menutup mata akan danya perselisihan atau keselahan orng yang menekuninya. Kedelapan, anak didik harus memahami nilai ilmu pengetahuan yang dipelajari dan menentukan mana yang lebih utama dari yang lain. Kesembilan, anak didik memmpunyai orientasi atas pendidikannya;tujuan jangka pendek, yaitu meperbaiki dan membersihkan jiwanya;sedangkan orientasi jangka panjang adalah mendekatkan diri pada Allah SWT dan berusaha menaikan derajatnya setara dengan malaikat. Kesepuluh, anak didik harus hati-hati dalam memilih sosok pendidik demi kelangsungan proses belajar yang positif. Memahami uraian al-Ghozali dapat dipahami bahwa dalam dunia pendidikan aspek-aspek positif dan psikomotorik perlu mendapatkan perhatian.sebaliknya al-ghozali menempatkan aspek kognitif. dalam prioritas kedua.pertimbangannya; jika anak kecil sudah terbiasa melakukan hal ynag positif maka dimas berikutnya akan lebih mudah berkepribadian saleh.kemudia secara otomatis pengetahuan yang bersifat kognitf akan mudah diperoleh. BAB III ANALISIS A. Kekuatan 1. Pendidikan partisipatif memberikan keterlibatan siswa aktif. 2. Kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. B. Peluang 1. Memudahkan tercapainyan cita-cita peserta didik 2. Masyarkat akan merasa puas karena kurikulum sesuai dengan keinginan dan cita-cita. C. Kelemahan 1. Sulit ditemukan guru yang bisa mendidik anak untuk sesuai dengan cita-citanya 2. Peserta didik pada umumnya telah jenuh akan kurikulum yang berta yang diluar kemampuan mereka.. D. Ancaman 1. Banyak anak yang salah memilih pelajaran dan tidak memiliki keterampilan. E. Memakai Kekuatan Untuk memanfaatkan Peluang 1. Dengan terlibatnya peran siswa maka akan memudahkan tercapainya cita-cita peserta didik. 2. Kurikulum yang seseuai akan memudahkan tercapainya tujuan pembelajaran. F. Tanggulangi Kelemahan Memanfaatkan Peluang 1. Kurikulum yang sesuai akan memudahkan peserta didik menggaapai cita-cita G. Pakai Kekuatan Untuk Menghindari Ancaman 1. Guru harus bias menyesuaikan dan mengerti akan kebutuhan peserta didik DAFTAR PUSTAKA Ensiklopedi Islam, Opcit:26 Ali Al Jumbulati dan Abdul Futuh Musthofa, Filsafat Islam, Bandung, Pustaka Setia, 2004:216 Asrorun Ni’am Sholeh, Reorientasi Pendidikan Islam, opcit: 43 Muhammad al-Baqir, Ilmu Dalam Pemahaman Kaum Suf,i Mulyasa,Menjadi Guru Profesional, Bandung, Rosdakarya , 2008: 35 Marno, Islam Management and Leadership, Jakarta, Lintas Pustaka, 2007: 139 http//www.wikipedia.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

al hamdu lillah