ASSALAMU ALAIKUM

SELAMAT DATANG DI IQBAL'S BLOG

Kamis, 08 April 2010

Peranan Soft Skills Dalam Pembentukan Karakter Anak Bangsa

Peranan Soft Skills Dalam Pembentukan Karakter Anak Bangsa

’Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China’.
Oleh Elfindri, Koordinator Kopertis X

Untuk Apa Memahami Ranah Pendidikan?

Bagi pembaca yang baik, ternyata banyak dimensi-dimensi pendidikan yang mesti kita pelajari. Sekalipun manusia adalah juga memiliki keterbatasan, maka tidaklah benar ketika kita menganggap proses pendidikan yang dijalani cukup hanya sekedar untuk mengecap ’jenjang’ pendidikan tertentu; katakan pendidikan dasar saja, atau pendidikan menengah, atau bahkan jenjang yang lebih tinggi dari itu. Tidak saja menemukan tempat pendidikan keterampilan, atau pendidikan umum saja.
Setelah dipelajari ternyata ’ranah’ pendidikan itu cukup banyak dan kompleks. Manusia memang tidak bisa jadi super semuanya. Orang yang berilmu, ada keterbatasan keterampilan, dan juga ada keterbatasan dari soft skills nya.
Agar tidak memiliki kekeliruan, maka hasil dari pendidikan akan tercermin nantinya dari seberapa baik dan intents manusia memperoleh berbagai ranah yang ada.
Tanpa kita menyadai akan arti penting setiap ranah yang dipelajari dan diajarkan, maka kita menjadi ’katak di bawah tempurung’.
Apakah hanya ilmu saja yang diperlukan?
Apakah keterampilan saja yang diperlukan?
Demikian juga apakah soft skills saja yang dipelukan? Manusia secara holistik mesti melihat dimensi ini secara sempurna.
Pemenang hadiah nobel adalah mereka yang menghasilkan ranah keilmuan yang tinggi dan mengkonfirmasi apa yang telah terkandung di dalam Al-Quran dan kitab suci lainnya. Sadar atau tidak. Keterampilan yang tinggi, misalnya adalah wirausahawan sukses merupakan sebuah pemanfaatan dari ranah keterampilan yang mereka manfaatkan dalam mengisi kehidupan. Para ahli soft skills juga kelak akan menjadi bermakna ketika keseluruhannya pernah diterima dalam proses pendidikan manusia.
Oleh karenanya mesti kita pahami satu persatu secara utuh.

Pendidikan Sebagai Nutrisi Organ Tubuh

Bayangkan kita lahir adalah merupakan makhluk yang paling sempurna. Bahkan kita lebih sempurna daripada hewan, iblis, hantu, malaikat sekalipun dari segala makhluk hidup lainnya. Kita punya kepala, dan di dalamnya ada otak. Salah satu nutrisi otak adalah ilmu, disamping berbagai zat dalam gizi. Oleh karenanya perlu ada cara memperoleh ilmu yang baik dan efisien agar otak semakin hebat fungsinya.
Kita punya mata. Bola mata yang diaktifkan untuk melihat seizinNya merupakan alat untuk melihat kata-kata, data dan fakta. Kumpulan dan akumulasi penglihatan akan menyebabkan pembaharuan-pembaharuan hasil penglihatan. Mulai dari lahir sampai dewasa. Kemudian penglihatan itu diserap oleh otak. Setelah otak mengolah sampai kepada hati untuk menentukan sikap.







Kita punya telinga yang ditujukan untuk menerima pendengaran. Segala yang disampaikan orang lain, mulai dari yang buruk sampai yang baik. Namun telinga yang indah juga memerlukan keterampilan dalam mendengar agar lebih tepat dan sampai dengan baik. Kalau seorang tuli, maka menjadi tidak masalah karena kodratnya demikian. Sebaliknya, ketika kita dihadiahi telinga yang sempurna, maka dia dititipkan untuk mendengar penyampaian. Ada yang tidak masuk, alias informasi yang diterima tidak tertangkap. Ada informasi yang lewat saja, masuk ke telinga kiri kemudian keluar dari yang sebelah kanannya. Sementara yang langka adalah informasi yang baik diterima dan diolah menjadi sebuah keputusan. Antara informasi sampai kepada keputusan diperlukan proses internalisasi pendidikan dalam diri.
Singkatnya otak yang dikaruniai oleh Allah untuk manusia akan berada secara sia-sia ketika kehadirannya tidak diisi dengan proses pendidikan yang sempurna. Meninggikan kehadiran otak adalah merupakan rasa syukur kita akan hadiah dari Sang Pencipta. Oleh karenanya rasa syukur itu diwujudkan dengan mengoptimalkan bagaimana pendidikan dapat menumbuhkan dan mengaktifkan fungsi organ otak. Pendidikan yang baik akan menyebabkan brand mind yang juga dahsyat hasilnya.
Berikut ini didiskusikan apa saja yang diperoleh dari mengikuti pendidikan? Di dalam khasanah pedagogik, maka ranah pendidikan sering diklasifikasikan ke dalam 3 hal, menurut klasifikasi Bloom yakni:
1. Ranah Kognitif; 2. Ranah Psikomotorik, dan
3. Ranah Afektif.
Dapat disimpulkan bahwa kita terjebak hanya mengetahui bahwa ranah ilmu kognitif, keterampilan psikomotorik dan sikap afektif, lebih dilihat dalam konteks tiga kepentingan ’duniawi’ saja .


APA YANG DIHASILKAN SETIAP RANAH PENDIDIKAN?

Di dalam ranah Kognitif, unsur yang dihasilkan melalui pendidikan adalah meningkatnya pemahaman keilmuan, sesuai dengan bidang yang dipelajari. Isinya di dalam kognitif itu adalah pengungkapan dasar-dasar, terminologi, metodologi, dan teori, serta diskusi.

Di dalam ranah Psikomotorik, secara awam pendidikan akan memperoleh keterampilan individual. Memadukan keilmuan dengan pemecahan persoalan sesuai dengan keperluan lingkungan. Sehingga mampu menghasilkan bentuk karya dan tindakan.

Sementara pada Ranah afektif/sikap pendidikan akan ’mengembalikan’ sikap peserta didik pada arah yang lebih objektif. Kenapa mengembalikan?. Manusia dilahirkan dengan sesempurnanya.


Tabel 1: Usaha Penyepadanan Persyaratan Kerja,
Kompetensi dan Kurikulum

PERSYARATAN
KERJA UNESCO KURIKULUM INTI DAN INSTITUSI
1. Penguasaan Pengetahuan dan Keterampilan
1.1.Analisis dan sintesis
1.2.Menguasai IT
3. Managed ambiguity
4. Komunikasi
5. Bahasa ke 2 Learning to Know


Learning to Do Mata kuliah Keilmuan dan Keterampilan


Mata kuliah Keahlian Berkarya
2. Attitude
2.1.Kepemimpinan
2.2.Teamworking
2.3.Can work crossculturally
Learning to be Mata kuliah berperilaku berkarya
3. Pengenalan sifat pekerjaan terkait
3.1. Terlatih dalam etika kerja
3.2.Memahami makna globalisasi
3.3. Fleksibel terhadap pilihan pekerjaan Learning to live together Mata kuliah berkehidupan bersama

Mata kuliah pengembangan kepribadian

Sumber: Departmen Pendidikan Nasional Direktorat Pendidikan Tinggi, ’Buku Panduan: Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Tinggi, (2008: hal 20.)

Sekiranya hanya itu yang kita pahami sebagai sebuah pembenaran, maka sebaiknya kita refisi cara pandang itu. Dimana unsur afektif, atau mini soft skills, mesti lebih luas dari tidak saja sekedar persoalan komunikasi, kerja keras, dan nilai-nilai universal saja. Namun mesti pula dilengkapi dengan hubungan ketaatan individu dengan Sang Pencipta. Dimana dimensi ini tidak dibicarakan dalam Teori Barat sebelumnya.
Lihat Kotak 1, sebagai bahan perbandingan antara persyaratan kerja, UNESCO dan kurikulum inti dan institusional.


Ranah Intelektualitas, kognitif
‘Bayi mirip sebuah botol kosong, semakin besar bayi mesti botolnya diisi sampai penuh. Proses mengisi botol mesti dengan cara yang baik pula’

Ilmu jelas dapat diperoleh melalui buku, literatur, hadist dan Al-Quran, beserta kitab yang diyakini. Kemudian diajarkan oleh guru/dosen, melalui penyampaian dan membaca sumber-sumber yang menyebabkan pendalaman terjadi.
Semakin berilmu, maka semakin luas pandangan kita. Kemudian ilmu yang luas akan menjadikan kita mudah dan secara sistematis dalam memecahkan persoalan yang kita hadapi sehari-hari. Semakin berilmu akan menyebabkan kita mengoptimalkan akal, karena akal kita akan semakin sehat. Akal yang berilmu diharapkan akan menyebabkan kita semakin kreatif .
Oleh karenanya menyehatkan akal dilakukan melalui ilmu. Proses menuntut ilmu adalah untuk mencapai kesehatan akal dan otak. Pada tahap ini proses memperolehnya belajar, membaca, dan menulis. Sesuatu yang tidak terlalu sulit untuk dikerjakan. Namun membutuhkan keuletan dan ketabahan menjalankannya. Bagaimanakah proses memperoleh ilmu yang baik? Melalui pendidikan formal dan melalui jalur non pendidikan. Ketika melalui jalur pendidikan, dapat mengikutinya dari desain kurikulum yang disampaikan oleh pendidik. Dengan berbagai cara, maka ilmu akan diperoleh dan kemudian semakin mendalam dan semakin tinggi.
Sampai seberapa jauh kita menuntut ilmu, dan sampai seberapa pula keterkaitannya ilmu itu dapat menuntun kita dalam hidup. Para filosof bahkan menyatakan menuntut ilmu itu merupakan proses membuat seseorang untuk mudah mengenal nilai-nilai universal . Dengan ilmu akan semakin mudah pula seseorang untuk bersikap objektif dalam memahami sebuah persoalan. Dengan demikian ilmu membuat objektifitas semakin tinggi. Orang berilmu kemudian akan memiliki keterampilan akal, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.
Suatu ketika semakin tinggi ilmu seseorang akan berkorelasi dengan semakin tinggi pula derajat persoalan yang dapat dipecahkan. Kompleksitas keduniawian yang tinggi dapat disistematiskan melalui ilmu.
Yang ruwet menjadi mudah. Begitulah yang diharapkan dari suatu ilmu. Oleh karenanya, orang yang berilmu tinggi tidak selalu berkaitan lansung dengan pekerjaannya. Kecuali pada bidang-bidang yang lebih terspesialisasi. Ilmu jadinya menjadi mempermudah orang mengambil keputusan dibidangnya.

Ranah Keterampilan Psikomotorik
Keterampilan juga penting, karena orang berilmu belum tentu memiliki keterampilan bekerja. Bahkan ada filusuf yang pernah menyatakan “jika anda bertahan di dunia, maka keterampilanlah yang akan membantu anda”. Oleh karenanya, seseorang mesti memiliki keterampilan. Seorang pendidik mesti menguasai keterampilan mengajar dan menulis. Seorang yang menjadi hakim, mesti mampu memiliki keterampilan dalam merecord jalannya persidangan.
Seorang bidang kependidikan mesti memiliki keterampilan dalam proses belajar mengajar. Ketika tidak terampil dalam mengajar, maka anak didik mata ajar yang diajarkan menjadi tidak menarik. Juga, seorang dosen tidak terampil menulis, bagaimana sang dosen akan menyalahkan mahasiswa ketika membimbing tugas akhir mahasiswa. Oleh karenanya keterampilan mengajar adalah bagian dari ranah pendidikan yang mesti diperoleh oleh calon peserta didik dalam bidang pendidikan. Singkat kata ranah pendidikan psikomotorik akan melahirkan mereka yang dapat mandiri. Bahkan banyak yang percaya, bahwa keterampilan akan memudahkan seseorang tidak tergantung kepada orang lain.
Untuk memperoleh keterampilan yang memadai, maka seseorang mesti mengasah keterampilan kerja dari dosen, instruktur atau tutornya. Sering memanfaatkan labor dan perangkat pembantu, agar kelak semakin lama dan terbiasa menjadi terampil.
Berbagai penelitian tentang membangun sumberdaya manusia (human capital) menemukan perbedaan antara keterampilan bahasa hanya dari satu bahasa dan bilingual, bagi masyarakat pre-industrial. Penelitian pada suku asli di Amerika Latin (Godoy, dkk, 2007) memperlihatkan bahwa keterampilan bahasa lebih dari satu bisa meningkatkan penghasilan sekitar 23-38% dari mereka yang hanya terampil satu bahasa.
Penelitian Tyler (2003) menemukan bahwa mereka yang drop out sekolah yang belum memiliki keterampilan dasar keilmuan lebih baik diberikan pembekalan keterampilan. Hubungan yang terjadi antara lama sekolah dengan penghasilan dijelaskan melalui variable antara pemenuhan keterampilan dasar. Dan kemudian kemampuan dasar mempengaruhi penghasilan.








Selamat Datang Ranah soft skills

Yang menjadi persoalan utama adalah mengisi dimensi emosional, serta segala soft skills yang diperlukan untuk kecakapan hidup seseorang.
Apakah yang dimaksud dengan soft skills? Soft skills merupakan keterampilan dan kacakapan hidup, baik untuk sendiri, berkelompok, atau bermasyarakat, serta dengan Sang Pencipta.
Dengan mempunyai soft skills membuat keberadaan seseorang akan semakin terasa di tengah masyarakat. Keterampilan akan berkomunikasi, keterampilan emosional, keterampilan berbahasa, keterampilan berkelompok, memiliki etika dan moral, santun, dan keterampilan spritual.
Bahkan David McClelland (1961) merumuskan bahwa seorang wirausaha yang baik dan sukses bilamana berani mengambil resiko, tegas, energik, bertanggungjawab, dapat membuat keputusan yang rasional, dapat memprediksi masa depan dan mempunyai kemahiran organisasi. Jelaslah karakter seorang wirausahawan demikian sesuai dengan dimensi soft skills yang diuraikan sebelumnya.
Dalam mempelajari ilmu dan keterampilan, dua dimensi itu bisa secara terpisah atau tidak. Dimana unsur emosional dan soft skills terlihat. Persoalan yang dihadapi selama ini adalah bahwa unsur emosional menjadi sangat terbatas diberikan oleh sistem pendidikan dan metode pembelajaran.
Data dan Fakta
Hasil penelitian psikologi sosial menunjukkan bahwa orang yang sukses di dunia ditentukan oleh peranan ilmu sebesar 18%. Sisanya, 82% dijelaskan oleh keterampilan emosional, soft skill dan sejenisnya.


Ketika seorang calon guru diminta berdiskusi secara berkelompok, selain memperdalam ilmu tentang objek yang dipelajari, calon guru itu juga didorong untuk terbiasa dalam bekerja berkelompok. Maka keterampilan berkelompok yang diasah dalam proses itu. Seorang guru kemudian akan terampil berkomunikasi secara baik kepada koleganya serta pada anak didiknya kelak.
Memperoleh soft skills diperoleh dari guru, dosen, orang tua, nenek, dan sebagainya. Ketika lingkungan kita jarang yang sadar akan pentingnya soft skills, maka kita akan terjebak kepada cara pandang berilmu. Gelar minded sudah mulai tidak mendapatkan tempat bagi pengguna. Bahwa pengguna memerlukan tenaga kerja yang memiliki kompetensi. Sarjana Keteknikan profesional akan dibayar tinggi. Sebaliknya yang tidak kompeten dan kedodoran, akan cepat dikeluarkan dari perusahaan konstruksi dimana dia bekerja. Begitu kebutuhan dunia kerja sekarang.


Melengkapi Ranah Pendidikan

Kami sangat yakin dari berbagai petunjuk riset di bawah ini. Pemutakhiran pemahaman yang dilakukan di perusahaan besar dunia, Mitsubishi, sanggup menemukan bukti yang hampir berdekatan dengan hasil yang dikemukakan sebelumnya. 40% dari karakter utama adalah kematangan emosional dan sosial dari individu yang dijadikan sample. 30% kemudian adalah bagaimana kemampuan dari pekerja untuk sanggup menjalin networking.
Dalam perjalaan waktu, networking adalah salah satu komponen penting lainnya yang mesti juga dibangun dari proses pendidikan. Mengingat manusia tidak akan sanggup hidup secara sendiri-sendiri, lebih-lebih pada saat manusia masuk ke dalam tatanan global.



KOTAK 1. RISET PERANAN SOFT SKILLS

Mitsubishi Riset Institute pada tahun 2000 mempublikasikan hasil kajian tim risetnya yang menyatakan bahwa kesuksesan lulusan ternyata tidak ditentukan oleh kemampuan teknis dan akademis (hard skills):
40 % Kematangan emosi dan sosial;
30% Proses menjalin networking
20% kemampuan akademis
10% Kemampuan finansial dimilikinya.





Kembali, bahwa dalam konteks menghasilkan manusia seutuhnya, proses pembentukan manusia melalui pendidikan mesti dilihat dari yang lebih komprehensif. Pembentukan nilai-nilai values itu sendiri tidak terlepas dari keberadaan dan falsafah negara dimana masyarakat hidup dan dibesarkan. Termasuk juga keberadaan dan kemajuan bangsa dan budaya. Akan tetapi, sekali lagi persoalan dari soft skills sendiri juga tidak bisa dilepaskan dengan berbagai bentuk, diantaranya adalah mendorong bagaimana hubungan manusia dengan Allah S.W.T, yang masih banyak tidak disadari oleh sistem pendidikan Barat dan juga Timur.
Di negara yang mayoritas pemeluk agama Islam, seperti di Indonesia sekalipun, pendidikan soft skills yang mencoba mengintegrasikan pentingnya ranah keterampilan transedental ’hubungan dengan Allah’, merupakan bagian dari soft skills. Upaya mencoba meneliti dan membentuk sikap yang lebih Ihsan, telah dirintis dan dikembangkan oleh Ary Ginanjar Agustian (2004) dengan Emotional, Spritual Quotients (ESQ) Modelnya.
Melalui berbagai perjalanan pemikiran dan renungan, sehingga ’ranah’ soft skills yang diutamakan adalah melalui pendekatan training kepemimpinan Emotional Spritual Quotient ESQ. Melalui training kepemimpinan, diharapkan dapat terjadi sebuah pemahaman dan mengembalikan jiwa untuk kembali kepada nilai-nilai universal.
Walaupun dapat juga dimengerti, bahwa menanamkan value system dalam soft skills melalui pendekatan pelatihan singkat banyak kesulitannya. Diantaranya adalah pembentukan ini dapat cepat dirasakan oleh para peserta training. Para peserta training dapat mengetahui dan memperbaharui akidahnya. Namun dalam kurun waktu 3-6 bulan kemudian, pemahaman soft skills menjadi kembali sedikit demi sedikit menjadi hilang. Dan bukan tidak mungkin para peserta kemudian kembali kepada ’habitat’ awalnya. Upaya untuk melakukan pengulangan recharging adalah salah satu untuk mempertahankannya, selain menjaga sikap dan amanah, serta selalu berupaya mendekatkan diri dengan Sang Pencipta.
Oleh karenanya alat bantu dalam menyampaikan item-item membangun core values, mesti dilakukan secara terus menerus di rumah dan di sekolah. Training dapat dijadikan sebagai pembuka awal untuk mengenal core values dari soft skills.

Penutup

Setelah ditelusuri berbagai ’ranah’ atau manfaat pendidikan, ternyata banyak juga hasil yang mesti diperoleh agar semakin lengkap upaya memahami pendidikan.
Pada kesempatan ini, pada tulisan ini memperkenalkan lebih lengkap tentang ranah pendidikan. Tidak sekedar taksonomi duniawi saja, ilmu dan psikomotorik sebagai hard skills, namun dilengkapi dengan soft skills yang jauh lebih berperan untuk kesuksesan seseorang untuk dipercaya hidup oleh Sang Pencipta.
Para pendidik mesti menguasai berbagai ranah ini sabagai sasaran pendidikan yang diajarkan, disertai dengan metodologi pembelajarannya. Pendidik itu ibu mulai dari rumah. Upaya pencarian soft skills sendiri memang masih berkembang pesat. Singkat kata, sekalipun banyak yang sadar dan mencoba menerapkannya, namun masih sebatas dalam etika dan moral duniawi saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

al hamdu lillah