ASSALAMU ALAIKUM

SELAMAT DATANG DI IQBAL'S BLOG

Senin, 13 April 2009

SAUDARI KU APA YANG MEMBUATMU MEMBUKA AURAT

Copyleft 2007 – 1428 @ Maktabah Ummu Salma al-Atsari
SAUDARIKU
APA YANG MENGHALANGIMU UNTUK
BERJILBAB
Oleh :
Syaikh Abdul Hamid Al-Bilaly
Penerjemah
Ustadz Ainul Haris Umar Thayib, Lc.
Publication : 1428, Jumadi Tsani 16 / 2007, Juli 2

MUQADDIMAH
بسم الله الرحمن الرحيم
_ ونفس وما سوها, فألهمها فجورها ونقوها _
“ Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaanya) maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu ( jalan ) kefasikan dan ketakwaannya” ( Asy Syams : 7-8).Manusia diciptakan oleh Allah dengan sarana untuk meniti jalan kebaikan dan jalankejahatan. Allah memerintahkan agar kita saling berwasiat untuk mentaati kebenaran, saling memberi nasehat di antara kita dan menjadikannya di antara sifat-sifat orang yang terhindar dari kerugian. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al
‘Ashr. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa kewajiban kita terhadap sesama adalah saling menasehati. Beliau Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :
" المؤمن مرآة المؤمن "
“ Orang mukmin adalah cermin bagi orang mukmin lainnya”[1] .Dengan kata lain seorang mukmin bias menyaksikan dan mengetahui kekurangannya dari mukmin yang lain, sehingga ia laksana cermin
bagi dirinya. Tetapi cermin itu tidak memantulkan gambar secara fisik, melainkan memantulkan gambar secara akhlak dan perilaku. Islam juga sebagaimana dalam banyak hadits- menganjurkan dan mengajak pemeluknya agar sebagian mereka mencintai sebagian yang lain. Di antara pilar utama dari kecintaan ini, hendaknya engkau berharap agar saudaramu masuk surga dan dijauhkan dari neraka. Tak sebatas berharap, namun engkau harus berupaya keras dan maksimal untuk menyediakan berbagai sarana dan menjauhkan saudaramu dari hal-hal yang membahayakan dan merugikannya, di dunia maupun di akhirat. Lebih khusus, buku kami hadirkan untuk segolongan kaum muslimah yang belum mentaati (1 ) Diriwayatkan oleh Thabrani dalam Al Ausath dan dishahihkan oleh Al AlBani dalam Sahih Jami’ush Shaghir no: 6531. perintah merhijab [2], seperti yang diperintahkan syariat. Baik karena belum mengetahui bahwa hijab adalah wajib, atau karena tidak mampu melawan tipu daya dan pesona dunia, karena takluk di hadapan nafsu yang senantiasa memerintahkan keburukan atau tunduk oleh bisikan setan, karena pengaruh teman yang tidak suka kepada kebaikan bagi sesama jenisnya atau karena alasan-alasan yang lain. Kami memohon kepada Allah semoga uraian dalam buku sederhana ini menjadi pembuka hati yang terkunci, menggetarkan perasaan yang tertidur, sehingga bisamengembalikan segenap akhawat yang belummentaati perintah berhijab kepada fitrah yang telah diperintahkan Allah Ta’ala.Tidak lupa kami menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada ustadzah Badriyah Al Azzaz atas berbagai koreksiannya yang amat berharga tarhadap naskah ini. Semoga Allah memberi taufik, kebenaran dan kesudahan hidup yang baik kepada kita. Amin. (2 ) Hijab: Maksudnya, busana wanita muslimah yang menutupi seluruh badan tubuhnya dari kepala sampai telapak ka ki, hijab tersebut mempunyai syarat-syarat tertentu.( lihat hal no: 62)

SYUBHAT DAN SYAHWAT
Setan bisa masuk kepada manusia melalui duapintu utama, yaitu syubhat ddan syahwat.Seorang tidak melakukan suatu tindakan maksiat kecuali dari dua pintu tersebut. Dua perkara itu merupakan penghalang sehingga seorang muslim tidak mendapatkan keridhaan Allah, masuk surga dan jauh dari neraka. Di bawah ini akan kita
uraikan sebab-sebab utama dari syubhat dan syahwat.

SYUBHAT PERTAMA : MENAHAN GEJOLAK SEKSUAL

Syubhat ini menyatakan bahwa gejolak nafsu seksual pada setiap manusia adalah sangat besar dan membahayakan. Ironinya, bahaya ini timbul ketika nafsu tersebut ditahan dan dibelenggu. Jika terus menerus ditekan, ia bias mengakibatkan ledakan dasyat. Hijab wanita akan meyembunyikan kecantikannya, sehingga para pemuda tetap berada dalam gejolak nafsu seksual yang tertahan, dan hampir meledak, bahkan terkadang tak tertahankan sehingga ia lampiaskan dalam bentuk tindak perkosaan atau pelecehan seksual lainnya. Sebagai pemecahan masalah tersebut, satu-satunya cara adalah membebaskan wanita dari mengenakan hijab, agar para pemuda
mendapatkan sedikit nafas bagi pelampiasan nafsu mereka yang senantiasa bergejolak di dalam. Dengan demikian, hasrat mereka sedikit bisa terpenuhi. Suasana itu lalu akan mengurangi bahaya ledakan gejolak nafsu yang sebelumnya tertahan dan tertekan.
BANTAHAN :

Sepintas , syubhat di atas secara lahiriah nampak logis dan argumentatif. Kelihatannya, sejak awal, pihak yang melemparkan jalan pemecahan tersebut ingin mencari kemaslahatan bagi masyarakat dan menghindarkan mereka dari kehancuran. Padahal kenyataannya, mereka justru menyebabkan bahaya yang jauh lebih besar bagi masyarakat, yaitu menyebabkan tercerai berainya masyarakat, kehancurannya, bahkan berputar sampai seratus delapan puluh derajat pada kebinasaan. Seandainya jalan pemecahan yang mereka ajukan itu benar, tentu amerika dan negara-negara eropa serta negara-negara yang berkiblat kepada mereka akan menjadi negara yang paling kecil kasus perkosaan dan kekerasannya terhadap
kaum wanita di dunia, juga dalam kasus –kasus kejahatan yang lain. Amerika dan negara-negara Eropa ama tmemperhatikan masalah ini, dengan alas an kebebasan induvidual. Di sana, dengan mudah anda akan mendapatkan berbagai majalah porno dijual di sembarang tempat. Acara-acara televisi, khususnya setelah pukul dua belas malam, menayangkan berbagai adegan tak senonoh, yang membangkitkan hasrat seksual. Bila musim panas tiba, banyak wanita di sana yang membuka pakaiannya dan hanya mengenakan pakaian bikini. Dengan keadaan seperti itu, mereka berjemur di pinggir pantai atau kota-kota pesisir lainnya. Bahkan di sebagian besar pantai dan pesisir, mereka boleh bertelanjang dada dan hanya memakai penutup ala kadarnya. Terminalterminal video rental bertebaran diseluruh pelosok Amerika dengan semboyan “ Adults only” ( khusus untuk orang dewasa ) . di terminalterminal ini, anak anak cepat tumbuh matang dalam hal seksual sebelum waktunya. Siapa saja dengan mudah bisa menyewa kaset-kaset video lalu memutarnya di rumah atau langsung menontonnya di tempat penyewaan. Rumah-rumah bordil bertaburan dimana-mana. Bahkan di sebagian negara memajang para wanita tuna susila (pelacur) di etalase sehingga bias dilihat oleh peminatnya dari luar. Apakah kesudahan dari gaya hidup yang serba boleh(permisif) itu ? apakah kasus perkosaan semakin bekurang ? Apakah kepuasan mereka terpenuhi, sebagaimana yang ramai mereka bicarakan ? apakah para wanita terpelihara dari bahaya besar ini?.

DATA STATISTIK AMERIKA
Dalam sebuah buku berjudul “ crime in U.S.A” terbitan pemerintah federal di Amerika – yang berarti data statistiknya bias dipertanggungjawabkan karena ia dikeluarkan oleh pihak pemerintah, tidak oleh paguyupan sensus- di halaman 6 dari buku ini di tulis : “setiap kasus perkosaan yang ada selalu di lakukan dengan cara kekerasan dan itu terjadi di Amerika setiap enam menit sekali”. Data ini adalah yang terjadi pada tahun 1988, yang di maksud dengan kekerasan di sini adalah dengan menggunakan senjata tajam. Dalam buku yang sama juga disebutkan:
1. Pada tahun 1978 di Amerika terjadi sebanyak 147.389 perkosaan.
2. Pada tahun 1979 di Amerika terjadi sebanyak 168.134 perkosaan.
3. Pada tahun 1981 di Amerika terjadi sebanyak 189.045 perkosaan.
4. Pada tahun 1983 di Amerika terjadi sebanyak 311.691 perkosaan.
5. Pada tahun 1987 di Amerika terjadi sebanyak 221.764 perkosaan.

TAFSIR EMPIRIS AYAT AL-QUR’AN.
Data stastik ini, juga data-data sejenis lainnya - yang dinukil dari sumber-sumber berita yang dapat dipertanggungjawabkan- menunjukkan semakin melonjaknya tingkat pelecehan seksual di negara-negara tersebut. Tidak lain, kenyataan ini merupakan penafsiran empiris (secara nyata dan dalam praktek kehidupan sehari-hari) dari firman Allah :
يا َأي  ها النبِ  ي ُقل لَِّأ  ز  واجِ  ك  وبناتِ  ك  ونِ  ساء اْل  م  ؤمِنِ  ين ي  دنِ  ين  عَليهِ  ن مِن _
_  جَلابِيبِهِ  ن َذلِ  ك َأ  دنى َأن ي  عرْف  ن َفَلا ي  ؤَذي  ن
“ Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anakanak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu….( Al Ahzab: 59). Sebab turunnya ayat – sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qurthubi dalam tafsirnyakarena para wanita biasa melakukan buang besar di padang terbuka sebelum dikenalnya kakus (tempat buang air khusus dan tertutup). Di antara mereka itu dapat dibedakan antara budak dengan wanita merdeka. Perbedaan itu bias dikenali yakni kalau wanita-wanita merdeka mereka menggunakan hijab. Dengan begitu para pemuda enggan mengganggunya. Sebelum turunnya ayat ini, wanita-wanita muslimah juga melakukan buang hajad di padang terbuka terebut. Sebagian orang-orang durjana mengira kalau dia adalah budak, ketika diganggu, wanita muslimah itu berteriak sehingga laki-laki itu pun kabur. Kemudian mereka mengadukan peristiwa tersebut kapada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sehingga turunlah ayat ini [3]. Hal ini menegaskan , wanita yang memamerkan auratnya, dan mempertontonkan kecantikannya dan kemolekan tubuhnya kepada setiap orang yang lalu lalang, lebih berpotensi untuk diganggu. Sebab dengan begitu, ia telah membangkitkan nafsu seksual yang terpendam. Adapun wanita yang berhijab maka dia senantiasa menyembunyikan kecantikan dan perhiasannya. Tidak ada yang kelihatan daripadanya selain telapak tangan dan wajah menurut suatu pendapat. Dan pendapat lain mengatakan, tidak boleh terlihat daripada wanita tersebut selain matanya saja. (3 ) Tafsir Al Qurthubi : 8/ 5325 Syahwat apa yang bisa dibangkitkan oleh wanita berhijab itu?instink seksual apa yang bisa di
gerakkan oleh seorang wanita yang menutup rapat seluruh tubuhnya itu ? Allah mensyariatkan hijab agar menjadi benteng bagi wanita dari gangguan orang lain. Sebab Allah Ta’ala mengetahui bahwa pamer aurat akan mengakibatkan semakin bertambahnya kasus pelecehan seksual, sebab perbuatan tersebut membangkitkan nafsu seksual yang sebelumnya tenang. Kepada mereka yang masih mempertahankan dan meyakini kebenaran syubhat tersebut, kita bias menyanggah kesalahan mereka melalui empat
hakikat;
Pertama : berbagai data statistik telah mendustakan cara pemecahan yang mereka tawarkan.Kedua: Hasrat seksual terdapat pada masingmasing pria dan wanita. Ini merupakan rahasia Ilahi yang dititipkan Allah kepada keduanya untuk hikmah yang amat banyak. Di antaranya adalah demi kelangsungan keturunan, jika boleh berandai-andai , andaikata hasrat seksual itu tidak ada , apakah keturunan manusia masih bias dipertahankan ? tidak seorangpun memungkiri keberadaan hasrat dan naluri ini. Tetapi dengan tidak mempertimbangkan adanya naluri seksual tersebut tiba-tiba sebagian laki-laki di minta berlaku wajar di tengah pemandangan yang serba terbuka dan telanjang. Amat ironi memang. Ketiga : bahwa yang membangkitkan nafsu seksual laki-laki adalah tatkal ia melihat kecantikan wanita, baik wajah atau anggota tubuh lain yang mengundang syahwat. Seseorang tidak mungkin melawan fitrah yang diciptakan Allah
(kecuali mereka yang dirahmati Allah) sehingga bisa memadamkan gejolak syahwatnya tatkala melihat sesuatu yang membangkitkannya.

Keempat : orang yang mengaku bias mendiaqnosa nafsu seksual yang tertekan dengan mengumbar pandangan mata kepada wanita cantik dan telanjang sehingga nafsunya akan
terpuaskan (dan dengan demikian tidak menjurus kepada perbuatan yang lebih jauh, misalnya pemerkosaan atau pelecehan seksual lainnya ) maka yang ada hanya ada dua kemungkinan :

Pertama : orang itu adalah laki-laki yang tidak bisa terbangkitkan nafsu seksualnya meski oleh godaan syahwat yang bagaimanapun ( bentuk dan jenisnya ) ia termasuk kelompok orang yang dikebiri kalaminnya sehingga dengan cara apapun mereka tidak akan merasakan keberadaan nafsunya.

Kedua : laki-laki yang lemah syahwat atau impoten. Aurat yang dipamerkan itu tak akan mempengaruhi dirinya. Apakah orang yang membenarkan syubhat tersebut (sehingga dijadikannya jalan pemecahan) hendak memasukkan kaum laki-laki dari umat kita kedalam salah satu dari dua golongan manusia lemah di atas ( Na’udzubillah min dzalik).

SYUBHAT KEDUA : BELUM MANTAP
Hal ini lebih tepat digolongkan kepada syahwat dan menuruti hawa nafsu dari pada syubhat. Jika seorang ukhti yang belum mentaati perintah berhijab ditanya, mengapa ia tidak mengenakan hijab ? di antaranya ada yang menjawab “ Demi Allah, saya belum mantap dengan berhijab. Jika saya telah merasa mantap dengannya saya akan berhijab,Insya Allah”. Ukhti yang berdalih dengan syubhat ini hendaknya bisa membedakan antara dua hal. Yakni antara perintah Tuhan dengan perintah manusia. Jika perintah itu datangnya dari manusia, maka manusia bisa salah bisa benar. Imam Malik berkata: “ dan setiap orang bisa diterima ucapannya dan juga bisa ditolak, kecuali ( perkataan) orang yang ada di dalam kuburan ini”. Yang dimaksudkan adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Salagi masih dalam bingkai perkataan manusia, maka seseorang tidak bisa dipaksa untuk menerima. Karenanya, dalam hal ini, setiap orang bias berucap “ belum mantap” dan ia tidak dihukum karenanya. Adapun jika perintah itu merupakan salah satu dari perintah-perintah Allah, dengan kata lain Allah yang memerintahkan di dalam kitabNya, atau memerintahkan hal tersebut melalui NabiNya agar disampaikan kepada umatnya, maka tidak ada tempat bagi manusia untuk mengatakan “ saya belum mantap”. Bila ia masih mengatakan hal itu dengan penuh keyakinan padahal ia sendiri tahu bahwa perintah tersebut ada di dalam kitab Allah Ta’ala maka hal tersebut berpotensi untuk menyeretnya kepada bahaya yang lebih sangat besar, yakni keluar dari agama Allah, sementara dia tidak menyadarinya. Sebab dengan begitu berarti ia tidak percaya dan meragukan kebenaran perintah tersebut, maka itu adalah ungkapan yang sangat berbahaya. Seandainya ia berkata : “ Aku wanita kotor” aku tak kuat melawan nafsuku” “ jiwaku rapuh” Atau hasratku untuk itu sangat lemah” tentu ungkapanungkapan ini dan yang sejenisnya tidak bias disejajarkan dengan ucapan : “ Aku belum mantap” sebab ungkapan-ungkapan tersebut merupakan pengakuan atas kelemahan, kesalahan dan kemaksiatan dirinya, ia tidak menghukumi dengan salah atau benar terhadap perintah –perintah Allah secara semaunya. Juga tidak termasuk yang mengambil perintah Allah dan mencampakkan yang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
 وما َ كا َ ن لِ  م  ؤمِنٍ  وَلا م  ؤمِنةٍ إَِذا َق  ضى اللَّه  و ر  سوُله َأ  مرا َأن ي ُ كو َ ن َل  ه  م _
_ اْلخِيرُة مِ  ن َأ  مرِهِ  م  ومن ي  عصِ اللَّه  و ر  سوَله َفَق  د  ضلَّ  ضَلاًلا مبِينا
“ Tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan ( yang lain ) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia talah sesat, kesesatan yang nyata” (Al Ahzab : 36). Sikap yang dituntut Ketika seorang hamba mengaku beriman kepada Allah , percaya Allah lebih bijaksana dan lebih mengetahui dalam penetapan hukum dari padanya-sementara dia sangat miskin dan sangat lemah – maka jika telah datang perintah Allah tidak ada lagi pilihan baginya kecuali mentaati perintah tersebut. Ketika mendengar perintah Allah, sebagai seorang mukmin atau mukminah, mereka wajib mengatakan sebagaimana yang
dikatakan oleh orang-orang yang beriman.

_  سمِ  عنا  وَأ َ ط  عنا ُ غ ْ فران  ك  ربنا  وإَِلي  ك اْل مصِ  ير _
“Kami dengar dan kami taat(mereka berdo’a) Ampunilah kami ya Robb kami dan kepada
Engkaulah kami kembali” ( Al Baqarah : 285) Ketika Allah memerintahkan kita dengan suatu perintah, Dia Maha Mengetahui bahwa perintah itu untuk kebaikan kita, dan salah satu sebab bagi tercapainya kebahagiaan kita. Demikian pula halnya dengan ketika memerintah wanita berhijab, Dia Maha Mengetahui bahwa ia adalah salah satu sebab bagi tercapainya kebahagiaan, kemuliaan dan keagungan wanita. Allah Ta’ala Maha Mengetahui IlmuNya meliputi segala sesuatu, mengetahui sejak sebelum manusia diciptakan, juga mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang dengan tanpa batas, mengetahui apa yang tidak akan terjadi dari berbagai peristiwa, juga Dia mengetahui andaikata peristiwa tersebut terjadi apa yang terjadi selanjutnya. Dengan kepercayaan seperti ini, yang merupakan keyakinan kita umat Islam, apakah patut dan masuk akal kita menolak perintah Allah yang Maha Luas IlmuNya , selanjutnya kita menerima perkataan manusia yang memiliki banyak kekurangan, dan ilmunya sangat terbatas. Contoh dari kenyataan sehari-hari Sebagai contoh , dapat kita kemukakan dari kenyataan hidup sehari-hari. Bila kita membeli unit komputer sementara orang yang membuatnya ada di dekat kita, dia tahu betul bagaimana mengoperasikannya, memahami dari A sampai Z seluk beluk alat canggih tersebut, makalogiskah jika kita memanggil tukang cuci mobil untuk mengajari kita cara mengoperasikankomputer? Tentu sangat tidak logis. Akal kita akan mengatakan, bahwa kita mesti memanggil ahli komputer untuk mengajari bagaimana cara penggunaan alat tersebut, berikut cara memperbaikinya jika terjadi kerusakan.
Kita menyakini, yang menciptakan manusia dan membentuknya adalah Tuhan manusia, yaitu Allah. Karena itu sangat wajar, jika Allah yang sangat lebih mengetahui tentang apa yang membahayakan dan memberi manfaat manusia. Dan jelaslah, bertahkim, patuh, dan menyerah kepada selain Allah adalah cermin ketidakwarasan, kebodohan, dan kedunguan. Kandungan ini disebabkan karena kita patuh
kepada seseorang yang tidak mengetahui. Barang siapa yang mengambil nasihat orang bodoh berarti dia menggelincirkan dirinya dalam kebinasaan. Ironinya, inilah yang terjadi pada kita kaum muslimin, betapa banyak kaum muslimin yang menuntut jawaban dari orang yang tidak mengetahuinya.
Sebagaimana betapa banyak dari kalangan kita yang tidak memahami bahwa yang dimaksud kata “Islam” adalah menyerah, patuh dan tunduk secara total kepada perintah-perintah Allah dan larangan-laranganNya. Ukhti jangan terjerumus pada pertentangan Tatkala engkau menasehati sebagian ukhti yang belum berhijab, sebagian mereka ada yang menjawab: “ saya juga seorang muslimah, selalu menjaga shalat lima waktu dan sebagian shalat sunnah, saya puasa Ramadhan dan telah
melakukan haji, berkali-kali pula saya umrah, aktif sebagai donatur pada beberapa yayasan sosial, tetapi saya belum mantap dengan berhijab”. Pertanyaan buat Ukhti “Kalau memang anda sudah dan selalu melakukan amalan-amalan terpuji, yang berpangkal dari iman, kepatuhan pada perintah Allah serta takut siksaNya jika meninggalkan kewajiban-kewajiban itu, mengapa anda beriman kepada sebagian dan tidak beriman kepada sebagian yang lain, padahal sumber perintah-perintah itu adalah satu ?. sebagaimana shalat yang selalu anda jaga adalah suatu kewajiban, demikian juga halnya dengan hijab. Hijab itu wajib, dan kewajiban itu tidak diragukan adanya dalam Al Kitab dan Al Sunnah. Atau apakah , anda tidak pernah mendengar cercaan Allah terhadap Bani Israil, karena mereka melakukan sebagian perintah dan meninggalkan sebagian yang lain? Secara tegas, dalam hal ini Allah berfirman :


َأَفت  ؤمِنو َ ن بِب  عضِ اْلكِتابِ  وتكُْفرو َ ن بِب  عضٍ َف  ما  جزاء من ي ْ فع ُ ل َذلِ  ك _
مِن ُ ك  م إِلاَّ خِ  ز  ي فِي اْل  حياةِ ال  دنيا  ويوم اْلقِيامةِ يردو َ ن إَِلى َأ  ش  د اْلع َ ذابِ
_  وما الّله بِغافِلٍ  ع  ما ت  ع  مُلو َ ن
“Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian yang lain? Tidakkah balasan bagi orang-orang yang berbuat demikian daripadamu, malainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat pedih, Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”( Al Baqarah : 85). Selanjutnya, renungkan hadits shahih berikut ini :

" إن أهون أهل النار عذابا يوم القيامة رجل توضع على أخمص قدميه
جمرتان يغلي منهما دماغه كما يغلي المرجل بالقمقم " رواه البخاري
376/11 ) في الرقائق. )
“ sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat adalah orang yang diletakkan di tengah kedua telapak kakinya dua bara api, dari dua bara api ini otaknya mendidih, sebagaimana periuk yang mendidih dalam bejana besar yang dipanggang dalam kobaran api. Jika seperti ini adzab yang paling ringan pada hari kiamat, lalu bagaimana adzab bagi orang yang diancam oleh Allah dengan adzab yang amat pedih, sebagaimana disebutkan dalam ayat ini. Yakni bagi orang yang beriman kepada sebagian ayat dan meninggalkan sebagian yang lain?.
Wahai Ukhti …!!!
Apakah hanya demi penampilan, kabanggaan dan saling unggul-mengungguli di dunia, lalu anda rela menjual akherat dan siap menerima adzab yang pedih? Sungguh kami tidak berharap untuk ukhti, melainkan kebaikan di dunia dan akherat. Kami minta agar ukhti, mau menggunakan akal sehat dan menentukan pilihan ini.

SYUBHAT KETIGA : IMAN ITU LETAKNYA DI HATI

Jika seorang di antara mereka ditanya, mengapa dia tidak berhijab ? Maka ukhti yang terhormat ini akan menjawab : “ Ah iman itu letaknya di hati”. Ini adalah jawaban yang paling sering dilontarkan oleh para wanita muslimah yang belum berhijab. Karena itu di bawah ini akan kita bahas syubhat tersebut. Sumber syubhat. Mereka berusaha menafsirkan sebagian hadist, tetapi tidak sesuai dengan yang dimaksudkan , seperti dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam :

" إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم
" رواه مسلم

“ Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentukbentuk (lahiriah ) dan harta kekayaanmu, tetapi Dia melihat pada hati dan amalmu sekalian”( HR. Muslim No : 2564 dari Abu Hurairah) pengarang kitab Nuzhatul Muttaqin berkata : “Hadits ini menunjukkan bahwa pahala amal tergantung pada keikhlasan hati, kelurusan niat, perhatian terhadap situasi hati pelempangan tujuan dan kebersihan hati dari segala sifat tercela yang dimurkai Allah [4].

Defnisi Iman
Iman tidak cukup hanya dalam hati. Iman dalam hati semata tidak cukup untuk menyelamatkan diri dari neraka dan mendapatkan surga. Devinisi iman menurut jumhur ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah : “ Keyakinan dalam hati, pengucapan dengan lisan, dan pelaksanaan dengan anggota badan”. Devinisi ini terdapat dalam setiap buku aqidah(tauhid) kecuali bukubuku yang menyimpang dan tidak berdasarkan manhaj (methode) Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Kesempurnaan Iman
Dalam Tashawwur (gambaran) kita, orang yang mengatakan iman dengan lidahnya, tetapi tidak disertai dengan keyakinan hatinya, itu adalah keadaan orang-orang munafik. Demikian pula orang yang beramal hanya sebatas aktivitas tubuh (4 ) Nuzhatul Muttaqin : 1/25. anggota badan, tetapi tidak disertai keyakinan hati , itu merupakan keadaan orang-orang munafik.
Pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka senantiasa shalat bersama beliau, berperang, mengeluarkan nafkah,pulang pergi bersama kaum muslimin, tetapi hati mereka tidak pernah beriman kepada agama Allah. Kepada mereka, Allah menghukumi sebagai orang-orang munafik, dan balasan untuk mereka adalah berada di kerak neraka ( dasar neraka). Demikian pula orang yang beriman hanya dengan hatinya tapi tidak disertai amalan anggota badan. Ini adalah keadaan Iblis. Dia percaya pada kekuasaan Allah ,Dzat yang menghidupkan dan mematikan, dia juga percaya terhadap adanya hari kiamat, tetapi dia tidak beramal dengan anggota tubuhnya. Allah berfirman :

_ َأبى  وا  ست ْ كبر  و َ كا َ ن مِ  ن اْل َ كافِرِي  ن _
“ Ia ( Iblis) enggan dan takabbur dan adalah dia termasuk golongan orang-orang kafir” ( Al Baqarah : 34).
Dalam AL Qur’an : setiap kali di sebutkan kata iman, selalu disertai dengan amal, seperti :“ Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh…” Amal selalu beriringan dan merupakan konsekuensi iman, keduanya tidak dapat dipisahpisahkan. Kepada ukhti yang belum berhijab dengan alas an : Iman itu letaknya dalam hati” kami hendak bertanya : “ Andaikata seorang kepala sekolah memintanya membuat laporan, atau mengawasi murid-murid, atau memberi pelajaran ekstra kurikuler, atau menjadi petugas piket untuk menjadi guru yang berhalangan hadir atau pekerjaan lain, logislahkah jika ia menjawab : “ Dalam hati, saya percaya, dan belum mantap terhadap apa yang diminta oleh direktur kepadaku, tetapi aku tidak mau melaksanakan yang dikehendakinya dariku” Apakah jawaban ini bisa diterima? Lalu apa akibat yang bakal
menimpanya? Ini sekedar contoh dalam kehidupan mnusia, lalu bagaimana jika urusan itu berhubungan dengan Allah, Tuhan manusia yang memiliki sifat yang Maha Tinggi?.

SYUBHAT KEEMPAT : ALLAH BELUM MEMBERIKU HIDAYAH.

Pada akhawat yang tidak berhijab banyak yang berdalih : Allah belum memberiku hidayah. Sebenarnya aku juga ingin berhijab, tetapi hendak bagaimana jika saat ini Allah belum memberiku hidayah ? do’akanlah aku agar segera mendapat hidayah !” Ukhti yang berdalih seperti ini telah terperosok dalam kekeliruan yang nyata. Kami ingin bertanya : “ bagaimana engkau mengetahui bahwa Allah belum memberimu hidayah”? Jika jawabannya , “ Aku tahu”, maka ada satu dari dua kemungkinan :

Pertama: dia mengetahui ilmu ghaib yang ada di dalam kitab yang tersembunyi ( lauhul mahfudz ). Dia pasti pula tahu bahwa dirinya termasuk orangorang yang celaka dan bakal masuk neraka. Kedua : ada makhluk lain yang mengabarkan padanya tentang nasib dirinya, bahwa dia tidak termasuk wanita yang mendapatkan hidayah. Bisa jadi yang memberi tahu itu malaikat ataupun manusia. Jika kedua jawaban itu tidak mungkin adanya, bagaimana engkau mengetahui bahwa Allah belum memberimu hidayah ? ini satu masalah. Masalah lain adalah, Allah telah menerangkan dalam KitabNya, bahwa hidayah itu ada dua macam. Masing-masing adalah hidayah dilalah dan hidayah taufiq.

HIDAYAH DILALAH

Ini adalah bimbingan atau petunjuk pada kebenaran. dalam hidayah ini, terdapat campur
tangan dan usaha manusia, di samping hidayah Allah dan bimbingan RasulNya. Allah telah menunjukkan jalan kebenaran kepada manusia yang mukallaf, juga dia telah menunjukkan jalan kebatilan yang menyimpang dari petunjuk para rasul dan KitabNya. Para rasulpun talah menerangkan jalan ini kepada kaumnya. Begitu pula para da’i. Mreka semua menerangkan jalan ini kepada manusia . jadi semua ikut ambil bagian dalam hidayah ini.

HIDAYAH TAUFIQ

Hidayah ini hanya milik Allah semata, tidak ada sekutu baginya(dalam pemberi hidayah taufiq ini). Ia berupa peneguhan kebenaran dalam hati, penjagaan dari penyimpangan pertolongan agar tetap meniti dan teguh di jalan kebenaran, pendorong pada kecintaan iman. Pendorong pada kebencian terhadap kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Hidayah taufiq diberikan kepada orang yang memenuhi panggilan Allah dan mengikuti petunjukNya.

Jenis hidayah ini datang sesudah hidayah dilalah . sejak awal, dengan tidak pilih kasih, Allah memperlihatkan kebenaran kepada semua manusia. Allah berfirman :

_  وَأما َث  مود َف  ه  دينا  ه  م َفا  ست  حبوا اْلع مى  عَلى اْل  ه  دى _
“Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta ( kesesatan ) daripada petunjuk itu …” ( Fushishilat : 17). Dan untuk itu, Allah menciptakan potensi dalam diri setiap orang mukallaf untuk memilih antara jalan kebenaran dan jalan kebatilan. Jika dia memilih jalan kebenaran menurut kemauannya sendiri maka hidayah taufiq akan dating kepadanya. Allah berfirman :

_  والَّذِي  ن ا  هت  د  وا  زاد  ه  م  ه  دى  وآتا  ه  م ت ْ قوا  ه  م _
“Dan orang-orang yang melakukan petunjuk, Allah ( akan ) menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka( balasan) ketakwaannya” ( Muhammada : 17). Jika dia memilih kebatilan menurut kemauannya sendiri, maka Allah akan menambahkan kesesatan padanya dan Dia mengharamkannya mendapat hidayah taufiq, Allah berfirman :

_ ُق ْ ل من َ كا َ ن فِي ال  ضَلاَلةِ َفْلي  م  د  د َله الر  ح  م  ن م  دا _

“ Katakanlah: barang siapa yang berada dalam kesesatan, maka biarlah Dzat yang Maha
Pemurah menambahi baginya[kesesatan] …” ( Maryam : 75).
_ فلما زاغوا أزاغ الله قلوم _
“…Maka tatkala mereka berpaling ( dari kebenaran ) Allah memalingkan hati mereka” ( Ash Shaf : 5).

PERUMPAMAAN HIDAYAH TAUFIQ
Syaikh Asy Sya’rawi memberikan perumpamaan yang amat mengena tentang hidayah taufiq ini , dan itu merupakan sunnatullah . beliau mengupamakan dengan seseorang yang
menanyakan suatu alamat. Orang itu pergi ke polisi lalu lintas untuk menanyakan alamat
tersebut. Lalu polisi menyarankan : “ anda bias berjalan lurus sepanjang jalan ini, sampai di perempatan anda belok ke kanan, selanjutnya ada gang, anda belok ke kiri, di situ anda
mendapatkan jalan raya. Di seberang jalan raya tersebut akan terlihat gedung dengan pamphlet besar, itulah alamat yang anda cari”. Orang tersebut dihadapkan pada dua pilihan, percaya kepada petunjuk polisi atau mendustakannya. Jika percaya pada polisi, ia akan segera beranjak mengikuti petunjuk yang diterimanya. Jika berjalan terus sesuai dengan petunjuk polisi, ia akan semakin dekat dengan tempat dan alamat yang ia inginkan. Jika dia tidak memepercayai saran polisi itu bahkan malah mengumpatnya sebagai pendusta, sehingga ia berjalan menuju arah yang berlawanan, maka semakin jauh dia berjalan, semakin jauh pula kesesatannya. Itulah perumpamaan petunjuk dan kesesatan 5. Ini merupakan perumpamaan yang tepat untuk mendekatkan pengertian sunnatullah ini. Siapa yang memilih kebenaran, maka Allah akan menolong dan meneguhkannya, dan siapa yang memilih kebatilan, Allah akan menyesatkannya dan membiarkannya bersama setan yang menyertainya.

CARILAH SEBAB-SEBAB HIDAYAH, NISCAYA ANDA MENDAPATKANNYA.

Itulah sunnatullah yang berlaku pada semua makhlukNya. Allah berfirman : (5 ) ceramah syaikh Asy Sya’rawi dengan judul : Apakah manusia dipaksa atau punya pilihan ? disampaikan di kuwait pada tahun 80 an.

_ َفَلن تجِ  د لِ  سنتِ اللَّهِ تبدِيًلا  وَلن تجِ  د لِ  سنتِ اللَّهِ ت  حوِيًلا _
“ … Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah” ( Al Fathir : 43). Adapun sunnatullah dalam perubahan nasib, hanya akan terjadi jika manusia memulai dengan mengubah terlebih dahulu dirinya sendiri, lalu mengupayakan sebab-sebab perubahan yang dimaksudnya. Allah berfirman :



_ إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم _

“ Sesungguhny Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” ( Ar Ra’ad: 11). Maka orang yang menginginkan hidayah, serta menghendaki agar orang lain mendo’akan dirinya
agar mendapatkannya, ia harus berusaha keras dengan sebab-sebab yang bisa menghantarkannya mendapat hidayah tersebut. Dalam hal ini, terdapat teladan yang baik pada diri Maryam, suatu hari, dia amat membutuhkan makanan. Padahal ketika itu, ia dalam kondisi yang sangat lemah seperti yang biasa terjadi pada wanita yang hendak melahirkan. Lalu Allah memerintahkan padanya untuk melakukan suatu usaha yang orang laki-laki paling kuat sekalipun tidak akan mampu melakukannya. Maryam di minta untuk menggoyang-nggoyangkan pangkal pohon korma, meskipun pangkal pohon korma itu sangat kokoh dan sulit untuk digoyanggoyangkan.

Allah berfirman :

_  و  هزي إَِليكِ بِجِ ْ ذعِ الن  خَلةِ _
“Dan goyanglah pangkal pohon korma itu... ” (Maryam : 25). Maryam tidak mungkin mampu menggoyang pangkal pohon korma, sementara dia dalam kondisi yang amat lemah. Itu hanya dimaksudkan sebagai usaha mencari sebab dengan cara meletakkan tangannya di pohon korma. Dengan begitu terpenuhilah hukum kuasalitas dan sunnatullah dalam hal perubahan . maka hasilnya adalah :
_ ت  ساقِ ْ ط  عَليكِ  ر َ طبا  جنِيا _

“ Pohon itu akan menggugurkan buah korma yang masak kepadamu.” ( Maryam : 25).
Inilah sunnatullah dalam perubahan. Tidak mungkin orang mukmin terus menerus di dalam masjid, bahkan meskipun di Masjidil Haram dengan hanya duduk dan beribadah kepada Allah, seraya mengharap rizki dari Allah. Tentu Allahtidak akan mengabulkannya tanpa dia sendiri mencari sebab-sebab rezki tersebut. langit tak mungkin sekonyong-konyong menurunkan hujan emas dan perak. Karena itu , wahai ukhti, berusahalah mendapatkan sebab-sebab hidayah, niscaya anda mendapatkan hidayah tersebut dengan izin Allah. Di antara usaha itu adalah berdo’a agar mendapatkan hidayah, memilih teman yang shalihah, selalu membaca, mempelajari dan merenungkan kitab Allah, mengikuti majlis-majlis dzikir dan ceramah agama, membaca buku-buku tentang keimanan dan sebagainya. Tetapi, sebelum melakukan semua itu, hendaknya terlebih dahulu engkau meninggalkan hal-hal yang bisa menjauhkanmu dari jalan hidayah. Seperti teman yang tidak baik, membaca majalah-majalah yang tidak mendidik, menyaksikan tayangantayangan televisi yang membangkitkan perbuatan haram, bepergian tanpa disertai mahram, menjalin hubungan dengan para pemuda ( pacaran ) , dan hal-hal lain yang bertentangan dengan jalan hidayah.

SYUBHAT KELIMA : TAKUT TIDAK LAKU NIKAH

Sebagian akhawat yang tidak berhijab berdalih dengan takut tidak laku nikah. Syubhat yang dibisikkan setan kepada sebagian akhawat yang tidak berhijab ini, pangkalnya adalah perasaan bahwa para pemuda tidak akan mau memutuskan menikah kecuali jika ia telah melihat badan, rambut, kulit, kecantikan, dan perhiasan sang gadis. Jika ia berhijab atau memakai cadar, tentu tak ada yang bisa dilihat pada dirinya, sehingga sang pemuda enggan mengambil keputusan untuk menikahinya. Ironinya, kepercayaan ini, tidak hanya dimonopoli para akhawat, tetapi juga merupakan kepercayaan para orang tua, pada akhirnya, mereka melarang anak-anak putrinya memakai hijab. Syubhat ini tidak bisa diterima lewat dua alasan mendasar. Penilaian dari sisi teori dasar Meskipun kecantikan merupakan salah satu sebab paling pokok dalam pernikahan, tetapi ia bukan satu-satunya sebab dinikahinya wanita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

" تنكح المرأة لأربع : لمالها, ولحسبها, ولجمالها، ولدينها، فاظفر
115 ) في النكاح. / بذات الدين تربت يداك " رواه البخاري : ( 9

“ Wanita dinikahi itu karena empat hal : Yaitu karena harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang berpegang teguh dengan agama( jika tidak ) niscaya kedua tanganmu berlumur debu” 6 . Memang demikian yang terjadi, kaum laki-laki tidak hanya melihat unsur kecantikan semata, tetapi ada hal-hal lain yang menyatu dengan kecantikan itu atau terlepas darinya, yang dijadikan pertimbangan dalam memilih istri. Namun para gadis dan orang tua banyak yang menganggap kecantikan adalah segala-galanya. Atau setidak-tidaknya menjadikan kecantikan sebagai unsur yang terpenting, sedangkan hal lainnya bisa dikesampingkan. Jelas, jalan pikiran seperti ini bertentangan dengan naluri manusia. (6 )
a. Diriwaytkan oleh Al Bukhari, kitaabun nikah, 9/115.
b. Kedua tanganmu berlumur debu maksudnya : menjadi fakir ( Subulus Salaam, 2/112

c. Dalam Al Misbah di sebutkan , اك __ ___ adalah ungkapan bhasa orang-orang Arab dalam bentuk do’a. hanya saja saja dalam hadits ini tidak dimaksudkan sebagai do’a, tetapi sebagai motivasi dan anjuran.

Penilaian dari sisi empiris

Bisa jadi sikap gadis-gadis yang biasa memperlihatkan aurat(yang dimaksudkan untuk menawan hati pria) menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Betapa banyak tindakan itu malah membuat para pemuda enggan menikahinya. Sebab bisa saja pemuda itu beranggapan, bahwa jika wanita tersebut berani melanggar salah satu perintah Allah, yaitu hijab, tidak menutup kemungkinan dia akan berani melanggar perintahperantah yang lain. Karena setan memiliki banyak kiat. Meskipun terkadang kenyataan yang ada tidak selalu sesuai dengan pendapat ini, tetapi memang begitulah keadaan mayoritas pemuda kita di zaman sekarang. Pemuda yang menyunting gadis berhijab, namanya akan menjadi harum, meskipun dia sendiri tidak termasuk orang-orang yang taat menjalankan perintah agama.

SYUBHAT KEENAM : IA MASIH BELUM DEWASA
Syubhat ini banyak beredar dikalangan orang tua serta sebagian akhawat yang tidak berhijab. Sebenarnya anak-anak tersebut sudah memiliki niat untuk memakai hijab, tetapi kemudian di tunda karena syubhat ini. Karena itu dalih ini lebih pantas disebut hawa nafsu dari pada syubhat. Kebanyakan mereka berkata: jangan sampai melarangnya menikmati kehidupan. Dia toh masih belum dewasa. Dia masih senang memakai pakaian yang indah, bersolek dengan berbagai macam make up serta masih suka menampakkan kecantikannya. Semua itu membuatnya lebih berbahagia dan menikamati hidup. Kenapa kita melarang dan menghalangi kebahagiaan justru pada saat umur mereka masih relatif sangat muda ? kalau kita terlanjur ketinggalan kereta, mengapa kita membuatnya pula ketinggalan kereta dengan begitu tergesagesa ? ( maksudnya jika ia menyuruh anak putrinya memakai hijab sejak dini). Menurut pendapat mereka , masa belum dewasa berlangsung hingga anak berumur dua puluh tahun. Karenanya, meskipun ada gadis yang
sudah datang bulan pada umur tiga belas tahun, dia masih dianggap anak-anak.

Nasihat untuk para wali:
Sesungguhnya para wali baik bapak atau ibu yang mencegah anak putrinya berhijab, dengan dalih karena masih belum dewasa, mereka memiliki tanggung jawab yang besar di hadapan Allah pada hari kiamat. Ketika seorang gadis mendapatkan haidh, seketika itu pula ia wajib berhijab, menurut syariat. Jika wali gadis itu melarangnya berhijab, maka dia mendapat dosa yang besar, dan Allah akan menanyakan hal itu pada hari kiamat.

Allah berfirman :
_  وقُِفو  ه  م إِن  هم م  سُئوُلو َ ن _
“ Dan tahanlah mereka ( di tempat perhentian ) karena sesungguhnya mereka akan ditanya” ( Ash Shaaffaat : 24). Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

/ " كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته " رواه البخاري ( 13
100 ) في الأحكام – وله تكملة.

“Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan ditanya tentang yang dipimpinnya….” 7. Seorang ayah adalah pemimpin pertama dalam rumah tangga, pada hari kiamat dia akan ditanya tentang masing-masing orang yang ada di bawah kepemimpinannya. (7 ) Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari, kitaabul Ahkaam. 13/100. Hadits ini masih ada sambungannya.

Setiap ayah hendaknya bertanya kepada diri mereka sendiri: “betapa banyak para pemuda
yang tergoda oleh anak putrinya ? seberapa jauh putrinya menyebabkan penyimpangan para pemuda? Ungkapan cinta untuk anak-anak putrid Allah sebagai saksi, betapa kami amat mengkhawatirkan dirimu akan mendapat siksa Allah. Kami begitu ingin menyelamatkanmu dari segala bahaya yang akan menimpamu, baik di dunia maupun di akhirat. Ini adalah kewajiban seorang muslim kepada saudaranya muslim yang lain. Di antara bahaya yang akan menimpa ukhti yang tidak berhijab, baik di dunia maupun di akhirat, adalah seperti di sebutkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya :

" سيكون في آخر أمتي رجال بركبون على السروج كأشباه الرجال
ينزلون عل أبواب المساجد نسائهم كاسيات عاريات على
رؤوسهن كأسنمة البخت العجاف العنوهن فإن ملعونات" ( رواه
223 ) قال الهيثمي : رجال أحمد رجال الصحيح ( مجمع / أحمد ( 2
الزوائد ).

“ Akan ada di akhir umatku, kaum laki yang menunggang pelana ( seperti layaknya kaum lelaki) mereka turun di depan pintu-pintu masjid, wanita-wanita mereka berpakaian ( tetapi ) telanjang , di atas kepala mereka ( terdapat) sesuatu seperti punuk onta yang lemah gemulai. Laknatlah mereka ! sesungguhnya mereka adalah wanita-wanita terlaknat”8 . Wahai ukhti yang tidak berhijab! Tahukah engkau makna laknat ? Laknat artinya dijauhkan dari rahmat Allah Ta’ala. Dalam hadits tadi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan setiap muslim, agar melaknat tipe wanita seperti yang telah disebutkan. Yaitu mereka yang mengenakan pakaian di tubuh mereka tapi tidak sampai menutup auratnya, sehingga seakan –akan mereka telanjang dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

" صنفان من أهل النار لم أرهما قوم معهم سياط كأذناب البقر
يضربون ا الناس، ونساء عاريات مميلات مائلات رؤوسهن كأسنمة

(8 ) Diriwayatkan oleh Imam Ahmad ( 2/223) Al Hutsaimi berkata : “ Rijal ( perawai perawi ) Ahmad ( dalam hadits ini ) adalah rijal shahih ( Majmauz zawa’id )

البخت المائلة لا يدخلون الجنة ولا يجدون ريحها وإن ريحها لتوجد
( من مسيرة كذا وكذا" رواه مسلم ( 2118
“ Dua kelompok termasuk penghuni neraka, aku ( sendiri) belum pernah melihat mereka, yaitu orang-orang yang membawa cemeti seperti ekor sapi, dengannya mereka mencambuki manusia, dan para wanita yang berpakaian ( tetapi ) telanjang , bergoyang-goyang dan berlenggak lenggok, kepala mereka ( ada sesuatu ) seperti punuk onta yang bergoyang-goyang. Mereka tentu tidak masuk surga, bahkan tidak mendapatkan baunya, dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian”.( HR Muslim ,No : 2128).
Dalam hadits tersebut terdapat sifat-sifat secara rinci tetang golongan wanita ini, yaitu :

1. mengenakan sebagian pakaian , tetapi dia menyerupai orang telanjang, karena sebagian
tubuh mereka terbuka dan itu mudah membangkitkan birahi laki-laki, seperti paha, lengan, rambut, dada, dan lain-lainnya. Juga pakaian yang tembus pandang atau yang amat ketat, sehingga membentuk lekuk –lekuk tubuhnya, maka ia seperti telanjang, meski
berpakaian.

2. jalannya lenggak-lenggok dan bergoyang sehingga membangkitkan nafsu birahi.

3. kepalanya tampak lebih tinggi, karena ia membuat seni hiasan dari bulu atau rambut sintesis, karena tingginya ia seperti punuk onta. Hadits tersebut juga menjelaskan hakikat
golongan wanita yang tidak masuk surga, bahkan sekedar menciaum bau wanginyapun tidak, padahal rahmat Allah meliputi segenap langit dan bumi. Belum lagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kaum muslimin agar melaknat mereka: “laknatlah
mereka,sesungguhnya mereka adalah wanita terlaknat”. Kami tidak menginginkan, selain kebaikan bagi anda. Kekhawatiran bagi diri anda, mendorong kami berharap dari lubuk hati kami yang paling dalam, untuk menjauhkan anda dari segala yang tidak disenangi. Semoga Allah mengisi hati anda dengan cahayaNya yang tidak pernah padam, lalu anda menang dalam pertarungan melawan setan jin dan manusia, selanjutnya anda berketepatan melepaskan jeratan dan memerdekakan diri dari tawanan hawa nafsu, menuju alam kebebasan, kemuliaan, kehormatan, ketenangan dan alam kesucian.

Apakah anda menjamin umur masih panjang? Wahai ukhti yang tidak berhijab! Engkau tidak mau berhijab dengan dalih masih belum dewasa, apakah engkau dapat menjamin umurmu masih beberapa saat? Apakah engkau tahu, atau seseorang mengabarkan kepadamu tentang kapan bakal mati? Jika tidak, maka boleh jadi kematian akan menjemputmu setelah setahun, sebulan, seminggu, sehari, sejam, atau sedetik kemudian.
Semua itu serba mungkin, selama kita tidak tahu ajal kita akan datang. Wahai ukhti, kematian tidak hanya mengetuk pintu orang yang sakit, tidak pula orang yang lanjut usia saja, tetapi juga orang-orang yang sehat walafiat, orang dewasa,pemuda, bahkan bayi yang masih menetek di pangkuan ibunya, banyak contoh yang tidak bias dipaparkan.

KISAH-KISAH NYATA

Kematian yang tiba-tiba:
Seorang anggota parlemen dalam kondisi kesehatan yang prima, penuh energik dan memiliki etos kerja sangat tinggi, orangnya masih muda. Namun, tiba-tiba virus ganas menyerang otaknya. Tak berlangsung lama, virus tersebut berubah menjadi segumpal daging. Anggota parlemen itu akhirnya tidak berdaya dan meninggal dengan cara yang amat mengenaskan. Kematian tak kenal orang sehat sehat atau sakit Seorang komandan tinggi dijajaran angkatan bersenjata, ia tidak pernah mengeluhkan suatu penyakit apapun, tubuhnya padat berisi, ototototnya kekar, lincah dan gesit dalam melakukan tugas diteritorialnya. Seperti biasa , pada suatu malam, ia pergi tidur. Di pagi hari, sang ibu membangunkannya. Tak ada jawaban. Apa yang terjadi ? ternyata tubuhnya telah dingin dan terbujur kaku. Tidur itu mengahantarkan pada kematian yang tak akan kembali lagi.
Temanku mati terbakar Abu Abdillah berkata : “ Aku tak tahu, bagaimana harus menuturkan kisah ini padamu.
Kisah yang pernah aku alami sendiri beberapa tahun yang lalu, sehingga mengubah total perjalanan hidupku, sebenarnya aku tak ingin menceritakannya, tapi demi tanggung jawab di hadapan Allah, dan peringatan bagi para pemuda yang mendurhakai Allah dan demi pelajaran bagi para gadis yang mengejar bayangan semu, yang disebut cinta, maka aku ungkapkan kisah ini. Ketika itu, kami tiga sekawan. Yang mengumpulkan kami adalah kesamaan nafsu dan kesia-siaan. Oh tidak, kami berempat satunya lagi adalah setan. Kami berburu gadis-gadis. Mereka kami rayu dengan kata-kata manis, hingga mereka takluk, lalu kami bawa ke sebuah taman kecil terpencil. Di sana kami berubah menjadi serigala-serigala yang tak menaruh belas kasihan mendengar rintihan permohonan mereka, hati dan perasaan kami sudah mati. Begitulah hari-hari kami di taman, di tenda atau dalam mobil yang di parkir di pinggir pantai. Sampai suatu hari, yang tak pernah saya bias melupakannya, seperti biasa kami pergi ke taman. Seperti biasa pula, masing-masing kami menyantap satu mangsa gadis, di temani minunan
laknat. Satu hal kami lupa saat itu, makanan.

Segera salah seorang di antara kami bergegas membeli makanan dengan mengendarai mobilnya. Saat ia berangkat. Jam menunjukkan pukul enam sore. Beberapa jam berlalu, tapi taman kami itu belum juga kembali. Pukul sepuluh malam , hatiku mulai tak enak dan gusar. Maka aku segera membawa mobil untuk mencarinya, di tengah perjalanan, di kejauhan aku melihat jilatan api, aku mencoba mendekat. Astaghfirullah, aku hampir tak percaya dengan yang kulihat. Ternyata api itu bersumber dari mobil temanku yang terbalik dan terbakar. Aku panik seperti orang gila. Aku segera mengeluarkan tubuh temanku dari mobilnya yang masih menyala. Aku ngeri tatkala melihat separuh tubuhnya masak terpanggang api.
Kubopong tubuhnya lalu kuletakkan di tanah. Sejenak kemudian, dia berusaha membuka kedua belah matanya, ia berbisik lirih : “ api …., api ……! Aku memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit dengan mobilku. Tetapi dengan suara campur tangis, ia mencegah: “ Tak ada gunanya .. aku tak akan sampai …! Air mataku tumpah, aku harus menyaksikan temanku meninggal di hadapanku. Di tengah kepanikanku, tiba-tiba ia berteriak lemah: “ apa yang mesti kukatakan kepadaNya? Apa yang mesti kukatakan padaNya? Aku memandanginya penuh keheranan. “ siapa ? Tanyaku. Dengan suara yang seakan berasal dari sumur yang amat dalam, dia menjawab : “Allah!”

Aku merinding ketakutan. Tubuh dan perasaanku terguncang keras. Tiba-tiba temanku itu menjerit, gemanya menyelusup kesetiap relung malam yang gulita, lalu kudengar teriakan nafasnya yang terakhir : “ Innaalillaahi wa’inna ilaihi raajiuun.” Setelah itu, hari-hari berlalu seperti sedia kala, tetapi bayangan temanku yang meninggal, jerit kesakitannya, api yang membakarnya, dan lolongannya” apa yang harus kukatakan padaNya ? Apa yang harus kukatakan padaNya? Seakan terus membuntuti setiap gerak dan diamku. Pada diriku sendiri aku bertanya: “ Aku …apa yang harus kukatakan padaNya?
Air mataku menetes lalu sebuah getaran aneh menjalari jiwaku. Saat puncak perenungan itulah, sayup-sayup aku mendengar adzan subuh menggema: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyhadu la ilaaha illa Allah …. Asyhadu Anna Muhammadar Rasuulullah, Hayya ‘ Alash Shalaah …” Aku merasa bahwa adzan itu hanya ditujukan pada jalan cahaya dan hidayah. Aku segera bangkit mandi dan wudhu, mensucikan tubuhku dari noda-noda kehinaan yang menenggelamku selama bertahuntahun. Sejak saat itu, aku tak pernah lagi meninggalkan shalat. Aku memuji Allah, yang tidak layak dipuji selain Dia. Aku telah menjadi manusia lain.
Maha Suci Allah yang mengubah berbagai keadaan. Dengan seizing Allah , aku telah menunaikan umrah. Insya Allah aku akan melaksanakan haji dalam waktu dekat, siapa yang tahu ? umur ada di tangan Alloh ? [9]. Kesudahan yang berlawanan Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orang tuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran mengapa ayah shalat begitu lama, apa lagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang. Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diriku sendiri : “ alangkah (9 ) Lisy Syababi Faqoth ( Hal : 7-10) sabarnya mereka …. Setiap hari begitu ….. benarbenar mengherankan!. Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalatshalat orang-orang pilihan… mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk bermunajat kepada Allah. Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah.padahal berbagai nasihat kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing. Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku ditugasi mengatur lalu lintas di jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan. Tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan, aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi, tetapi hidupku bagaikan di ombang- ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian… bayak waktu luang …. Pengetahuanku terbatas. Aku mulai jenuh… tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir setiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan. Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol … tiba –tiba kami dikagetkan oleh sebuah benturan yang amat keras, kami mengedarkan pandangan. Ternyata sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi sangat kritis, keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah : “Laailaaha Illallaah … laailaaha illallaah perintah temanku. Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan ini membuatku merinding. Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat… kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu, aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulangulang bacaan syahadat , tetapi … keduanya tetap terus saja melantunkan lagu tak ada gunanya…Suara lagunya terdengar semakin melemah.. lemah dan lemah sekali. Orangpertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak … keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah katapun. Selama perjalanannya ada kebisuan, hening. Kesucian pecah ketika temanku mulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah ( kesudahan yang buruk ). Ia berkata : “ Manusia akan mengakhiri hidupnya...”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

al hamdu lillah